Arsip Kategori: #Birru

Wajib Belajar, Belajar Apa?

Meminta liburan dari sekolah bukan hal mudah di Belanda. Kami harus berkonsultasi dulu dengan guru kelas Birru, menuliskan form permohonan ijin dari sekolah, ditandatangani oleh kepala sekolah, lalu dikirimkan ke pemerintah lewat Gementee (semacam kantor Walikota) untuk mendapat persetujuan. “Umurnya belum lima tahun,” kata Kepala Sekolah, “Jadi dia masih bebas meminta liburan.” Beda urusannya jika usianya sudah menginjak lima tahun. Anak saya itu, juga akan jadi “Anak Negara”.

Lanjutkan membaca Wajib Belajar, Belajar Apa?

Iklan

Suntik Menyuntik Menjadi Satu

Tapi, kebanyakan orang kemudian merasa malu kalau terkena tuberkulosis. Minder. Bahkan, kalaupun Puskesmas-nya ada di seberang rumah, ada saja yang memilih jalan memutar, mengendap-endap, melewati aral melintang, ribuan onak dan duri, demi tidak ketahuan oleh tetangga. Ya, masyarakat kita masih menganggap tuberkulosis sebagai penyakit memalukan, layak dijauhi, tidak perlu diterima di tempat kerja, kalau perlu dikeluarkan, atau jangan pernah dikasih beasiswa. Pfiuh…

Lanjutkan membaca Suntik Menyuntik Menjadi Satu

La La Lan… Jalan Menuju Tuhan

2011_2013

Kami berboncengan motor ketika istri saya –yang duduk menyamping di belakang dengan rok panjangnya memutuskan untuk ikut ke Hotel Borobudur. Itu kali kesekian saya melamar beasiswa untuk mengambil program master setelah berkali-kali aplikasi saya ke beberapa penyandang beasiswa ditolak. Dua kali Stuned, dua kali NFP, satu kali World Bank, dua aplikasi ke Open Society Foundation, dan satu kali Dikti. Begitulah memang nasib lelaki yang sebenarnya tak punya prestasi ini, tapi berkepala batu untuk sekolah ke luar negeri. Ah, bukan keluar negeri, tetapi ke Belanda. Hanya Belanda –yang entah mengapa sudah terpenjara di alam bawah sadar sejak saya SMA. Berkali-kali orang bertanya, “Kenapa bukan ke Amerika?” Tak tahu, sebenarnya, tetapi saya mencoba mencari-cari alasan sebanyak-banyaknya. Yang saya ingat, saya pernah menulis satu puisi semasa SMA, “Kekasih dari Belanda.”

Dan kekasih itu –yang saya temukan sebagai jawaban dari doa-doa saya semasa di Belanda, duduk di samping saya. Menasihati kecil untuk tenang sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit. Saya berkali-kali melihat perutnya. Jika beasiswa saya diterima, saya meninggalkan istri saya melahirkan sendiri di Jakarta.

Momen itu kembali saya ingat ketika saya dan istri menonton Sebastian dan Mia di ‘La La Land’ –film yang membuat saya teringat banyak hal yang sejatinya tidak mungkin saya lupakan. Kebanyakan tentang mimpi yang ditunggu-tunggu kapan datangnya, sebagian lagi adalah pergolakan –yang justru datang ketika mimpi itu sudah di depan mata. Kegagalan Mia tentu lebih banyak, tapi dukungan istri saya juga lebih banyak daripada Sebastian kepada Mia.

Nama saya dipanggil untuk bersiap-siap masuk wawancara. Pintu berukir di ruangan hotel dari kayu itu nampak begitu besar. Jauh lebih besar dari pintu ruangan tempat wawancara sebelumnya di hotel berbintang dua atau tiga di Raden Saleh. Saya gemetar. Saya tahu ada campuran khawatir tak diterima lagi, juga was-was jika kemudian diterima. Sampai kemudian nama saya dipanggil, istri saya melepas tangannya dari genggaman saya. “Adek shalat dhuha dulu,” katanya sambil melepas dan mengelus pundak saya.

