Berpiutang Budi Seperti Terawan

7 mins read
4

Saat saya masih praktik, beberapa kali saya menerima pasien yang sebelumnya sudah pergi ke dokter atau profesor terkenal, tetapi merasa “masih belum sembuh”. Apa yang saya berikan sama dengan apa yang dokter lain berikan, dan pasien-pasien tersebut “merasa sembuh”. Sekali waktu, seorang pasien datang jari yang patah, sudah dirawat oleh dokter terkenal, tetapi datang ke meja saya. “Lho, kenapa Bapak datang ke saya? Saya kan bukan ahli bedah?“ Dia bilang ke saya, “Saya cuma mau mengobrol. Di sana tadi tidak sempat mengobrol.”

 

Hal-hal demikian bisa saja terjadi sebaliknya. Pasien tidak puas dengan saya dan “merasa belum sembuh” dan pergi ke dokter lain. Hal itu sangat mungkin terjadi, dan saya tak akan sakit hati. Saya bukan siapa-siapa untuk berani bilang bahwa saya sudah menyembuhkan, apalagi untuk persoalan yang status kesembuhannya sulit untuk dikuantifikasi secara obyektif. Jika seseorang demam, kesembuhannya didefiniskan secara obyektif dengan ‘tidak demam‘. Jika ia berdarah, kesembuhannya secara obyektik dinyatakan sebagai ‘tidak lagi berdarah‘. Tetapi, jika ada seseorang yang merasa tidak nyaman, serang tidak enak, pusing kepalanya, atau ketidaklegaan yang perasaan itu pun sulit untuk diukur secara obyektif, apa definisi kesembuhannya.

 

Ini saya kira yang menjadi salah satu pangkal persoalan Terawan, Digital Substraction Angiography (DSA, dikenal awam sebagai ‘cuci otak’) dan pertengkaran etik yang berujung pemecatan Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dalam ranah ilmiah modern, kita memerlukan bukti ilmiah yang disepakati sebelum menyatakan bahwa sebuah obat, intervensi, atau program pengobatan itu efektif. Yang kita bicarakan adalah kedokteran konvensional modern, bukan tradisional, Cina, Persia, atau religi apapun.

 

Siapa yang dirawat oleh Terawan dengan terapi DSA-nya tersebut? Orang dengan tungkai kanannya yang sudah tak berfungsi? Orang yang separuh badannya lemas tak berdaya? Atau orang yang merasa ‘tidak enak’, ‘sering pusing’, dan ‘kurang fit’, lalu keluar dari ruangan terapinya dengan berkata ‘saya jadi lebih plong dan lebih segar‘. Pertama, kita tidak punya data itu, atau setidaknya, data itu tidak diungkapkan. Kedua, jika data itu ada, kita belum pernah membandingkannya secara obyektif. Kita hanya mendengar pengakuan—yang sayangnya, kebanyakan dari kelompok terakhir dan merasa semakin ‘enak’ badannya setelah diterapi.

 

Lalu, bolehkah seseorang membuka layanan terapi yang secara obyektif belum dievaluasi? Saya ingat seorang pasien tuberkulosis (TBC) saya menghilang. Ia memilih menghentikan terapi TBC yang disediakan scara gratis di klinik dan pergi ke sebuah rumah sakit herbal meskipun mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah. Lalu, ketika dia datang kembali ke klinik, apakah saya marah dan menolaknya? Saya hanya tertawa ketika dia mengajukan kertas-kertas yang dibilangnya sebagai hasil scan. Dia juga merasa lebih ‘enakan’ meski setelah diuji dahak, masih ada bakteri TBC yang ditemukan. Batuknya masih ada. Penyakitnya masih ada. Tetapi, dia merasa enak. Yang hilang hanyalah uangnya yang berjuta-juta itu.

 

Baca juga: Sunyi Suara Dokter

 

Dia rela-rela saja. Dan, saya juga hanya tersenyum. Ini persoalan hubungan dokter dan pasien. Dia percaya pada ‘dokter’-nya yang di sana dan rela mengeluarkan uang. That is fine. Saya tidak dapat mengubah kepercayaan dan trust-nya. Yang saya tidak rela adalah jika pengobatan itu (1) dibiayai oleh uang publik dan (2) diklaim sebagai pengobatan yang efektif.

 

Orang dapat berbohong seperti orang mengaku bahwa gelang magnetnya dapat menyembuhkan sakit jantung, kayuputihnya dapat mengusir COVID-19, atau dos antivirusnya dapat menyembuhkan sakit napas akut orang-orang yang terinfeksi COVID19 di ICU. Saya tidak dapat mencegah orang yang membelinya. Silakan saja membelinya atas dasar kerelaan penjual dan pembeli. Anda masuk ke ruang Terawan, membayar terapi yang nilainya berpuluh-puluh juta itu, silakan. Tetapi, jangan pernah berharap terapi itu dibayarkan oleh uang publik. Silakan saja membeli layanan itu selama dia tidak memberikan klaim yang berlebihan.

