Arsip Tag: Ayah

Tangan Kanan Ayah

Ayah dan Mami adalah antitesa satu sama lain dalam hal belanja. Ayah hampir tidak pernah menawar harga, sedangkan Mami adalah wanita paling lihai yang pernah saya lihat dalam hal tawar-menawar. Tapi, dari situ saya belajar banyak tentang dua hal. Dari Mami saya belajar efisiensi, dan saya belajar tentang kedermawanan dari Ayah.

img_20160619_054427

Sepulang studi saya dari Belanda, saya menemukan Ayah di rumah dengan kebiasaan barunya. Selesai shalat dhuha dan mengaji, Ayah duduk di ruang tamu sambil sesekali berjalan ke teras. Sekitar jam 10 pagi akan ada penjaja rujak dengan gerobaknya yang melintas di depan rumah. Tanpa dipanggil, ia akan berhenti tepat di tiang listrik. Sudah jadi kebiasaan Ayah, membeli buah untuk dirinya, dan terkadang untuk Birru. Saya hafal betul kebiasaan itu karena selama dua bulan cuti sebelum kembali bekerja, saya menemani Ayah dan Birru.

Bukan sekali itu saja Ayah punya kebiasaan dengan para penjaja dagangan. Beberapa bulan sekali akan datang penjaja buah yang lain –kali ini dengan dua keranjang yang dipanggul. Usianya renta. Kami  bilang, ‘Engkong-engkong’. Jualannya seringkali pisang, kadang dengan umbi-umbian, papaya dan semangka. Ayah selalu membelinya meskipun saya meyakini bahwa Ayah seringkali pula tidak membutuhkannya. Sama seperti setiap kali penjaja kerupuk udang yang penglihatannya buta lewat depan ruamh kami. Ayah akan memanggilnya dan membeli. Bukan satu-dua kantong, tapi berkantong-kantong.

Suatu hari, penjaja mangga lewat depan rumah kami. Saya tidak tahu benar apa yang terjadi, tetapi Ayah langsung menawarkan, “Mau mangga, Ded?” Banyak. Saya melirik Mami dan tahu persis apa yang yang akan ditanyakannya ke Ayah: harga. “Yah, Ayah mah nggak pernah pake nawar sih kalau beli-beli,” kata Mami sambil membuka bungkus plastik. Selalu saja begitu. Ayah, juga selalu begitu. Diam saja sambil akhirnya menenangkan. “Udah ah. Namanya juga nolong orang jualan…”

Ayah dan Mami adalah antitesa satu sama lain dalam hal belanja. Ayah hampir tidak pernah menawar harga, sedangkan Mami adalah wanita paling lihai yang pernah saya lihat dalam hal tawar-menawar. Tapi, dari situ saya belajar banyak tentang dua hal. Dari Mami saya belajar efisiensi, dan saya belajar tentang kedermawanan dari Ayah. Keduanya tanpa ceramah.

Ayah dan Mami hanya sempat berkisah menjelang pernikahan saya. Sambil bertanya seberapa seriuskah saya, Ayah menceritakan pernikahan mereka di usia yang sangat muda. Ayah tak punya apa-apa kala itu. Bahkan, sekali waktu ia harus berjalan kaki dari rumah ke Pasar Kebayoran Lama hanya untuk menjual baju bekasnya. Berapa yang bisa didapat dari menjual baju bekas yang seringkali pula tidak laku?

Apa yang saya lihat kemudian adalah pucuk dari pengalaman hidup Ayah sendiri. Ayah telah melintasi kesempitan-kesempitan yang membuatnya tak pernah segan untuk membantu. Ayah bisa menjamu, menyediakan teh, dan memberikan sangu untuk orang yang tak dikenalnya sekalipun –yang menguntit saya sepulang dari masjid dan saya curigai sebagai penipu. Dan, selalu saja begitu. “Udah ah. Namanya juga nolong orang…”

Belakangan saya sempat merasa kesal. Saya melihat Ayah lebih sering meminta orang lain untuk mengantarkannya atau membeli sesuatu. Saya sempat saja menggerutu. Ke Mami, ke istri saya. “Padahal ada Dedy, kenapa masih meminta tolong orang?” Saya tak tahu benar apakah saya cemburu atau ego saya terluka. Tetapi, Mami dan istri saya menenangkan. “Ayah memang begitu caranya…” Kalau Ayah ingin memberi uang kepada seseorang, Ayah akan memanggilnya untuk meminta tolong. Lalu, Ayah sisipkan uang lebih banyak dari ‘tarif’-nya. Kalau Ayah ingin memberi makanan ke seseorang, Ayah akan menanggilnya dan memintanya membelikan makanan. Satu porsi buat Ayah, satu porsi untuk dia. Seringkali juga dengan uang sisa pembelian.

