Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Lanjutkan membaca Terbukti Manusia

Iklan

Menyusuri Paris dengan Stroller

Dimuat di Republika (26/03/2013) rubrik khusus Leisure.

Silakan dinikmati tulisan dan fotonya dengan meng-klik foto dan memperbesar ukuran tampilannya 🙂

Salam,

Gambar

epaper_republika_Tempat_Wisata_Pilihan

Jakarta Sehat vs Dokter

Gambar

Ahmad Fuady*

(Dimuat di Harian Republika, 21/03/2013)

Kebijakan Gubernur DKI mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) menuai pro dan kontra. Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pun beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mencederai perasaan dokter. Kalimat “Saya sikat Bapak-bapak” di depan para dokter mengisyaratkan ketidakpahamannya mengenai sistem layanan kesehatan yang tengah dibangunnya di Jakarta. Alih-alih menganalisis lebih dalam mengenai kurangnya fasilitas kesehatan, masyarakat justru digiring ke dalam opini bahwa dokter yang paling bertanggungjawab atas banyaknya kasus kematian dan penelantaran pasien belakangan ini.

Lanjutkan membaca Jakarta Sehat vs Dokter

Kado

Dik, tak ada yang mengerti sepenuhnya seberapa sanggup kita melangkah ke depan, seperti tak ada pula yang mengerti sepenuhnya mengapa kita bersua di belakang. Tuhan sudah mengaturnya –perjumpaan yang singkat, pencarian yang panjang, juga perjanjian yang kuat. Tak ada yang lebih dari itu. Jika ada manusia yang membencinya, bencilah Tuhan sekehendak mereka. Kita tak berjalan mundur, tapi berpijak untuk pergi sejauh kaki kita mampu.

Lanjutkan membaca Kado

Mencari Namrudz

Demokrasi barangkali telah menjadi lahan bercocok tanam paling menguntungkan hari ini, bukan ladang gandum, pabrik tempe, atau kandang sapi. Silakan hitung berapa banyak kapital yang digelontorkan dalam gerbong demokrasi, dari sekadar bergembiranya media sosial, munculnya banyak pengamat demokrasi, keuntungan lembaga survey, hingga dana kampanye yang jumlahnya barangkali cukup untuk memberi makan jutaan rakyat yang fakir. Sayangnya, lahan yang subur itu tak juga dapat diprediksi kapan dapat dipanen. Buahnya rupa-rupa. Yang sinis akan beranggapan bahwa buahnya lebih banyak yang menjelang busuk –jika tidak mau dikatakan memang busuk benar. Yang permisif berusaha meyakinkan untuk terus bersabar meski kabinet sudah berganti berkali-kali.  Jangan tanyakan mereka yang anti. Demokrasi sudah diketuk palu sebagai produk thaghut yang mesti dimusnahkan, berkebalikan dengan para pelaku demokrasi yang terus bergeming meski dikritik. Mereka itu yalhats aw tatrukhu yalhats; preokupasinya terhadap demokrasi sudah tak bisa digoyang.

Lanjutkan membaca Mencari Namrudz

Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

maling sepatuKetika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

Lanjutkan membaca Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Tulisan saya di The Jakarta Post

=======================

Ahmad Fuady, Rotterdam, the Netherlands | Opinion | Thu, January 31 2013, 10:03 AM

Paper Edition | Page: 6

Late in December 2012, President Susilo Bambang Yudhoyono signed a new government regulation on tobacco. It was a surprise, considering the desperately long struggle to try to control or curtail tobacco use.

 

Lanjutkan membaca The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Uwais di San Diego Hill

Saya masih ingat seorang pasien yang datang dengan nada cemas yang berlapis-lapis. “Saya sulit tidur seminggu ini,” katanya. Wawancara saya mulai dengan menyingkirkan faktor organik yang tak menjumpai sasaran. Hampir lima menit berkutat dengan beragam pertanyaan, akhirnya saya kembali mengakkan tubuh saya dan menjulurkan telinga saya. “Silakan cerita, saya mendengarkan, Pak.”

Lanjutkan membaca Uwais di San Diego Hill

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Lanjutkan membaca Menjadi Adam yang Kesumat

Bakal Bekal

Kiai Badrun tampak sedang berkemas-kemas. Beberapa lembar pakaiannya dimasukkan ke dalam koper besar. Bukan koper mahal, hanya dibelinya dengan terburu-buru di pasar loak sehari yang lalu. Tanpa merk, juga tanpa label harga yang bisa dibanggakan. Sebenarnya Kiai punya satu koper besar, tapi ia sendiri tak pernah tahu diletakkan di mana lagi sekarang. “Kau pikir kapan terakhir kita berhaji?” Kiai balik bertanya ke Hindun, istrinya, yang bolak balik ke gudang dan tidak menemukan satu pun isyarat benda bernama koper. Warnanya pun Kiai lupa. Kiai Badrun keluar dari varian normal para Kiai yang mampu berhaji dan umrah berkali-kali. “Itu kan sekali-kalinya kita pergi haji. Kalaupun hilang atau lupa, mudah-mudahan yang menemukan dan mengambilnya jadi bisa pergi haji. Anggap saja itu haji kita kedua. Haji koper.” Hindun tak bertanya lagi setelah itu. Mukanya lega menatap wajah suaminya yang tanpa beban sepulang dari pasar loak. Dua buah koper besar berwarna hitam dijinjingnya di kanan-kiri. Tak ada koper kecil untuk kabin, juga tak ada tas selempang yang bisa dibawa berjalan-jalan. Ah, dua koper pun cukup. Hati yang lapang, bahkan, lebih dari cukup.

Lanjutkan membaca Bakal Bekal

Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

Lanjutkan membaca Sense of Insecurity