Berbeda, Bermain

Melihat lagi ke wajah Birru, saya ingat apa yang membuatnya nyaman berbagi dengan orang yang sama sekali berbeda dengannya: bermain dan tertawa. Barangkali itu yang kita lupa. Kita nampak terlalu serius untuk dunia yang –Tuhan pun menyebutnya, hanya senda gurau dan permainan.

diversity

Kami berangkat ke Belanda selepas idul Adha –momen yang begitu lekat menempel di kepala Birru. Ia tergila-gila dengan sapi, domba, dan penyembelihan keduanya. Maka, sebelum berangkat, kami berdiskusi kecil tentang penyembelihan kurban yang tidak akan bisa dilihatnya lagi nanti saat di Belanda. “Kenapa tidak ada potong kurban di Belanda?” tanyanya. Pertanyaan kenapa selalu sulit untuk dijawab. Panjang, sampai akhirnya dia memahami ada perbedaan antara Belanda dan Indonesia dan segala penyembelihan hanya diijinkan di tempat yang sudah ditentukan.

Ia belajar tentang perbedaan dari hal-hal kecil yang dilihatnya dan selalu diakhiri dengan pertanyaan ‘kenapa’. Kenapa rambutnya coklat? Kenapa sepedanya berjalan di sebelah kanan? Kenapa belum terang dan matahari belum tinggi (ketika sudah jam enam pagi)? Kenapa tidak ada air di toilet? Kenapa kita tidak naik mobil sendiri?

Kami duduk menunggu dipanggil antrean di Balai Kota waktu itu. Saya tersenyum saat ibunya meminta Birru menengok ke orang di sebelah saya dan bertanya apa warna kulitnya. “Hitam,” kata Birru. Yang di sebelah sana? “Putih”. Rambutnya? Matanya? Ia melihat banyak yang berbeda –bahkan, di sekolahnya. Juga tentang dirinya yang berbeda dengan banyak temannya.

Saya jadi ikut menerawang masa kecil kembali. Saya tidak begitu paham mengapa dulu semasa kanak-kanak, kami mengejek sesama kawan dengan sebutan suku mereka. Si X yang dari Jawa, dipanggillah ‘X Jawa’. Semakin menjadi-jadi ejekannya bila ternyata logatnya begitu kentara. Begitupun dengan mereka yang berasal dari Padang. Mungkin karena lingkungan Betawi yang relatif homogen di sekeliling sekolah waktu itu –seperempat abad yang lalu, yang membuat kami mengidentifikasi perbedaan dengan ‘ejekan’.

Homogenitas, di satu sisi, adalah keberuntungan. Mudah dikendalikan, dikontrol, dan diintervensi. Tetapi, pada sisi yang lain, ia menjadi momok –yang pada satu titik ekstrem memicu penolakan pada perbedaan dalam gradasinya masing-masing. Lalu, kita gagap dalam mengelolanya. Ini terjadi di banyak tempat, bahkan di negara maju, pada kelas menengah urban. Keberagaman lantas dirayakan dengan simbol kelompok ketika ruang kebebasan dan kesetaraan dibuka. Keragaman, terutama ras, kerap dimaknai dalam kuantitas sehingga istilah mayoritas dan minoritas gegap gempita.

Afinitas adalah sebuah keniscayaan dan setiap orang punya kebebasan memilih kepada siapa dan kelompok mana mereka akan condong. Tetapi sikap menghargai adalah kemutlakan yang harus dipenuhi. Ketidaksamaan tidak perlu dianggap sebagai tembok menjulang yang membatasi kita untuk dapat bekerjasama sehingga kita membuat kelompok-kelompok eksklusif yang saling menjaga jarak.

Rotterdam barangkali contoh menarik bagaimana multiras bercampur dan rekayasa social mixing berjalan lewat program City Safari-nya dua puluh tahun lalu. Ini bukan program interkultural yang kaku dengan tujuan membangun koneksi multikultur, tetapi menciptakan ruang hiburan yang dapat dinikmati bersama tanpa ada kejengahan antar satu dengan lainnya. Meski mungkin tidak cocok diterapkan di skala besar lainnya, misalnya Inggris, Perancis, atau Indonesia sekalipun, dasar penting sebagai pijakan adalah mencari kesamaan dalam perbedaan.

Kita telah lelah meributkan banyaknya perbedaan –di ruang kelas, kerja, RT, partai, juga negara. Kita lupa pada kesibukan mencari di mana kesamaan yang kita miliki.

Melihat lagi ke wajah Birru, saya ingat apa yang membuatnya nyaman berbagi dengan orang yang sama sekali berbeda dengannya: bermain dan tertawa. Barangkali itu yang kita lupa. Kita nampak terlalu serius untuk dunia yang –Tuhan pun menyebutnya, hanya senda gurau dan permainan.

Rotterdam, November 2016

Iklan

Dari Menuntun Hingga Dituntun

img_20160619_062155

Saya tidak mengenal masjid hingga Ayah yang memperkenalkannya. Tidak dengan gambar atau cerita, Ayah mengajak langsung ke masjid, menuntun saya di sisinya, menunjukkan tempat terbaik di shaf terdepan, dan mengajari saya bagaimana berlaku di dalam masjid. Seringkali Ayah shalat lebih banyak daripada pengetahuan saya tentang adab masuk masjid; juga lebih banyak sebelum meninggalkannya. Saya tak pernah dipaksa untuk melakukannya. Cukup mengerti bahwa ada kecintaan Allah pada setiap rakaat tahiyatul masjid dan sunnah rawatib. Itu saja cukup.

Lanjutkan membaca Dari Menuntun Hingga Dituntun

Rokok di Bibir Pak Kiai

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket jadi kampiun satu benua, bola voli kita bersaing dengan negara maju? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas karena rokok-rokok itu yang membiayai sekolahnya? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Lapangan bolanya sudah sedekat lapangan bola kita, Kiai. Menempel di televisi. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka…”

 

Sudah hampir seminggu Kiai Badrun sakit. Selama sakit itu, murid-muridnya seperti terlantar tak ada yang mengajari. Sebenarnya Kiai Badrun sudah menitipkan nama penggantinya ke para murid, tapi nyaris semua menolak. Alasannya pun seragam, “Ndakada yang bisa menggantikan Kiai.” Entah apa sebutannya, Kiai Badrun sudah melebihi maqampresiden dalam benak murid-muridnya. Dicintai luar dalam, bahkan tanpa perlu sedikit pun Kiai berkampanye dan mengambil hati. Tapi, tak ada satupun muridnya yang berani menyebutnya Wali, apalagi Nabi. Betapapun ia dicintai dan dikagumi, Kiai Badrun hanya ingin disebut kiai. Panggilan itu pun sudah terlampau tinggi, katanya.

Dalam kesakitannya, Kiai Badrun melihat sendiri muridnya mengatur jadwal bergiliran menjaganya. Mereka bergantian setiap delapan jam, mirip jadwal perawat jaga di rumah sakit. Satu hari dibagi menjadi tiga shift; dua shift dipegang murid-murid sedangkanshift ketiga sengaja dikosongkan. Biarlah itu menjadi waktu Bu Hindun merawat suaminya di kamar sejak menjelang tengah malam hingga selepas subuh.

Jarun, murid Kiai Badrun yang terkenal sontoloyo di antara murid-murid lainnya, duduk sambil membacakan jadwal jaga yang harus dipatuhi semua murid. Ia membagi tujuh hari menjadi empat belas waktu jaga sehingga masing-masing murid mendapat giliran satu kali jaga dalam sepekan. Itu urusan mudah baginya. Semuanya manut pada apa yang diaturnya. Tapi, mendadak keningnya berkerut. Kedua alisnya saling mendekat dan nyaris bersatu. Satu tangannya menopang dagu, dan itu cukup untuk membuat keheningan baru. Ia lantas meminta semua temannya tetap di tempat dan tak satu pun boleh bergerak dari ruangan depan tempat mereka mengaji.

Mengendap ia berjalan ke dapur, mengetuk pintunya sambil berdehem. “Ke mana kau, Jarun?” Manun bertanya, hendak berdiri pula. Tapi, Jarun segera mengangkat telunjuk kanannya ke bibir. Isyarat bahwa keheningan harus tetap dirawat sampai ia memberi kode lain. Jarun memanggil setengah berbisik, “Bu Hindun….” Kemudian semua murid tahu bahwa yang dicari Jarun adalah Bu Hindun, perempuan cantik yang dipersunting Kiai Badrun hampir 25 tahun lalu. Hanya saja, mereka tetap tak paham apa yang hendak diperbuat Jarun.

Dalam keheningan yang terpaksa itu, Manun sebenarnya menyimpan geram. “Apa yang dia mengerti tentang demokrasi?” Hanya geraman, sesungguhnya. Matanya masih menunduk sambil mengorek-ngorek karpet hijau panjang dengan telunjuk kecilnya. Tapi, nyatanya gayung bersambut. Demokrasi mana yang sudah dilanggar?” Rajiun menengoknya. Berpura-pura serius.

“Telunjuk di bibirnya itu. Dia hanya mempersilakan hatinya dan Tuhan untuk mengerti apa yang ada dalam pikirannya.”

“Apanya yang keliru? Sah-sah saja.”

“Itu kalau dia hanya berlaku seorang diri. Tapi, kita sementara adalah jamaahnya, mengikut padanya.”

“Selama dia ndak melanggar Tuhan, apanya yang harus kita ributkan? Jamaah ndak perlu tahu semua gerakan.”

“Tapi, kau kan selalu ingat. Imam selalu men-jahar-kan takbir setiap kali berganti posisi, Un.”

Percakapan terhenti. Lirikan mereka berpaling ke arah dapur. Bu Hindun sudah keluar menghampiri Jarun. Tak salah memang jika banyak orang memuji kecantikannya. Bu Hindun, selain cantik rupa, juga adalah perempuan yang menawan jiwanya. Entah dari mana Kiai Badrun membawanya kemari. Ia tampak seperti bidadari yang tak ditemukan di dunia manapun. Suaranya lembut, tak pernah keras. Matanya bulat, dan setiap kali orang menatap bola matanya tampaklah kesejukan yang mengalir diam-diam. Sedangkan periode yang paling ditunggu-tunggu orang adalah masa ketika ia melempar senyum. Berdesas-desuslah semua orang dan mengunjungi Kiai Badrun berduyun-duyun untuk bertanya doa mujarab apa yang patut dilantunkan saat mencari jodoh.

Tampak Bu Hindun mengangguk-angguk tanpa suara di pintu dapur. Jarun seperti tengah membisikkan perkara paling rahasia sehingga tak ada satu desis pun yang terdengar ke ruang depan. Manun menatapnya curiga. Jarun begitu berapi-api, tangannya bergerak naik-turun, dan wajahnya menjadi terlampau asing karena begitu serius. Pada anggukan Bu Hindun yang terakhir, Jarun mengangkat kepalanya. Merasa lega, sepertinya. Bu Hindun yang hampir tak bisa ke mana-mana semenjak Kiai Badrun sakit dan lebihs ering hanya mondar-mandir dari dapur ke kamar, kamar ke ruang tamu, dan balik lagi ke kamar, menyimpan harap dalam tatapannya ke Jarun. Jarun berinjit, masuk ke kamar sang Kiai. Nyaris tanpa suara. Manun yang masih terduduk semakin curiga.

“Kau masih berpikir demokrasi, Nun?” Sami’un menanggapi tatapan curiga Manun sambil tertawa.

“Sekarang ini?”

“Ya, sekarang. Kapan lagi?”

“Apalah arti rakyat, umat, jamaat? Jarun pasti sudah tersandera akalnya yang dipikirnya hebat itu. Mirip penguasa. Kebanyakan penguasa.” Serius sekali Manun berucap. Bisik-bisiknya kepada Sami’un itu sudah mirip dialog tokoh politik di televisi. Dan Sami’un –yang merasa cukup berindak seperti presenter dialog, hanya tertawa kecil.

“Berdoalah saja, Nun,” kata Sami’un. “Berdoalah supaya Kiai Badrun mengajarinya demokrasi di dalam kamarnya. Tiga bab langsung, tanpa jeda.” Sami’un tertawa lagi. Manun diam, mengorek-ngorek karpet lagi dengan telunjuk kecilnya.

Pelan-pelan Jarun masuk ke kamar Kiai Badrun, mengucap salam, lalu mengambil tempat duduk di sebelah sang guru. Pertemuan itu dibuka dengan senyum setelah salam, saling melirik, lalu sama-sama terdiam. Beberapa detik yang serupa dengan lipatan jam penuh rindu. Terasa hampa. Lama.

“Kiai, apa Kiai pernah merokok?” Jarun akhirnya membuka tanya dengan muka serius. Baru kali itu mukanya terlihat serius bukan kepalang. Alis-alisnya menyatu seperti tengah berpikir keras dan berupaya meramal meski ia tahu ramalannya akan tak menghasilkan apa-apa. Ia bukan Yusuf yang mampu membaca mimpi, bukan pula Rahib yang meramal kenabian Muhammad lewat tanda-tandanya. Ia hanya Jarun –yang ibu-bapaknya saling kenal karena bertetangga.

“Maksud kamu, Run?”

“Maksud saya ya, apa Kiai pernah merokok sampai jatuh sakit seperti ini? Kiai kan tahu, rokok itu dapat menyebabkan kanker, gangguan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin… Mungkin saja Kiai terserang penyakit yang rentet saya sebut itu.”

“Maksud kamu, Run?” Kiai Badrun bertanya lagi. Tidak percaya.

“Kalau bukan karena rokok, lalu karena apa? Rokok itu kan kawan malaikat maut yang paling mengerikan, Kiai.”

“Saya ndak pernah merokok, Run.”

“Kalau begitu, sekarang Kiai mungkin harus merokok.”

“Maksud kamu, Run?”

“Mungkin saja kalau sudah punya label Kiai, rokok itu jadi obat, jadi vitamin, Kiai. Rasanya jadi lebih manis dari anggur. Kiai Makmun, sudah berapa tahun umurnya? Nyaris satu abad, Kiai. Merokoknya sudah lebih dari setengah abad, tapi masih lancar mengajar dan memimpin pengajian.”

Kiai Badrun diam saja. Menatap langit-langit sampai muridnya yang paling sontoloyo itu membisiknya lagi, “Ini mungkin jadi obat, Kiai. Percayalah…”

Baru setelah itu, Kiai Badrun tertawa. Hahaha… Khas. Haha-nya yang tiga kali. Tidak ada raut kesakitan lagi di wajahnya. Jarun melirik ke pintu, khawatir suara Kiai badrun menyelinap keluar dan membuat sekawanan muridnya kaget dan ikut melongok ke kamar.

“Kok Kiai malah tertawa? Apanya yang lucu? Apa Kiai ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, ada banyak petani tembakau yang rizkinya terpenuhi? Bayangkan saja kalau semua kemudian berdoa untuk Kiai supaya lekas sehat lagi. Apa Kiai juga ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, pendapatan negara ikut naik dan fakir miskin jadi punya lebih banyak jatah pembangunannya? Bayangkan kalau fakir-fakir miskin itu berdoa untuk Kiai supaya lekas sembuh…”

“Jadi rokok ini bisa jadi lebih sehat dari madu? Lebih mujarab dari paracetamol?”

“Dengan izin Allah, Kiai…” Jarun mantap.

