Bhinnekatopia

ZootopiaAnak saya duduk manis di bangku sebelah saat saya mengajaknya menonton ‘Zootopia’ –film yang diidam-diamkannya beberapa hari. Baginya yang baru berusia tiga tahun, seekor kelinci bisa menjadi polisi adalah keanehan yang sesungguhnya, mirip seperti Chief Bogo –seekor banteng yang menjadi komandan polisi, tak memedulikan keberadaan Judy Hopps si Kelinci Polisi di pasukannya. Lebih-lebih, konsep hubungan binatangnya terdistraksi; rubah yang bersahabat dengan kelinci ketika ia mengingat seharusnya mereka saling berkejaran di film lain. Singa, baginya selalu tampak jahat karena memakan zebra. Tetapi, melihatnya berdampingan dengan domba sebagai sepasang walikota dan wakil walikota juga tampak tidak memuaskan.

Ya, perdamaian antara pemangsa dan hewan mangsaannya memang terlalu sempurna. Pertanyaan tentang ‘kesempurnaan’ itu yang membuat kebingungan anak saya, bagi saya, adalah sebuah keberhasilan pergulatan pemikirannya sendiri. Saat ia bertanya bertubi-tubi ke saya, saya justru memikirkan hal lain yang sama utopisnya dengan Zootopia: Bhinnekatopia.

Menggelitik sekali ketika Bhinneka nampak sebagai sebuah gagasan utopis –yang semasa kecil selalu kita terima secara dogmatis bahwa itu adalah sebuah kenyataan yang sudah dicapai. Achieved ideal state. Gagasan itu, bahkan, sesungguhnya semakin utopis ketika demokrasi masuk ke ruang privat lewat majunya teknologi yang menari-nari dengan perantara jemari di layar telepon pintar. Apapun bisa sesuka hati diungkapkan; mulai dari yang dianggap ‘lurus’, salah, kafir, sanjungan karbit, sampai makian yang bersahut-sahutan. Demokrasi –yang ruangnya dibuka oleh reformasi dan kematiannya juga dijumpai akibat pintunya yang terlalu lebar dibuka.

Saya lantas mengingat Karl Marx –yang pemikirannya dikacaukan oleh pengusung Marxisme modern, Lenin, demi kekuasaan otoriternya. Ia mengubah pemikiran filosofisnya mengenai kesenjangan akibat pemilikan hak pribadi menjadi sebuah gerakan sosialis. Pada mulanya, ia melihat ketidakadilan, lalu berupaya menghapus hak milik pribadi yang menjadi musabab kekacauan di zamannya menjadi milik bersama demi dunia yang lebih baik.

Marx mengerti –dan dengannya ia berbeda dari filsuf lainnya, bahwa yang dipikirkannya mengenai kesamarataan di dunia adalah utopia. Kesempurnaan yang tak mungkin dicapai. Pemikiran awal yang juga sempat dikembangkan para sarjana Islam ketika terjebak dengan pemikiran negara Islam; praktis yang secara praktik justru tidak terekam dengan jelas dalam sejarah dan memicu potensi utopia baru. Juga dengan Bhinneka Tunggal Ika yang sempurna –dan mungkin hanya bisa ‘tampak sempurna’ di bawah rezim otoriter.

Dunia yang damai ini, seperti yang sering disuar-suarkan para pemimpin dunia, juga sebuah gagasan utopis –seberapapun sering konferensi para pemimpin dunia diselenggarakan dalam beragam bingkai regional dan global. Seperti mereka yang menginginkan Israel berdamai dengan Palestina; merindukan singa berelus-elusan memangku domba-domba sambil menyisir bulunya yang lebat selepas mandi.

Toh, hari ini kita mulai menampakkan kemuskilan gagasan itu, meski tanpa sadar. Mengaku Bhinneka, tetapi memantik perselisihan antar etnis, agama, atau suku demi sekadar bergulat politik menduduki jabatan tertentu. Berkelahi mulut dan media demi jagoan politiknya masing-masing. Menentang etnis minoritas dan menggugat kaum mayoritas, sambil terus menegaskan bahwa Bhinneka adalah gagasan utopis.