“Ahmad Fuady. Meja 4.” Suaranya menyalak. Mungkin belum sempat ambil break karena sibuk mengatur ratusan pelamar yang berjejalan di luar.

Saya tidak sibuk mencari karena meja 4 tepat sejurus lurus dari pintu masuk. Meja kotak dengan taplak warna hijau dan putih. Dua lelaki duduk di sana, sibuk mencari-cari dokumen sambil berbincang kecil. Perawakan yang satu lebih besar dari yang lainnya. Rambut yang satu pun lebih lebat dari lelaki sebelahnya yang mulai membotak. Saya maju, berharap bisa duduk di kursi dengan tenang. Dan, sebelum benar-benar duduk sempurna di kursi, mata kami beradu.

“Ah, Ahmad Fuady? Sudah diurus dokumennya yang saya suruh kemarin?” Tanya lelaki yang perawakannya lebih besar itu sambil tertawa.

“Alhamdulillah, sudah.”

“Nah, begitu. Sudah siap sekolah? Ada yang mau ditanya?”

Tidak ada wawancara sama sekali. Dua orang yang duduk di depan saya adalah dua orang yang sama persis ketika mewawancarai saya sekitar dua bulan sebelumnya. Mereka sudah tahu saya, sudah berbincang lebar di kesempatan lalu. Studi saya, alasan saya, rencana masa depan, termasuk keluarga saya, semua sudah habis ditanya. Hanya satu yang membatalkan keputusan beasiswa saat itu: status kepegawaian. Maka, bisik mereka baik-baik, “Ada bukaan beasiswa unggulan, kira-kira dua minggu lagi. Kamu masukkan saja lagi ke situ. Mudah-mudahan bisa lewat situ.”

Sip, kata mereka. Saya dipersilakan keluar. Tak lama kemudian, istri saya terkaget-kaget karena mendapati saya sudah duduk di luar ruangan lagi. Saya memegang tangannya erat-erat. Menyadari banyak hal yang berkeliaran di luar kalkulasi manusia.

Ketika banyak yang bertanya , “Apa resep lolos beasiswa?” saya tidak punya jawaban yang lebih baik, kecuali restu dari orang-orang yang dicintai. Orangtua yang bersedia rela hati melepas, juga pasangan –yang semuanya tak berhenti berdoa untuk kebaikan kita. Selebihnya, urusan teknis administrasi. Kecerdasan, keluasan pengetahuan, dan terangnya rencana masa depan memang penting, tetapi bisa jadi bukan faktor yang paling menentukan. Apalagi kesombongan. Jangan sekali-kali kesombongan itu tampak dalam tulisan aplikasi dan wawancara.

baru-lahir

Saya tahu –seperti Sebastian memberi tahu Ema: ketika kamu sudah berhasil menggapainya, kamu akan bersiap mengorbankan semuanya. Birru lahir, dan saya hanya bisa melihatnya dari layar komputer, menitipkan adzan ke telinganya dari jauh. Berat, memang. Tapi, saya mengerti bahwa beban istri saya jauh lebih berat. Tidak ada janji yang lebih kuat saat itu, kecuali mendampinginya di kala persalinan berikutnya -jika Allah kehendaki.

Menunggu Birru berusia 40 hari juga bukan hal yang mudah, meski setelahnya saya akhirnya pulang ke Jakarta dan menggendongnya untuk kali pertama. Kami membawanya tiga bulan ke Belanda, meredakan rindu yang tertahan sekian lama. Melepasnya kembali ke Jakarta setelah tiga bulan –masa maksimal kunjungan yang diperkenankan, adalah mula kerinduan berikutnya. Saya tak ingin kehilangan banyak waktu tumbuh kembangnya. Anggaplah itu dorongan yang kemudian membuat saya lulus dua bulan lebih cepat dari jadwal semestinya.