“Kalau begitu, ke mana nanti larinya malaikat maut? Yang ikut membunuh orang-orang dari nyala api di ujung bibirnya itu…”

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket jadi kampiun satu benua, bola voli kita bersaing dengan negara maju? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas karena rokok-rokok itu yang membiayai sekolahnya? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Lapangan bolanya sudah sedekat lapangan bola kita, Kiai. Menempel di televisi. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka… Semua, bisa jadi karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Dan Kiai bisa bayangkan sendiri, bandingkan saja apa yang sudah dipersembahkan sebatang rokok yang Kiai hisap itu dibandingkan zakat, infaq dan shadaqah yang setiap hari Kiai suar-suarkan lewat pengajian untuk dikeluarkan…”

Kiai Badrun diam saja. Tatapannya lurus ke muridnya yang paling sontoloyo. Baru kali ini Kiai terkesima karena Jarun bisa terus bicara tanpa berhenti dalam kalimat yang tak habis-habis. Mukanya memerah karena kehabisan napas, dan setelah itulah sang Kiai kembali tertawa. Hahaha…

Jarun membalasnya dengan tawa yang lebih keras. Lalu menyodorkan sebatang rokok dari sakunya ke depan bibir sang Kiai.

“Hisap saja, Kiai… Bahkan, anggur di tangan Kiai menjadi lebih lezat dari susu dan madu.”

Kiai mengambilnya, memasukkannya di sela-sela bibir. Menggamitnya dengan seksama, lalu berbisik saja, “Ndak usah dinyalakan apinya…”

 

Diambil dari serial “Negeri Sukun: Kiai di Sarang Kompeni”. 

Tali Rafia Ayah

IMG_20160619_061737

Bagi anak-anak, lebaran adalah murni perayaan, juga hadiah. Entah sejak kapan kultur itu didedahkan. Yang saya pahami, orangtua saya berbagi tugas untuk memberikan hadiah kepada anak-anaknya yang masih kecil. Mami membelikan kemeja dan celana panjang, sedangkan Ayah membelikan sepatu, sarung, koko, dan kopiah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mengaturnya untuk anak-anaknya yang berjumlah sepuluh. Tentu, tidak kesepuluh anaknya diberi hadiah. Mereka yang sudah beranjak dewasa harus mengalah kepada adik-adiknya yang masih kecil. Yang menarik adalah cara Ayah membelikan kami hadiah-hadiah tersebut.

Ayah tidak punya mobil. Apa yang bisa diharapkan dari penghasilan guru SD lulusan muallimin dengan jumlah anak sebegitu banyak? Pun, ketika Ayah sudah mampu membeli mobil, Ayah tidak bisa mengendarainya. Jadilah ia pergi ke mana-mana dengan Vespa-nya –yang belakangan akhirnya ia jual setelah pensiun. Vespa itu yang menemani kami pergi ke mana-mana. Kadang berboncengan berdua, bertiga, berempat, atau berlima. Bergantung siapa saja yang diangkutnya. Posisi favorit saya selalu berdiri di depan –antara jok Ayah dan setir motor. Beberapa kali saya merajuk jika diminta untuk duduk di belakang –berhimpit antara Ayah dan Mami. “Dedy sudah ngantuk, di belakang saja,” kata Ayah. Saya manyun, tetapi tidak mungkin membantah. Toh, akhirnya di tengah perjalanan saya tertidur juga. Kalaupun bukan karena alasan mengantuk, pastilah karena oleh-oleh yang banyak sehabis pulang darmawisata lulusan SD. Ruang antara jok Ayah dan setir motor itu penuh dengan talas, pisang, atau bengkuang. Khas daerah Puncak saat itu –yang masih segar dan tidak macet.

Karena Vespa itu pulalah, Ayah memutar otaknya. Setiap lebaran, tidak mungkin anak-anaknya diajak serta ke pasar membeli hadiah. Maksimal tiga saja anaknya yang diajak. Bahkan, beberapa kali tak ada satupun dari kami yang diajak. Yang dilakukan Ayah kemudian adalah pergi ke dapur, mengambil tali rapia dan menghitung ukuran kami. Ayah mengukur panjang kaki kami dengan tali rafia untuk membeli sepatu, melingkarkan tali di kepala untuk mengira-ngira ukuran kopiah kami, juga merentangkan rafia selebar bahu kami untuk mencari baju koko yang pas. Rasanya berdebar-debar. Takut jika ukuran yang dibeli Ayah tidak sesuai.

Beberapa kali tepat pas, beberapa kali pula ukurannya tidak sesuai. Itulah nasib. Saya sudah hafal pilihan sepatu Ayah untuk saya setiap kali lebaran. Sepatu kulit warna hitam. Sepatu kulit, menurut Ayah, selalu lebih bagus daripada sepatu sport anak-anak yang bagi saya selalu mengkilat. Dengan tali rafia ukurannya, nyaris setiap tahun sepatu yang dibelikannya terlalu besar. Setiap kali begitu, saya merasa sedih. Tapi, Ayah menghapusnya dengan membawa gumpalan koran untuk diselipkan di ujung sepatu. “Udah pas, kan sekarang?” Saya masih ingat helaan nafasnya sambil berusaha tersenyum. Mana mungkin saya marah kepada Ayah. Apalagi saat Ayah melanjutkan, “Nanti juga Dedy kan tambah besar, nanti pas.”

Demikian begitu bertahun-tahun. Memaksa dan merajuk untuk ikut ke pasar pun rasanya bukan pilihan yang terlalu menyenangkan. Bagi anak-anak, pergi berbelanja ke pasar selalu melelahkan, kecuali jika memang untuk sesuatu yang sangat diidam-idamkannya. Seperti ketika saya terhasut oleh iklan sepatu “Starmon” semasa kecil –iklan sepatu yang mendominasi di sela-sela film kartun Minggu pagi di RCTI. Saya pun ikut ke Pasar Kebayoran Lama –pasar favorit Ayah untuk membelikan hadiah. Maka, saya menatap Ayah dengan memelas seolah bilang, “Dedy nggak mau sepatu kulit lagi. Maunya Starmon.” Ayah dengan sigap langsung memahami saat saya tak juga mengangguk setiap kali diberikan pilihan sepatu kulit. “Dedy mau yang ini?” tanyanya. Saya mengangguk untuk sepatu Starmon putih dengan list hijau dan hitam. Tanpa tali, hanya perekat. Saya belum bisa mengikat sepatu, kata Ayah. Dan, saya pulang dengan gembira.

Bertahun-tahun berikutnya, ketika saya dan kakak-kakak saya semakin besar, Ayah semakin sering berbelanja hadia lebaran sendirian. Pagi hari kami mengukur kaki, kepala dan bahu dengan tali rafia untuk menunggu apa yang Ayah bawa di sore harinya. Membuka plastik kresek hitam, melepas selotip yang membungkus kertas koran dan akhirnya  membuka baju koko baru selalu menjadi momen yang menyenangkan. Tak peduli lagi apakah puasa kami bolong atau penuh karena Ayah sudah memastikan anak-anaknya tidak ada satupun yang membandel untuk urusan puasa. Membuka kotak-kotak sepatu juga adalah keriaan yang tak lumat dimakan waktu.

Ayah masih melanjutkannya sampai saya SMA, bahkan kuliah. Meski tidak lagi dengan tali ukur rafia-nya. Ayah mulai mereka-reka. Dari air mukanya, saya selalu melihat harapan Ayah agar saya senang menerima hadiahnya. Maka, saya berusaha memakainya setiap kali ada acara khusus. Persis seperti Ayah yang berusaha memakai hadiah saya ketika menghadiri acara saya yang dianggapnya spesial. Sayangnya, hadiah saya tak pernah pas dengan ukuran Ayah. Saya terlalu sungkan untuk mengukur lebar bahunya dengan tali rafia.

Mencari sepatu hari ini adalah juga mengingat tali rafia Ayah di hari-hari menjelang lebaran itu. Maka, saya tak pernah merasa mudah membelinya. Saya selalu teringat Ayah yang sederhana.

Syawal 1437 H

Naskah Pidato Ayah

IMG_20160619_062904
Ayah jelas bukanlah orator yang handal. Setidaknya, itu yang saya ingat dari setiap kali Ayah naik podium dan berbicara. Tidak ada intonasi yang menggebu-gebu setiap kali berceramah. Datar. Tetapi, kerap berat berisi. Saya tak tahu persis bagaimana gaya pidatonya semasa muda. Mungkin saja berkobar-kobar. Usia barangkali mengubah pembawaannya, atau hanya menegaskan bahwa gayanya yang tak menggebu-gebu itu lebih layak dinikmati.