Jikapun bergenggaman, berpelukan, kita masih tetap menyiapkan kuda-kuda –mirip Judy Hopps dengan kuda-kudanya saat Nick Wilde si Rubah mempertanyakan persahabatan mereka. Kita masih menyiapkan obat anti rubah, merasa tak aman, bahkan menyuarakan dengan lantang ketidaksekuritasan kita. Kita diam-diam mengubah jubah menjadi Bellwether si Domba yang dengan liciknya memanfaatkan rasa tidak amannya dari para pemangsa dengan menjebak para pemangsa kehilangan jabatan struktural dan fungsional mereka dari kehidupannya. Caranya, adalah cara yang makin hari makin sering kita lakukan: menimbulkan rasa tidak aman di tengah publik dari kelompok lain yang kita anggap sebagai ancaman. Kampanye kita –yang kita yakini adalah kebaikan, bahkan firman, justru adalah kebencian dan permusuhan.

Marx tidak berhenti pada filosofinya, tapi menggerakkannya dalam koridor gerakan sosialisme. Begitupun Muhammad Sang Rasul, tidak berhenti pada gagasan rahmatan lil ‘alamin, tetapi memicu pergerakan sosial penegakan keadilan. Mobilitasnya melintas keluar dari sekadar sajian ayat, tapi praktik yang kaffah. Kita pantas, dan sudah sepatutnya, menirunya bukan sekadar pada gagasan literer, tapi pergerakannya yang ia tekuni tanpa pernah keluar jalur dari kampanye teologisnya sendiri; “li-utammima makaarimal akhlaq”, penyempurnaan kemuliaan akhlak.

Kita berbicara lugas tentang akhlak sambil melanggarnya sendiri –diam-diam atau terang-terangan. Kita banyak mendebatkan pentingnya integritas sembari mengoyaknya pelan-pelan dari dalam diri sendiri.

Selagi perilaku kontradiktif itu masih mengungkung kita, Bhinneka akan selalu menjadi gagasan utopis. Yang mengubahnya bukan sekadar angan-angan hanyalah kemauan kita untuk menggeser ego praksis menjadi i’tikad baik yang dikoleksi dalam gerakan kultural.

Dunia, bagaimanapun, secara natural adalah kumpulan fragmen yang saling memangsa dengan afinitas dan kecenderungannya masing-masing. Gagasan utopis mesti diyakini sebagai ide yang hanya bisa disemai di surga. Selebihnya, adalah usaha merapatkan gagasan menjadi gerakan. Bukan bualan. Itulah yang menjadikan kita menempuh jalan kehidupan sesungguhnya; bertungkuslumus membuktikan “ayyukum ahsanu ‘amala”; siapa yang amalnya paling baik.

Puncak, 11 Maret 2016IMG_20160305_141429[1]

Revisiting the 'Jakarta Sehat' scheme

Tulisan saya di The Jakarta Post tentang Jakarta Sehat. Semoga bermanfaat.

Revisiting the ‘Jakarta Sehat’ scheme

Creating a healthier Jakarta through the Kartu Jakarta Sehat (Jakarta Health Card) program has run beyond the card, which focused more on coverage at the beginning. Jakarta Governor Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama and the provincial health agency have upgraded 20 community health centers (Puskesmas) to subdistrict public hospitals and launched a grassroots-based program called “knock on the door with heart”.

 

The efforts look impressive, but beg the question as to whether they will lead to a fundamental, systematic change in the provision of health services for Jakarta citizens.Indeed, Jakarta is a unique prototype — and its health system in an urban setting may differ from other areas. Jakarta has no shortage of health workers — with 11,178 doctors, 10,164 nurses and 1,683 midwives. Jakarta requires more than bringing specialist-based services to the subdistrict level as a shortcut that could lead to an unstructured referral system.

The major step is strengthening primary care services. It should shift health-care toward long-term person-focused care (not disease-focused), comprehensive care and coordinated care. Primary care services should manage the population carefully, i.e. recognizing not only patients’ bodies, but their mental health; treating them as people; giving care in the long-term; and helping them with seeking care elsewhere if needed.

