aafuady.com

Re-definisi: Selamat, Menang, Mulia

Tak ada yang menyangka jika hari itu Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) kembali ke kampung halamannya dengan kekuatan besar yang sulit ditandingi. Tidak ada ruang bagi peperangan, kecuali bila sangat terpaksa. Begitu petuah beliau saat melepas empat pasukan terpisah. Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu (ra.) memimpin pasukan masuk ke Mekkah dari utara, Khalid bin Walid ra. dari selatan, Sa’ad bin Ubadah ra. dari barat, dan Abu Ubaidah bin Jarrah ra. dari bagian atas, sejurus kaki gunung Hind. Muhammad Saw. yang dulu dihina, dicaci, dan diolok-olok bersama pendukungnya yang sedikit, kini datang dengan rombongan 10 ribu orang.

Muhammad Saw. berdiri di hulu kota Mekkah dan menghadap bukit Hind. Matanya menyapu seluruh pandang. Dilihatnya gua Hira, situs pertama Jibril menjumpainya dan menjadi tonggak utama perubahan hidupnya. Disapunya lagi pandangan ke pusat Mekkah, ke sentral Masjidil Haram, lalu air mata menitik dari sudut matanya. Haru tak tertahan.

Bukankah perjalanan telah usai, kemenangan telah dicapai, dan garis finish sudah terlewati? Inilah Fathu Mekkah itu –kemenangan besar tanpa pertumpahan darah.

Namun, tidak sama sekali. Kemenangan bukanlah apa yang dinikmati dalam perspektif dunia; bahwa semua tunduk patuh di bawah kekuasaan kita; bahwa semua kekayaan tertumpuk di gudang bendahara kita; bahwa semua musuh telah tertawan dalam sarikat politik kita.

Ini justru lembar baru perjalanan Islam. Dan, lembaran baru itu dibukanya dengan rekonsiliasi yang kokoh. Muhammad Saw. menuju Ka’bah, berthawaf, lalu berkhutbah sambil menyitir firman Allah, “Wahai manusia, kami ciptakan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengerti.

Rasulullah menegaskan tonggak nilai Islam yang meneghapus bersih nilai dan cara pandang lama orang-orang Arab. Kariim, kemuliaan, yang sejati bukanlah pribadi-pribadi yang diliputi perilaku sovinis. Kesukuan dan kebangsaan bukanlah cara Allah untuk menggiatkan mereka berlomba dan saling mengungguli. Tidak ada jalan yang dibenarkan Allah dan Muhammad untuk saling mendominasi, mengeksploitasi, dan menghancurleburkan satu sama lain. Pengalaman-pengalaman kultural yang berbeda antara satu dan yang lainnya tidak dibangun untuk saling mendengki dan menghina.

Spektrum pilihan politik kita tidak sepatutnya dibentuk dalam aura kemarahan. Perbedaan-perbedaan cara pandang beragama juga tidak semestinya dikembangkan dengan aroma keangkuhan; mengklaim surga sendiri dan melabeli yang lain sebagai penduduk neraka. Ketidaksepakatan kita dalam menempuh pilihan budaya, nilai kultur dan akulturasi, tidak selaiknya menjadi material sinis yang membangun tembok besar separator ‘aku benar’ dan ‘engkau salah’.

Rasulullah membuktikan dengan keputusan politiknya sendiri yang agung. Ia telah mendefinisi ulang konsep kemuliaan di tanah Arab –yang semula sovinis, menjadi begitu universal. Penuh kasih sayang, welas asih, dan tidak menonjolkan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Rasulullah mengeluarkan amnesti publik kepada yang telah menyakitinya bertahun-tahun dengan syarat substantif. Asalkan engkau menempuh jalan dan nilai Islam yang sejati, engkau selamat.

Pernahkah kita belajar untuk dapat memaafkan dan mengampuni? Bukan dalam keterpurukan, tetapi dalam kemenangan-kemenangan yang kita raih. Hari ini, kita masih memupuk kebencian dan ketidak relaan setelah kompetisi-kompetisi politik yang kita jalani. Kemenangan ditingkahi sorakan angkuh. Kebaikan-kebaikan yang diraih setelahnya adalah klaim atas kebaikannya sendiri, tepukan di dada sendiri, kepalan tangan di langit sendiri, dan cibiran bagi mereka yang telah dibuatnya tersungkur. Kekalahan, di sisi lain, ditanggapi dengan balutan dendam dan benci. Matanya memicing mencari kesalahan kecil pemimpin baru yang dapat dieksploitasi untuk menjatuhkannya lagi; untuk membuktikan bahwa pilihan masa lalu adalah kesalahan dan kedunguan; dan untuk mencari jalan pernyataan baru bahwa kita dan pilihan kitalah adalah kebenaran –dan yang lain adalah kekeliruan.

Hari ini, kita bergerak menjauh dari teladan Rasulullah. Tak ada rangkulan dari mereka yang menempuh jalan berbeda dalam memahami agama dan syariat. Yang satu membentangkan hijab terhadap yang lain. Kita begitu fasih memamerkan kemampuan kita mempersekusi orang yang berlawanan jalan. Kita begitu lihai memberikan stempel sesat orang yang berlainan pendekatan dalam interpretasi teks. Kita begitu cantik menelurkan kebijakan, undang-undang, dan peraturan untuk menyatakan bahwa sekelompok orang berpaham radikal, dan oleh karenanya harus diberangus dan disisihkan dari pergaulan kemasyarakatan, akademik, dan kebudayaan.

Kita kehilangan kemampuan merefleksikan kemenangan-kemenangan kita dengan cara pandang dan perspektif Rasulullah. Kita menjadi buta di puncak –barangkali akibat kegelapan yang kita rawat sendiri dalam ruang-ruang perlawanan yang masih belum sepenuh jernih, belum seutuhnya mukhlis.

Kemenangan dan kekalahan di mata kita belum menembus batas pandang dunia. Padahal, mungkin saja, kemenangan dunia kita adalah kekalahan akhirat kita, jika kita tidak memiliki pemahaman dan penyikapan yang benar.

Bukankah kita begitu hafal larik-larik Allah, “Dan janganlah kamu mengira bahwa mereka yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi justru mereka hidup di sisi Tuhan dengan limpahan rizki”? Yang nampak ‘kalah’ di dunia, tidak berarti ‘kalah’ di sisi Allah. Mengapa pula kita tidak berani mendefinisikan ulang selamat-bencana, menang-kalah, dan mulia-hina di antara kita dalam kacamata kerendahan hati yang diajarkan Allah dan Rasulullah?

Rotterdam, 18 Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: https://www.youtube.com/watch?v=Kr_qMUnEZJk

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...