Dan jangan tanyakan seberapa banyak yang Ayah berikan untuk anak-anaknya. Ayam goreng jatahnya yang dimasak Mami pun tak disentuhnya ketika makan malam. Ayah seringkali hanya mengambil tempe goreng, dengan kecap dan irisan tomat. Saya menyesal sekali. Ayah seringkali tidak memakannya karena mendengar saya berseru ke Mami selepas pulang ke rumah, “Wah ada ayam nih…” Yang Ayah lakukan di meja makan adalah selalu menggeser piring kecil berisi satu daging ayam itu ke arah saya. “Makan deh, Ded. Ayah sudah…” Padahal, saya tahu Ayah belum memakannya.

Tampak tangan kanannya yang mengeriput menjulur ke arah saya. Tangan kanan yang tak akan pernah saya lupa. Tangan kanan yang ingin saya cium lagi.

Rabiul Awal, 1438 H

[Ditulis setelah Ayah hadir dalam mimpi, datang ke wisuda doktor saya dengan tubuhnya yang masih gagah. Yang saya ingat, Ayah berucap, “Kalau jadi orang baik, apapun yang dikerjain bakalan jadi kebaikan.”]

Iklan

Tali Rafia Ayah

IMG_20160619_061737

Bagi anak-anak, lebaran adalah murni perayaan, juga hadiah. Entah sejak kapan kultur itu didedahkan. Yang saya pahami, orangtua saya berbagi tugas untuk memberikan hadiah kepada anak-anaknya yang masih kecil. Mami membelikan kemeja dan celana panjang, sedangkan Ayah membelikan sepatu, sarung, koko, dan kopiah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mengaturnya untuk anak-anaknya yang berjumlah sepuluh. Tentu, tidak kesepuluh anaknya diberi hadiah. Mereka yang sudah beranjak dewasa harus mengalah kepada adik-adiknya yang masih kecil. Yang menarik adalah cara Ayah membelikan kami hadiah-hadiah tersebut.

Ayah tidak punya mobil. Apa yang bisa diharapkan dari penghasilan guru SD lulusan muallimin dengan jumlah anak sebegitu banyak? Pun, ketika Ayah sudah mampu membeli mobil, Ayah tidak bisa mengendarainya. Jadilah ia pergi ke mana-mana dengan Vespa-nya –yang belakangan akhirnya ia jual setelah pensiun. Vespa itu yang menemani kami pergi ke mana-mana. Kadang berboncengan berdua, bertiga, berempat, atau berlima. Bergantung siapa saja yang diangkutnya. Posisi favorit saya selalu berdiri di depan –antara jok Ayah dan setir motor. Beberapa kali saya merajuk jika diminta untuk duduk di belakang –berhimpit antara Ayah dan Mami. “Dedy sudah ngantuk, di belakang saja,” kata Ayah. Saya manyun, tetapi tidak mungkin membantah. Toh, akhirnya di tengah perjalanan saya tertidur juga. Kalaupun bukan karena alasan mengantuk, pastilah karena oleh-oleh yang banyak sehabis pulang darmawisata lulusan SD. Ruang antara jok Ayah dan setir motor itu penuh dengan talas, pisang, atau bengkuang. Khas daerah Puncak saat itu –yang masih segar dan tidak macet.

Karena Vespa itu pulalah, Ayah memutar otaknya. Setiap lebaran, tidak mungkin anak-anaknya diajak serta ke pasar membeli hadiah. Maksimal tiga saja anaknya yang diajak. Bahkan, beberapa kali tak ada satupun dari kami yang diajak. Yang dilakukan Ayah kemudian adalah pergi ke dapur, mengambil tali rapia dan menghitung ukuran kami. Ayah mengukur panjang kaki kami dengan tali rafia untuk membeli sepatu, melingkarkan tali di kepala untuk mengira-ngira ukuran kopiah kami, juga merentangkan rafia selebar bahu kami untuk mencari baju koko yang pas. Rasanya berdebar-debar. Takut jika ukuran yang dibeli Ayah tidak sesuai.