The governor offered an exciting initial concept of “private physicians”. However, follow-up measures have to be taken. The government should adjust the primary care system by transforming clinics at the primary level into “primary, family clinics” where families stand as the focus of services.

There is no precise definition of a “primary clinic”. However, it would solve the current, drawn-out stagnation in health practices. There are at least two major points of change. First, the emphasis on family units should balance the proportion of total coverage with a reasonable ratio.

The current ratio of doctors to people in Jakarta — at 1:1,000 — is much better than the WHO recommendation of 1:2,500. This idea would be a breakthrough to address the shortage of Puskesmas that should cover up to 40,000 people. Currently, even with an estimated two visits per person, it would be 80,000 visits per year.

For example, if there are four doctors at a Puskesmas, they have to treat 20,000 people in a year, or 384 people per week. It also means they have to meet 11 patients per hour and patients have less than six minutes for their consultation. What quality of care do we expect?

With the overload coverage, Puskesmas cannot undertake promotion and prevention programs either. The “knock on the door with heart” program may run to a very limited extent — no precise assessments, follow-up projects, or changes in grassroots programs.

It is obvious that we should reset capitation coverage to the ideal ratio, 1:2,500 to 1:5,000. By this estimation, Jakarta requires 14-351 doctors per subdistrict — and it is very likely to conform. Assuming three doctors practice at each clinic, there would be five-100 primary family clinics per subdistrict. Some subdistricts may be covered only by Puskesmas, but more subdistricts require additional clinics from private providers.

Restrictions on coverage per clinic will inevitably reduce capitation funds obtained — and a much less than decent gain for medical staff. The government must align the policy by providing incentives beyond the capitation funds for those working in the primary family clinics, including those practicing with private health-care providers. Additional funding to bolster the current Rp 8,000 (60 US cents) to Rp 10,000 per capita may not be feasible.

However, instead of giving a salary of Rp 10-13 million to a general practitioner at a Puskesmas, this re-organization of the primary care system with appropriate additional incentives would encourage private providers to support the Jakarta Sehat scheme. For example, the government could give a basic incentive of Rp 10-15 million to every provider that wants to join, then provide performance-based incentives for those that perform well. The provincial health agency, then, should arrange a credible performance appraisal system.

Another important approach is delivering team-based services consisting of doctors, nurses and midwives, which would improve the quality of health services. It would address the absence of an integrated and continuous service that currently exists in primary care. So, the teams would provide services with clear responsibilities, including ensuring people can access services any time, as needed.

The current practices in Puskesmas, which serve people only during work hours, are unfavorable for those who work. Changing the practices of health behavior is another concern to address.

This change would restore the function of primary care as “public” health-care providers. Puskesmas, given their original function, should diminish curative measures and shift to more health promotion and prevention measures for the public interest.

This reorganization, even reengineering, of the health system requires changes in mindset and behavior in delivering services, as well as strong capacity building for health workers.

Accordingly, support from academic institutions, e.g. medical schools and health faculties or academies, is critical.

Networking within the academic health system would be the best alternative. However, it is a sensitive measure. A highly designed structure and notable roles, responsibilities and authority are prerequisites for running the system properly.

Revisiting the Jakarta Sehat program may sound revolutionary or cliché. The obstacles are formidable. Learning from what the Jakarta governor has done, reconstructing the health system in Jakarta is nothing complicated, but necessary.

________________

The writer is a lecturer at the University of Indonesia’s School of Medicine, with focuses on health economics and policy issues.  He is also a member of Hemisphere, a health research and policy analysis group.

– See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/05/revisiting-jakarta-sehat-scheme.html#sthash.2ht89Cr5.dpuf

Lanjutkan membaca Revisiting the 'Jakarta Sehat' scheme

[TELAH TERBIT] BUKU: YANG CANTIK YANG (TIDAK) BAHAGIA

Alhamdulillah,

Buku “Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia” sudah terbit. Silakan lakukan pemesanan dengan melengkapi nama, alamat dan jumlah pemesanan ke email farranasir@gmail.com. Semoga menginspirasi….