Tapi, tidak dengan apa yang diajarkan Ayah kepada saya sejak kecil. Saya mulai diplot untuk berceramah oleh Ayah sejak kelas 1 SD. Menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, Ayah membujuk saya agar saya tampil berpidato di atas panggung. Ayah yang menuliskan naskahnya, saya berlatih menghafal dan mendeklamasikannya. Ayah yang mengajarkan di mana saya harus meninggikan suara, di mana saya merendahkan. Sesekali mencontohkan, juga mengoreksi lafalan ayat yang keliru saya baca. Setiap hari begitu, sampai saya hafal titik dan komanya. Sampai saya tak rela jika kata “Rasul” terganti “Nabi”, meski setelah dewasa saya menertawai diri sendiri karena tak ada bedanya kedua kata itu merujuk kepada siapa.

Ayah pula yang mendandani saya dengan sorban melilit di kepala sehingga mirip Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Saya ingat bahwa ketika itu saya jengah. Bagi saya cukup dengan kopiah biasa. Tapi, Ayah bersikeras dengan sorbannya. “Begini saja, lebih pantas. Bagus kok,” katanya. Kopiah putih bulat saya pun akhirnya berlapis sorban.

Tampilan saya itu sukses, kecuali pada adegan saya lupa harus menyebut kata “Nabi” atau “Rasul” sehingga saya harus membuka contekan dari saku baju. Ya, saya lupa gara-gara kata itu. Blas. Untung kertas yang saya buka langsung pas di tempat di baris yang saya lupa. Benar-benar di baris yang memang saya sering lupa pilihan katanya.

Dan, kontan semua orangtua yang hadir memenuhi lapangan sekolah tertawa. Saya malu. Tapi, Ayah selalu menjadi orang pertama yang menghibur saya; yang mengatakan bahwa penampilan saya bagus sekali. Bagus sekali, bukan bagus saja. Maka, setelah itu Ayah meminta saya tampil pula di acara maulid-maulid yang lain dengan naskah yang sama. Di arisan keluarga, di pertemuan ini dan itu. “Dedy tampil ceramah ya,” begitu bujuknya. Ayah berhasil membuat saya bangkit dari tragedi lupa naskah itu –dan saya tak pernah lupa naskah pidato lagi.

Ayah benar-benar menjadi pembangun kepercayaan diri saya yang pertama. Ia motivator utama bagi saya sejak kecil.

Meski bukan orator, Ayah adalah penulis naskah pidato yang hebat. Setiap kali ada perlombaan pidato dan ceramah antar masjid atau antar sekolah, saya didaftarkan dan disiapkan materi. Tentu dengan pemahaman yang lebih baik. Diajarkannya agar saya tak lagi menghafal kata per kata, namun memahami makna per alinea. Mengenal pokok pikiran.

Saya berceramah di acara muhadharah –semacam pentas seni tahunan di madrasah, acara perpisahan, dan lomba-lomba yang seluruhnya selalu menjadi juara. Bahkan, selepas saya turun berpidato di sebuah lomba semasa saya SMP, salah satu juri memanggil saya dan bertanya, “Siapa yang menuliskan naskahnya?” Saat saya jawab, “Ayah saya,” sang juri meminta naskah itu. Naskahnya bagus sekali, katanya. Juri itu adalah KH Fasyani Hatta –yang kini jam terbang berceramahnya sudah tak berhitung lagi. Dengan naskah itu pula saya diminta menjadi penceramah pembuka maulid di mushalla (dulu belum menjadi masjid) At Thohiri sebelum penceramah utamanya naik podium. Maka sejak di rumah, Ayah sudah tersenyum. Ayah tidak hadir saat saya naik ke podium dan berceramah. Sesampainya saya di rumah pun, Ayah hanya diam, kecuali bilang, “Bagus!”. Seperti biasa. Tidak pernah sedikit pun Ayah meminta pujian bagi naskahnya. Yang bagus selalu saya –deklamator naskah-naskahnya.

Cara Ayah menulis pidato memang di luar kelaziman. Pilihan ayatnya tak biasa. Logika bertuturnya runut. Tak heran ketika saya harus berlomba antar sekolah dengan penilaian yang “lebih akademik”, saya lagi-lagi menjadi juara, meskipun saya tidak bergaya Zainuddin MZ yang saat itu populer ditiru peserta-peserta lain. Soal gaya, Ayah tak pernah memaksa. Asal mengerti di mana harus melakukan penekanan. Hanya sesekali berkomentar, “Masak pidatonya begitu?” Saya pun cengar-cengir.

Pun, ketika saya SMA dan masuk pesantren. Saat diminta menulis naskah pidato oleh guru bahasa Indonesia, lagi-lagi saya dikomentari. Naskahnya bagus, kata guru saya; Pak Hadi. Lantas saya bercerita bahwa saya menyadurnya dari naskah yang Ayah buatkan untuk saya. Selepas itu, saya mulai bisa menulis naskah sendiri, juga dengan gaya ceramah sendiri. Mulai dari bantuan naskah lengkap semacam khutbah Idul Fitri zaman sekarang (yang naskahnya dicetak dan disebar ke mana-mana), menggunakan pointers, atau spontan dengan teknik impromptu. Pak Heri yang memolesnya di pelajaran Bina Dakwah. Bahkan, untuk naskah doa di depan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Heri memercayakan saya menyiapkan sendiri untuk ia review sejenak sebelum naik pentas saat penutupan olimpiade ilmiah nasional. Saya beruntung mendapat bekal yang cukup dari Ayah –dan selalu ingin berterima kasih untuk itu. 

Maka, kepada Ayah pulalah saya pertama kali bercerita bahwa semasa studi di Belanda saya menjadi khatib shalat Ied, juga khutbah-khutbah Jumat yang bersilihan. Saya ingin Ayah merasa bangga saat saya menceritakannya sambil menggendong Birru –anak saya yang saat itu baru berusia 9 bulan. Respons Ayah? Hanya diam seperti biasa. Lalu air matanya menggenang. Obrolan Ramadhan selepas kepulangan saya ke Jakarta itu lantas ditutup dengan permintaannya, “Bulan Ramadhan tahun depan, ceramahlah di masjid.” Yang Ayah maksud tentu masjid yang sejarak 200 meter dari rumah.

Saya, juga Mami yang duduk di samping Ayah, menolak dengan halus. Saya bukan lagi kanak-kanak yang perlu ditumbuhkan kepercayaan dirinya. “Jangan meminta untuk ceramah,” kata Mami. “Biar nanti kalaupun diminta, Dedy pasti sudah siap.” Ayah diam, mengalah. 

Sayangnya, Ayah tak pernah sempat melihat saya berceramah lagi, mengomentari lagi, setelah Ramadhan itu. Ayah telah berpulang di penghujung tahun. Suatu saat nanti, barangkali saya harus menyusunkan naskah pidato untuk Birru. Mungkin naskah itu tak sebaik naskah-naskah pidato Ayah. Naskah Ayah memang tak mampu saya tandingi. Tapi, biarlah.  Saya hanya perlu belajar mewariskannya kepada anak-anak saya kelak. Mewariskan keinginan yang kuat untuk berda’wah, juga menyisipkan kepercayaan diri di dalamnya.

Semoga Allah membalas kebaikan Ayah dan mengasihinya tanpa terputus.

Syawal 1437

Jum'at Bersama Ayah

IMG_20160619_061147

Yang saya kenang dari Ayah adalah hari-hari Jumat saya bersamanya. Usia saya menginjak angka lima saat pertama kali Ayah menuntun tangan saya ke masjid untuk shalat Jum’at. Ajakan itu yang selalu saya tunggu-tunggu selepas khitan. Entah mengapa, pada masa kanak-kanak, selalu terngiang bahwa kami yang belum dikhitan belum sepantasnya masuk ke masjid dan shalat berjamaah. Maka, setelah kewajiban lelaki tersebut tunai, saya menyambut gembira setiap ajakan Ayah ke masjid.

