Sumbu Ketidakadilan

Ketika Muhammad Shallallahu álayhi wassallam (Saw.) memutuskan berpindah dari Mekkah ke Madinah, beliau tak sepenuhnya lepas dari masalah. Kekangan dan siksaan terhadap kaum muslimin di Mekkah memang terhindarkan. Quraisy tak mampu menjangkau mereka lagi. Madinah pun tak sebengis Mekkah. Namun, sesungguhnya Muhammad Saw. tengah berada dalam tahapan baru da’wah. Beliau tak lagi menjumpai muka-muka kasar dan hinaan. Kesepakatan damai pun telah diteken. Situasi aman terkendali. Namun, siapa yang mengira bahwa di dalam ketenangan ada ancaman yang lebih besar: kemunafikan.

Lanjutkan membaca Sumbu Ketidakadilan

Iklan

Hoax yang Membunuh

Sore itu, sebuah rumah besar di Madinah riuh. Puluhan lelaki berkumpul mengelilinginya dengan penuh amarah. Sudah lebih dari empat puluh hari mereka di sana –sedangkan Asy Sa’bi mengira dua puluh hari –, mengepung rumah khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu (ra.) yang mereka tuntut untuk lengser dari posisi khalifah. Hari itu, mereka tak sekadar menuntut perpindahan kekuasaan. Kedengkian sudah mengubun-ubun, hingga pengepungan menetapkan target yang lebih tinggi: membunuh khalifah Utsman ra.

Lanjutkan membaca Hoax yang Membunuh

Shaf Sosial Terberai

Di Madinah tempo dulu, suku Auz dan Khazraj menggeluti hidup penuh benci dan perang. Mata mereka khianat satu sama lain. Satu kekeliruan kecil dapat mengobarkan perang berhari-hari dan pengusiran. Konstelasi sosialnya berantakan; terpecah tiga kubu yang saling menahan bara permusuhan: Yahudi Madinah, Auz, dan Khazraj. Namun, tidak pada malam itu – di pertengahan malam hari tasyrik. Selepas ritual haji, pemimpin-pemimpin Khazraj keluar dari kemah di sekitaran Mekkah dengan bersembunyi, menaiki bukit Aqabah, dan menunggu dua lelaki yang membawa kabar baik bagi mereka: Muhammad bin Abdullah Shallalahu álayhi wasallam (Saw.) dan Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu anhu (ra.).

Lanjutkan membaca Shaf Sosial Terberai

Elektabilitas Thalut

Jauh selepas Musa álayhissalaam (as.) wafat, sebuah kaum mengalami kekalahan beruntun, terusir dari negerinya, dan terpisah dari anak keturunannya. Duka derita itu tertumpah ruah di hadapan seorang nabi –As Saddi menyebutnya Syam’un as., sedangkan Qatadah menduganya bernama Syamuel as.. “Angkatlah bagi kami seorang raja,” pinta mereka. Persis seperti yang diceritakan dalam Al Qur’an. “Supaya kami berperang di (bersamanya) di jalan Allah.”

Lanjutkan membaca Elektabilitas Thalut

Gigi Seri Tukang Pidato

Saat Rasulullah Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) bersama rombongan sahabatnya menuju Mekkah untuk umrah di tahun 6 H, orang-orang Quraisy menghadangnya. Tak cukup sekali dua kali, mereka mengirim utusan untuk melobi agar Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Perjalanan itu memang bukan untuk perang, tapi masuknya Rasulullah Saw. ke Mekkah berpotensi mengoyak keajegan Mekkah yang dirawat untuk terus membenci Rasulullah Saw. dan Islam. Maka, Muhammad Saw. harus dibatasi ruang geraknya, dijauhkan dari mimbar, disingkirkan dari daftar migran, dan diboikot segala aktivitasnya.

Lanjutkan membaca Gigi Seri Tukang Pidato

Intel Pensiun

Jika kita menelisik ulang posisi kita dalam pengelolaan dunia, label khairu ummah yang disematkan Allah di dada kita punya implikasi besar dalam tanggungjawab. Label ini bukan saja panggilan amanah mengisi peran kerasulan –ta-muruuna bil ma’ruf wa tanhawna ‘anil munkar, menyeru kebajikan dan menghalau kemunkaran. Lebih dari itu, ketiadaan rasul menuntut kita meneladani sikapnya yang mulia –khuluqin ‘azhim, dalam menghadapi kondisi apapun.