“Kau bertanya balik, “Mengapa mata yang tak pernah bersua bisa saling jatuh cinta?” Ah, Dik. Ada Zat yang tak pernah kita temui, tapi namaNya kita rapalkan setiap saat. Ada Zat yang tak pernah kita tatap, tapi teramat berharga untuk kita tinggalkan, meski sejenak. Ada pula manusia yang antara kita dan dirinya dipisahkan jarak berabad jauhnya. Kita tak pernah melihatnya, tak pernah menggenggam tangannya, tak pernah berguru langsung kepadanya. Mengapa pula hubungan kita ini lantas dipertanyakan –menjadi suluh yang tak pernah padam meski kau tiup dengan semerbak angin delapan penjuru?”

djokokororet – Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia

Ayo, segera pesan!

3 Jurus jitu
3 Jurus jitu

 

Muncul di Tabloid NAKITA

Sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tapi, bolehlah saya berbagi bahwa beberapa pekan lalu sebelum menulis blog ini, profil saya masuk di Tabloid mingguan NAKITA.  Saya tidak punya salinan aslinya, tapi setidaknya saya memiliki foto hasil jepretan sendiri dari tabloid yang (juga) saya beli sendiri. Silakan saja dilihat (kalau kelihatan dan terbaca).

Salam,

profil Nakita

JokoBowo

Aku melihat Joko ketika ia bersalaman dengan Bowo. Hangat, bahkan nyaris berpelukan. Itu pertama kali aku melihat mereka. Yang satu dengan perawakan kecil, satu lagi cukup besar meski usianya membujur ke cakrawala barat. Tidak ada yang istimewa, kecuali riuh-riuh kecil yang perlahan seperti bola salju yang menggelinding. Bertambah besar, bergemuruh.

 

Joko ikut duduk bersamaku di tepi kali sambil melempar pancing. Katanya, “Banjir ini menghanyutkan ikan ke lautan.” Aku tertawa, lalu membantah. “Jangan terlalu yakin, Joko.” Dia diam menatapku. Menunggu, barangkali. “Sampah di ujung sana, sebelum lewat jembatan kedua, sudah menghalangi ikan-ikan pergi ke lautan,” jawabku tanpa perlu ia bertanya. Lalu ia gantian tertawa.

 

Duduk kami berlama-lama, menikmati sore yang padam hingga gulita. “Kau tahu berapa traktor yang harus aku kerahkan untuk membuat sungai ini tak meluap?” Ia bertanya. Serius. Padahal, aku sudah siap beranjak menuju mushalla, karena adzan telah redup sejak setengah jam yang lalu.

 

“Kau tanya berapa?”

 

“Iya, berapa? Berapa pekerja yang aku butuhkan? Berapa banyak uang yang harus aku gelontorkan?”

 

Aku tertawa. Kutepuk pundaknya untuk membuka mata. “Kita sudah terlalu lama menunda panggilan Tuhan. Bahkan, Umar tak perlu ratusan, apalagi ribuan traktor untuk mencegah Nil meluap. Ia hanya butuh secarik surat. Dan Tuhan… diikatnya dalam aksara.” Aku menarik tangannya, berlari-lari kecil sambil berharap Tuhan belum menutup pintu maghrib.

 

Sehabis maghrib, Joko tak tampak lagi. Ia pergi tak berpamitan. Barangkali ada urusan penting, aku tak tahu. Yang aku tahu adalah Bowo yang duduk berlama-lama di tiang mushalla sambil memegang kalam -semacam lidi yang dipakai untuk menunjuk huruf saat mengeja Qur’an. Mukanya lelah, entah mengapa. Tapi, saat menyambutku datang, ia bergegas berdiri dan berucap, “Salam hormat, Saudaraku.”

