Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

maling sepatuKetika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

Lanjutkan membaca Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

Iklan

The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Tulisan saya di The Jakarta Post

=======================

Ahmad Fuady, Rotterdam, the Netherlands | Opinion | Thu, January 31 2013, 10:03 AM

Paper Edition | Page: 6

Late in December 2012, President Susilo Bambang Yudhoyono signed a new government regulation on tobacco. It was a surprise, considering the desperately long struggle to try to control or curtail tobacco use.

 

Lanjutkan membaca The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Uwais di San Diego Hill

Saya masih ingat seorang pasien yang datang dengan nada cemas yang berlapis-lapis. “Saya sulit tidur seminggu ini,” katanya. Wawancara saya mulai dengan menyingkirkan faktor organik yang tak menjumpai sasaran. Hampir lima menit berkutat dengan beragam pertanyaan, akhirnya saya kembali mengakkan tubuh saya dan menjulurkan telinga saya. “Silakan cerita, saya mendengarkan, Pak.”

Lanjutkan membaca Uwais di San Diego Hill

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Lanjutkan membaca Menjadi Adam yang Kesumat

Bakal Bekal

Kiai Badrun tampak sedang berkemas-kemas. Beberapa lembar pakaiannya dimasukkan ke dalam koper besar. Bukan koper mahal, hanya dibelinya dengan terburu-buru di pasar loak sehari yang lalu. Tanpa merk, juga tanpa label harga yang bisa dibanggakan. Sebenarnya Kiai punya satu koper besar, tapi ia sendiri tak pernah tahu diletakkan di mana lagi sekarang. “Kau pikir kapan terakhir kita berhaji?” Kiai balik bertanya ke Hindun, istrinya, yang bolak balik ke gudang dan tidak menemukan satu pun isyarat benda bernama koper. Warnanya pun Kiai lupa. Kiai Badrun keluar dari varian normal para Kiai yang mampu berhaji dan umrah berkali-kali. “Itu kan sekali-kalinya kita pergi haji. Kalaupun hilang atau lupa, mudah-mudahan yang menemukan dan mengambilnya jadi bisa pergi haji. Anggap saja itu haji kita kedua. Haji koper.” Hindun tak bertanya lagi setelah itu. Mukanya lega menatap wajah suaminya yang tanpa beban sepulang dari pasar loak. Dua buah koper besar berwarna hitam dijinjingnya di kanan-kiri. Tak ada koper kecil untuk kabin, juga tak ada tas selempang yang bisa dibawa berjalan-jalan. Ah, dua koper pun cukup. Hati yang lapang, bahkan, lebih dari cukup.

Lanjutkan membaca Bakal Bekal

Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

Lanjutkan membaca Sense of Insecurity

Qur’an Based Life

Bolak-balik mahasiswa datang ke saya, kadang dengan menelepon berkali-kali terlebih dahulu, hanya untuk memastikan topik yang diambilnya untuk sebuah tugas. Memang, tugas itu barangkali menjadi momok bagi kebanyakan mahasiswa kedokteran. Barangkali pula banyak yang tak mengerti benar mengapa mereka harus berjibaku dengan jurnal, lengkap dengan metode dan analisis statistiknya. Tak ingin berpeluh hanya untuk menilai sebuah studi itu sahih atau tidak, kebanyakan beranggapan: Berikan saja kesimpulannya, beres!

Lanjutkan membaca Qur’an Based Life