Semua tulisan dari aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Parade Keselamatan

Sudah setahun lepas dari perjanjian Hudaibiyah, dan kini kaum muslimin bersiap melangkahkan kaki lagi ke Mekkah. Mereka memiliki jatah tiga hari berziarah di dalam kota yang – sesuai perjanjian – akan dikosongkan dari penduduknya. Kota itu telah sepi senyap tepat ketika dua ribu orang merayap masuk ke Mekkah. Penduduknya berpindah ke bukit-bukit di sekitaran Mekkah, memasang tenda dan membawa kebutuhan mereka secukupnya. Mereka tak akan mengganggu Muhammad ﷺ dan rombongannya. Mereka hanya akan menonton dari kejauhan, mengamati segala gerak gerik Muhammad ﷺ yang berniat mengerjakan umrah qadha – umrah pengganti – selama tiga hari.

Lanjutkan membaca Parade Keselamatan

Ayahku Harun, Pamanku Musa

Perjanjian Hudaibiyah menjanjikan ketenangan temporer antara Madinah dan Mekkah sehingga perhatian Muhammad ﷺ mulai dilancarkan ke penjuru yang lain: Khaibar. Di situlah bermukim Yahudi Khaibar – koloni Bani Israil terkuat di jazirah Arab, paling kaya, dan paling kuat persenjataannya. Di sana, mereka membangun benteng tangguh dengan skuadron pasukan militer berjumlah besar sambil menunggu-nunggu kapan mereka akan memulai pertikaian lagi dengan blok Madinah.

Lanjutkan membaca Ayahku Harun, Pamanku Musa

Lebar Sayap Madinah

Mekkah dan Madinah – dua kota utama tempat mula sebaran Islam – sebenarnya adalah daerah yang relatif aman dalam peta politik global. Belum ada pengetahuan yang berlimpah tentang minyak bumi sehingga tak ada pertengkaran global dari dinasti-dinasti penguasa dunia kala itu untuk memperebutkan jazirah Arab. Kedua kota itu lantas seringkali hanya jadi tempat persinggahan dagang orang-orang yang hilir mudik menuju Syam – yang kini dikenal sebagai Syiria – dan Yaman. Tidak ada kebutuhan untuk meluaskan daerah kekuasaan. Yang mereka butuhkan justru ketenteraman agar tidak ada gangguan serangan dari luar yang benar-benar mematikan usaha dagang dan bisnis peziarahan mereka.

Lanjutkan membaca Lebar Sayap Madinah

Fikih Sosial Madinah

Dari Hudaibiyah, Muhammad ﷺ dan kaum muslimin kembali ke Madinah. Kabar baik yang semasa di Hudaibiyah terhijab oleh prasangka kekalahan kini mulai terbuka sebagai kemenangan-kemenangan sejati. Orang-orang Islam di Mekkah yang tidak dapat pergi ke Madinah ternyata memberikan tekanan bagi Quraisy yang mereka tak sangka-sangka. Wanita-wanita Muslimah yang datang ke Madinah, sebaliknya, mendapatkan sambutan hangat karena perjanjian tak mengikat para perempuan secara khusus. Mereka pula yang menjadi sebab penjelasan wahyu yang turun setelahnya: fa-in ‘alimtumuuhunna mu-minaatin falaa tarji’uuhunna ilal kuffar.[1] Jika telah jelas keimanan mereka, pengakuan penyerahan dirinya ke dalam agama ini, jangan kembalikan mereka ke dalam dekapan suami-suami mereka yang masih kufur. Itu juga menjadi marka baru pernikahan lintas keyakinan yang tak diperkenankan.

Lanjutkan membaca Fikih Sosial Madinah

Jalan Damai Muhammad

Ketika sebuah pasukan memenangkan pertempuran berkali-kali, berada di atas angin, bahkan dalam jumlah dan kekuatan yang semula jauh lebih kecil dari penantangnya, orang-orang menduga bahwa mereka akan dengan mudah menghabisi lawan-lawannya di kemudian hari. Kekuatan baru telah muncul selepas ekspedisi Dzatur Riqa, perang parit, dan penumpasan pengkhianatan Bani Quraizah. Orang-orang di jazirah Arab menduga-duga kapan waktu Muhammad ﷺ dan pasukannya akan menghancurkan Mekkah, kota tempat muasal mereka terusir.