 

Tidak aku tanyakan perihal apapun tentang duduknya sehabis maghrib, namun ia yang sukarela berucap. “Kau tahu kalam ini, kan?” Aku mengangguk. “Untuk apa?” Mengeja, kataku. Betul kan, tapi ia tertawa. “Kau mengeja dengan mulut, lidahmu sendiri. Tapi kau butuh tanganmu bergerak juga?”

 

“Kontrol,” jawabku lagi.

 

“Sejak kapan satu bagian tubuh mampu mengontrol bagian tubuh yang lain?”

 

“Sejak kau belajar mengeja, Bowo. Kau tahu lidahmu tak boleh lebih lekas dari jejarimu. Jejarimu tak boleh lebih lekas dari lidahmu.”

 

Dan sejak itu, aku tahu apa arti kebenaran dan kemunafikan.

 

***

 

Riuh di belakang semakin menjadi. Hari ini aku dengar lagi: sesatu gerombol berteriak nama Joko, sesatu gerombol lagi mengurai huruf B-O-W-O. Aku tak tahu lagi sejak pertemuan mereka yang pertama aku lihat, seberapa sering sekarang mereka berjabat.

 

Aku tak merindukan riuh. Aku memilih duduk di tepi sungai, lalu memegang kalam sehabis maghrib di mushalla. Meski hujan, meski badai. Karena aku tahu, Tuhan masih ada. Aku meminta upah dariNya, bukan dari sesiapa.

 

Jakarta, akhir Mei 2014

 

Foto fitur diambil dari: https://ediong.blogspot.com/2017/09/gambar-lucu-jokowi-prabowo.html?m=1

Menikmati Siang Terpanjang di Latvia

Saat saya mengatakan bahwa saya ingin ke Latvia, banyak orang bertanya-tanya. Di mana letak Latvia? Apa yang menarik? Memang, Latvia bukan tujuan wisata utama di Eropa. Saya pun beranjak ke Latvia bukan untuk urusan plesir semata, tetapi karena mendapat beasiswa summer course di University of Latvia. Studi dua pekan itu pun memberikan kesempatan langka bagi saya –menikmati siang terpanjang di Latvia dan ragam acara budaya yang menyambutnya.

Tak banyak yang tahu di mana Latvia dan bagaimana pergi ke sana. Ada beberapa penerbangan langsung ke Riga, ibukota Latvia, terutama dengan pesawat low cost carrier dari beberapa bandara kota besar di Eropa.

Saya berangkat dari Amsterdam dengan Air Baltic, maskapai utama yang melayani penerbangan ke Latvia. Saya menemukan pengalaman baru. Penumpang hanya boleh membawa satu tas kabin dan harus membayar bagasi yang cukup mahal, yakni mencapai 40 Euro per koper. Jadi, bijak-bijaklah membawa barang bawaan. Karena 1 euro kurang lebih Rp 14.000, berarti satu koper harus dibayar Rp 560 ribu.

Ukuran bandara Riga bahkan lebih kecil dari bandara Jogjakarta atau Semarang. Bedanya, bandara tertata rapi dengan barisan taksi yang menyambut di pintu keluar.

Harga taksi menuju pusat kota bervariasi antara 7-10 Lats (1 Lats = Rp 19.000) dengan waktu perjalanan 15-25 menit. Sayangnya, pengemudi taksi sama dengan kebanyakan warga Latvia yang tak lancar berbahasa Inggris.

Jika ingin transportasi yang lebih murah, cobalah naik bus dengan biaya 0,7 Lats per perjalanan. Jika ingin lebih murah lagi, ada karcis debet seharga 10 Lats untuk 20 kali perjalanan yang dapat diperoleh dari mesin karcis serupa mesin ATM di banyak halte.

Latvia memang kecil, tapi menarik. Cobalah berkunjung jika sekali waktu berkeliling Eropa.

 

***

 

Merayakan Musim Panas

Negara-negara empat musim memiliki periode siang atau malam terpanjang dalam setahun. Saat saya berkunjung ke Latvia, siang terpanjang mencapai 20 jam dan langit tetap tampak kemerahan hingga matahari kembali terbit.