Sekolah selesai pukul 10.30 setiap Jum’at, saya bergegas pulang ke rumah yang hanya berjarak 200 meter dari sekolah. Hanya di setiap Jum’at saya mandi tiga kali sehari: pagi – siang – sore. Sejak itulah saya mengenal mandi sunnah dan perlunya berwangi-wangian. Ayah memang selalu wangi. Sedangkan saya, masih saja bau bayi. Ya, bayi. Sampai saya kelas 2 SD, saya masih tidur bertiga dengan Ayah dan Mami. Di tengah mereka berdua. Maklum, saya bungsu dari sepuluh bersaudara. Kemanjaan saya adalah kombinasi dari nasib ragil dan terbatasnya ruang kamar si rumah bagi sepuluh anak.

Kami selalu shalat di baris pertama. Ayah memang tidak mengizinkan saya berada di baris kedua, ketiga, belakang, apalagi di lantai atas; bercampur dengan anak-anak sebaya saya yang menurut Ayah berisik dan hanya main-main di masjid. Haram, hukumnya. Sesekali saya mengintip ke belakang dan ke atas, berharap bisa bercampur dengan mereka. Tapi, harapan itu tak pernah terwujud. Ayah memang tak pernah memarahi, tapi dari diamnya saat mata saya menari-nari ingin bertanya “Mengapa?”, saya sudah memahami bahwa tidak ada jalan manapun yang bisa ditempuh untuk keluar dari titahnya.

Bertahun-tahun demikian kejadiannya. Saya berjalan bersamanya, duduk di baris terdepan dan menyimak khutbah sampai tuntas, berakhir dengan mushafahah –bersalam-salaman. Sempat saya bosan, bahkan jengkel. Melihat kakak-kakak saya yang tidak pernah saya lihat diajak seperti saya, saya sempat iri dengan ‘kebebasan’ mereka. Tapi, nasib menjadi ragil harus ditelan. Hingga saya –pada usia yang lebih dewasa, mengerti maksud Ayah.

Ayah selalu sayang. Ia ingin saya mendapat contoh terbaik. Maka, ketika saya berdiri dalam shalat, ia mengingatkan untuk tidak bergoyang-goyang. Saya ingat betul. Sesampainya di rumah, Ayah melapor ke Mami. “Dedy (panggilan kecil saya) nih, shalatnya goyang-goyang melulu.” Kalau sudah begitu, Mami yang mengambil alih peran menasihati. Berbeda dengan Ayah, Mami selalu punya pendekatan lain untuk mengatakan bahwa yang dimaksud Ayah selalu baik, termasuk amarahnya.

Shalat Jumat bersama Ayah juga selalu berarti pulang lebih telat dari anak-anak sebaya saya. Di tahun-tahun pertama, saya hanya menunggu Ayah selesai wirid. Sampai akhirnya Ayah yang mengajari untuk membaca Al Fatihah tujuh kali, dilanjutkan Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas masing-masing lima kali. Jangan tanyakan dalilnya: lakukan saja. “Bukan tiga, tapi tujuh kali Al Fatihah.” Saya ingat betul itu, seperti saya ingat imbuhan akhirnya, “Kamu harus beda dari anak-anak yang lain.”

Dari ritual Jum’at itulah saya kemudian banyak dikenal oleh sahabat-sahabat Ayah. Mereka kebanyakan senang melihat anak kecil yang rutin mengikuti shalat dengan tertib. Bahkan, beberapa kali saya diberi hadiah. Salah satunya, uang Rp 10.000 yang dimasukkan ke saku saya dengan semena-mena. Saat itu, mendapat uang Rp 10.000 adalah anugerah terbesar. Bagai duran runtuh, ketika jajanan kami masih Anak Mas dan Choki-Choki seharga Rp 25. Bayangkan berapa banyak Choki-Choki yang bisa saya beli saat itu! Tapi, saat melapor ke Mami, keputusan yang diambil adalah menabungkannya. Bukan Choki-Choki. Sampai detik ini, bahkan Mami pun masih mengingatnya, termasuk nama siapa yang memberi uang Rp 10.000 itu ketika saya tak ingat lagi namanya. Yang saya ingat hanyalah kebaikan Ayah.

Maka, setiap kali saya mengingat Ayah, saya selalu ingat Birru –anak saya. Mengajaknya rutin ke masjid adalah bakti cinta saya kepada Ayah selepas Ayah wafat. Seraya berharap amal shalih Ayah tak pernah terputus. Wallahu yarhamuka, Ayah.

Syawal 1437IMG_20160619_061147

Kamu Anu, Tapi Anu

demokrasi_by_mhsahin

Suatu saat ada pertanyaan tentang demokrasi negeri ini –di mana posisinya? Saya bingung bukan kepalang. Saya bukan pengamat, apalagi pengkaji. Setidaknya, saya masih menjaga marwah –yang definisinya kerap salah kaprah– profesi  dan keilmuan. Karena hari ini orang bisa bicara apapun tentang kedokteran meski baru membaca buku populer kesehatan dan tulisan terasimilasi hoax di saluran maya. Cukup sampirkan jenggot dan sorban, didengarnya hafal dua-tiga hadits pun Anda akan dicium tangan bolak balik. Dipanggil Kiai. Yang tak suka pada istilah Kiai mungkin akan memanggil Anda ustadz –dan hebohlah Anda memenuhi jadwal wira-wiri. Lebih-lebih, corongkan kamera ke muka Anda dan bicaralah tentang korupsi dan laknat semua orang yang Anda anggap penuh muslihat, Anda akan dibilang penegak demokrasi dan pemegang tampuk suci kepemimpinan sampai mati. Begitu sialnya negeri ini, memang.

Tapi, anggaplah saja saya diberi autoritas untuk menjawab –terlepas dari kesukaan dan kebencian terhadap autoritas yang dapat diklaim secara sepihak; anggaplah demokrasi negeri ini semacam bianglala olimpiade dalam kurun dan tingkatnya masing-masing. Olimpiade tidak mengenal kepemimpinan. Kemenangan adalah juara. Titik. Bukan pemaknaan autoritas terhadap kompetensi. Yang lebih sumir lagi, kompetensi demokrasi hari ini tak bisa diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perangkat ukurnya yang paling dominan justru subyektivitas yang dikelola secara manis di media. Anda tak perlu berlatih keras seperti Pele atau Ronaldo. Anda hanya perlu dipoles. Tidak perlu menjadi Serena Williams, Anda hanya perlu jadi Maria Sharapova. Selesai. Dan, jangan khawatir, karena jika hari ini Anda adalah ketua RT, beberapa bulan lagi Anda bisa melompat jadi bupati, asalkan positioning Anda tepat. Bupati, lebih-lebih. Selalu ada lowongan kursi presiden –atau setidaknya penghuni Facebook dengan jutaan follower dan ribuan share setiap hari. Anda bisa bergenit-genit ria. Dan semua suka!

Komentar kita tentang pemimpin hari ini juga adalah komentar tentang juara, bukan negara. Mirip seperti acara tahunan All England. Kalau menang, bersuka-suka dan bilang, “Tahun depan semoga bisa dipertahankan.” Kalau kalah, berpura-puralah tak tampak sedih dan berapologi, “Tahun depan pasti lebih baik.” Begitu seterusnya. Jangan tanyakan penontonnya –di mana mereka. Selalu saja ada ruang penggembira yang penuh sesak dan sorak sorai. Bahkan, demokrasi mengijinkan sorak sorai bersahut-sahutan dilanjutkan di luar kompetisi. Saling ejek di dunia yang tak kasat mata. Semacam fans fanatik sepakbola yang masih saja saling lempar batu meski mereka tahu para pemain klubnya sejatinya tak pernah bertengkar dan adu mulut. Daya magis fanastisme membuat orang tak peduli permainan klub kesayangannya itu baik atau buruk. Yang paling penting adalah mencintainya sepanjang hayat. Kesalahan adalah milik wasit, mistar gawang, garis pinggir lapangan, anak gawang, atau bahkan petugas cleaning service ruang ganti. Pemain dan klub adalah Sang Maha. Dibela dan dipuja sampai surga. Sialnya, fanatisme semacam itu dikembangbiakkan sehingga obyektivitas kehilangan tempat di muka bumi. Menjadi mendiang. Khatam.