Sebelum kembali ke Jakarta, saya meletakkan mimpi lagi. Mencari professor yang bersedia mengawasi studi doktoral saya. Sekali berjumpa, saya tawarkan proposal kecil dan beliau menerimanya.

birru-buya-ibu

Birru tumbuh membesar. Dan mimpi itu harus berbagi ruang lebih lebar dengan keluarga yang juga tak lagi hanya saya dan istri. Ada Birru yang sekarang harus juga dimasukkan dalam beragam pertimbangan. Saya mungkin lupa tentang jawaban dari segala impian yang lalu. Kembali mengajukan aplikasi beasiswa –kali ini untuk S3, dan kembali melalui banyak penolakan. Mulai dari status kepegawaian, keharusan berbakti pada institusi, hilangnya skema pendanaan beasiswa unggulan, dan error-nya koneksi internet. Saya mengubah haluan ke LPDP yang tengah naik daun. Dua kali seleksi administrasi saya gagal sampai akhirnya masa berlaku sertifikasi IELTS saya hangus dan harus mengambil ujian dengan persiapan pas-pasan karena deadline yang mepet. Dalam hal ini, “Yang penting lolos” adalah azimat sakti penawar kecewa.

Istri saya di ambang kelulusan spesialisnya. Maka, saya meminta professor untuk membuat ulang letter of acceptance (LoA) agar pas waktunya. Pas ketika istri saya sudah selesai dengan badai tesis dan ujian board-nya, dan pas dengan tenggat masa antara seleksi dan mulai sekolah yang disyaratkan LPDP.  Alhamdulillah, professor saya baik hati meskipun saya dua kali meminta pengunduran jadwal mulai program.

Kali itu, istri saya tidak mendampingi lagi. Hari kerja –dan rumah sakit yang sibuk dengan bermacam-macam akreditasi itu masih menunggu jerihnya. Pantang pulang sebelum rekam medis lengkap, kata Sang Rumah Sakit. Birru saya antar ke sekolah sebelum saya mencari-cari gedung wawancara di kampus UNJ yang jaraknya selemparan batu dari rumah. Berkah –karena tempat wawancara yang diubah dari semula di kampus STAN yang membayangkan jaraknya dan kemacetannya saja saya tidak sanggup.

Ada ribuan orang, barangkali. Saya hanya mengenal beberapa –dan yang saya kenal itu kebanyakan adik-adik kelas sendiri. Saya tahu saya tak berbekal apapun. Sebenarnya bertebaran banyak pengalaman penerima beasiswa yang lalu di dunia maya tentang proses seleksi, tapi saya tidak mengulik sedikit pun. Apa itu leaderless group discussion (LGD) pun baru saya dengar beberapa menit sebelum masuk ruangan. Saya tidak tahu apa yang dinilai. Orang lain mungkin bisa berhipotesis, menerangkan banyak hal bahwa harusnya begini dan begitu. Saya hanya berusaha mengingat istri saya dan Birru, juga Mami dan Ayah.

Dan, nama saya pun tertera di monitor yang berarti saya harus bersiap diwawancara. Kali ini mejanya sulit saya temukan karena ada banyak meja yang tersebar. Satu orang menunjukkan meja saya dengan tiga orang pewawancara. Mereka memperkenalkan diri. Dua guru besar, satu psikolog. Hanya ada dua pertanyaan.

Pertama, “Kamu dulu sekolah di Belanda, dan sekarang ke Belanda lagi?” Saya mengiyakan.

Kedua, “Sudah PNS?” Saya menggeleng. Masih CPNS. Lalu mulailah wejangan. “Urus prajab secepatnya.”

Selesai. Dua guru besar itu selesai. Saya tak tahu itu pertanda baik atau buruk. Bola dialihkan ke psikolog yang tertawa-tawa, kemudian bertanya ke sana ke mari dengan bahasa Inggris. Selesai. Saya dipersilakan pulang. Belum seberapa jauh, saya mendengar mereka berbincang, “Cepat nih, cuma 22 menit.” Dan saya masih tidak tahu, itu pertanda baik atau buruk.

horray

Sampai akhirnya tiga minggu setelah itu, sebuah surel masuk. Saya tersenyum.

