aafuady.com

Ibnu Umar Tak Tahu

Kita kerap berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama tahu, menjadi yang terluas ilmunya, dan menjadi yang tertinggi pencapaiannya. Namun, siapakah yang memahami dengan kesungguhannya bahwa ujung dari segala yang kita ketahui adalah ketidaktahuan itu sendiri? Lantas, mengapa kita berlomba-lomba pula untuk dapat dikenal sebagai penjawab semua soal, kunci dari segala jawaban, atau pemenang dari aneka perdebatan?

Siapa yang tak mengenal Abdullah bin Umar radhiyallahu ánhuma (ra), putra khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ánhu (ra.) yang telah duduk dan menguntit Rasulullah Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) sejak usianya 13 tahun? Ia menyerap segala apa yang ia lihat dari Rasulullah Saw., meniru gerak-gerik Sang Nabi, bahkan untanya sekalipun. Jika unta tunggangan Rasulullah Saw. berputar dua kali dan menderum di satu tempat menjelang Mekkah, Ibnu Umar ra. pun –begitu ia dipanggil– mengajak untanya berputar dua kali, membuatnya menderum-derum, lantas turun dari untanya untuk shalat dua rakaat. Persis plek-plek seperti apa yang dilakukan Rasulullah Saw.

Bagi Ibnu Umar ra., ia adalah fans sejati Rasulullah Saw. Imitator ulung yang hafal bagaimana Rasul Saw. mengambil cawan untuk minum, ke arah mana Rasul Saw. berbaring, dan dengan apa Rasul Saw. ber-istinja. Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasul Saw., ikut memujinya, “Tak ada seorang pun yang mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat singgah beliau seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar.” Allah memberinya umur yang panjang sehingga memungkinkan kaum muslimin belajar dari orang ‘yang menghirup dari sumber pertama’.

Ilmunya luas, hafalannya kuat. Namun, itu tak membuatnya ringan hati menyampaikan hadits. Ia amat berhati-hati. Tak akan disampaikannya satu hadits bila ia tak mengingat seluruh kata-kata Rasulullah Saw. Ia jauh dari ceroboh –perilaku yang belakangan kita timbun seperti perangai. Kita begitu mudah menyampaikan sesuatu yang tak kita tahu substansi kebenarannya, tak yakin sanad informasinya, dan tak mengerti substansi dan konteksnya. Kita sering merasa gagah untuk menjawab segala pertanyaan, memformulasikan fatwa, dan bersilat lidah dengan pengetahuan yang masih setetes.

Suatu saat, Ibnu Umar ra. didatangi seseorang yang meminta fatwa kepadanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu tentang masalah yang engkau tanyakan itu.” Selepas si penanya pergi, Ibnu Umar ra. menggosok-gosokkan tangannya, lantas berujar gembira, “Ibnu Umar ditanyai orang tentang yang tidak diketahuinya, maka ia menjawab tidak tahu.” Sorak seorang alim yang telah menyelami lautan ilmu tak bertepi, sorai lelaki yang begitu takut ada keliru dalam jawab dan fatwanya.

Hingga ketika Khalifah Utsman bin Affan ra. memintanya untuk menjadi hakim, Ibnu Umar ra. menolak. Bukan karena ia tak taat kepada khalifah. Ia hanya pernah mendengar tiga macam hakim. “Pertama, hakim yang mengadili tanpa ilmu, maka ia ada di dalam neraka. Kedua, hakim yang memberi putusan karena nafsu, maka ia juga ada dalam neraka. Ketiga, hakim yang berijtihad dan hasil ijtihadnya benar, maka ia dalam keadaan seimbang: tidak berdosa, tidak pula menangguk pahala.” Ia memohon kepada khalifah agar melepaskannya dari tanggungjawab besar itu. Khalifah Utsman ra. menyepakatinya dengan syarat: jangan pernah Ibnu Umar mengungkapkan alasannya ke publik. Siapa lagi yang akan bersedia menjadi hakim bila orang yang paling lekat ingatannya kepada Rasulullah Saw. di masa itu menolak dengan alasan demikian?

Apa yang membuat kita begitu gembira jika dijadikan rujukan dari pertanyaan dan menjawabnya dengan gegap gempita –dan tak jarang pula diliputi kesombongan? Barangkali kita luput meneladani Ibnu Umar ra. yang ketika remajanya sudah dibayangi mimpi tentang surga. “Ke tempat mana saja yang aku ingin di surga, kain beludru itu akan menerbangkanku ke sana,” begitu ceritanya tentang mimpinya. Hafshah radhiyallahu ánha, kakaknya sekaligus istri Rasulullah Saw., meneruskan kisah mimpinya kepada Rasulullah. “Abdullah akan menjadi lelaki utama bila ia rajin shalat malam dan banyak melakukannya,” jawab Rasulullah Saw.

Ibnu Umar ra. telah mengambil jalan menuju maqaaman mahmuuda –tempat terpuji di sisi Allah, dengan berdirinya di gulita malam. Ia yang bermesra-mesra dengan Allah, yang menggali dan membantu menafsir saripati Kitabullah. Ia yang mengingatkan kita bahwa seorang alim adalah yang mengatakan ‘tak tahu’ ketika ia tak tahu dan berhati-hati dengan apa yang menggumpal di kepala dan ingatannya.

Rotterdam, 7 Ramadhan 1439

 

Foto fitur diambil dari: https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-sistem-manajemen-pengetahuan/3710

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...