Kesedihan itu akan bertambah-tambah ketika mereka tahu kocek mereka habis untuk beli tiket dan kostum. Siapa yang menang, dengan mudah Anda bisa menebaknya. Uang. Cukuplah hari ini mereka menjadi representasi dari obyek demokrasi.

Alam bawah sadar negeri ini kemudian dipenuhi “Tapi” dan penafian yang tak kunjung habis. Selalu ada “tapi” seolah validitas fakta yang ada selalu tidak tuntas. Semacam professor feodal yang tak ingin anak didiknya lulus dengan nilai sempurna. “Dia bagus, tapi kurang ini dan itu.” Penafian yang sesungguhnya hanya upaya menutupi kegelisahan untuk mengakui.

Toh, tidak ada yang sempurna di dunia ini –pada pilihan atau nasib, termasuk pasangan yang kita pilih sendiri dan kita cintai sepenuh hati. Pasti ada perbandingan-perbandingan saat memilih, ada “tapi-tapi”-nya. Dia begini, tapi begitu. Itulah pilihan, sama seperti nasib: selalu ada “tapi” –yang kebanyakan dibentuk dari ketidakrelaan. Jangankan pasangan, Allah pun ditingkahi “tapi-tapi” itu ketika menunjuk Thalut sebagai raja Bani Israil. Tapi, Thalut tidak kaya. Tapi, kami lebih berhak menjadi raja. Dan terus begitu hingga perbendaharaan “tapi” Bani Israil berujung. Hingga melewati sungai dan tak diperbolehkannya meminum, kecuali seteguk pun, “tapi-tapi” itu masih bertebaran. Hingga Thalut tahu siapa yang mampu menyingkirkan “tapi” dari hidupnya. Siapa yang sepenuhnya patuh dan rela kepada perintahNya.

Dan, kita sebenarnya tahu di mana ujung dari “tapi” –kepasrahan. Kita pasrah, rela, ridha. Maka ketika kita merasa rela untuk mempersunting atau dipersunting, di situlah ada kerelaan, kepasrahan untuk menerima segala “tapi” yang ada. Di titik akad itulah ia menjadi muslim bagi pasangannya dalam arti yang paling filosofis –yang merasa pasrah, rela, ditenteramkan sekaligus menentramkan. Kalau ada “tapi-tapi” yang belum hilang sampai sekarang, barangkali kepasrahan itu belum ada. Atau setidaknya, kepasrahannya sendiri belum diimani sepenuhnya –baru di lisan, belum merasuk ke kalbu, apalagi ditingkahi dengan perbuatan.

Belakangan, “tapi-tapi” yang tidak menemui kepasrahan itu kian menyeruak, bahkan dibumbui dengan kebencian. Sikap obyektif makin hilang, seperti Abu Jahal dan pengikutnya yang disindir Allah beberapa kali –tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pastilah Allah jawabnya, tetapi toh tetap mereka tidak beriman. Tidak ada kepasrahan. Tidak ada kerelaan untuk melepaskan segala beban di hati.

Kalau negeri ini punya simpanan kepasrahan yang menguatkan, tentulah sudah lenyap “tapi” itu ke dasar bumi. Tidak ada lagi istilah muslim, tapi zalim. Tidak juga lagi dipelihara istilah adil, tapi kafir. Perdebatan yang muncul seringkali berubah menjadi perselingkuhan akidah: merasa benar dengan dalil samawi, tetapi ditingkahi dengan caci, bahkan memakan bangkai saudara sendiri.

Jika ditanya lagi tentang demokrasi, barangkali saya akan jawab: nikahi saja demokrasi seperti Anda menikahi pasangan sendiri. Meski Anda tahu dia memiliki banyak “tapi”, Anda menerimanya dan tetap mencintainya. Anda luruskan, bukan Anda caci maki. Anda benahi, bukan debatkan sepanjang hari. Karena hanya dengan begitu, Anda tahu siapa yang paling ikhlas kepada demokrasi.

Rotterdam, Mei 2016.

Gambar diambil dari: http://terpaksabikinwebsite.files.wordpress.com/2013/02/demokrasi_by_mhsahin.jpg

Sayap yang Berguguran

 

Dulu, saya berpikir bahwa candaan sarkastik dan gunjingan hanya bersisa di lorong-lorong pemukiman padat. Setidaknya demikian yang melintas di kepala saya ketika harus melewati gang sempit antara Salemba dan Cikini nyaris setiap hari. Nyatanya tidak. Ruangnya semakin menggelembung, bahkan terkoneksi dari satu telepon ke telepon lain. Telepon pintar, smart phone, kata dunia industri. Hiruk pikuk belakangan menegaskan itu hingga terang benderang. Perdebatan, saling unjuk dada dan tuding jari di media sosial menjadi teramat dangkal, tidak melebihi esensi dari lapisan bedak yang melumpuhkan rasa malu.

Beruntung saya menonton “Birdman” untuk menemani kebosanan saya di pesawat selama 13 jam. Innaritu dan Keaton memenuhi segala kapasitas “Birdman “untuk mengkritik, mengoreksi, bahkan untuk sekadar menggunjing dan bersikap nyinyir –di luar keistimewaan artistiknya. Persis dengan apa yang disebut Riggan (diperankan Keaton –tokoh Batman masa lalu) tentang histeria manusia kepada film yang penuh ledakan. Apa yang sedap dipandang tanpa perlu mengerutkan dahi, itulah yang menggairahkan pemirsa. Ruang kontemplatif menyusut seiring makin surutnya kebersediaan untuk diskusi secara filosofis tentang apa yang diperdebatkan secara beramai-ramai di ruang publik. ‘Ledakan’ yang disukai adalah running title menghebohkan di media online yang tetiba menjadi media pewarta tanpa mengerti dengan baik bagaimana menyusun berita. Ledakannya semakin besar jika dibagikan dari satu jejaring ke jejaring lainnya.

Tak ada yang peduli pada atsar, riwayat, referensi dan sitasi. Biarkan saja itu ditinggal di ruang akademik, perpustakaan dan majelis ilmu. Media war, katanya, menjadi alasan paling logis untuk bertindak tidak ilmiah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, menjadi gegabah karena mengandung fitnah. Mike Shinner (diperankan Norton) menjadi representasi bagaimana popularitas dan upaya menaikkan rating adalah “slutty little cousin of prestige”. Silly, tetapi sukses. Dan sayangnya, kita menyukai pendekatan itu.

Kini separuh dunia adalah hiburan –dan hampir sepenuhnya adalah bisnis, termasuk politik citra yang kian mengesampingkan batasan bagi negarawan yang sesungguhnya. Gemuruhnya adalah riuh pesta citra. Minim presisi tentang makna pengabdian dan kepemimpinan. Batasan itu semakin buyar dan kita menikmatinya tanpa gugatan, tanpa peduli lagi tentang dulu yang kita gagas sebagai visi dan misi. Kegagalan itu menegaskan komentar Tabitha tentang hilangnya marka filosofis sebuah peran. Dunia sosial hari ini berhasil menumbuhsuburkan selebritis, bukan tarung kepakaran pemimpin.

Apalah daya. Politik memang demikian, dan kita sudah begitu nyaman mengambil posisi komentator tanpa modal ilmu dan ketiadaan keasadaran untuk membangun logika. Kita merasa berhak membangun opini apapun, berebutan menempati ruang yang dulu hanya disinggahi oleh reporter berkelas dan mumpuni. Pun ia seorang ‘pakar’, semacam Tabitha, apakah ada kepantasan untuk mengatakan ini jelek dan itu bagus sesuai seleranya?