Kalau Anda berharap akhir ceritanya ini mirip Sebastian dan Mia yang berpisah, kami tidak berpisah. Dan jangan berharap demikian. Kami berkumpul lagi di sini, menyusun puzzle-puzzle mimpi yang entah kapan terasa lengkap. Karena bagi kami, belajar bukanlah pencapaian. Ini adalah jalan. Jalan menuju Tuhan.

Rotterdam, Januari 2017

Anak Hujan

anak-hujan

hujan memaksa kayuh kita menepi

memungut kenangan yang tak jua sepi

kita yang berboncengan di bawah hujan

tak punya kita atap, kecuali pelukan

ketika gembos ban di jalanan

dan mesin mati saat kebanjiran

perutmu sudah membuncit, Sayang

kita merapat di emper warung yang padat

selepas kau tak mengerti: harus duka atau bahagia

yang tumbuh dalam perutmu menerbitkan asa

lagi setelah harapan yang tertunda

ia pula yang memaksa gurumu berkata

: tak perlulah ke rumah sakit dulu. istirahatlah

yang kecil tumbuh dalam perutmu, Sayang

kini menepuk-nepuk pundakku dan tertawa

: jalan saja, Buya. hujan pun tak apa. aku tak gentar

lupa kita, ia telah besar

dan tak takut hujan, sejak dalam kandungan

Rotterdam, Januari 2017

Kakak Kelas

Di satu sore, ia bertanya lagi, “Memang natal itu apa?” Melihat matanya, kami yakin ia akan belajar lebih banyak lagi. Bukan sekadar untuk ia ketahui, tetapi menjadi kearifan yang ia hayati.

birru

Ada kekhawatiran yang cukup besar ketika melepas Birru sekolah di Belanda, terutama dengan bahasa yang tidak dikenal sebelumnya dan lingkungan yang sama sekali baru baginya. Sebelum memulai sekolah, kami sempat menduga-duga akan berapa lama masa adaptasi dengan sekolah barunya berlangsung, lengkap dengan tangisan yang sudah siap kami antisipasi jika memang harus terjadi. Satu minggu, dua minggu, atau satu bulan? Dulu, pertama kali masuk Day Care di Jakarta, Birru menangis setiap kali dititipkan dalam dua pekan pertamanya. Usianya saat itu memang masih satu tahun tiga bulan. Tetapi, sudah lewat usia tiga tahun pun, Birru terkadang merengek tak mau ditinggal, apalagi setelah melewati libur yang agak panjang. Bunda-Bunda pengasuhnya yang biasa menenangkan –lalu melaporkan di sore hari: sampai jam berapa Birru tadi pagi menangis. (Credits to Bintang Waktu dan Bunda-Bundanya yang sabar)

Juf –sebutan bagi guru di sini, juga memberi waktu adaptasi satu pekan. “Kalau kami tidak bisa tangani, akan kami telepon,” begitu katanya. Ya, hari pertama Birru menangis, dan dibiarkan saja. Kami sudah terbiasa dengan perkara lepas-melepas dan uraian air mata. Kami percaya ia akan baik-baik saja. Birru kemudian dibebaskan memilih mainan apa yang dia suka. Sepanjang hari itu kami tidak ditelepon dan kami berharap itu menjadi pertanda baik. Dan benar, hari kedua dan hari-hari selanjutnya berjalan jauh lebih mudah dan mulus. Tanpa tangisan lagi, meskipun tidak ada obrolan dengan teman yang lain hingga beberapa pekan. Kami takjub dan merasa bersyukur karena yang terjadi dengan Birru benar-benar di luar dugaan kami.