Lanjutkan membaca Jalan Damai Muhammad

Sakinah Menikah

Tugas berat sosial bagi Muhammad ﷺ di Madinah masih menumpuk. Ia bukan saja harus melawan serangan fisik kelompok yang memusuhinya, tetapi juga kerangkeng struktur sosial yang membelenggu masyarakatnya. Kelompok keluarga – mereka menyebutnya sebagai Bani – terpecah-pecah dalam golongan dan strata yang berbeda. Mereka yang berada dalam jalur nasab terhormat merasa tak layak bersanding bersama mereka yang hidup dalam jalur kemiskinan dan perbudakan. Betapapun sepuluh tahun Islam telah hadir dan membawa angin perubahan, darah kesukuan tetap kental mengalir di dalam tubuh bangsa Arab dan belum cukup untuk membuat mereka rela melepas atribut kesukuan dan keturunannya.

Lanjutkan membaca Sakinah Menikah

Proteksi Perempuan

Langit Madinah berubah dari kelam yang semula menggelayut menjadi cerah penuh tenaga dan semangat setelah dua kemenangan di Khandaq dan Bani Quraizah. Dua berita besar itu menggelinding hingga hampir ke seluruh jazirah Arab. Orang-orang mulai mendengungkan nama Muhammad ﷺ sebagai pemimpin kekuatan regional baru yang layak diperhitungkan. Bagi banyak orang, Muhammad ﷺ dan pengikutnya tak boleh lagi dipandang sebelah mata. Mereka telah berubah teramat signifikan.

Lanjutkan membaca Proteksi Perempuan

Harga Khianat

Selepas Quraisy pulang ke Mekkah, pasukan Muhammad ﷺ kembali masuk ke kota Madinah dan bersiap menyelesaikan persoalan lain yang tak kalah rumit. Oposisi yang sengit di dalam kota: Bani Quraizah. Mereka diam-diam telah berkhianat, mengacak-acak perjanjian damai Madinah, dan mencoba menusuk pasukan muslimin dari belakang. Meski kelelahan masih mendera kaum muslimin, sepasukan orang diminta Muhammad ﷺ untuk berangkat ke Bani Quraizah. “Shalat ashar-lah kalian di Bani Quraizah!” kata Rasulullah ﷺ memberi pesan perjalanan – yang kemudian tercatat dalam perkara perbedaan pendapat fikih para ulama. Rasulullah ﷺ sendiri berangkat pada rombongan berikutnya.

Lanjutkan membaca Harga Khianat

Geliat Purbasangka

Sudah satu bulan kaum muslimin terkepung di kotanya sendiri, Madinah. Mereka tak dapat keluar, tak mampu leluasa beraktivitas. Meski hasil kebun dan ladang sudah ditumpuk dan dibawa masuk ke kota, persediaan yang banyak itu akhirnya menipis. Masih teringat jelas di kepala mereka bagaimana sebulan lalu hampir setiap laki-laki ikut menyumbang tenaga dan keringatnya untuk menggali parit besar di sisi utara kota. Mereka tertawa, riang gembira. Muhammad ﷺ, pemimpin mereka, bukan saja ikut masuk parit besar itu, tetapi bersama yang lain menggalinya, mencucurkan keringat terbaiknya, menumpahkan kuras tenaganya dengan senyuman terbaik di hadapan orang-orang yang semula gentar mendengar kabar seribu pasukan tengah berjalan dan akan menyerang Madinah.

Lanjutkan membaca Geliat Purbasangka

Parit Salman

Berita tak cukup baik kembali datang. Sepuluh ribu pasukan tengah bersiap menuju Madinah hari itu. Sedangkan Muhammad ﷺ, dalam situasi yang belum benar-benar membaik selepas Uhud, hanya memiliki tiga ribu pasukan yang siap diandalkan. Satu banding tiga. Hanya kecerobohan yang membuat Muhammad ﷺ terpancing keluar Madinah dan melakukan pertempuran terbuka. Melihat situasi yang tidak bersahabat itu, para sahabat pun dikumpulkan.

Lanjutkan membaca Parit Salman