aafuady.com

Bukan Manusia Super (1)

Tidak ada manusia super di dunia ini. Bahkan, nabi dan rasul sekalipun –mereka bukanlah pahlawan super yang dapat menaklukkan dunia hanya dengan sekali menjentikkan jari. Itu khayal. Yang sungguhan sudah diberitakan Allah ﷻ dalam firmanNya: manusia itu diciptakan dalam keadaan penuh keluh kesah.[I]

Begitulah perkakas jiwa default manusia. Yang jika ditimpakan keburukan, kesusahan, pengasingan, kegagalan, atau peristiwa-peritiwa menyedihkan, manusia menjadi lemah. Jazuu’an, kata Allah. Rintihannya memanjang. Putus asanya mengembang. Keluhannya melimpah ruah. Kesahnya menjadi-jadi. Tetapi, ketika diberikan kebaikan-kebaikan, ditimpakan nasib baik, dibukakan jalan keluar, dan dikarunia kelebihan, mereka berubah menjadi sedemikian pelit. Manuu’an, kata Allah. Yang ia terima dari Allah ﷻ dibatasinya hanya untuk diri sendiri dan golongannya, dikuasai untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Mereka yang diberi harta akan menjadi kikir. Tak berbagi. Mereka yang pintar akan menjadi pelit ilmu. Semua dikuantifikasi dalam harga dan neraca. Mereka yang diberikan peluang, jejaring, dan ribuan kesempatan akan menyimpannya sendirian –atau segelintir orang-orang yang dianggap menguntungkannya. Tak boleh ada yang masuk dan ikut menyesapi keberhasilan. Mereka yang diberi kekuasaan akan berjuang dengan cara apapun untuk melanggengkan kekuasannya. Tak boleh ada satu celah pun terbuka yang dapat meruntuhkan dinastinya, kabinetnya, kekuatan politiknya.

Itu karakteristik dasar manusia –yang wajar pula Allah ﷻ menyebutkannya sebagai keadaan merugi. Defisit. Buntung. Allah ﷻ kemudian menyediakan perangkat lain untuk keluar dari kebangkrutan. Ada banyak Illa, ada banyak pengecualian. Tinggal seberapa jauh manusia berupaya menempuh illa-illa itu.

Pengecualian pertama adalah mereka yang shalat, dan ia tetap dalam keadaan shalatnya itu. Daaim. Kontinu.[ii] Ia menciptakan arus positif dari shalatnya. Dari upaya mencari pengampunan atas dosa-dosanya hingga membentuk karakter pahlawan sosial seutuhnya: tanhaa ‘anil fahsyai wal munkar,[iii] menentang kekejian dan menjadi musuh utama bagi kemunkaran. Ia membangun satu per satu tonggak kekhusyuan –meyakini bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan jelas akan menjumpai Tuhannya yang Melebihi Siapapun dan akan kepadaNya lah ia pasti kembali.[iv] Ia berocok tanam ketenangan,[v] thuma’ninah: menikmati setiap huruf dalam ayat dan bacaan shalatnya, menghayati setiap tarikan nafas di gerakan shalatnya.

Rentetan pengecualian ini pun nanti ditutup dengan shalat: dan mereka yang yang memelihara shalatnya. Dibuka dengan daaim, kesinambungan, lalu ditutup dengan yuhafizhun, penjagaan dan perawatan. Seberapa baik kita menjadi hafizh, penjaga, bagi anak-anak kita, harta, pekerjaan, rumah, kendaraan? Bahkan, mobil saja kita servis agar performanya tetap mantap, kita cuci agar terus sedap ditatap, kita bersihkan agar nyaman dipandang, kita hati-hati mengendarainya agar tidak lecet terpeleset, tersenggol atau tertabrak. Bahkan, pada kucing peliharaan saja kita merawatnya dengan sungguh-sungguh. Googling ke sana ke mari untuk tahu makanan yang tepat dan kandang yang sehat. Bahkan, kepada anak-anak kita belajar dengan gigih bagaimana menumbuhkembangkan mereka dengan sempurna. Ikut workshop parenting di mana-mana, ikut kajian pendidikan anak di sana sini, mendatangi pameran pendidikan di sudut manapun. Demi yang terbaik. Itulah yuhaafizhun, penjagaan dan perawatan yang sempurna.

Shalat tak hanya tuntas dikerjakan ala kadarnya. Ada rukun, syarat, wajib dan sunnahnya yang perlu diketahui. Ada substansi hakikatnya yang harus dijaga. Ada kelengkapan lima waktunya yang dipelihara. Shalat bukan hanya dilakukan, tetapi ditegakkan dengan pemeliharaan yang sempurna.

Dengan begitu, para pelaku shalat, mushallin, itulah yang akan keluar dari keluh kesah dan kepelitannya. Mereka itulah yang mampu meninggalkan dunia di belakang dan melebarkan jiwanya untuk dipenuhi nilai-nilai ketuhanan.

[i] Lihat QS Al Maarij 19-35

[ii] Pendapat Ibnu Mas’ud, Masyruq, dan Ibrahim an Nakha’I dalam penafsirannya terhadap kata daaim dalam ayat ini.

[iii] Lihat QS Al Ankabut 45

[iv] Lihat QS Al Baqarah 45-46

[v] Pendapat Uqbah bin Amir dalam penafsirannya terhadap kata daaim dalam ayat ini.

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.youtube.com/watch?v=iFh0yzQjum8

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...