Kami meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali faktor mainan dan kebebasan yang diberikan Juf untuk memilih apa saja tanpa paksaan dan tanpa aturan baku membuat Birru merasa nyaman. Kami berusaha mengenali karakternya yang memang tidak suka dengan keriuhan dan sambutan berlebihan. Birru lebih nyaman dicuekin. Dia akan mengamati dari jauh, menggerakkan matanya bolak-balik, kadang tersenyum sendiri. “I love his eye,” kata salah satu Juf kepada kami tentang matanya yang diam-diam mengamati kawannya beraktivitas.

Faktor adanya dua ‘kakak’-nya, Natasha dan Rowel, juga membantu Birru beradaptasi. Natasha dan Rowel adalah anak dari pasangan Belanda-Indonesia yang apartemennya kami sewa. Jika Birru tampak tidak nyaman, Juf menawarkannya untuk didampingi Abang Rowel atau Kakak Natasha (yang ini, Birru selalu salah menyebutnya sebagai Tanasha). Mereka juga seminggu sekali bertemu di pengajian dan sesekali saling kunjung. Belakangan ini akan lebih sering lagi dengan jadwal mengaji bersama setiap pekan.

Di luar itu, ada satu yang menarik dari yang kami perhatikan. “Birru is so popular,” kata salah satu orangtua teman sekelasnya.

Ya, Birru dikenal baik semenjak ia masuk kelas tersebut. Mungkin karena ia masuk sendirian di tengah tahun, mungkin juga karena dia satu-satunya anak yang tidak berbahasa Belanda. Di sekolahnya, Group 1 dan Group 2 digabung dalam kelas yang sama. Tujuannya adalah membantu anak di Group 1 untuk mengenal apa yang mereka akan pelajari dan membuat anak di Group 2 lebih cepat belajar dengan mengajari adik-adik kelasnya –dan tentunya, ikut ‘mengasuh’-nya. Sebenarnya, itu bukan hal baru baginya. Sejak usia 1,5 tahun, ia terbiasa berada di kelas dengan rentang usia yang cukup lebar. Tetapi, kelas yang kecil dan kebebasan memilih aktivitas memberikan efek yang berbeda dalam dirinya. Setiap kali Birru masuk, ia dipeluk kakak-kakak kelasnya, dielus-elus kepalanya, dipegang tangannya untuk berlari bersama. Kakak-kakak kelas yang manis dan baik sekali.

Suatu kali saya mengantarnya, kakak kelasnya berlari ke arah kami. Memeluk Birru erat sekali sambil menempelkan keningnya ke kening Birru. “Birrruuu!” serunya. Dengan logat ‘R’ khas bule yang kadar tebalnya melebihi ro’ tafkhim. Lucu sekali. Di tempat bermain, temannya yang lain –kali ini perempuan, menarik tangannya dan mengajaknya berlari-lari berputar lapangan. Saya bahkan sampai hafal siapa yang membantunya menurunkan bangku dari atas meja setiap pagi sebelum mulai aktivitas di kelas. Ya, setiap pagi mereka masuk kelas setelah melepas jaket dan sepatu, menggantinya dengan sandal khusus dalam ruangan yang kami sediakan sendiri, lalu menurunkan bangku yang masih tersusun terbalik di atas meja untuk kemudian membuat setengah lingkaran di dalam kelas.

Mulanya, Birru tidak bisa melakukannya sama sekali. Saya yang mengintip dari luar bermaksud membantunya menurunkan bangku, tetapi dicegah oleh Juf. “Biarkan saja. Biarkan temannya nanti akan membantu,” katanya. Kali terakhir saya mengintip,  Birru sudah bisa menurunkannya sendiri.

Birru nampak antusias karena sambutan kakak kelasnya yang juga hangat kepadanya. Barangkali Juf sukses memberi pesan kepada mereka untuk membantu Birru beradaptasi. Dan, kelas yang kecil membuat prosesnya lebih mudah. Dua belas anak Group 1 dan 12 anak Group 2 yang berinteraksi akhirnya membuat Birru berani tampil di atas panggung bersama teman-temannya untuk pertama kali.