Beberapa kali tepat pas, beberapa kali pula ukurannya tidak sesuai. Itulah nasib. Saya sudah hafal pilihan sepatu Ayah untuk saya setiap kali lebaran. Sepatu kulit warna hitam. Sepatu kulit, menurut Ayah, selalu lebih bagus daripada sepatu sport anak-anak yang bagi saya selalu mengkilat. Dengan tali rafia ukurannya, nyaris setiap tahun sepatu yang dibelikannya terlalu besar. Setiap kali begitu, saya merasa sedih. Tapi, Ayah menghapusnya dengan membawa gumpalan koran untuk diselipkan di ujung sepatu. “Udah pas, kan sekarang?” Saya masih ingat helaan nafasnya sambil berusaha tersenyum. Mana mungkin saya marah kepada Ayah. Apalagi saat Ayah melanjutkan, “Nanti juga Dedy kan tambah besar, nanti pas.”

Demikian begitu bertahun-tahun. Memaksa dan merajuk untuk ikut ke pasar pun rasanya bukan pilihan yang terlalu menyenangkan. Bagi anak-anak, pergi berbelanja ke pasar selalu melelahkan, kecuali jika memang untuk sesuatu yang sangat diidam-idamkannya. Seperti ketika saya terhasut oleh iklan sepatu “Starmon” semasa kecil –iklan sepatu yang mendominasi di sela-sela film kartun Minggu pagi di RCTI. Saya pun ikut ke Pasar Kebayoran Lama –pasar favorit Ayah untuk membelikan hadiah. Maka, saya menatap Ayah dengan memelas seolah bilang, “Dedy nggak mau sepatu kulit lagi. Maunya Starmon.” Ayah dengan sigap langsung memahami saat saya tak juga mengangguk setiap kali diberikan pilihan sepatu kulit. “Dedy mau yang ini?” tanyanya. Saya mengangguk untuk sepatu Starmon putih dengan list hijau dan hitam. Tanpa tali, hanya perekat. Saya belum bisa mengikat sepatu, kata Ayah. Dan, saya pulang dengan gembira.

Bertahun-tahun berikutnya, ketika saya dan kakak-kakak saya semakin besar, Ayah semakin sering berbelanja hadia lebaran sendirian. Pagi hari kami mengukur kaki, kepala dan bahu dengan tali rafia untuk menunggu apa yang Ayah bawa di sore harinya. Membuka plastik kresek hitam, melepas selotip yang membungkus kertas koran dan akhirnya  membuka baju koko baru selalu menjadi momen yang menyenangkan. Tak peduli lagi apakah puasa kami bolong atau penuh karena Ayah sudah memastikan anak-anaknya tidak ada satupun yang membandel untuk urusan puasa. Membuka kotak-kotak sepatu juga adalah keriaan yang tak lumat dimakan waktu.

Ayah masih melanjutkannya sampai saya SMA, bahkan kuliah. Meski tidak lagi dengan tali ukur rafia-nya. Ayah mulai mereka-reka. Dari air mukanya, saya selalu melihat harapan Ayah agar saya senang menerima hadiahnya. Maka, saya berusaha memakainya setiap kali ada acara khusus. Persis seperti Ayah yang berusaha memakai hadiah saya ketika menghadiri acara saya yang dianggapnya spesial. Sayangnya, hadiah saya tak pernah pas dengan ukuran Ayah. Saya terlalu sungkan untuk mengukur lebar bahunya dengan tali rafia.

Mencari sepatu hari ini adalah juga mengingat tali rafia Ayah di hari-hari menjelang lebaran itu. Maka, saya tak pernah merasa mudah membelinya. Saya selalu teringat Ayah yang sederhana.

Syawal 1437 H

Naskah Pidato Ayah

IMG_20160619_062904
Ayah jelas bukanlah orator yang handal. Setidaknya, itu yang saya ingat dari setiap kali Ayah naik podium dan berbicara. Tidak ada intonasi yang menggebu-gebu setiap kali berceramah. Datar. Tetapi, kerap berat berisi. Saya tak tahu persis bagaimana gaya pidatonya semasa muda. Mungkin saja berkobar-kobar. Usia barangkali mengubah pembawaannya, atau hanya menegaskan bahwa gayanya yang tak menggebu-gebu itu lebih layak dinikmati.