Muhammad tidak datang dengan cacian, meski ia disemburi seribu olokan. Pun tidak dengan kemarahan, meski ia ditimpuki bebatuan. Ia datang dengan ketegasan tauhid sambil mempertontonkan kesungguhan akhlak yang ia pelihara hingga tak lepas gelar “Al Amin” dari pundaknya. Siapakah tak mengenal Abdullah bin Ubay bin Salul –yang akibat kedatangan Muhammad, gelar raja yang semula akan direngkuhnya menjadi hilang? Ia pentolan kaum munafik, tapi Muhammad tidak melawannya dengan kemunafikan yang lain. Abu Suyfan adalah penentang utamanya yang bersorak saat Hudaibiyah, tapi tak satu kata cemoohan pun keluar dari mulut Muhammad saat Fathu Makkah. Khalid bin Walid adalah komandan Quraisy saat melumpuhkan Muhammad di Uhud, tapi Muhammad menaruh hormat padanya hingga terbitlah kesan mendalam yang membuat Khalid mendekat kepada Islam.

Hari ini kita kehilangan makna –semacam menegakkan fiqih tanpa akidah. Ruku’ sujud-nya tak mengekalkan ihsan –mengaburkan hakikat ‘kannaka taraahu’, bahkan ‘fainnahu yaraaka’. Kalaupun kemenangan yang pantas dicari, kurang layak apakah upaya Amr bin Ash merebut Alexandria? Padahal, tuntun Khalifah Umar, cukuplah mencari sunnah yang terabaikan selama ini. Dan Alexandria bebas tanpa perlawanan. Pasukan Romawi walk out.

Yang hilang dari tekunnya Imam Bukhari menelusuri sejauh asal riwayat hadits yang tak terekam secara fisik, barangkali itu yang perlu diperbaiki. Agar potensi merebaknya rantai berita palsu bisa semakin kita kikis. Karena itulah pembeda ilmu. Yang hilang dari jernihnya gagasan Imam Syafi’i yang menyelisihi gurunya sendiri, Imam Malik, barangkali itu yang perlu ditanamkan kembali. Agar ranting yang bercabangan tak meruntuhkan kokohnya dahan penghormatan dan persaudaraan.

Kalaulah kebenaran yang memang dipertaruhkan, pilihlah jalan Ja’far bin Abu Thalib. Ayahnya menolak tauhid, tapi Ja’far-lah yang menjadi pemimpin dalam ungsian hijrah pertama ke Habasyah. Kecintaannya kepada kebenaran telah ditutup dengan kesetiaannya merawat amanah memegang panji meski kedua tangannya tertebas pedang lawan. Syahid-nya adalah menjemput gelar Ath Thayyar –penerbang. Ia terbang, jauh melampaui jangkauan “Birdman” yang baru selesai dengan kritiknya. Ja’far membuktikan makna konsistensi kepada kebenaran, maka dua lengannya yang putus telah diganti dengan gelar Dzul Janahain –yang memiliki dua sayap. Ya, sayap yang kian hari kian berguguran.

Rotterdam, April 2016

Gambar diambil dari : http://4.bp.blogspot.com/-lwnDMqMyVg8/VNm0cec_U_I/AAAAAAAAAjU/oRjU1zINMs8/s1600/peri.bmp

Bhinnekatopia

ZootopiaAnak saya duduk manis di bangku sebelah saat saya mengajaknya menonton ‘Zootopia’ –film yang diidam-diamkannya beberapa hari. Baginya yang baru berusia tiga tahun, seekor kelinci bisa menjadi polisi adalah keanehan yang sesungguhnya, mirip seperti Chief Bogo –seekor banteng yang menjadi komandan polisi, tak memedulikan keberadaan Judy Hopps si Kelinci Polisi di pasukannya. Lebih-lebih, konsep hubungan binatangnya terdistraksi; rubah yang bersahabat dengan kelinci ketika ia mengingat seharusnya mereka saling berkejaran di film lain. Singa, baginya selalu tampak jahat karena memakan zebra. Tetapi, melihatnya berdampingan dengan domba sebagai sepasang walikota dan wakil walikota juga tampak tidak memuaskan.

Ya, perdamaian antara pemangsa dan hewan mangsaannya memang terlalu sempurna. Pertanyaan tentang ‘kesempurnaan’ itu yang membuat kebingungan anak saya, bagi saya, adalah sebuah keberhasilan pergulatan pemikirannya sendiri. Saat ia bertanya bertubi-tubi ke saya, saya justru memikirkan hal lain yang sama utopisnya dengan Zootopia: Bhinnekatopia.

Menggelitik sekali ketika Bhinneka nampak sebagai sebuah gagasan utopis –yang semasa kecil selalu kita terima secara dogmatis bahwa itu adalah sebuah kenyataan yang sudah dicapai. Achieved ideal state. Gagasan itu, bahkan, sesungguhnya semakin utopis ketika demokrasi masuk ke ruang privat lewat majunya teknologi yang menari-nari dengan perantara jemari di layar telepon pintar. Apapun bisa sesuka hati diungkapkan; mulai dari yang dianggap ‘lurus’, salah, kafir, sanjungan karbit, sampai makian yang bersahut-sahutan. Demokrasi –yang ruangnya dibuka oleh reformasi dan kematiannya juga dijumpai akibat pintunya yang terlalu lebar dibuka.

Saya lantas mengingat Karl Marx –yang pemikirannya dikacaukan oleh pengusung Marxisme modern, Lenin, demi kekuasaan otoriternya. Ia mengubah pemikiran filosofisnya mengenai kesenjangan akibat pemilikan hak pribadi menjadi sebuah gerakan sosialis. Pada mulanya, ia melihat ketidakadilan, lalu berupaya menghapus hak milik pribadi yang menjadi musabab kekacauan di zamannya menjadi milik bersama demi dunia yang lebih baik.

Marx mengerti –dan dengannya ia berbeda dari filsuf lainnya, bahwa yang dipikirkannya mengenai kesamarataan di dunia adalah utopia. Kesempurnaan yang tak mungkin dicapai. Pemikiran awal yang juga sempat dikembangkan para sarjana Islam ketika terjebak dengan pemikiran negara Islam; praktis yang secara praktik justru tidak terekam dengan jelas dalam sejarah dan memicu potensi utopia baru. Juga dengan Bhinneka Tunggal Ika yang sempurna –dan mungkin hanya bisa ‘tampak sempurna’ di bawah rezim otoriter.

Dunia yang damai ini, seperti yang sering disuar-suarkan para pemimpin dunia, juga sebuah gagasan utopis –seberapapun sering konferensi para pemimpin dunia diselenggarakan dalam beragam bingkai regional dan global. Seperti mereka yang menginginkan Israel berdamai dengan Palestina; merindukan singa berelus-elusan memangku domba-domba sambil menyisir bulunya yang lebat selepas mandi.

Toh, hari ini kita mulai menampakkan kemuskilan gagasan itu, meski tanpa sadar. Mengaku Bhinneka, tetapi memantik perselisihan antar etnis, agama, atau suku demi sekadar bergulat politik menduduki jabatan tertentu. Berkelahi mulut dan media demi jagoan politiknya masing-masing. Menentang etnis minoritas dan menggugat kaum mayoritas, sambil terus menegaskan bahwa Bhinneka adalah gagasan utopis.

Jikapun bergenggaman, berpelukan, kita masih tetap menyiapkan kuda-kuda –mirip Judy Hopps dengan kuda-kudanya saat Nick Wilde si Rubah mempertanyakan persahabatan mereka. Kita masih menyiapkan obat anti rubah, merasa tak aman, bahkan menyuarakan dengan lantang ketidaksekuritasan kita. Kita diam-diam mengubah jubah menjadi Bellwether si Domba yang dengan liciknya memanfaatkan rasa tidak amannya dari para pemangsa dengan menjebak para pemangsa kehilangan jabatan struktural dan fungsional mereka dari kehidupannya. Caranya, adalah cara yang makin hari makin sering kita lakukan: menimbulkan rasa tidak aman di tengah publik dari kelompok lain yang kita anggap sebagai ancaman. Kampanye kita –yang kita yakini adalah kebaikan, bahkan firman, justru adalah kebencian dan permusuhan.