Kami tidak berharap banyak ketika Maandsluiting (tutup bulan) tiba dan giliran kelasnya tampil di panggung, di depan orangtua murid yang memenuhi aula sekolah. Birru sudah berkeras tak mau ikut tampil. Kami memandangnya sebelah mata untuk yang kedua kali. Saya pun memutuskan tetap masuk ke kantor dan istri saya menyibukkan diri di rumah. Tidak ada persiapan apapun. Tapi, apa yang kemudian terjadi membuat kami kaget bercampur bahagia. Birru naik ke panggung. Dia ikut bernyanyi dan tertawa-tawa bersama kakak-kakak kelasnya. Sesuatu yang sama sekali di luar dugaan kami karena sudah dua kali kesempatan pentas di Daycare-nya yang lalu, dia merajuk.

Kali ini mungkin ketegangannya luntur. Ia merasa di atas panggung tanpa harus dengan kostum-kostum unik adalah hal yang wajar dan tidak perlu ditakutkan. Tampil apa adanya saja –sama seperti Bunda-Bunda pengasuhnya di Daycare yang selalu bilang, “Birru hebat kok waktu latihan.” Barangkali ada ketegangan yang berbeda antara latihan dan di atas panggung sungguhan yang belum mampu ia atasi. Maandsluiting ini melegakan kami. Kakak-kakak kelasnya pun ikut membuat kami lega. Birru ada di tengah mereka yang menyayanginya.

Pekan awal Desember, Trevor –kakak kelasnya yang namanya sering disebut, memberikannya kartu. Kami bingung untuk apa, lantas kami kembalikan karena yang tertulis adalah kartu asuransi miliknya. Ternyata, Trevor ingin memberikan sesuatu untuk Birru. Setelah “keliru” memberikan kartu asuransi, pekan berikutnya ia memberikan kartu ucapan selamat. Memang, itu kartu ucapan selamat natal –dan Trevor, juga orangtuanya, pasti mengerti bahwa kami tidak merayakannya. Kartunya sendiri tidak hanya ditujukan untuk Birru seorang, tetapi juga untuk yang lain. Meski begitu, ia memberi sesuatu yang spesial: gambar dua anak saling berpegangan. Persis seperti apa yang mereka lakukan hampir setiap hari. Kartu yang ditulisnya sendiri itu sudah cukup bagi kami untuk merayakan persahabatan kecil yang terjalin meski tanpa komunikasi yang bisa saling dimengerti oleh mereka sendiri.

Birru menunjukkan gambar di kartu yang diterimanya. “Itu kerstboom, Buya,” sambil menunjuk gambar serupa cemara. Sepertinya ia sekadar tahu namanya, belum paham apa maksud gambarnya. Di satu sore, ia bertanya lagi, “Memang natal itu apa?” Melihat matanya, kami yakin ia akan belajar lebih banyak lagi. Bukan sekadar untuk ia ketahui, tetapi menjadi kearifan yang ia hayati.

Rotterdam, Desember 2016

Tahdiri

Begini semestinya Tahdiri. Ia punya makna yang jelas dalam filosofi madrasah: “attending”, menghadiri. Ia punya makna lebih tepat dibandingkan istilah lain yang kerap dipakai, misalnya ‘Bustanul Athfaal’ atau Taman Kanak-Kanak sekalipun.

img_20161013_0952351

Tepat sepekan setelah ulang tahunnya yang keempat, Birru masuk sekolah di lingkungan yang sama sekali baru. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga kami, orangtuanya. Ia masuk Grup 1 –setingkat Taman Kanak-kanak (TK) di Indonesia. Pada usia yang sama, saya dulu masuk kelas tahdiri di sebuah madrasah.

Mengapa tidak masuk ke TK? Pertanyaan itu memang sempat mampir di kepala saya. Tetapi, keputusan masuk kelas Tahdiri saat itu, seingat saya, adalah keputusan bersama saya dan orangtua. Tidak keputusan yang bulat dalam sebuah mufakat. Mereka menganjurkan, saya mengangguk, lalu kami mencoba. Jawaban yang saya ingat kala itu adalah bahwa kelas Tahdiri lebih baik, pelajarannya lebih bagus dan akan lebih siap masuk Sekolah Dasar (SD).

Kami menemani Birru di dua hari pertamanya; masa percobaan sebelum liburan musim gugur. Dan memang, seperti yang disebutkan kepala sekolah dan guru kelasnya, masa Grup 1 adalah masa bermain. “Ia cukup hadir di kelas, melihat-melihat apa yang akan dilakukannya nanti di Grup 2 dan seterusnya,” begitu kata guru kelasnya. Kelasnya penuh dengan mainan, tanpa pelajaran formal dengan guru berdiri di depan kelas dan murid menyimak di mejanya. Tidak ada pelajaran baca tulis, juga berhitung.

Hari-hari pertamanya adalah hari-hari dengan mainan binatang serupa kebun binatang mini: boerderij. Gurunya membiarkan sesuai apa yang membuat Birru nyaman sampai akhirnya ia dapat bermain dengan kawan-kawannya meski dalam bahasa yang saling tidak dapat dipahami. Tapi, gurunya sekali lagi menegaskan, “Playing is a language.” Jadi, jangan khawatir.

Begini semestinya Tahdiri. Ia punya makna yang jelas dalam filosofi madrasah: “attending”, menghadiri. Ia punya makna lebih tepat dibandingkan istilah lain yang kerap dipakai, misalnya ‘Bustanul Athfaal’ atau Taman Kanak-Kanak sekalipun. Di situlah masa anak-anak melihat apa yang akan mereka lakukan dalam beberapa tahun ke depan tanpa ada ‘tekanan’ untuk mampu membaca dan berhitung. Tapi, filosofi yang baik itu hilang seiring dengan perkembangan pendidikan yang kerap menuntut anak sudah mampu membaca dan berhitung –bahkan, diseleksi untuk masuk SD.

Tuntutan itu membuat filosofi belajar di masa kanak-kanak menjadi amat sempit dengan duduk dalam kegiatan pembelajaran yang formal –meski juga selalu ada sesi bermain. Tahdiri bukan berarti hanya bermain, ia juga belajar. Learning by taking experiences. Karena anak-anak dapat belajar dengan cepat, maka mereka dapat pula membaca, menyusun huruf-huruf namanya, dan berhitung tanpa harus dituntun untuk menghafal. Lebih dari itu, karakter mereka ikut dibentuk untuk dapat bekerjasama, saling membantu, bergiliran dalam antrean, dan sikap-sikap baik lain yang membuat anak-anak juga ikut mengingatkan orangtuanya di rumah ketika mereka melakukan hal yang keliru.

Tahdiri bukan berarti pula hanya bermain, ia juga belajar. Ada penugasan dalam permainan, tetapi tidak ada target capaian kognitif apapun. Tidak perlu ada pekerjaan rumah yang harus dibawa pulang, tidak perlu pula membebani orangtua dengan prakarya apapun. Tahdiri berarti ia cukup hadir di dalam kelas, menikmati belajar yang menyenangkan di dalamnya, dan menyenangi hal-hal baik yang perlahan akan membentuk dirinya.

Rotterdam, November 2016

Berbeda, Bermain

Melihat lagi ke wajah Birru, saya ingat apa yang membuatnya nyaman berbagi dengan orang yang sama sekali berbeda dengannya: bermain dan tertawa. Barangkali itu yang kita lupa. Kita nampak terlalu serius untuk dunia yang –Tuhan pun menyebutnya, hanya senda gurau dan permainan.

diversity

Kami berangkat ke Belanda selepas idul Adha –momen yang begitu lekat menempel di kepala Birru. Ia tergila-gila dengan sapi, domba, dan penyembelihan keduanya. Maka, sebelum berangkat, kami berdiskusi kecil tentang penyembelihan kurban yang tidak akan bisa dilihatnya lagi nanti saat di Belanda. “Kenapa tidak ada potong kurban di Belanda?” tanyanya. Pertanyaan kenapa selalu sulit untuk dijawab. Panjang, sampai akhirnya dia memahami ada perbedaan antara Belanda dan Indonesia dan segala penyembelihan hanya diijinkan di tempat yang sudah ditentukan.

