Benar Berwajah Munkar

Malam Jumat, 17 Ramadhan, kala itu adalah malam yang kelam. Tiga lelaki bersepakat dalam gelap. Pedangnya terhunus, matanya menyalak-nyalak. Si pemimpin, Abdurrahman bin Amru –kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam– menyampaikan skenario jahat. Di kepalanya masih terngiang-ngiang bagaimana kerabat dan kawan-kawannya terbunuh di Nahrawan. Dendamnya menggumpal di dada. “Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib,” katanya berbulan-bulan sebelum malam itu. Kawannya yang lain juga berencana. Al Burak bin Abdillah berharap dapat membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu (ra.), sedangkan Amru bin Abu Bakar berencana membunuh Amr bin Ash ra.

Lanjutkan membaca Benar Berwajah Munkar

Iklan

Mencari Tongkat Musa

Pada suatu pagi, Fir’aun mengumumkan berita besar. Ia mengundang rakyatnya untuk berkumpul menantikan kontes sihir. Jauh hari sebelumnya, ia telah mengkader tukang sihir dan mengirim 40 orang untuk belajar sihir ke Al Irfaan. Dan, pagi itu, lengkap sudahlah ia mengumpulkan para tukang sihir dari segala pelosok. Ka’b al Ahbar mengatakan jumlahnya mencapai 12 ribu, sedangkan Muhammad bin Ka’b menyebut angka yang jauh lebih fantastis, 80 ribu.

Lanjutkan membaca Mencari Tongkat Musa

Merayakan Desas Desus

Pagi itu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) dan pasukannya bergegas menuju Madinah setelah singgah sejenak di perkemahan. Aisyah radhiyallahu ‘anha (ra.) yang kecil mungil sejenak keluar dari pelangkinnya untuk menunaikan hajat. Tak disangka, kalungnya jatuh. Disapunya pandangan ke seluruh jalan. Saat ia menemukan kalungnya lagi dan kembali ke kemah, pasukan Rasulullah telah berangkat. Ia tertinggal. Pasukan telah membawa pelangkin kosong di atas unta tanpa Aisyah di dalamnya.

Lanjutkan membaca Merayakan Desas Desus

Formalitas Kiblat

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) tiba di Madinah dan menjumpai kelompok Yahudi yang telah lama bermukim di sana, pakta integritas disusun demi stabilitas politik dan kerukunan masyarakat. Tidak begitu sulit untuk menarik kelompok Yahudi. Selain karena kekuatan mereka lebih kecil –dan dengannya akan mudah ditaklukkan bila berbuat onar, mereka seakan-akan mendapat afirmasi keyakinan monoteismenya ketika Rasulullah Saw. membangun masjid pertama di Quba dan menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblatnya. Kelompok Yahudi bergembira ria.

Lanjutkan membaca Formalitas Kiblat

Sumbu Ketidakadilan

Ketika Muhammad Shallallahu álayhi wassallam (Saw.) memutuskan berpindah dari Mekkah ke Madinah, beliau tak sepenuhnya lepas dari masalah. Kekangan dan siksaan terhadap kaum muslimin di Mekkah memang terhindarkan. Quraisy tak mampu menjangkau mereka lagi. Madinah pun tak sebengis Mekkah. Namun, sesungguhnya Muhammad Saw. tengah berada dalam tahapan baru da’wah. Beliau tak lagi menjumpai muka-muka kasar dan hinaan. Kesepakatan damai pun telah diteken. Situasi aman terkendali. Namun, siapa yang mengira bahwa di dalam ketenangan ada ancaman yang lebih besar: kemunafikan.

Lanjutkan membaca Sumbu Ketidakadilan

Hoax yang Membunuh

Sore itu, sebuah rumah besar di Madinah riuh. Puluhan lelaki berkumpul mengelilinginya dengan penuh amarah. Sudah lebih dari empat puluh hari mereka di sana –sedangkan Asy Sa’bi mengira dua puluh hari –, mengepung rumah khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu (ra.) yang mereka tuntut untuk lengser dari posisi khalifah. Hari itu, mereka tak sekadar menuntut perpindahan kekuasaan. Kedengkian sudah mengubun-ubun, hingga pengepungan menetapkan target yang lebih tinggi: membunuh khalifah Utsman ra.