Tapi, tidak dengan apa yang diajarkan Ayah kepada saya sejak kecil. Saya mulai diplot untuk berceramah oleh Ayah sejak kelas 1 SD. Menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, Ayah membujuk saya agar saya tampil berpidato di atas panggung. Ayah yang menuliskan naskahnya, saya berlatih menghafal dan mendeklamasikannya. Ayah yang mengajarkan di mana saya harus meninggikan suara, di mana saya merendahkan. Sesekali mencontohkan, juga mengoreksi lafalan ayat yang keliru saya baca. Setiap hari begitu, sampai saya hafal titik dan komanya. Sampai saya tak rela jika kata “Rasul” terganti “Nabi”, meski setelah dewasa saya menertawai diri sendiri karena tak ada bedanya kedua kata itu merujuk kepada siapa.

Ayah pula yang mendandani saya dengan sorban melilit di kepala sehingga mirip Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Saya ingat bahwa ketika itu saya jengah. Bagi saya cukup dengan kopiah biasa. Tapi, Ayah bersikeras dengan sorbannya. “Begini saja, lebih pantas. Bagus kok,” katanya. Kopiah putih bulat saya pun akhirnya berlapis sorban.

Tampilan saya itu sukses, kecuali pada adegan saya lupa harus menyebut kata “Nabi” atau “Rasul” sehingga saya harus membuka contekan dari saku baju. Ya, saya lupa gara-gara kata itu. Blas. Untung kertas yang saya buka langsung pas di tempat di baris yang saya lupa. Benar-benar di baris yang memang saya sering lupa pilihan katanya.

Dan, kontan semua orangtua yang hadir memenuhi lapangan sekolah tertawa. Saya malu. Tapi, Ayah selalu menjadi orang pertama yang menghibur saya; yang mengatakan bahwa penampilan saya bagus sekali. Bagus sekali, bukan bagus saja. Maka, setelah itu Ayah meminta saya tampil pula di acara maulid-maulid yang lain dengan naskah yang sama. Di arisan keluarga, di pertemuan ini dan itu. “Dedy tampil ceramah ya,” begitu bujuknya. Ayah berhasil membuat saya bangkit dari tragedi lupa naskah itu –dan saya tak pernah lupa naskah pidato lagi.

Ayah benar-benar menjadi pembangun kepercayaan diri saya yang pertama. Ia motivator utama bagi saya sejak kecil.

Meski bukan orator, Ayah adalah penulis naskah pidato yang hebat. Setiap kali ada perlombaan pidato dan ceramah antar masjid atau antar sekolah, saya didaftarkan dan disiapkan materi. Tentu dengan pemahaman yang lebih baik. Diajarkannya agar saya tak lagi menghafal kata per kata, namun memahami makna per alinea. Mengenal pokok pikiran.

Saya berceramah di acara muhadharah –semacam pentas seni tahunan di madrasah, acara perpisahan, dan lomba-lomba yang seluruhnya selalu menjadi juara. Bahkan, selepas saya turun berpidato di sebuah lomba semasa saya SMP, salah satu juri memanggil saya dan bertanya, “Siapa yang menuliskan naskahnya?” Saat saya jawab, “Ayah saya,” sang juri meminta naskah itu. Naskahnya bagus sekali, katanya. Juri itu adalah KH Fasyani Hatta –yang kini jam terbang berceramahnya sudah tak berhitung lagi. Dengan naskah itu pula saya diminta menjadi penceramah pembuka maulid di mushalla (dulu belum menjadi masjid) At Thohiri sebelum penceramah utamanya naik podium. Maka sejak di rumah, Ayah sudah tersenyum. Ayah tidak hadir saat saya naik ke podium dan berceramah. Sesampainya saya di rumah pun, Ayah hanya diam, kecuali bilang, “Bagus!”. Seperti biasa. Tidak pernah sedikit pun Ayah meminta pujian bagi naskahnya. Yang bagus selalu saya –deklamator naskah-naskahnya.

