Jangan Percuma

Gambar

Saat pertama kali saya ke luar negeri karena mendapat fellowship studi riset, Ayah saya cemas luar biasa. Bukan karena saya tak punya uang, tapi lebih karena Ayah tak pernah melihat saya bicara dengan bahasa Inggris di rumah. Kecemasan itu lantas membuat kesehatannya turun drastis dan saya menemukan satu hal yang baru saya sadari: saya gagal belajar bahasa Inggris.

Lanjutkan membaca Jangan Percuma

Iklan

Kado Terindah

Gambar

Pekan lalu tepat usia saya 27 tahun berdasarkan akte lahir. Panjang kisahnya bila saya ceritakan pada tanggal berapa sebenarnya saya lahir. Mami –begitu saya memanggil ibu saya, tidak mengingat dengan jelas kapan saya tepat dilahirkan. Riwayat yang saya dengar dari lisannya, tanggal lahir saya dimundurkan karena menghindari pilihan untuk membayar denda atas keterlambatan registrasi yang mahal bagi orangtua saya saat itu. Tidak terbayangkan di kepala saya tentang kesulitan yang mendera orangtua kala itu, lantas membesarkan saya sebagai anak mereka yang kesepuluh. Pelan saya beranjak dewasa dan memiliki keinginan sederhana: menjadi guru seperti Ayah. Tidak lebih dari itu.

Lanjutkan membaca Kado Terindah

Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Lanjutkan membaca Terbukti Manusia

Jakarta Sehat vs Dokter

Gambar

Ahmad Fuady*

(Dimuat di Harian Republika, 21/03/2013)

Kebijakan Gubernur DKI mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) menuai pro dan kontra. Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pun beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mencederai perasaan dokter. Kalimat “Saya sikat Bapak-bapak” di depan para dokter mengisyaratkan ketidakpahamannya mengenai sistem layanan kesehatan yang tengah dibangunnya di Jakarta. Alih-alih menganalisis lebih dalam mengenai kurangnya fasilitas kesehatan, masyarakat justru digiring ke dalam opini bahwa dokter yang paling bertanggungjawab atas banyaknya kasus kematian dan penelantaran pasien belakangan ini.

Lanjutkan membaca Jakarta Sehat vs Dokter

Kado

Dik, tak ada yang mengerti sepenuhnya seberapa sanggup kita melangkah ke depan, seperti tak ada pula yang mengerti sepenuhnya mengapa kita bersua di belakang. Tuhan sudah mengaturnya –perjumpaan yang singkat, pencarian yang panjang, juga perjanjian yang kuat. Tak ada yang lebih dari itu. Jika ada manusia yang membencinya, bencilah Tuhan sekehendak mereka. Kita tak berjalan mundur, tapi berpijak untuk pergi sejauh kaki kita mampu.

Lanjutkan membaca Kado

Mencari Namrudz

Demokrasi barangkali telah menjadi lahan bercocok tanam paling menguntungkan hari ini, bukan ladang gandum, pabrik tempe, atau kandang sapi. Silakan hitung berapa banyak kapital yang digelontorkan dalam gerbong demokrasi, dari sekadar bergembiranya media sosial, munculnya banyak pengamat demokrasi, keuntungan lembaga survey, hingga dana kampanye yang jumlahnya barangkali cukup untuk memberi makan jutaan rakyat yang fakir. Sayangnya, lahan yang subur itu tak juga dapat diprediksi kapan dapat dipanen. Buahnya rupa-rupa. Yang sinis akan beranggapan bahwa buahnya lebih banyak yang menjelang busuk –jika tidak mau dikatakan memang busuk benar. Yang permisif berusaha meyakinkan untuk terus bersabar meski kabinet sudah berganti berkali-kali.  Jangan tanyakan mereka yang anti. Demokrasi sudah diketuk palu sebagai produk thaghut yang mesti dimusnahkan, berkebalikan dengan para pelaku demokrasi yang terus bergeming meski dikritik. Mereka itu yalhats aw tatrukhu yalhats; preokupasinya terhadap demokrasi sudah tak bisa digoyang.

Lanjutkan membaca Mencari Namrudz

Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

maling sepatuKetika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

Lanjutkan membaca Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Tulisan saya di The Jakarta Post

=======================

Ahmad Fuady, Rotterdam, the Netherlands | Opinion | Thu, January 31 2013, 10:03 AM

Paper Edition | Page: 6

Late in December 2012, President Susilo Bambang Yudhoyono signed a new government regulation on tobacco. It was a surprise, considering the desperately long struggle to try to control or curtail tobacco use.

 

Lanjutkan membaca The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Uwais di San Diego Hill

Saya masih ingat seorang pasien yang datang dengan nada cemas yang berlapis-lapis. “Saya sulit tidur seminggu ini,” katanya. Wawancara saya mulai dengan menyingkirkan faktor organik yang tak menjumpai sasaran. Hampir lima menit berkutat dengan beragam pertanyaan, akhirnya saya kembali mengakkan tubuh saya dan menjulurkan telinga saya. “Silakan cerita, saya mendengarkan, Pak.”

Lanjutkan membaca Uwais di San Diego Hill

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Lanjutkan membaca Menjadi Adam yang Kesumat