 

Sialnya, bagi Terawan, ia adalah dokter yang terikat etik profesi. Jika ia bukan dokter—anggaplah pengobat tradisional—tidak ada keperluan baginya untuk menghormati etik profesinya (itupun jika pengobat tradisional tidak punya kesepakatan etik). Sialnya lagi, kesempatan untuk membuktikan efektivitas pengobatannya itu tidak dimanfaatkannya dengan baik. Kementerian Kesehatan sudah memberikan peluang agar terapinya itu menjadi bagian penelitian tanpa memungut biaya kepada pasien-pasiennya dan dengan metodologi yang disepakati. Ia tidak kembali dengan bukti yang memuaskan. Sebagai bagian dari profesional dokter, ia memang bersalah.

 

Baca juga: Populisme Vaksin

 

Untungnya, ia menanam saham yang baik. Pasien-pasiennya—yang datang tidak dengan tungkai lemas atau sebagian tubuhnya lumpuh layu—bertestimoni tentang betapa hebatnya terapi Terawan sehingga membuat mereka lebih ‘plong’, ‘segar’, dan ‘enteng’. Dan, beruntungnya lagi bagi Terawan, orang-orang itu adalah orang-orang ‘besar‘ yang punya pengaruh dan kekuatan. Bukan itu saja, ia berhasil menstabilkan kondisi keuangan rumah sakit yang dipimpinnya. Sesuatu yang tak lazim dicapai oleh para direktur semenjak era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tanpa itu semua, ia tidak akan pernah diangkat jadi Menteri Kesehatan, justru ketika polemik tentang terapi yang dilakukannya masih belum terselesaikan.

 

Terawan telah berpiutang budi dengan tepat. Dokter-dokter lain, saya yakin juga sudah berpiutang budi teramat banyak kepada pasien-pasien mereka. Siang, malam. Melayani pasien JKN yang tidak tampak ujung antriannya. Sayang sekali, piutang mereka tak punya skala dan spektrum yang lebih lebar dan luas daripada piutang budi Terawan. Sebesar apapun corong suara para dokter berbicara tentang evidence-based medicine dan etik kedokteran, mereka hanya melawan tembok-tembok besar testimoni yang berutang tebal kepada Terawan.

 

Barangkali dokter perlu belajar berpiutang budi kepada Terawan. Bagaimana menanam saham budi pada pasar yang tepat. Sayangnya, dokter-dokter kini terpaksa bertungkuslumus sebagai buruh, mencari nafkah dari pagi sampai malam. Diperas sistem kesehatan dan sistem pembayaran yang tak layak. Yang untuk berbincang dengan pasiennya secara layak saja, mereka tak sempat.

 

Gambar fitur diambil dari : https://www.cnbcindonesia.com/news/20191202120830-16-119532/ketika-dr-terawan-ungkap-modus-modus-yang-bikin-bpjs-tekor

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

4 Comments

  1. Terima kasih… Tulisan mas Fuady mbuat saya “lebih melek”.. Piutang budi Terawan, sisi inilah yg masyarakat luas bereaksi membelanya thd sanksi IDI.

  2. Seringkali dokter dan tenaga medis lainnya menggunakan istilah evidence based’, ‘penelitian si A’, ‘penelitian si B’ sebagai dasar bagi mereka melakukan tindakan medis. Baik, ini bisa diterima. Terapi DSA yg dilakukan dr Terawan belum memenuhi hal tersebut. Baik, mungkin masih bisa diterima. Akan tetapi penggunaan vaksin Covid-19 yang tiba-tiba dengan dalih ‘berdasarkan penelitian’ dosisnya sekian, baiknya dilakukan setelah vaksin kedua jarak 6 bulan. Tiba-tiba lagi dengan dalih ‘penelitian’ lagi yang tidak pernah dipublikasikan pada masyarakat secara gamblang. Dengan kebijakan-kebijakan yang begitu fluktuatif, apakah itu adil untuk masyarakat?? Apakah salah jika kemudian ada masyarakat yang menafsirkan bahwa ini hanyalah akal-akalan pemerintah dan kaum kapitalis vaksin? Apakah anda bisa menjawab ini? Coba sekali-kali bapak memberikan tanggapan atas pernyataan Luhut Panjaitan. Memojokkan satu pihak saja sementara pihak lainnya juga kemungkinan besar melakukan hal yang sama, rasanya sulit menerima apa yang anda tuliskan.

    • Silakan baca tulisan saya yang lain di website. Ada beberapa yang bisa dibaca: tentang Ivermectin, ada. tentang vaksin, ada. mau baca buku saya tentang Pandemi, juga bisa dipesan 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan