aafuady.com

BERKAWAN DENGAN KEMISKINAN (?)

Margareth Chan, Direktur Jenderal WHO, mengutip gambar kartun ini dalam sebuah pidatonya yang dipublikasi ulang di The Milbank Quarterly (http://onlinelibrary.wiley.com/…/10.11…/1468-0009.12238/epdf). Tentu, kartun ini adalah sarkasme simpulan beragam bukti ilmiah yang menunjukkan adanya tren peningkatan insidens diabetes mellitus (DM) atau penyakit gula yang berkorelasi dengan meningkatnya kemampuan finansial masyarakat. Tiongkok salah satunya, kemudian Amerika dan Indonesia, yang menghadapi ancaman DM masa depan dengan semakin banyaknya anak-anak yang mengalami obesitas sejak dini.

Apakah benar obesitas makin marak karena masyarakat semakin kaya? Barangkali iya, mungkin juga tidak. Salah satu faktornya adalah semakin terjangkaunya makanan dan minuman berkalori tinggi di tengah anak-anak. Mereka bisa menggerek tangan orangtuanya ke gerai makanan cepat saji yang jaraknya berhimpit-himpitan. Beberapa dekade lalu, gerai makanan cepat saji adalah penanda kelas ekonomi masyarakat karena jumlahnya yang terbatas dan hanya dijangkau oleh menengah ke atas. Sekarang? Anda bisa beli satu paket murah full kalori hanya dengan uang di bawah 20 ribu. Bahkan, Anda bisa menikmatinya di rumah sakit: menjadi tempat membibit risiko untuk kembali lagi ke tempat itu bertahun-tahun kemudian sebagai pasien. Sick!

Tentu, bukan hanya makanannya, tetapi juga minumannya. Intensi mereka semakin bergairah ketika gerai-gerai tersebut menawarkan hadiah mainan dari film anak-anak terbaru, ditambah keyakinan sebagian orangtua tentang betapa bergengsinya jika ulangtahun anak-anaknya dirayakan di ruang gerai tersebut, lengkap dengan badut dan paket ekonomisnya.

Maka, salah satu rekomendasi WHO adalah meminta pemerintah menaikkan pajak setidaknya 20% dari harga semula. Ya, karena WHO mungkin belum pernah masuk gang-gang kecil di padatnya Jakarta dan Surabaya.

Tidak selamanya anak-anak yang obesitas semata karena minuman dari gerai-gerai yang terdaftar secara resmi. Justru banyak minuman berkalori tinggi yang dijual di warung-warung dengan harga murah, beberapa tidak terdaftar, dan terjangkau oleh hampir semua kelas. Siapa yang bertanggungjawab?

Dalam konteks epidemi global –dengan analisis statistik tertentu, kemiskinan adalah dua rupa wajah. Ia penyebab bagi banyaknya penyakit dan keparahan fisik dan finansial yang tak berujung. Ia juga adalah peredam dari kemunculan penyakit non-infeksi yang menjadi tren belakangan.

Tapi, tentulah bukan miskin atau tidak miskin yang jadi determinan utama. Serupa dengan keimanan, bukan lapang dan sempitnya rizki yang menjadi penanda. Keduanya adalah ujian; sedangkan syukur dan sabar adalah marka siapa saja yang berhasil menemui Tuhan dengan Cinta.

Kalau syukur dan sabar itu dianggap semata domain masjid dan mushalla, tak akan habis perkara buruk dunia ini. Syukur dan sabar itu juga harus keluar dalam kebijakan yang tidak melulu Anda timpakan kepada pemerintah, tetapi Anda praktikkan dalam skala paling kecil di rumah tangga Anda. Jaga makanan dan minuman anak-anak Anda dan pastikan mereka mendapat porsi terbaik dari kasih sayang Anda. Itu bagian dari sembah takwa. Menjaganya di dunia, merawatnya untuk akhirat.

Rotterdam, April 2017

 

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tuhan Maha Bercanda
19 April 2021
Tapi, saya lantas memilih tertawa geli sendirian. Saya hanya menduga mungkin Tuhan sedang tersenyum-senyum...
Indonesia’s big gamble: COVID-19 Vaccination strategy
09 Februari 2021
Can vaccines really be the weapon and life saver for the people of Indonesia? Up until now, it’s...
Pertaruhan Besar Indonesia: Strategi Vaksinasi COVID-19
09 Februari 2021
Apakah vaksin benar-benar dapat menjadi senjata ampuh dan menyelamatkan manusia Indonesia? Sampai...
Problematika Vaksin Covid-19
19 Desember 2020
Kunci utama pengendalian pandemi berasal dari kepercayaan publik. Pekerjaan rumah pemerintah mengomunikasikan...
Vaksin dan Hal-Hal yang Belum Selesai (Bagian-2)
04 Desember 2020
Jika vaksin COVID-19 diberikan kepada mereka kelompok muda tak berisiko tinggi, apa manfaatnya dalam...
Vaksin dan Hal-hal yang Belum Selesai (Bagian-1)
03 Desember 2020
Ketika manusia mulai merasa lelah dengan segala kerangkeng sosial dan fisik yang dianggap memenjarakan...
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tsunami Ilmu COVID-19 dan Problemnya
08 Juni 2020
Pekan lalu, Lancet dan New English Journal Medicine (NEJM) – dua jurnal medis terkemuka – menarik kembali...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....