Ia belajar tentang perbedaan dari hal-hal kecil yang dilihatnya dan selalu diakhiri dengan pertanyaan ‘kenapa’. Kenapa rambutnya coklat? Kenapa sepedanya berjalan di sebelah kanan? Kenapa belum terang dan matahari belum tinggi (ketika sudah jam enam pagi)? Kenapa tidak ada air di toilet? Kenapa kita tidak naik mobil sendiri?

Kami duduk menunggu dipanggil antrean di Balai Kota waktu itu. Saya tersenyum saat ibunya meminta Birru menengok ke orang di sebelah saya dan bertanya apa warna kulitnya. “Hitam,” kata Birru. Yang di sebelah sana? “Putih”. Rambutnya? Matanya? Ia melihat banyak yang berbeda –bahkan, di sekolahnya. Juga tentang dirinya yang berbeda dengan banyak temannya.

Saya jadi ikut menerawang masa kecil kembali. Saya tidak begitu paham mengapa dulu semasa kanak-kanak, kami mengejek sesama kawan dengan sebutan suku mereka. Si X yang dari Jawa, dipanggillah ‘X Jawa’. Semakin menjadi-jadi ejekannya bila ternyata logatnya begitu kentara. Begitupun dengan mereka yang berasal dari Padang. Mungkin karena lingkungan Betawi yang relatif homogen di sekeliling sekolah waktu itu –seperempat abad yang lalu, yang membuat kami mengidentifikasi perbedaan dengan ‘ejekan’.

Homogenitas, di satu sisi, adalah keberuntungan. Mudah dikendalikan, dikontrol, dan diintervensi. Tetapi, pada sisi yang lain, ia menjadi momok –yang pada satu titik ekstrem memicu penolakan pada perbedaan dalam gradasinya masing-masing. Lalu, kita gagap dalam mengelolanya. Ini terjadi di banyak tempat, bahkan di negara maju, pada kelas menengah urban. Keberagaman lantas dirayakan dengan simbol kelompok ketika ruang kebebasan dan kesetaraan dibuka. Keragaman, terutama ras, kerap dimaknai dalam kuantitas sehingga istilah mayoritas dan minoritas gegap gempita.

Afinitas adalah sebuah keniscayaan dan setiap orang punya kebebasan memilih kepada siapa dan kelompok mana mereka akan condong. Tetapi sikap menghargai adalah kemutlakan yang harus dipenuhi. Ketidaksamaan tidak perlu dianggap sebagai tembok menjulang yang membatasi kita untuk dapat bekerjasama sehingga kita membuat kelompok-kelompok eksklusif yang saling menjaga jarak.

Rotterdam barangkali contoh menarik bagaimana multiras bercampur dan rekayasa social mixing berjalan lewat program City Safari-nya dua puluh tahun lalu. Ini bukan program interkultural yang kaku dengan tujuan membangun koneksi multikultur, tetapi menciptakan ruang hiburan yang dapat dinikmati bersama tanpa ada kejengahan antar satu dengan lainnya. Meski mungkin tidak cocok diterapkan di skala besar lainnya, misalnya Inggris, Perancis, atau Indonesia sekalipun, dasar penting sebagai pijakan adalah mencari kesamaan dalam perbedaan.

Kita telah lelah meributkan banyaknya perbedaan –di ruang kelas, kerja, RT, partai, juga negara. Kita lupa pada kesibukan mencari di mana kesamaan yang kita miliki.

Melihat lagi ke wajah Birru, saya ingat apa yang membuatnya nyaman berbagi dengan orang yang sama sekali berbeda dengannya: bermain dan tertawa. Barangkali itu yang kita lupa. Kita nampak terlalu serius untuk dunia yang –Tuhan pun menyebutnya, hanya senda gurau dan permainan.

Rotterdam, November 2016