Marx tidak berhenti pada filosofinya, tapi menggerakkannya dalam koridor gerakan sosialisme. Begitupun Muhammad Sang Rasul, tidak berhenti pada gagasan rahmatan lil ‘alamin, tetapi memicu pergerakan sosial penegakan keadilan. Mobilitasnya melintas keluar dari sekadar sajian ayat, tapi praktik yang kaffah. Kita pantas, dan sudah sepatutnya, menirunya bukan sekadar pada gagasan literer, tapi pergerakannya yang ia tekuni tanpa pernah keluar jalur dari kampanye teologisnya sendiri; “li-utammima makaarimal akhlaq”, penyempurnaan kemuliaan akhlak.

Kita berbicara lugas tentang akhlak sambil melanggarnya sendiri –diam-diam atau terang-terangan. Kita banyak mendebatkan pentingnya integritas sembari mengoyaknya pelan-pelan dari dalam diri sendiri.

Selagi perilaku kontradiktif itu masih mengungkung kita, Bhinneka akan selalu menjadi gagasan utopis. Yang mengubahnya bukan sekadar angan-angan hanyalah kemauan kita untuk menggeser ego praksis menjadi i’tikad baik yang dikoleksi dalam gerakan kultural.

Dunia, bagaimanapun, secara natural adalah kumpulan fragmen yang saling memangsa dengan afinitas dan kecenderungannya masing-masing. Gagasan utopis mesti diyakini sebagai ide yang hanya bisa disemai di surga. Selebihnya, adalah usaha merapatkan gagasan menjadi gerakan. Bukan bualan. Itulah yang menjadikan kita menempuh jalan kehidupan sesungguhnya; bertungkuslumus membuktikan “ayyukum ahsanu ‘amala”; siapa yang amalnya paling baik.

Puncak, 11 Maret 2016IMG_20160305_141429[1]

Revisiting the 'Jakarta Sehat' scheme

Tulisan saya di The Jakarta Post tentang Jakarta Sehat. Semoga bermanfaat.

Revisiting the ‘Jakarta Sehat’ scheme

Creating a healthier Jakarta through the Kartu Jakarta Sehat (Jakarta Health Card) program has run beyond the card, which focused more on coverage at the beginning. Jakarta Governor Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama and the provincial health agency have upgraded 20 community health centers (Puskesmas) to subdistrict public hospitals and launched a grassroots-based program called “knock on the door with heart”.

 

The efforts look impressive, but beg the question as to whether they will lead to a fundamental, systematic change in the provision of health services for Jakarta citizens.Indeed, Jakarta is a unique prototype — and its health system in an urban setting may differ from other areas. Jakarta has no shortage of health workers — with 11,178 doctors, 10,164 nurses and 1,683 midwives. Jakarta requires more than bringing specialist-based services to the subdistrict level as a shortcut that could lead to an unstructured referral system.

The major step is strengthening primary care services. It should shift health-care toward long-term person-focused care (not disease-focused), comprehensive care and coordinated care. Primary care services should manage the population carefully, i.e. recognizing not only patients’ bodies, but their mental health; treating them as people; giving care in the long-term; and helping them with seeking care elsewhere if needed.

The governor offered an exciting initial concept of “private physicians”. However, follow-up measures have to be taken. The government should adjust the primary care system by transforming clinics at the primary level into “primary, family clinics” where families stand as the focus of services.

There is no precise definition of a “primary clinic”. However, it would solve the current, drawn-out stagnation in health practices. There are at least two major points of change. First, the emphasis on family units should balance the proportion of total coverage with a reasonable ratio.

The current ratio of doctors to people in Jakarta — at 1:1,000 — is much better than the WHO recommendation of 1:2,500. This idea would be a breakthrough to address the shortage of Puskesmas that should cover up to 40,000 people. Currently, even with an estimated two visits per person, it would be 80,000 visits per year.

For example, if there are four doctors at a Puskesmas, they have to treat 20,000 people in a year, or 384 people per week. It also means they have to meet 11 patients per hour and patients have less than six minutes for their consultation. What quality of care do we expect?

With the overload coverage, Puskesmas cannot undertake promotion and prevention programs either. The “knock on the door with heart” program may run to a very limited extent — no precise assessments, follow-up projects, or changes in grassroots programs.

It is obvious that we should reset capitation coverage to the ideal ratio, 1:2,500 to 1:5,000. By this estimation, Jakarta requires 14-351 doctors per subdistrict — and it is very likely to conform. Assuming three doctors practice at each clinic, there would be five-100 primary family clinics per subdistrict. Some subdistricts may be covered only by Puskesmas, but more subdistricts require additional clinics from private providers.

Restrictions on coverage per clinic will inevitably reduce capitation funds obtained — and a much less than decent gain for medical staff. The government must align the policy by providing incentives beyond the capitation funds for those working in the primary family clinics, including those practicing with private health-care providers. Additional funding to bolster the current Rp 8,000 (60 US cents) to Rp 10,000 per capita may not be feasible.

However, instead of giving a salary of Rp 10-13 million to a general practitioner at a Puskesmas, this re-organization of the primary care system with appropriate additional incentives would encourage private providers to support the Jakarta Sehat scheme. For example, the government could give a basic incentive of Rp 10-15 million to every provider that wants to join, then provide performance-based incentives for those that perform well. The provincial health agency, then, should arrange a credible performance appraisal system.

Another important approach is delivering team-based services consisting of doctors, nurses and midwives, which would improve the quality of health services. It would address the absence of an integrated and continuous service that currently exists in primary care. So, the teams would provide services with clear responsibilities, including ensuring people can access services any time, as needed.

The current practices in Puskesmas, which serve people only during work hours, are unfavorable for those who work. Changing the practices of health behavior is another concern to address.

This change would restore the function of primary care as “public” health-care providers. Puskesmas, given their original function, should diminish curative measures and shift to more health promotion and prevention measures for the public interest.

This reorganization, even reengineering, of the health system requires changes in mindset and behavior in delivering services, as well as strong capacity building for health workers.

Accordingly, support from academic institutions, e.g. medical schools and health faculties or academies, is critical.

Networking within the academic health system would be the best alternative. However, it is a sensitive measure. A highly designed structure and notable roles, responsibilities and authority are prerequisites for running the system properly.

Revisiting the Jakarta Sehat program may sound revolutionary or cliché. The obstacles are formidable. Learning from what the Jakarta governor has done, reconstructing the health system in Jakarta is nothing complicated, but necessary.

________________

The writer is a lecturer at the University of Indonesia’s School of Medicine, with focuses on health economics and policy issues.  He is also a member of Hemisphere, a health research and policy analysis group.

– See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/05/revisiting-jakarta-sehat-scheme.html#sthash.2ht89Cr5.dpuf

Lanjutkan membaca Revisiting the 'Jakarta Sehat' scheme

[TELAH TERBIT] BUKU: YANG CANTIK YANG (TIDAK) BAHAGIA

Alhamdulillah,

Buku “Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia” sudah terbit. Silakan lakukan pemesanan dengan melengkapi nama, alamat dan jumlah pemesanan ke email farranasir@gmail.com. Semoga menginspirasi….

“Kau bertanya balik, “Mengapa mata yang tak pernah bersua bisa saling jatuh cinta?” Ah, Dik. Ada Zat yang tak pernah kita temui, tapi namaNya kita rapalkan setiap saat. Ada Zat yang tak pernah kita tatap, tapi teramat berharga untuk kita tinggalkan, meski sejenak. Ada pula manusia yang antara kita dan dirinya dipisahkan jarak berabad jauhnya. Kita tak pernah melihatnya, tak pernah menggenggam tangannya, tak pernah berguru langsung kepadanya. Mengapa pula hubungan kita ini lantas dipertanyakan –menjadi suluh yang tak pernah padam meski kau tiup dengan semerbak angin delapan penjuru?”

djokokororet – Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia

Ayo, segera pesan!

3 Jurus jitu
3 Jurus jitu