aafuady.com

Berburu Profesor: Starting Pack

Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi tentang berburu profesor, itu mungkin sejumput kebenaran dari jutaan kebenaran yang ada.

 

Kalau ada yang memberi tips “harus” ini dan “harus” itu, yakinlah bahwa pernyataannya itu bukanlah kewajiban mutlak. Paling mentok, sunnah. Rekomendasi. Anjuran. Yang berbicara hanya meresonansikan memori dan pengalamannya, dan itu tidak lantas membuatnya menjadi Tuhan yang berhak mengharuskan ini dan itu untuk menjadi sesuatu. Semakin banyak tumpukan pengalaman dan memori manusia, semakin hilangnya rasa ingin ‘mengharuskan’ yang menggebu-gebu itu.

 

Dan beberapa yang saya tulis di sini juga adalah serpihan kebenaran—atau setidaknya fakta dan pengalaman—dari milyaran kebenaran lain yang terhampar di semesta tentang bagaimana berburu profesor. Maka, jangan anggap tulisan ini adalah panduan, guidelines, apalagi buku petunjuk teknis berburu profesor. Saya tidak punya autoritas untuk menulis itu semua. Biarlah itu tugas motivator dan doktor-doktor yang baru lulus untuk menyampaikannya di seminar-seminar motivasi. Saya hanya ingin bercerita: wa-ammaa bini’mati rabbika fahaddits, adapun terhadap nikmat-nikmat Tuhanmu, ceritakanlah. Tahadduts bin-ni’mah.

 

Mari kita definisikan terlebih dahulu sebelum memulai cerita ini. “Profesor” yang saya maksud dalam rangkaian tulisan ini adalah profesor yang akan membimbing studi doktoral. Supervisor. Mandor. Kebanyakan studi doktoral memang berbeda dengan studi sarjana atau master walaupun banyak juga yang mirip karena menjadi semacam ekstensi dan pendalaman dengan lebih banyak materi kuliah. Jika studi sarjana memberikan kita dasar pengetahuan; program master memberikan lebih banyak skill, keterampilan, dan pemahaman teknis; studi doktoral adalah pendalaman menuju kepakaran tertentu. Tentu, yang saya maksud kepakaran adalah kepakaran akademis tanpa menafikan banyaknya jalan kepakaran lain yang dapat ditempuh dari pengalaman dan praktik, bahkan tanpa sekolah. Dan, sesuai asal mulanya, seberapa dalam kepakaran setelah melintasi program doktoral sangat bergantung seberapa dalam orang itu menggali dan mengeksplorasinya sendiri. Jika hanya demi gelar dan naik pangkat, sejauh itulah kepakaran akademiknya. Jika hanya demi gengsi dan bisa memakai status ‘Ph.D. candidate‘ saat sekolah, ya se-candidate itulah kepakarannya. Eh.

 

Ingat ini…

 

Untuk melanjutkan studi doktoral, ada banyak cara yang dapat ditempuh; dan itu sangat bergantung dengan konteks kampus, universitas, bahkan negara. Kita mulai dari yang paling sederhana.

 

Sekolah Doktoral

 

Di Indonesia, umumnya studi doktoral berada di bawah payung program studi doktoral tersendiri. Untuk memasukinya, kita harus melewati ujian saringan masuk. Tes kognitif, psikotes, wawancara, bahasa, dan lain-lain. Semau-maunya kampus dan program studi. Mirip dengan umumnya seleksi mahasiswa. Posisinya lebih dominan sebagai mahasiswa dibandingkan periset. Masuk kelas, dihitung absensinya, tugas sana-sini, yudisium, lalu riset dan lulus. Dan jangan lupa, bayar SPP!

 

Metode ini bukan hanya ada di Indonesia, tetapi juga masih berlaku di beberapa negara lain. Perburuan profesor, dengan begitu, tidak dimulai dari awal masuk, apalagi jauh-jauh hari sebelum memulai studi doktoral. Setelah dinyatakan lulus, mengikuti serangkaian perkuliahan yang seringkali membosankan, barulah nanti perburuan profesor atau pembimbing riset dimulai. Alurnya bisa bermacam-macam. Jika kita lebih dahulu punya ide penelitian, lanjutkan dengan mencari-cari siapa yang kira-kira cocok menjadi pembimbing. Jika kita sudah punya ‘klik‘ dengan calon pembimbing, kita dapat sama-sama merumuskan mau ke mana dibawa hubungan kitaaa… eh, topik riset kita.

 

Saya tidak punya pengalaman sama sekali soal sekolah doktoral semacam ini. Hanya pernah ikut mengajar metode penelitian dan statistik. Itu pun saat saya masih jauh sekali dari bayang-bayang sekolah doktor. Jadi, tidak banyak yang dapat saya ceritakan. Untuk lebih lengkapnya, cobalah ditanya kepada mereka yang telah berhasil melaluinya dengan gilang gemilang. Mulai dari belajar etik, metode penelitian (tapi akhirnya menyewa konsultan juga untuk analisisnya haha), sampai ujian-ujian yang melelahkan—dari tertutup, semi terbuka, sampai terbuka seterbuka-terbukanya. Dan jangan lupa seremonialnya sambil bagi-bagi bahan kebaya dan batik untuk panitia kelulusan. Mirip mau nikahan.

 

Kerjasama Program Doktoral

 

Beberapa universitas melakukan kerjasama program studi dengan universitas lain. Bentuknya bermacam-macam. Tetapi, yang paling umum adalah kerjasama dengan dana yang besar dan mencakup beasiswa untuk program master dan doktoralnya. Cara semacam ini adalah simbiosis mutualisme antar universitas. Saling mengerek ranking di atas permukaan kertas. Kadang pakai embel-embel double degree. Satu Celcius, satu Fahrenheit. Eh.

 

Untuk dapat menjadi salah satu pesertanya, umumnya ada seleksi. Terbuka, semi terbuka, atau tertutup. Itu terserah saja kampusnya mau bagaimana. Jika ada dana yang mengucur dari uang publik, pastilah harus terbuka. Setidaknya, dibuat terkesan terbuka. Dokumen yang harus diurus sama seperti mengurus beasiswa: TOEFL/IELTS/IALTS atau kompetensi bahasa yang sangat bergantung tujuan negaranya, kualifikasi akademik, psikotes, dan wawancara. Jika kerjasamanya dilakukan antar profesor, ya bergantung profesornya—dan kedekatanmu dengan profesor tersebut.

 

Saya juga tak punya pengalaman soal ini. Hanya sempat diberikan lembar pengumuman untuk mencobanya, tetapi tidak terbit sedikitpun ketertarikan untuk mencicipinya. Bukan soal sok, tetapi justru karena minder kepercayaan diri. Topiknya tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikan saya. Jikapun harus banting setir, saya takut kecelakaan. Patah setir dan terguling.

 

Ah, sempat juga saya tergiur untuk ikut semacam fellowship selama 18 bulan yang dapat diperpanjang untuk mendapat gelar. Tetapi, syukurlah, tidak berhasil. Entah kenapa. Setelah saya renungi baik-baik di kemudian hari, saya tak dapat membayangkan bagaimana rasanya bergumul dengan topik yang saya tak benar-benar sukai. Sekolah, apalagi doktoral, itu ibarat memilih jodoh. Bukan soal gengsi diterima, tetapi belajar itu harus rela menelan pahit-dan-manisnya sepanjang hidup. Bertahun-tahun bertungkuslumus dengan satu topik pembelajaran hanya untuk mendapat ijazah barangkali adalah kesia-siaan belaka. Belajar itu harus dihayati, dinikmati. Live with it.

 

Posisi riset

 

Di beberapa negara, Ph.D. researcher atau student itu adalah sebuah posisi riset, pekerjaan, dan digaji. Mereka adalah pekerja bergaji murah. Keset dari segala keset dalam perkastaan riset. Sebagai periset, mereka adalah bayi—sama sekali belum independen. Maka, selain mengerjakan (tugas) riset yang diberikan oleh profesornya atau pimpinan proyeknya, mereka biasanya diiming-imingi dengan “Kalian akan mendapatkan gelar Ph.D. di akhir kontrak jika kalian sudah selesai ini-itu-ono-unu.” Ini juga simbiosis mutualisme antara pemilik proyek dan para pekerja riset Ph.D., bahkan universitas. Si empunya proyek dapat menyelesaikan pekerjaan risetnya dengan biaya yang tak terlampau mahal, bahkan dengan banyak publikasi ilmiah yang meroketkan indeks risetnya di berbagai platform tukang indeks (Scopus, GoogleScholar, dll). Bagi mahasiswa Ph.D., mereka tak bayar uang sekolah, bahkan digaji, dan mendapat gelar jika berhasil lulus. Bagi universitas, tentu mengerek ranking mereka di deretan tukang survey ranking universitas dunia dengan variasi penilaiannya. Lengkap, kap, kap. Semua senang. Yang tidak senang adalah profesor yang salah pilih mahasiswa Ph.D. atau mahasiswa yang tersesat dan kehilangan gairah di tengah jalan, bahkan depresi.

