Syariat Tegak, Syaithan Gembira

Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah berubah wajah setelah tiga ayat tentang khamr turun. Ada perubahan social yang drastis ketika akhirnya khamr dilarang (Baca kisahnya di “Fikih Sosial Madinah”). Hampir tak ada lagi orang-orang meminum khamr secara sadar. Mereka mulai meninggalkannya satu per satu, membuangnya dari etalase dagang mereka di pasar-pasar, melenyapkannya dari gudang penyimpanan di rumah-rumah mereka.

Lanjutkan membaca Syariat Tegak, Syaithan Gembira

Bucin Allah

Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur pesan yang menyiratkan firasat kuat profetik bahwa sebentar lagi ia akan menjumpai Allah dalam rupa yang sesungguhNya. Barangkali itu akan menjadi perjalanan ziarah hajinya yang terakhir. Dalam geliat dadanya yang gemuruh, Muhammad ﷺ berpesan: khudzuu anniy manaasikakum. Perhatikan baik-baik bagaimana aku melaksanakan haji, menunaikannya dengan sempurna, dan jadikan semua itu patokan yang membuat umatku kelak mendapat panduan yang sahih atas praktik haji.

Lanjutkan membaca Bucin Allah

Sunnah Buruk

Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan orang datang dan meriung di sekitar Muhammad ﷺ. Mereka tak berpakaian dengan layak, bahkan para sahabat mengatakan bahwa serombongan orang itu bertelanjang. Tak bergamis seperti laiknya orang Arab yang tingal di Madinah. Pakaian mereka dari seperti bulu harimau – larik-larik panjang seperti tengah memakai baju kurung. Mereka berjalan tanpa alas kaki, bercelana di atas lutut sehingga sebagian aurat mereka terlihat.

Lanjutkan membaca Sunnah Buruk

Jejak Mahadigital

Para sahabat saat itu tengah berkumpul Bersama Muhammad ﷺ. Tiba-tiba saja, di tengah obrolan yang hangat itu, Muhammad ﷺ tersenyum sendirian sampai gigi serinya nampak jelas. Bukan kali itu saja Muhammad ﷺ tersenyum sendirian. Kadang ia juga menangis sendirian, kadang ia berbicara sendirian. Bukan karena gila atau waham, tetapi karena Jibril hadir dan memberi penerangan yang tak mampu disimak oleh orang lain meski jarak mereka tak sampai sedepa dari Muhammad ﷺ.

Lanjutkan membaca Jejak Mahadigital

Makan dengan Tangan Kanan, Hidup dengan Tangan Kiri

Suatu ketika, Umar bin Abu Salamah duduk melingkar bersama Muhammad ﷺ. Di hadapan mereka ada setumpuk makanan terhidang yang siap disantap. Membangkitkan selera, apalagi bagi anak kecil serupa Umar. Ia anak angkat Muhammad ﷺdari pernikahannya dengan Ummu Salamah. Selepas Abu Salamah meninggal akibat luka yang tak kunjung sembuh dari perang Uhud, Muhammad ﷺ meminang istri yang ditinggalkannya, Ummu Salamah. (Baca kisahnya di “Anak Tangga Sabar”) Kehadiran Ummu Salamah di rumah tangga Muhammad ﷺ membawa serta keempat anaknya yang kemudian menjadi anak angkat dan tanggungan baru bagi Muhammad ﷺ. Umar adalah salah satunya.

Lanjutkan membaca Makan dengan Tangan Kanan, Hidup dengan Tangan Kiri

Ranjang Miring

Masih terngiang di kepala Abdullah bin Rawahah ketika ia berada di tengah rombongan Muhammad ﷺ memasuki Mekkah untuk menunaikan umrah qadha. Ia berada di depan barisan Muhammad ﷺ ketika thawaf mengeliling Ka’bah, dan tiba-tiba saja lidahnya lancar melantunkan syair indah. Abdullah adalah tipikal seniman Arab sejati. Di tengah budaya lisan Arab yang dominan, Abdullah menjelma penyair ulung, pecinta kata dan bait. Ia bersyair di mana saja. Ia berkasidah kapan saja: di tengah perang, di beratnya perjalanan, di sela-sela ibadah yang menguras air mata.

Lanjutkan membaca Ranjang Miring

Status Quo Terbaik

Hari-hari kemenangan telah datang ketika sepuluh ribu muslimin masuk ke kota Mekkah dengan damai. Fathu Mekkah. Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada lagi pula permusuhan. Abu Sufyan – yang dulu paling getol memusuhi Muhammad ﷺ – kini mendapati rumahnya sebagai tempat yang paling aman untuk berlindung. Suhail – yang dulu dengan gagah mendikte Muhammad ﷺ di Hudaibiyah – kini berkumpul bersama serombongan orang yang mendapatkan pemaafan dan kasih sayang yang sempurna dari Muhammad ﷺ.

Lanjutkan membaca Status Quo Terbaik

Parade Keselamatan

Sudah setahun lepas dari perjanjian Hudaibiyah, dan kini kaum muslimin bersiap melangkahkan kaki lagi ke Mekkah. Mereka memiliki jatah tiga hari berziarah di dalam kota yang – sesuai perjanjian – akan dikosongkan dari penduduknya. Kota itu telah sepi senyap tepat ketika dua ribu orang merayap masuk ke Mekkah. Penduduknya berpindah ke bukit-bukit di sekitaran Mekkah, memasang tenda dan membawa kebutuhan mereka secukupnya. Mereka tak akan mengganggu Muhammad ﷺ dan rombongannya. Mereka hanya akan menonton dari kejauhan, mengamati segala gerak gerik Muhammad ﷺ yang berniat mengerjakan umrah qadha – umrah pengganti – selama tiga hari.

Lanjutkan membaca Parade Keselamatan