Bakal Bekal

Kiai Badrun tampak sedang berkemas-kemas. Beberapa lembar pakaiannya dimasukkan ke dalam koper besar. Bukan koper mahal, hanya dibelinya dengan terburu-buru di pasar loak sehari yang lalu. Tanpa merk, juga tanpa label harga yang bisa dibanggakan. Sebenarnya Kiai punya satu koper besar, tapi ia sendiri tak pernah tahu diletakkan di mana lagi sekarang. “Kau pikir kapan terakhir kita berhaji?” Kiai balik bertanya ke Hindun, istrinya, yang bolak balik ke gudang dan tidak menemukan satu pun isyarat benda bernama koper. Warnanya pun Kiai lupa. Kiai Badrun keluar dari varian normal para Kiai yang mampu berhaji dan umrah berkali-kali. “Itu kan sekali-kalinya kita pergi haji. Kalaupun hilang atau lupa, mudah-mudahan yang menemukan dan mengambilnya jadi bisa pergi haji. Anggap saja itu haji kita kedua. Haji koper.” Hindun tak bertanya lagi setelah itu. Mukanya lega menatap wajah suaminya yang tanpa beban sepulang dari pasar loak. Dua buah koper besar berwarna hitam dijinjingnya di kanan-kiri. Tak ada koper kecil untuk kabin, juga tak ada tas selempang yang bisa dibawa berjalan-jalan. Ah, dua koper pun cukup. Hati yang lapang, bahkan, lebih dari cukup.

Lanjutkan membaca Bakal Bekal

Iklan

Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

Lanjutkan membaca Sense of Insecurity

Qur’an Based Life

Bolak-balik mahasiswa datang ke saya, kadang dengan menelepon berkali-kali terlebih dahulu, hanya untuk memastikan topik yang diambilnya untuk sebuah tugas. Memang, tugas itu barangkali menjadi momok bagi kebanyakan mahasiswa kedokteran. Barangkali pula banyak yang tak mengerti benar mengapa mereka harus berjibaku dengan jurnal, lengkap dengan metode dan analisis statistiknya. Tak ingin berpeluh hanya untuk menilai sebuah studi itu sahih atau tidak, kebanyakan beranggapan: Berikan saja kesimpulannya, beres!

Lanjutkan membaca Qur’an Based Life