 

Contoh lowongan kerja riset

 

Posisi riset seperti ini bertebaran di mana-mana, apalagi di Eropa, Amerika, Australia, dan sebagian negara Asia. Tinggal buka internet, seluncur dengan kata kunci yang benar, dan tarraaaa… banyak posisi riset Ph.D. yang terbuka. Jika ingin lebih ambisius, cobalah ikut milis beasiswa, grup Facebook, LinkedIn, atau kanal-kanal karir akademik. Jangan cari di TikTok! Jika ingin lebih spesifik lagi karena sudah punya inceran universitas, masuklah ke situs-situs kampus mereka dan klik career atau vacancy. Niscaya banyak yang dapat diekplorasi.

 

Dari situ, para profesor pemilik proyek akan meminta dokumen pendukung yang umumnya terdiri dari CV, cover atau motivation letter, dan portofolio. Intinya, karena ini berurusan dengan pekerjaan proyek, mereka berharap standar khusus yang dapat memastikan proyek berjalan dengan lancar. Bukan anak ingusan yang belum tahu apa-apa. Setidaknya, ada jejasnya bahwa kita pernah melakukan sesuatu yang beririsan dengan proyeknya atau menunjukkan bahwa kita punya semangat membara untuk mau belajar dan bekerja keras.

 

Sebagai pekerja bergaji rendah—relatif dibandingkan pekerja profesional early career, Ph.D. model ini umumnya tidak dibebani target tinggi. Proposal besar dan payung penelitiannya sudah ada di tangan para pimpinan proyek riset. Para Ph.D. researcher ini akan membuatnya lebih spesifik agar academically sounds. Bunyi, gitu lah. Apa yang mau dianalisis, apa yang mau dikerjakan, apa yang ingin ditulis di laporan ilmiah, sampai kelulusan. Independensinya terbatas.

 

Karena pekerja pula, maka Ph.D. jenis ini dikontrak. Ada yang dapat lulus tepat waktu dan mendapat gelarnya ketika masih dalam status kontrak. Ada yang kontraknya sudah habis, tetapi gelar Ph.D. belum juga nampak hilalnya. Ada juga yang sudah diberi kontrak baru dengan proyek dan posisi baru meski gelar Ph.D.-nya belum kelihatan batang hidungnya. Macam-macam. Bergantung takdir. Maka, selain belajar dan bekerja, banyak-banyaklah berdoa.

 

Salah satu situs yang sering saya buka untuk mencari posisi riset: www.academictransfer.com atau .nl untuk khusus Belanda.

 

Seingat saya, saya pernah melamar satu-dua posisi riset jenis ini, tetapi ditolak. Saya dapat saja berasumsi mengapa gagal, misalnya karena saya tidak bisa berbahasa Belanda, tetapi sesungguhnya saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas mengenai alasan penolakannya. Umumnya, penolakan itu berupa surat template, “Karena banyaknya aplikan, kami memohon maaf tidak dapat melanjutkan proses seleksi untuk semua aplikan dan hanya memilih beberapa yang paling sesuai dengan persyaratan.” Begitu. Jadi, jangan tanyakan saya bagaimana supaya lulus dan mendapat posisi semacam itu. Tetapi, kebanyakan kawan saya di departemen tempat saya meneliti adalah mereka yang berada di posisi tersebut dan banyak bercerita tentang suka-dukanya.

 

Mandiri-Gak-Mandiri

 

Nah, ini dia yang saya pernah tempuh. Mengapa saya sebut Mandiri-Gak-Mandiri? Kita punya ide riset yang sudah tertanam di kepala dan membawa ide tersebut kepada profesor yang kita tuju. Istilah co-supervisor saya: You are the own pilot of your project. Kita yang benar-benar tahu mau kita apa. Tetapi, karena kita belum mampu memformulasikannya sendiri dan butuh bimbingan, maka kita mencari guru yang baik. Suhu. Master. Yang bisa menempa diri kita sampai kita menjadi independent researcher. Periset mandiri.

 

Tetapi, saya juga punya prinsip yang melekat di diri saya dari dulu: tak ingin menjadi beban orangtua. Maka, proses studi itu harus dibayarin oleh pihak ketiga. Namanya, beasiswa. Jadi, saya nggak mandiri dalam soal pembiayaan. Selain berburu profesor, saya juga harus berburu beasiswa.

 

Di banyak universitas, jalur semacam ini sebanarnya tak butuh biaya SPP atau tuition fee, termasuk di Belanda tempat saya studi. Beda dengan program master yang diatur penuh oleh fakultas atau universitas, studi doktoral sangat bergantung pada profesor. Saat saya tanyakan berapa tuition fee yang harus saya bayarkan, Profesor saya kebingungan. “Tidak ada,” katanya. Free. Gratis. “Kamu sudah master di sini dan tidak perlu course lagi. Jadi, aku pikir tidak perlu ada tuition fee.”

 

Tetapi, pemberi beasiswa saya meminta angka itu. Maka, saya berdiskusi dengannya, “Bagaimana kalau kita tetapkan saja? Nanti barangkali saya perlu course yang saya anggap penting untuk keterampilan dan penuntasan penelitian saya. Atau, saya perlu pergi ke conference yang tidak ditanggung. Kita bisa gunakan uangnya untuk itu.” Dia setuju. Dia bertanya ke saya, “Berapa estimasi kebutuhan kamu?” Segini! Dia oke. Angka yang sama sekali tidak besar, bahkan sangat kecil. Hanya 1/8 tuition fee yang harus dibayar international master student.

 

Itu pengalaman lima tahun lalu. Sekarang nampaknya sudah berubah. Sejak Indonesia memiliki lembaga penyalur beasiswa dengan dana abadi yang selalu dibangga-banggakan jumlahnya besar sekali itu, universitas di Belanda nampaknya berubah pikiran. Semua kini diatur, termasuk tuition fee. Dan angkanya? 8-10 kali lipat tuition fee yang dulu saya tentukan sendiri. Ajegile. Apakah ini termasuk penjajahan berkalung sorban, eh berkalung akademik? Embuh. Penyalur beasiswanya pun nampaknya tidak begitu keberatan. Yang penting, mereka yang sudah diberi beasiswa ya mbok pulang ke kampungnya sendiri  dan berbakti kepada bangsa dan negara. Kalaupun pemberi beasiswa tidak punya mata elang untuk memonitor kepulangan setiap awardee-nya, emangnya Tuhan pergi ke mana? Nggak melototin kamu? Nggak minat nyabut keberkahan dari hidupmu? Eh.

 

Bagaimana proses perburuan keduanya: profesor dan beasiswa? Kita sambung di episode berikutnya!

 

Dag!

 

Gambar fitur diambil dari: https://setiopramono.files.wordpress.com/2012/01/phd1.gif

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.   Perburuan profesor...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Jangan Tanya Ustadz YouTube (9-selesai)
25 Januari 2020
Di sinilah rumitnya ber-da’wah dan mengajar. Tidak hanya butuh wawasan yang dalam dan luas, tetapi juiga...
Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama
25 Januari 2020
Tulisan kedelapan dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube" Secara sederhana, ada dua sumber...
Arif Menyikapi Perbedaan
25 Januari 2020
Untuk pertanyaan tipe kedua, setiap ustadz tentu memiliki pandangannya tersendiri tentang suatu permasalahan....
Teks dan Konteks
25 Januari 2020
Tulisan keenam dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustad YouTube". Sebagai sebuah contoh sederhana,...
Jebakan Sesi Tanya Jawab Ustadz
25 Januari 2020
Tulisan kelima dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube". Pada banyak kesempatan kajian yang...
Tingkatan Ijtihad
25 Januari 2020
Box: Tingkatan berijtihad. Bagian dari tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube". Dalam kaidah fiqih, ada...
Bagaimana Memilih Kajian Agama?
25 Januari 2020
Tulisan keempat dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube". Pada kondisi ini, seringkali muncul...