aafuady.com

Algoritma Kebaikan

Jalan hidup ini kita sendiri yang memilihnya. Semua perangkat sudah disiapkan oleh Allah, tidak ada kekurangan satu detail pun. Allah sudah menunjukkan pilihan jalan –hadaynaahun najdain,[1] Allah telah pula mengarahkan ke mana harus menempuhnya –hadaynaahus sabiil. Kita berkuasa sepenuhnya untuk bersyukur atau berbalik menjadi kufur.[2]

Hijrahnya Muhammad ke Yatsrib (kini dikenal sebagai Madinah) memperkenalkan kita dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang menjadi sebab turunnya banyak ayat yang kita baca saat ini. Tokoh munafik terbesar dalam sejarah. Ia mengambil dari Islam apa saja yang menyenangkannya, sesuai dengan kepentingan politiknya, dan sepadan dengan ambisi nafsu duniawinya. Ia meninggalkan, berbalik badan dari Muhammad ketika ada tuntutan yang bertentangan dengan nafsu dan kepentingannya. Ia menjadi contoh paling akbar betapa wajah dapat diputarbalikkan, ditukar-tukar, dipakaikan topeng, sekadar untuk mencari rasa aman di hadapan kekuatan yang melingkupinya, mendapatkan kesempatan emas dalam karir kekuasaannya, dan tetap menyembunyikan intensi negatif terhadap Allah.

Potensi Ibnu Ubay itu akan terus ada sepanjang jaman dan menarik-narik kita menjadi bagian dari kelompoknya. Kita memilih beriman di satu saat, kemudian berpaling kufur di kesempatan lain. Kita terancam menjadi bagian dari permisalan abadi yang Allah sebutkan –menyalakan api, namun ketika telah terang sekeliling kita, Allah melenyapkan terangnya.[3] Allah tidak serta merta melenyapkan cahaya yang menuntun jalan kita, tetapi kita sendiri yang memilih untuk mematikannya.

Kebaikan dan keburukan itu memiliki algoritma sendiri. Ketika kita memilih kebaikan, maka dimudahkan pula untuk menuntaskan kebaikan-kebaikan lainnya. Sesiapa saja yang memberikan hartanya, bertakwa, dan membenarkan pahala yang terbaik; mengejawantahkannya dalam praktik riil ketaatan, maka sistem yang melingkupinya akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Alam raya akan mendukung kepatuhan-kepatuhan berikutnya kepada Allah. Sebaliknya, kita yang memilih keburukan akan terperangkap dalam keburukan yang berturut-turut, kesulitan yang bertubi-tubi,[4] kegelapan yang menyesakkan, bahkan ditinggalkanNya dalam kegelapan hingga tak mampu lagi melihat kebenaran.[5]

Kita tentu tak ingin menjadi seperti mereka yang tuli, bisu, dan buta.[6] Bukan karena keterbatasan fisik kita, tapi karena keengganan hati kita menyesuaikan diri dengan kebenaran yang disampaikan Allah. Kita mendengar tapi mengabaikannya. Kita melihat, tapi menutup pintu masuknya. Kita mengetahui, tapi lidah kita kelu untuk menyampaikannya, menyatakan keberpihakan kita yang nyata kepada kebenaran.

Maka, antidot, penawar, obatnya sudah disisipkan Allah dalam ayat yang lain –udkhuluu fis silmi kaaffah, masuklah engkau dalam kepasrahan kepada Allah yang paling paripurna, holistik, tidak terpotong-potong. Kepasrahan kita menunjukkan bahwa tak ada satu daya pun yang mendorong, menyelamatkan, dan menghidarkan dari marabahaya, kecuali Allah. Kepasrahan kita juga menyatakan bahwa tak ada kelayakan sedikitpun untuk menyejajarkan tujuan, berhala, kiblat, dan tuhan-tuhan lain di sisi Allah. Kepasrahan kita itu menegaskan pula bahwa setiap apa yang dimintakanNya untuk dilakukan, dikerjakan, dipraktikkan, disusunkan strategi dan implementasinya harus kita sanggupi; dan setiap apa yang dilarang, dibenci, dan dimusuhiNya harus kita hindari sekuat hati dan tenaga. Karena itulah kepasrahan yang sejati –bukan kepasrahan sebatas pengakuan Islam, bukan pula stempel identitas dalam kartu kewarganegaraan.

Semoga Ramadhan ini adalah bagian dari menjejaknya kaki kita dalam algoritma kebaikan.

Rotterdam, Ramadhan 1438

[1] QS Al Balad 10

[2] QS Al Insan 3-4

[3] Lihat QS Al Baqarah 17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka.

[4] Lihat QS Surat Al Lail 5-10

[5] QS Al Baqarah 17

[6] Lihat QS Al Baqarah 18

Gambar diambil dari: http://i2.wp.com/kuncikebaikan.com/wp-content/uploads/2016/02/Keikhlasan-sumber-kebaikan-e1455339557154.jpg

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...