Cara Ayah menulis pidato memang di luar kelaziman. Pilihan ayatnya tak biasa. Logika bertuturnya runut. Tak heran ketika saya harus berlomba antar sekolah dengan penilaian yang “lebih akademik”, saya lagi-lagi menjadi juara, meskipun saya tidak bergaya Zainuddin MZ yang saat itu populer ditiru peserta-peserta lain. Soal gaya, Ayah tak pernah memaksa. Asal mengerti di mana harus melakukan penekanan. Hanya sesekali berkomentar, “Masak pidatonya begitu?” Saya pun cengar-cengir.

Pun, ketika saya SMA dan masuk pesantren. Saat diminta menulis naskah pidato oleh guru bahasa Indonesia, lagi-lagi saya dikomentari. Naskahnya bagus, kata guru saya; Pak Hadi. Lantas saya bercerita bahwa saya menyadurnya dari naskah yang Ayah buatkan untuk saya. Selepas itu, saya mulai bisa menulis naskah sendiri, juga dengan gaya ceramah sendiri. Mulai dari bantuan naskah lengkap semacam khutbah Idul Fitri zaman sekarang (yang naskahnya dicetak dan disebar ke mana-mana), menggunakan pointers, atau spontan dengan teknik impromptu. Pak Heri yang memolesnya di pelajaran Bina Dakwah. Bahkan, untuk naskah doa di depan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Heri memercayakan saya menyiapkan sendiri untuk ia review sejenak sebelum naik pentas saat penutupan olimpiade ilmiah nasional. Saya beruntung mendapat bekal yang cukup dari Ayah –dan selalu ingin berterima kasih untuk itu. 

Maka, kepada Ayah pulalah saya pertama kali bercerita bahwa semasa studi di Belanda saya menjadi khatib shalat Ied, juga khutbah-khutbah Jumat yang bersilihan. Saya ingin Ayah merasa bangga saat saya menceritakannya sambil menggendong Birru –anak saya yang saat itu baru berusia 9 bulan. Respons Ayah? Hanya diam seperti biasa. Lalu air matanya menggenang. Obrolan Ramadhan selepas kepulangan saya ke Jakarta itu lantas ditutup dengan permintaannya, “Bulan Ramadhan tahun depan, ceramahlah di masjid.” Yang Ayah maksud tentu masjid yang sejarak 200 meter dari rumah.

Saya, juga Mami yang duduk di samping Ayah, menolak dengan halus. Saya bukan lagi kanak-kanak yang perlu ditumbuhkan kepercayaan dirinya. “Jangan meminta untuk ceramah,” kata Mami. “Biar nanti kalaupun diminta, Dedy pasti sudah siap.” Ayah diam, mengalah. 

Sayangnya, Ayah tak pernah sempat melihat saya berceramah lagi, mengomentari lagi, setelah Ramadhan itu. Ayah telah berpulang di penghujung tahun. Suatu saat nanti, barangkali saya harus menyusunkan naskah pidato untuk Birru. Mungkin naskah itu tak sebaik naskah-naskah pidato Ayah. Naskah Ayah memang tak mampu saya tandingi. Tapi, biarlah.  Saya hanya perlu belajar mewariskannya kepada anak-anak saya kelak. Mewariskan keinginan yang kuat untuk berda’wah, juga menyisipkan kepercayaan diri di dalamnya.

Semoga Allah membalas kebaikan Ayah dan mengasihinya tanpa terputus.

Syawal 1437

Jum'at Bersama Ayah

IMG_20160619_061147

Yang saya kenang dari Ayah adalah hari-hari Jumat saya bersamanya. Usia saya menginjak angka lima saat pertama kali Ayah menuntun tangan saya ke masjid untuk shalat Jum’at. Ajakan itu yang selalu saya tunggu-tunggu selepas khitan. Entah mengapa, pada masa kanak-kanak, selalu terngiang bahwa kami yang belum dikhitan belum sepantasnya masuk ke masjid dan shalat berjamaah. Maka, setelah kewajiban lelaki tersebut tunai, saya menyambut gembira setiap ajakan Ayah ke masjid.