Lanjutkan membaca Intel Pensiun

Ibnu Umar Tak Tahu

Kita kerap berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama tahu, menjadi yang terluas ilmunya, dan menjadi yang tertinggi pencapaiannya. Namun, siapakah yang memahami dengan kesungguhannya bahwa ujung dari segala yang kita ketahui adalah ketidaktahuan itu sendiri? Lantas, mengapa kita berlomba-lomba pula untuk dapat dikenal sebagai penjawab semua soal, kunci dari segala jawaban, atau pemenang dari aneka perdebatan?

Lanjutkan membaca Ibnu Umar Tak Tahu

Dicari: Gubernur Miskin

Hari ini kita menonton anomali. Calon-calon gubernur dipanggul ke kontes demokrasi, dielu-elukan sepanjang jalan menuju bilik suara, lalu mendapati tangan mereka terborgol berbulan-bulan setelahnya. Kita misuh-misuh, menyesali betapa buruknya keputusan-keputusan manusia dalam liang demokrasi. Pandangan kita tertutup oleh kemasan cantik, pendapat pakar, giringan asumsi, dan letupan-letupan emosi di grup obrolan dan media sosial.

Lanjutkan membaca Dicari: Gubernur Miskin

Memetik Kearifan Miqdad

Puncak dari pengetahuan adalah kearifan. Ia tidak dicapai dari sekadar banyaknya bacaan dan tulisan, tidak juga sekadar dari tingginya jenjang pendidikan dan banyaknya gelar yang dihimpun. Tidak dari luasnya kekuasaan, tidak pula dari lapangnya kesejahteraan dunia. Barangkali ia tak diajarkan pula di bangku sekolah, di ruang kuliah, di aula seminar, bahkan di sela-sela training kepemimpinan. Ia lahir dari kejernihan batin selama menjalani rentangan pengalaman hidup. Ia tumbuh dari ketulusan menerima putusan-putusan Allah dan ketetapan hati untuk terus mencari kerelaan Allah.

Lanjutkan membaca Memetik Kearifan Miqdad

Bertaruh Seperti Shuhaib

Jika kita tak pernah tahu apa yang akan menyambut kita di masa depan, bahkan satu detik ke depan sekalipun, kita sesungguhnya tengah melakukan pertaruhan-pertaruhan. Tidak ada jaminan hasil apapun, baik atau buruknya. Tapi, kita harus memilih, bahkan untuk sekadar diam tak bergerak. Semua adalah pilihan dan pertaruhan. Kita hanya tengah memilah-milah: apa yang kita agunkan, apa yang kita pertaruhkan, dan demi apa dan siapa kita menentukan pilihan-pilihan pertaruhan itu. Dan, keterampilan memilah itu sesungguhnya bekal hidup lain yang mesti kita kumpulkan.

Lanjutkan membaca Bertaruh Seperti Shuhaib

Puasa, Ketamakan yang Luruh

Dunia yang tidak kita kekang hanya akan menuntun kaki kita menuju ketamakan. Ia tidak hanya berbentuk korupsi yang jumlahnya milyaran atau trilyunan. Ketamakan menjelma apa saja dalam kadar, spektrum, dan tataran hidup yang kita lakoni. Ia menyusup dalam keinginan untuk bersaing naik posisi di kantor. Ia menggeliat di tengah-tengah pasar, pojok toko, lantai bursa, atau portofolio investasi untuk meraih keuntungan setinggi-tingginya. Ia menyelinap di tengah-tengah obrolan orangtua tentang siapa yang rumahnya paling besar, anaknya paling pintar, atau sekolahnya paling bagus. Ia duduk bersama konsep strategi politik demi meraih suara sebanyak-banyaknya. Bahkan, ia mendampingi di podium, mimbar tempat para pemuka agama berkhutbah, untuk membisikkan bahwa hanya perkataannyalah yang paling benar, sedangkan yang lain salah, sesat, penuh bid’ah, dan tak layak mendapat porsi jengkal tanah di surga.

Lanjutkan membaca Puasa, Ketamakan yang Luruh