Lanjutkan membaca Hoax yang Membunuh

Shaf Sosial Terberai

Di Madinah tempo dulu, suku Auz dan Khazraj menggeluti hidup penuh benci dan perang. Mata mereka khianat satu sama lain. Satu kekeliruan kecil dapat mengobarkan perang berhari-hari dan pengusiran. Konstelasi sosialnya berantakan; terpecah tiga kubu yang saling menahan bara permusuhan: Yahudi Madinah, Auz, dan Khazraj. Namun, tidak pada malam itu – di pertengahan malam hari tasyrik. Selepas ritual haji, pemimpin-pemimpin Khazraj keluar dari kemah di sekitaran Mekkah dengan bersembunyi, menaiki bukit Aqabah, dan menunggu dua lelaki yang membawa kabar baik bagi mereka: Muhammad bin Abdullah Shallalahu álayhi wasallam (Saw.) dan Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu anhu (ra.).

Lanjutkan membaca Shaf Sosial Terberai

Elektabilitas Thalut

Jauh selepas Musa álayhissalaam (as.) wafat, sebuah kaum mengalami kekalahan beruntun, terusir dari negerinya, dan terpisah dari anak keturunannya. Duka derita itu tertumpah ruah di hadapan seorang nabi –As Saddi menyebutnya Syam’un as., sedangkan Qatadah menduganya bernama Syamuel as.. “Angkatlah bagi kami seorang raja,” pinta mereka. Persis seperti yang diceritakan dalam Al Qur’an. “Supaya kami berperang di (bersamanya) di jalan Allah.”

Lanjutkan membaca Elektabilitas Thalut

Gigi Seri Tukang Pidato

Saat Rasulullah Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) bersama rombongan sahabatnya menuju Mekkah untuk umrah di tahun 6 H, orang-orang Quraisy menghadangnya. Tak cukup sekali dua kali, mereka mengirim utusan untuk melobi agar Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Perjalanan itu memang bukan untuk perang, tapi masuknya Rasulullah Saw. ke Mekkah berpotensi mengoyak keajegan Mekkah yang dirawat untuk terus membenci Rasulullah Saw. dan Islam. Maka, Muhammad Saw. harus dibatasi ruang geraknya, dijauhkan dari mimbar, disingkirkan dari daftar migran, dan diboikot segala aktivitasnya.

Lanjutkan membaca Gigi Seri Tukang Pidato

Intel Pensiun

Jika kita menelisik ulang posisi kita dalam pengelolaan dunia, label khairu ummah yang disematkan Allah di dada kita punya implikasi besar dalam tanggungjawab. Label ini bukan saja panggilan amanah mengisi peran kerasulan –ta-muruuna bil ma’ruf wa tanhawna ‘anil munkar, menyeru kebajikan dan menghalau kemunkaran. Lebih dari itu, ketiadaan rasul menuntut kita meneladani sikapnya yang mulia –khuluqin ‘azhim, dalam menghadapi kondisi apapun.

Lanjutkan membaca Intel Pensiun

Ibnu Umar Tak Tahu

Kita kerap berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama tahu, menjadi yang terluas ilmunya, dan menjadi yang tertinggi pencapaiannya. Namun, siapakah yang memahami dengan kesungguhannya bahwa ujung dari segala yang kita ketahui adalah ketidaktahuan itu sendiri? Lantas, mengapa kita berlomba-lomba pula untuk dapat dikenal sebagai penjawab semua soal, kunci dari segala jawaban, atau pemenang dari aneka perdebatan?

Lanjutkan membaca Ibnu Umar Tak Tahu

Dicari: Gubernur Miskin

Hari ini kita menonton anomali. Calon-calon gubernur dipanggul ke kontes demokrasi, dielu-elukan sepanjang jalan menuju bilik suara, lalu mendapati tangan mereka terborgol berbulan-bulan setelahnya. Kita misuh-misuh, menyesali betapa buruknya keputusan-keputusan manusia dalam liang demokrasi. Pandangan kita tertutup oleh kemasan cantik, pendapat pakar, giringan asumsi, dan letupan-letupan emosi di grup obrolan dan media sosial.

Lanjutkan membaca Dicari: Gubernur Miskin