//

Ayahku Harun Pamanku Musa: Refleksi Kisah-Kisah Rasulullah

1 min read

“Ayahku Harun Pamanku Musa” adalah tulisan reflektif terhadap kehidupan beberapa segmen kehidupan Rasulullah Muhammad. Berbeda dengan buku kisah sejarah yang lain, buku ini lebih banyak mengeksplorasi konteks sosial keagamaan, latar sebuah peristiwa, dan makna apa yang dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan di masa kini, baik dalam kehidupan personal, masyarakat, pekerjaan, bahkan berbangsa dan bernegara.

 

Ahmad Fuady menuliskannya bukan sebagai buku sejarah, hadits, apalagi fikih. Ia menuliskannya dalam rentang yang lebar, sekaligus menusuk. Di banyak bagian, buku ini mengajak pembaca untuk menapak jalan ke dalam diri sendiri, bersikap kritis terhadap jiwa sendiri, sekaligus melebarkan pandangan sikap terhadap banyak hal dalam kehidupan. Dua kisah pembukanya, “Mencari Tongkat Musa” dan “Elektabilitas Thalut” mendorong pembaca untuk membelalakkan mata dan bersiap dengan hidangan kisah dari mula wahyu turun kepada Rasulullah Muhammad hingga kemenangannya kembali di Fathu Mekkah.

 

Silakan mengakses buku ini sesuai preferensi pembaca. Buku ini tersedia dalam beberapa format. Klik  gambar di bawah untuk mengakses>

Amazon Kindle (USD 2.99)
Amazon Kindle (USD 3.02)

 

GooglePlay (USD 0 – Gratis)

 

Download pdf (USD 0 – Gratis)

AYAHKU HARUN, PAMANKU MUSA – Ahmad Fuady

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan