aafuady.com

Asalkan Allah Tidak Murka

Sudah hari kelimabelas di Tha’if, namun Rasulullah shallallahu álayhi wassalam (Saw.) dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ánhu (ra.) belum menemukan tanda-tanda menggembirakan dari usaha da’wahnya menyebarkan Islam dan meminta perlindungan. Mereka telah masuk ke lorong-lorong pasar Ukazh, telah menghampiri banyak orang di tepian jalan, dan telah menawarkan Islam ke pintu-pintu rumah dengan damai. Namun, mereka tetap tertolak. “Jika kalian menolak, biarkan aku pergi,” kata Rasulullah di ujung usahanya hari itu.

Namun, penduduk Tha’if tidak begitu saja membiarkan kepergiannya. Mereka memanggil banyak orang, membentuk dua barisan rapat manusia yang telah mengenggam batu untuk siap dilemparkan.  “Demi Allah, kau tidak akan bisa keluar sampai kau dilempari dengan batu,” teriak mereka. “Agar kau tidak akan pernah kembali lagi ke sini, selamanya!”

Dua kubu tak seimbang itu saling berhadapan. Sekali batu terlempar ke arah Rasulullah Saw. dan Zaid, puluhan batu ikut meluncur. Muhammad Saw. berlari dan mencari tempat sembunyi, tetapi batu-batu itu meluncur lebih cepat menuju tubuh dan kakinya. Ia kalah cekatan. Sandalnya basah, merah, dan bersimbah darah. Semua orang berteriak, bersorak-sorai, dan memakinya.

Berlari terus ia menjauh, hingga sampailah ia di sebuah kebun milik ‘Utba dan Syaiba –anak-anak Rabi’a. Penduduk Tha’if sepertinya telah puas, tak dikejarnya lagi Muhammad Saw. Rabi’a dan keluarganya menatap Muhammad Saw. dengan tatapan duka. Siapa yang tega melihat lelaki utama dilempari, diusir, dicacimaki, dan dibuat terluka berdarah?

Kecewakah Muhammad Saw.? Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan, kita layak malu kepada diri kita sendiri jika menyimak lagi do’anya di kebun itu. “Allahumma, Ya Allah. KepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku, serta kehinaan diriku di hadapan manusia,” begitu mula do’anya. Tidak ada kecaman, meski tubuh dan batin terluka. Tidak ada kebencian, meski kehormatannya dihina. Tidak ada dendam, meski makian bertubui-tubi diterimanya. Ia mengajarkan kita tentang mula-mula do’a yang rendah hati. Ia tak menjadi sombong, merasa benar, dan tinggi. Meski ia mampu meminta apapun kepada Allah karena kedekatannya denganNya, ia memilih tetap menjadi rendah. “Kepada siapa hendak Kau serahkan aku? Kepada orang yang jauh kah; yang berwajah muram kepadaku? Ataukah, kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Air matanya meleleh. Bukan karena lemah, tapi justru karena ia telah ridha sepenuhnya. Apapun saja yang Allah ingin terjadi kepadanya, ia rela. “Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli! Sebab sungguh luas kenikmatan yang telah Engkau limpahkan kepadaku.”

Siapa yang merasa dirinya lebih mulia daripada Muhammad Saw? Siapa yang merasa dirinya lebih dekat kepada Allah daripada Muhammad Saw? Siapa yang merasa dirinya lebih terpercaya, lebih didengar perkataaannya oleh banyak orang, lebih teduh ucapannya, lebih jernih dan bersih tindakan dan komentarnya, ketimbang Muhammad Saw?

Namun, kita meminta-minta surga sambil merasa sebal dengan takdir-takdir yang Allah putuskan terhadap kita. Kita manyun saat rencana dan strategi tidak berjalan lancar. Kita mengeluh ketika keuntungan tak sebesar yang dibayangkan. Kita melemah ketika kegagalan demi kegagalan menghadang di depan. Bahkan, kita memprotes Allah, mengapa keadaan kita begini-begini saja, tidak ada perkembangan, tidak ada kemenangan, dan tidak ada kemajuan-kemajuan yang didambakan. Namun, kita masih juga meminta-minta surga di timbunan keluh kesah kita.

Barangkali kita harus menyusun ulang keping-keping keinginan kita terhadap Allah. Kita layak berintrospeksi diri, menghitung sebanyak apa nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, dan seberapa sering pula kita terhijab untuk mensyukurinya. Kita lebih suka mengeluhkan yang tak tercapai, namun mengabaikan yang pernah kita terima. Kita lebih menyenangi tuntutan ketimbang perasaan syukur dari setiap detik yang Allah anugerahkan kepada kita.

Merasa tinggikah kita setelah malam-malam panjang kita lewatkan di masjid dan di atas hamparan sajadah? Merasa hebatkan kita setelah lembar-lembar mushaf kita habiskan dalam sekejapan malam? Merasa semakin dekatkah kita dengan Allah –dan dengannya merasa pantas masuk surgaNya, “Ya Allah, masukkan aku ke surgaMu”? Yang paling tinggi, jika perlu. Yang paling dekat dengan RasulMu, jika berkenan.

Namun, ridha kita terlepas dari takdir yang telah ditetapkanNya. Kita masih membenci makanan yang tak sesuai selera. Kita masih mencela pakaian yang tak sesuai pesanan. Kita masih mengadukan hal-hal sepele sambil berkata, “Ya Allah, mengapa Engkau timpakan ini kepadaku, kepada kami?”

Siapakah yang mendapati dirinya berada di tengah kerumunan yang lebih buruk ketimbang Muhammad Saw. –di Mekkah dan di Tha’if? Siapakah yang merasa dirinya lebih terasing dari komunitasnya daripada Muhammad Saw.? Siapakah yang merasa pemimpin kaumnya lebih zalim dan lebih aniaya ketimbang Muhammad Saw.?

Namun, sempatkah do’a-do’a terlepas ke langit untuk mengatakan, “Mereka kaum yang tak paham, maka ampunilah mereka.” Kita merasa lebih pantas untuk membela diri dan mencela balik. Kita merasa lebih berhak untuk mendo’akan keburukan yang lebih besar.

Padahal, Muhammad Saw. terduduk di kebun ‘Utba. Ia menghamparkan hatinya yang jernih itu di hadapan Allah. Bukan surga dan kemenangan yang ia inginkan. Bukan derajat dan kehormatan yang ia pintakan. Bukan dednam dan pembalasan yang ia tujukan.

Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli! Sebab sungguh luas kenikmatan yang telah Engkau limpahkan kepadaku.”

Permintaan-permintaan kita menjulang tinggi. Standar harapan kita diset terlampau pesat. Padahal, barangkali, kita kerap lupa untuk merelakan diri dihanyut takdir Allah ke mana saja Dia Inginkan. Kita lupa untuk menyadarkan diri kita sendiri bahwa hakikat hidup ini sederhana: Asalkan Allah Tidak Murka. Setelah itu, Cinta akan menjelang. Cinta akan Datang tanpa perlu kita undang.

Rotterdam, 27 Ramadhan 1439

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.youtube.com/watch?v=_dhy2l0X8rY

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...