Uniknya, masyarakat Latvia terbiasa merayakannya dengan beberapa acara kebudayaan. Tepat tanggal 21 Juni 2013, pasar terbuka digelar di sekitar Dome Square, daerah yang mengelilingi katedral Dome atau bangunan terbesar pada masa medieval dan salah satu bangunan sakral di Latvia.

Pasar terbuka menjalar hingga pelataran belakang gereja St. Peter’s. Gereja ini pernah dihancurkan pada Perang Dunia II, namun telah direstorasi penuh pada tahun 1983 dan menjadi daya tarik tersendiri karena pengunjung bisa naik ke menaranya dan melihat Latvia dari ketinggian.

Siang terpanjang biasa dimanfaatkan masyarakat Latvia dengan berkumpul di keramaian sambil bernyanyi dan menari bersama. Selain di Dome Square, turis bisa bergabung di evening concert Kalnciema atau Ligo gathering di Museum of Theatre.

 

10 - menari di midsummer night party
Menari di Midsummer party

 

Di akhir pekannya, ribuan orang berkumpul di Cinevilla untuk merayakan musim panas. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut serta hingga pagi menjelang. Ada pentas opera di panggung terbuka, lengkap dengan tarian khas Latvia yang dilakukan serempak oleh ribuan pengunjung. Ada pula lapangan luas tempat barbeque dan bermabuk-mabukan hingga matahari terbit.

Masyarakat Latvia memang terkenal suka minuman keras. Bahkan, salah satu minuman herbal tradisional mereka, Latvija’s Balzams, diracik dari minuman keras oleh penemunya, Kunze. Jika tidak mau bersentuhan dengan minuman keras, bolehlah mencoba Qvash, minuman tradisional Latvia yang manis dan mirip jus markisa.

Esoknya, jangan berharap ada orang Latvia yang terbangun di pagi hari. Bahkan, aktivitas di awal pekan itu pun diliburkan, termasuk short course yang saya ikuti. Bagi mereka, ini sudah tradisi yang mengakar dan dilestarikan. Bernyanyi, menari, dan bermabuk-mabukan sampai pagi.

 

***

 

14 - Dome cathedral dari sisi lain
Dome Cathedral dari sisi lain

 

Jika tidak sempat berkunjung saat siang terpanjang, tidak perlu khawatir karena Latvia masih menyediakan beberapa situs menarik yang patut dikunjungi. Latvian Open-Air Ethnographic Museum adalah salah satunya.

Terletak di luar Riga, museum terbuka ini menampilkan wajah tua Latvia dan peninggalannya di sebuah taman-hutan yang luas. Pengunjung dapat melihat bagaimana nenek moyang orang Latvia hidup di masa lampau. Bahkan, mereka pun memiliki kincir angin layaknya Belanda.

Latvian National Opera pun menarik dikunjungi, terutama bila bertepatan dengan pertunjukan opera dan balet yang memukau. Gedung putih ini sangat mencolok, terletak di boulevard Basteja dan dikelilingi oleh air mancur Nymph dan monumen George Armitstead, yaitu patung pria, wanita dan chow-chow dog di pinggir kanal.

Selesai mengunjungi gedung opera ini, pengunjung dapat menyusuri kanal indah di tengah kota dengan bermacam perahu, baik yang dikayuh sendiri atau didorong mesin. Tidak jauh dari boulevard, berdiri tegak monumen kemerdekaan Latvia, the  Statue of Liberty, alias monumen yang didirikan untuk menghormati para prajurit yang tewas saat perang kemerdekaan (1918-1920). Menariknya, selalu ada dua prajurit yang menjaga monumen tersebut dan berjalan berkeliling di waktu-waktu tertentu seperti robot.

Gedung-gedung baru pun tidak kalah mengesankan, salah satunya adalah Sky Line Bar. Terletak di lantai 26 Radisson Blu Hotel, bar ini menawarkan pemandangan indah Latvia dari ketinggian. Datanglah di malam hari dan jangan lupa membawa kamera karena pemandangan seperti di kartu pos dapat terekam dari jendela-jendelanya.

