aafuady.com

Puasa di Luar Puasa

Yang paling lezat dari puasa adalah waktu berbuka. Kita menantikannya detik demi detik setiap menjelang maghrib, menghitung mundur hari-hari Ramadhan menjelang lebaran. Kita tersenyum-senyum sendiri ketika kelezatan itu memang dibenarkan sabda Rasul dalam dua kegembiraan mereka yang berpuasa: saat berbuka dan saat menemui Tuhannya. Kita selalu mematri yang pertama, kerap melupakan yang kedua.

Puasa itu –dalam substansi hakikinya –semestinya berlanjut, tak berhenti-henti sepanjang tahun dan sepanjang hayat. Puasa yang disebut Rasul untuk diucap-katakan: Innii shaa-im, aku tengah berpuasa. Aku tengah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, yang dapat mengganggu asyik-masyuk-ku bercinta denganNya.

Di luar diri kita, terlalu banyak godaan, hambatan, dan ancaman. Ada yang seperti memanggil-manggil agar kita masuk dalam perangkapnya; perangkap setan dari kalangan jin dan manusia. Indera kita dirayu, kesenangan kita dibujuk. Halus, halus sekali. Bahkan, pada hal-hal yang kita anggap baik dan tak perlu disoalkan benar atau tidaknya. Kita yang telah ter-preokupasi pada pandangan dan keyakinan kita sendiri, lantas membenarkan yang tidak benar, mempersalahkan yang tidak salah. Masuk dan melingkar dalam majelis ghibah, tak lagi selektif memilah mana saja yang sesungguhnya fitnah.

Aib-aib kita adalah ruang potensial bagi yang lain untuk menguaknya, membeberkannya, menjualnya ke yang lain dengan harga murah, bahkan menusuknya untuk merendahkan kita. Jika ada yang memakimu –kata Rasul, menghardikmu, mencelamu, merendahkanmu, Rasul hanya mengingatkan satu hal untuk diucap: aku tengah berpuasa. Menahan dari pembalasan adalah juga menahan diri dari sekian banyak potensi keburukan lain. Apa yang akan keluar dari amarah dan kebencian? Apa yang akan terlontar dari sakit hati, iri, dan dendam? Pastilah bukan sesuatu yang disukaNya –yang Sayyidina Ali pun tak ingin menusukkan pedangnya ke leher musuh kala diterpa amarah.

Apa makna puasa, sejatinya? Menahan hingga berbuka, lantas kembali kepada rutinitas lama yang merusak kemistri kita dengan Tuhan? Ataukah kita bersepakat untuk terus berucap: innii shaa-im, sesungguhnya aku tengah berpuasa, bahkan ketika kita tidak tengah berpuasa. Puasa di luar waktu-waktu kita berpuasa. Karena begitulah sesungguhnya jalan mereka yang mencari kegembiraan berikutnya –kegembiraan saat menemuiNya.

Rotterdam, Ramadhan 1438

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tuhan Maha Bercanda
19 April 2021
Tapi, saya lantas memilih tertawa geli sendirian. Saya hanya menduga mungkin Tuhan sedang tersenyum-senyum...
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...