Kajian Kitab Hadits Taysirul ‘Allaam

Gambar

Menjelang dan selama 10 hari pertama bulan Ramadhan, akan ada kajian sederhana yang membahas kitab hadits “Taysirul ’Allaam –Syarah ‘Umdatul Ahkam”. Disusun oleh asy Syaikh al ‘Allaamah ‘Abdullah bin Abdur Rahman bin Shalih Ali Bassaam, kitab ini berupaya mengumpulkan hadits-hadits dari dua kitab hadits utama, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yang disusun ulang untuk tujuan pembahasan kaifiyat ibadah. Mirip dengan berbagai kitab fiqih lainnya, pembahasan dimulai dari bab thaharah (bersuci), shalat, jenazah, hingga jihad.

Lanjutkan membaca Kajian Kitab Hadits Taysirul ‘Allaam

Iklan

Bungkusan Plastik Mami

Gambar

Dari dulu Mami, begitu saya menyebut ibu saya, punya satu kebiasaan yang mungkin berakar dari tradisi di keluarga, yaitu membagi-bagikan makanan. Setiap ada kelebihan makanan, entah karena habis ada syukuran di rumah, sedang masak banyak, atau apapun, ibu saya membungkusnya dalam plastik dan meniatkannya untuk dibagikan ke tetangga dan kerabat. Lalu, dipanggillah anak-anaknya untuk membawakan kantong-kantong itu ke Cing[1] Anu, Cang[2] Ini, Bang Ono[3], atau Mpok Ene (semua bukan nama asli demi menjaga harkat dan martabat, hehe).

Lanjutkan membaca Bungkusan Plastik Mami

Pesan

Gambar

Anakku,

Dunia riuh kuasa dan tahta

Buat kau tak menyangka

Mana nyata dan mana buta

 

Duduklah di sini

Matahari belum terlampau tinggi

Kita sama membenahi hati

Tentang muara masa kini

Dan masa depan yang kita beli

 

Anakku,

Kelak jika kau sendiri

Pada hari-hari yang kau susuri

Tuhan tak pernah pergi

Ia ada, membuatmu dua

Kala dua, Ia yang ketiga

Tepat tiga, keempatnyalah Ia

Jangan kau tukar Ia

dengan sebentuk apa

Karena hanya bersama Ia

Kau mampu rengkuh segala

 

Rotterdam, Mei 2013

untuk ananda, Birru Syaikhul Ulum

Kado Terindah

Gambar

Pekan lalu tepat usia saya 27 tahun berdasarkan akte lahir. Panjang kisahnya bila saya ceritakan pada tanggal berapa sebenarnya saya lahir. Mami –begitu saya memanggil ibu saya, tidak mengingat dengan jelas kapan saya tepat dilahirkan. Riwayat yang saya dengar dari lisannya, tanggal lahir saya dimundurkan karena menghindari pilihan untuk membayar denda atas keterlambatan registrasi yang mahal bagi orangtua saya saat itu. Tidak terbayangkan di kepala saya tentang kesulitan yang mendera orangtua kala itu, lantas membesarkan saya sebagai anak mereka yang kesepuluh. Pelan saya beranjak dewasa dan memiliki keinginan sederhana: menjadi guru seperti Ayah. Tidak lebih dari itu.

Lanjutkan membaca Kado Terindah

Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Lanjutkan membaca Terbukti Manusia

Jakarta Sehat vs Dokter

Gambar

Ahmad Fuady*

(Dimuat di Harian Republika, 21/03/2013)

Kebijakan Gubernur DKI mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) menuai pro dan kontra. Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pun beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mencederai perasaan dokter. Kalimat “Saya sikat Bapak-bapak” di depan para dokter mengisyaratkan ketidakpahamannya mengenai sistem layanan kesehatan yang tengah dibangunnya di Jakarta. Alih-alih menganalisis lebih dalam mengenai kurangnya fasilitas kesehatan, masyarakat justru digiring ke dalam opini bahwa dokter yang paling bertanggungjawab atas banyaknya kasus kematian dan penelantaran pasien belakangan ini.

Lanjutkan membaca Jakarta Sehat vs Dokter

Kado

Dik, tak ada yang mengerti sepenuhnya seberapa sanggup kita melangkah ke depan, seperti tak ada pula yang mengerti sepenuhnya mengapa kita bersua di belakang. Tuhan sudah mengaturnya –perjumpaan yang singkat, pencarian yang panjang, juga perjanjian yang kuat. Tak ada yang lebih dari itu. Jika ada manusia yang membencinya, bencilah Tuhan sekehendak mereka. Kita tak berjalan mundur, tapi berpijak untuk pergi sejauh kaki kita mampu.

Lanjutkan membaca Kado

Mencari Namrudz

Demokrasi barangkali telah menjadi lahan bercocok tanam paling menguntungkan hari ini, bukan ladang gandum, pabrik tempe, atau kandang sapi. Silakan hitung berapa banyak kapital yang digelontorkan dalam gerbong demokrasi, dari sekadar bergembiranya media sosial, munculnya banyak pengamat demokrasi, keuntungan lembaga survey, hingga dana kampanye yang jumlahnya barangkali cukup untuk memberi makan jutaan rakyat yang fakir. Sayangnya, lahan yang subur itu tak juga dapat diprediksi kapan dapat dipanen. Buahnya rupa-rupa. Yang sinis akan beranggapan bahwa buahnya lebih banyak yang menjelang busuk –jika tidak mau dikatakan memang busuk benar. Yang permisif berusaha meyakinkan untuk terus bersabar meski kabinet sudah berganti berkali-kali.  Jangan tanyakan mereka yang anti. Demokrasi sudah diketuk palu sebagai produk thaghut yang mesti dimusnahkan, berkebalikan dengan para pelaku demokrasi yang terus bergeming meski dikritik. Mereka itu yalhats aw tatrukhu yalhats; preokupasinya terhadap demokrasi sudah tak bisa digoyang.

Lanjutkan membaca Mencari Namrudz

Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

maling sepatuKetika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

Lanjutkan membaca Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya