aafuady.com

Duka Melintas Semesta

Hari itu Waraqah bin Naufal menjumpai Muhammad ﷺ di sekitaran Ka’bah. “Engkau adalah Nabi atas umat ini,” katanya memulai. Konfirmasi pertama yang telah diperkirakan Muhammad semenjak Khadijah, istrinya, menjadi penyokong spirit utamanya. Tetapi, kalimat itu tak berhenti begitu saja. Waraqah melanjutkannya, “Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir, dan akan diperangi.” Konfirmasi kedua yang Muhammad ﷺ terima hari itu sekaligus menumpukkan beban yang memberat di pundaknya.

Tidak ada yang ia harapkan selanjutnya, kecuali bimbingan wahyu yang semula membuatnya menggigil dalam selimut. Tidak ada yang ia mintakan, kecuali Allah ﷻ menyediakan perangkat paling canggih dan jalan paling mulus untuk dapat mengajak Quraisy beriman, juga menahan segala macam goncangan fisik, batin, dan moril yang akan dihadapinya.

Tetapi, tak ada harapan yang berjawab kala itu. Ketika ia menyadari dirinya membutuhkan suluh penerang jalan, wahyu terhenti. Jibril menghilang tanpa kabar. Tak ada yang menggoncang-goncang tubuh dan jiwanya lagi. Sempat Muhammad ﷺ berpikir: setelah dipilih Tuhan, beginikah ia pantas diperlakukan? Mencari jalan sendiri dan mengobati perih dan lukanya tanpa petunjuk? Ia bahkan sempat berpikir mengasing kembali ke gua Hiro atau ke puncak gunung Abu Qubais, lalu melepaskan beban yang ia pikulnya sendirian.

Muhammad ﷺ pun jatuh sakit. Abu Sa’id menyebutkan bahwa ia juga ditimpa batu yang melayang ke tangannya hingga jarinya terluka.[1] Ia tak nampak lagi berdiri di malam-malamnya untuk shalat. Semalam, dua malam. Kemudian seorang perempuan datang mengejeknya, “Hai Muhammad, kau tahu? Setanmu itu, malaikat yang kau sebut-sebut membawa wahyu itu, ia telah meninggalkanmu sendirian.” Kabar Muhammad ditinggalkan Jibril mengalir cepat dari mulut-ke mulut: Muhammad ditinggalkan Tuhannya sendiri.

Duka Muhammad ﷺ itu, bukankah duka kita juga: duka orang-orang yang merasa ditinggalkan Allah? Tetapi, apalah duka kita? Duka kita seringkali bukan karena tak berlimpah hidayah, penerang jalan. Duka kita acapkali karena merasa dilemparkan begitu saja dari pusaran nasib baik dan dibiarkan sengsara menempuh buruknya hidup tanpa pelampung hidayah. Duka kita adalah keluh kesah atas harapan yang tak pernah berujud, doa yang tak juga terkabul, dan cita-cita yang belum sempat terpenuhi.

Pernahkah duka kita seperti duka Muhammad ﷺ: duka merindu wahyu, duka terjamah hidayah, duka dirajuk petunjuk?  Ataukah karena dunia menyesak dalam kepala dan jiwa kita, maka duka kita sepenuhnya adalah duka dunia?

Jika pun begitu, tengoklah kembali bagaimana Muhammad ﷺ beranjak ke lembah Abtah. Rindu itu benar-benar tertumpah sebelum Jibril tiba dalam rupa aslinya. Lalu mendekatlah wahyu, mendekaplah pelipur lara.

Dan demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkanmu. Dan tidak pula ia membencimu.[2]

Ayat-ayat itu menjadi jawab sanggah bagi mereka yang mengejek. Muhammad ﷺ nyatanya tak ditinggal sendirian. Hatinya gembira, jiwanya damai. Ia menemukan obat penenang paling mujarab: walal aakhiratu khairul laka minal uulaa. Yang datang belakangan itu, kehidupan akhirat, impian masa depan selepas kehidupan dunia: itulah yang jauh lebih baik daripada hidup dunia ini.

Apa yang kita sedihkan hari ini? Apa yang kita tangisi kemarin dan hari esok? Dunia, betatapun nikmatnya ia kita dekap, tak akan pernah lebih baik dari kenikmatan akhirat.

Apa yang membuat kita kesal kepada Allah? Apa yang membimbing kita untuk memprotes keputusan-keputusanNya yang kita anggap tidak menyenangkan, tidak membahagiakan, menyengsarakan? Padahal, Allah selalu hadir menyediakan setiap batu pijak terbaik di jalan yang kita tempuh. Kita yang mungkin kehilangan daya untuk merensponsnya dengan tepat. Kita yang boleh jadi menyilapkan hidayah, menghijab diri dari petunjuk, atau memantulkannya balik hingga terang petunjuk tak masuk menerangi gelapnya hati. Kita yang hanya berlinang air mata karena fokus pada kesedihan yang beruntun dan mengabaikan kenikmatan yang telah diberikan.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu seperti orang yang kebingungan, lalu Dia memberikanmu petunjuk penerang jalan? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia membekalimu dengan segala macam kecukupan?[3]

Bukankah pula begitu banyak kebaikan Allah ﷻ yang terlimpah sepanjang hidup kita, tetapi kita membatasi pandang mata dan batin hanya kepada persoalan dunia yang rumit, sesak, dan mengecewakan?

Kita kerap lupa perbincangan Muhammad ﷺ dan Ibnu Mas’ud di atas hamparan tikar kasar. Ibnu Mas’ud mengusap lambung Muhammad ﷺ lalu menawarkan kasur empuk untuk ia hamparkan sebagai pengganti tikar. Muhammad ﷺ menjawab dengan teduh, “Apa urusanku dengan dunia? Sungguh, perumpamaan antara aku dan dunia adalah seperti musafir yang berteduh di bawah naungan pohon, lalu ia pergi meninggalkannya.[4]

Duka kita duka dunia. Belum sempat kita melangkah lebih jauh mengikuti Muhammad ﷺ agar tak ada duka yang kita panggul, kecuali duka itu melintasi semesta. Duka yang menjadi penunjuk jalan selanjutnya dari keterpurukan yang bertubi-tubi, menyikapinya dengan amal gemilang, “Adapun terhadap anak-anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Terhadap mereka yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik mereka.”[5] Tidak menyingkirkan mereka dari pagar-pagar sosial kami-dan-mereka, mengasingkan mereka dari kesempatan, dan membiarkan mereka terjerembab dalam keterasingan dan kemiskinan struktural.

Itulah duka melintas semesta!

Rotterdam, 4 Ramadhan 1440

Gambar fitur diambil dari: http://www.rendy-saputra.com/2018/05/hilang-arah.html

 

[1] Dalam satu riwayat, Rasulullah ﷺ pernah dilempar dengan batu hingga mengenai jari tangannya sampai berdarah. Setelah itu, beliau mengucapkan kalimat bersyair: Tiadalah engkau selain dari jari tangan yang berdarah, di jalan Allah padahal engkau mengalaminya. Riwayat ini diperdebatkan apakah menjadi sebab sakitnya Rasulullah ﷺ selama menunggu wahyu.

[2] Lihat QS Ad Dhuha 1-3

[3] Lihat QS Ad Dhuha 6-8

[4] Hadits Riwayat Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Majah

[5] Lihat QS Ad Dhuha 9-10

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...