Sekolah selesai pukul 10.30 setiap Jum’at, saya bergegas pulang ke rumah yang hanya berjarak 200 meter dari sekolah. Hanya di setiap Jum’at saya mandi tiga kali sehari: pagi – siang – sore. Sejak itulah saya mengenal mandi sunnah dan perlunya berwangi-wangian. Ayah memang selalu wangi. Sedangkan saya, masih saja bau bayi. Ya, bayi. Sampai saya kelas 2 SD, saya masih tidur bertiga dengan Ayah dan Mami. Di tengah mereka berdua. Maklum, saya bungsu dari sepuluh bersaudara. Kemanjaan saya adalah kombinasi dari nasib ragil dan terbatasnya ruang kamar si rumah bagi sepuluh anak.

Kami selalu shalat di baris pertama. Ayah memang tidak mengizinkan saya berada di baris kedua, ketiga, belakang, apalagi di lantai atas; bercampur dengan anak-anak sebaya saya yang menurut Ayah berisik dan hanya main-main di masjid. Haram, hukumnya. Sesekali saya mengintip ke belakang dan ke atas, berharap bisa bercampur dengan mereka. Tapi, harapan itu tak pernah terwujud. Ayah memang tak pernah memarahi, tapi dari diamnya saat mata saya menari-nari ingin bertanya “Mengapa?”, saya sudah memahami bahwa tidak ada jalan manapun yang bisa ditempuh untuk keluar dari titahnya.

Bertahun-tahun demikian kejadiannya. Saya berjalan bersamanya, duduk di baris terdepan dan menyimak khutbah sampai tuntas, berakhir dengan mushafahah –bersalam-salaman. Sempat saya bosan, bahkan jengkel. Melihat kakak-kakak saya yang tidak pernah saya lihat diajak seperti saya, saya sempat iri dengan ‘kebebasan’ mereka. Tapi, nasib menjadi ragil harus ditelan. Hingga saya –pada usia yang lebih dewasa, mengerti maksud Ayah.

Ayah selalu sayang. Ia ingin saya mendapat contoh terbaik. Maka, ketika saya berdiri dalam shalat, ia mengingatkan untuk tidak bergoyang-goyang. Saya ingat betul. Sesampainya di rumah, Ayah melapor ke Mami. “Dedy (panggilan kecil saya) nih, shalatnya goyang-goyang melulu.” Kalau sudah begitu, Mami yang mengambil alih peran menasihati. Berbeda dengan Ayah, Mami selalu punya pendekatan lain untuk mengatakan bahwa yang dimaksud Ayah selalu baik, termasuk amarahnya.

Shalat Jumat bersama Ayah juga selalu berarti pulang lebih telat dari anak-anak sebaya saya. Di tahun-tahun pertama, saya hanya menunggu Ayah selesai wirid. Sampai akhirnya Ayah yang mengajari untuk membaca Al Fatihah tujuh kali, dilanjutkan Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas masing-masing lima kali. Jangan tanyakan dalilnya: lakukan saja. “Bukan tiga, tapi tujuh kali Al Fatihah.” Saya ingat betul itu, seperti saya ingat imbuhan akhirnya, “Kamu harus beda dari anak-anak yang lain.”

Dari ritual Jum’at itulah saya kemudian banyak dikenal oleh sahabat-sahabat Ayah. Mereka kebanyakan senang melihat anak kecil yang rutin mengikuti shalat dengan tertib. Bahkan, beberapa kali saya diberi hadiah. Salah satunya, uang Rp 10.000 yang dimasukkan ke saku saya dengan semena-mena. Saat itu, mendapat uang Rp 10.000 adalah anugerah terbesar. Bagai duran runtuh, ketika jajanan kami masih Anak Mas dan Choki-Choki seharga Rp 25. Bayangkan berapa banyak Choki-Choki yang bisa saya beli saat itu! Tapi, saat melapor ke Mami, keputusan yang diambil adalah menabungkannya. Bukan Choki-Choki. Sampai detik ini, bahkan Mami pun masih mengingatnya, termasuk nama siapa yang memberi uang Rp 10.000 itu ketika saya tak ingat lagi namanya. Yang saya ingat hanyalah kebaikan Ayah.

Maka, setiap kali saya mengingat Ayah, saya selalu ingat Birru –anak saya. Mengajaknya rutin ke masjid adalah bakti cinta saya kepada Ayah selepas Ayah wafat. Seraya berharap amal shalih Ayah tak pernah terputus. Wallahu yarhamuka, Ayah.

Syawal 1437IMG_20160619_061147