 

8 - Salah satu kincir angin di Open-Air Museum
Kincir angin tua di Open Air Museum, Latvia

 

Namun, harga makanan dan minuman di sini mahal. Bahkan, pengunjung dikenakan tarif 2 Lats untuk masuk. Situs lainnya yang dapat dikunjungi adalah Triangul Bastion –gedung modern dengan dasar fortifikasi kuno dari bebatuan yang semula menjadi pertahanan dari artileri musuh. Bagi penyuka sejarah, jangan lupa pula untuk mengunjungi Riga Central Market yang memanfaatkan lima gudang senjata pada Perang Dunia II.

 

Sekilas tentang Lats

Latvia termasuk negara baru yang masuk Uni Eropa. Penggunaan Lats sebagai mata uang pun lebih luas dibandingkan Euro. Meski negara kecil, kurs Lats lebih tinggi dari Euro. Tapi, itu tidak berarti harga barang di Latvia lebih mahal dari negara Eropa lain. Justru, barang-barang dijual lebih murah. Lebih baik tukarkan uang Anda dengan Lats di money changer terlebih dahulu. Mengambil uang dari ATM emang memungkinkan, tetapi potongan dari setiap penarikan sangat tinggi. Jika pun ingin mengambil dari ATM, ambillah langsung dalam jumlah besar.

Ahmad Fuady

Writer, traveler, doctor, lecturer, and researcher

Artikel ini telah dimuat di rubric Leisure, Harian REPUBLIKA, pada 27 Agustus 2013

 

Gambar
Artikel yang dimuat di Republika

 

 

epaper_republika_Jalan-jalan
Artikel yang dimuat di Republika

 

 

Tetap Taat Saat Melancong

Gambar

Selagi belajar di Eropa, jalan-jalan ke negeri tetangga adalah pilihan yang mengasyikkan. Mumpung dekat dan murah. Tiket murah pun diburu, peta kota disiapkan, jalur dan moda transportasi ditelusuri, bahkan tempat makan pun dicari jauh-jauh hari. Tapi, mungkin banyak yang kerap lupa bagaimana menyiapkan diri agar tetap nyaman beribadah selama melancong. Persiapannya seringkali seadanya, dengan ilmu yang ala kadarnya juga. Padahal, ibadah kepada Allah tetap harus dijalankan di manapun berada, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Tinggal bagaimana menyesuaikan diri sesuai syariat yang diajarkan.

Lanjutkan membaca Tetap Taat Saat Melancong

Kajian Kitab Hadits Taysirul ‘Allaam

Gambar

Menjelang dan selama 10 hari pertama bulan Ramadhan, akan ada kajian sederhana yang membahas kitab hadits “Taysirul ’Allaam –Syarah ‘Umdatul Ahkam”. Disusun oleh asy Syaikh al ‘Allaamah ‘Abdullah bin Abdur Rahman bin Shalih Ali Bassaam, kitab ini berupaya mengumpulkan hadits-hadits dari dua kitab hadits utama, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yang disusun ulang untuk tujuan pembahasan kaifiyat ibadah. Mirip dengan berbagai kitab fiqih lainnya, pembahasan dimulai dari bab thaharah (bersuci), shalat, jenazah, hingga jihad.

Lanjutkan membaca Kajian Kitab Hadits Taysirul ‘Allaam

Bungkusan Plastik Mami

Gambar

Dari dulu Mami, begitu saya menyebut ibu saya, punya satu kebiasaan yang mungkin berakar dari tradisi di keluarga, yaitu membagi-bagikan makanan. Setiap ada kelebihan makanan, entah karena habis ada syukuran di rumah, sedang masak banyak, atau apapun, ibu saya membungkusnya dalam plastik dan meniatkannya untuk dibagikan ke tetangga dan kerabat. Lalu, dipanggillah anak-anaknya untuk membawakan kantong-kantong itu ke Cing[1] Anu, Cang[2] Ini, Bang Ono[3], atau Mpok Ene (semua bukan nama asli demi menjaga harkat dan martabat, hehe).

Lanjutkan membaca Bungkusan Plastik Mami