Dicari: Gubernur Miskin

Hari ini kita menonton anomali. Calon-calon gubernur dipanggul ke kontes demokrasi, dielu-elukan sepanjang jalan menuju bilik suara, lalu mendapati tangan mereka terborgol berbulan-bulan setelahnya. Kita misuh-misuh, menyesali betapa buruknya keputusan-keputusan manusia dalam liang demokrasi. Pandangan kita tertutup oleh kemasan cantik, pendapat pakar, giringan asumsi, dan letupan-letupan emosi di grup obrolan dan media sosial.

Lanjutkan membaca Dicari: Gubernur Miskin

Iklan

Memetik Kearifan Miqdad

Puncak dari pengetahuan adalah kearifan. Ia tidak dicapai dari sekadar banyaknya bacaan dan tulisan, tidak juga sekadar dari tingginya jenjang pendidikan dan banyaknya gelar yang dihimpun. Tidak dari luasnya kekuasaan, tidak pula dari lapangnya kesejahteraan dunia. Barangkali ia tak diajarkan pula di bangku sekolah, di ruang kuliah, di aula seminar, bahkan di sela-sela training kepemimpinan. Ia lahir dari kejernihan batin selama menjalani rentangan pengalaman hidup. Ia tumbuh dari ketulusan menerima putusan-putusan Allah dan ketetapan hati untuk terus mencari kerelaan Allah.

Lanjutkan membaca Memetik Kearifan Miqdad

Bertaruh Seperti Shuhaib

Jika kita tak pernah tahu apa yang akan menyambut kita di masa depan, bahkan satu detik ke depan sekalipun, kita sesungguhnya tengah melakukan pertaruhan-pertaruhan. Tidak ada jaminan hasil apapun, baik atau buruknya. Tapi, kita harus memilih, bahkan untuk sekadar diam tak bergerak. Semua adalah pilihan dan pertaruhan. Kita hanya tengah memilah-milah: apa yang kita agunkan, apa yang kita pertaruhkan, dan demi apa dan siapa kita menentukan pilihan-pilihan pertaruhan itu. Dan, keterampilan memilah itu sesungguhnya bekal hidup lain yang mesti kita kumpulkan.

Lanjutkan membaca Bertaruh Seperti Shuhaib

Puasa, Ketamakan yang Luruh

Dunia yang tidak kita kekang hanya akan menuntun kaki kita menuju ketamakan. Ia tidak hanya berbentuk korupsi yang jumlahnya milyaran atau trilyunan. Ketamakan menjelma apa saja dalam kadar, spektrum, dan tataran hidup yang kita lakoni. Ia menyusup dalam keinginan untuk bersaing naik posisi di kantor. Ia menggeliat di tengah-tengah pasar, pojok toko, lantai bursa, atau portofolio investasi untuk meraih keuntungan setinggi-tingginya. Ia menyelinap di tengah-tengah obrolan orangtua tentang siapa yang rumahnya paling besar, anaknya paling pintar, atau sekolahnya paling bagus. Ia duduk bersama konsep strategi politik demi meraih suara sebanyak-banyaknya. Bahkan, ia mendampingi di podium, mimbar tempat para pemuka agama berkhutbah, untuk membisikkan bahwa hanya perkataannyalah yang paling benar, sedangkan yang lain salah, sesat, penuh bid’ah, dan tak layak mendapat porsi jengkal tanah di surga.

Lanjutkan membaca Puasa, Ketamakan yang Luruh

PUASA, BERHENTI

Keterampilan hidup sesungguhnya adalah memahami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Tidak ada kebaikan pada pergerakan yang berlebihan, seperti tidak pula ada kebaikan dari diam yang dipelihara. Sayangnya, keterampilan itu tidak diajarkan dan tidak diasah pada sekian banyak institusi pendidikan formal kita. Dunia lantas dipahami dari kuantitas belaka: seberapa besar rumah yang kita punya, seberapa banyak uang yang kita simpan, seberapa tinggi jabatan yang kita duduki, dan seberapa luas jangkauan follower kita yang terus menguntit di belakang.

Lanjutkan membaca PUASA, BERHENTI

Kegagalan Kapitasi

Dimuat dalam kolom Opini KOMPAS, 23 April 2018

Ahmad Fuady

 

Awal Februari 2018, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan terhadap Bupati Jombang dengan dugaan penerimaan suap dari dana kapitasi. Kasus ini bukan yang pertama terjadi. Bahkan, dengan besaran dana mencapai Rp 13 triliun, Indonesia Corruption Watch (ICW) mengindikasikan potensi pungutan liar dana kapitasi mencapai Rp 1,3 triliun per tahun.

Lanjutkan membaca Kegagalan Kapitasi

Dosen Asing dan Jebakan Internasionalisasi

[Tulisan kedua dari Dua Tulisan: Student Loan, Dosen Impor dan Raibnya Negara]

 

Mereka yang beruntung secara finansial akan meraup untung banyak dari kepatuhan pemerintah terhadap mekanisme pasar. Awal Januari 2018, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), M Nasir, mengumumkan bahwa sekitar 5-10 universitas asing siap beroperasi di Indonesia di pertengahan tahun 2018.[i],[ii]

Lanjutkan membaca Dosen Asing dan Jebakan Internasionalisasi

Student Loan, Dosen Impor, dan Raibnya Negara

[Tulisan Pertama dari Dua Tulisan]

 
Dua bulan belakangan, Presiden Jokowi mengeluarkan dua titah penting di bidang pendidikan. Pertama, Presiden memberikan pekerjaan rumah kepada perbankan nasional untuk menyediakan student loan (pinjaman untuk pendidikan tinggi). Permintaannya itu disampaikan di hadapan para pimpinan bank di Istana Negara, pada 15 Maret 2018.[1,2] Kedua, Presiden menerbitkan Perpres No 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing yang membuka keran perekrutan dosen asing sebagai dosen tetap.[3,4] Kebijakan ini merupakan langkah lanjutan dari kebijakan bulan Februari 2018 yang mengijinkan universitas luar negeri untuk beroperasi di Indonesia. Dua kebijakan ini tidak dapat diungkiri telah menimbulkan tanda tanya besar.

Lanjutkan membaca Student Loan, Dosen Impor, dan Raibnya Negara