aafuady.com

Gigi Seri Tukang Pidato

Saat Rasulullah Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) bersama rombongan sahabatnya menuju Mekkah untuk umrah di tahun 6 H, orang-orang Quraisy menghadangnya. Tak cukup sekali dua kali, mereka mengirim utusan untuk melobi agar Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Perjalanan itu memang bukan untuk perang, tapi masuknya Rasulullah Saw. ke Mekkah berpotensi mengoyak keajegan Mekkah yang dirawat untuk terus membenci Rasulullah Saw. dan Islam. Maka, Muhammad Saw. harus dibatasi ruang geraknya, dijauhkan dari mimbar, disingkirkan dari daftar migran, dan diboikot segala aktivitasnya.

Jika hari ini kita diusir, diboikot, dilarang, dan disingkirkan dari berbagai mimbar, forum, podium, dan ruang eskpresi, pastikan bahwa pengusiran dan marjinalisasi itu disebabkan kebenaran yang kita bela, bukan kepentingan dunia belaka. Jalan damai Muhammad Saw. adalah menyikapi segala penolakan yang tampak birokratis itu dengan diplomasi yang agung. Bahkan, ketika seorang lelaki duduk di hadapannya mulai mendikte.

“Nama Rahman dan Rahim ini tidak aku kenal, tapi tulislah: Bismikallahuma,” katanya tegas saat Rasulullah Saw. menulis basmalah. “Tulislah, ini yang sudah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah,” katanya lagi, menolak dicantumkannya kata ‘Rasulullah’ dalam perjanjian besar itu –yang kemudian kita kenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Muhammad Saw. melunak kepada lelaki di hadapannya: Suhail bin Amr. Ia tukang pidato paling ulung dan orator paling handal dalam mencaci dan mendiskreditkan Muhammad Saw. Maka, ketika ia diutus sebagai tukang lobi terakhir, orang-orang Quraisy bersukacita.

Nama Suhail si tukang pidato itu terus bergema di Mekkah dan Madinah. Di Mekkah, ia dipuja-puji dan terus menjadi corong utama perlawanan di mimbar-mimbar publik. Di Madinah, ia dibenci karena menjadi sebab tawanan muslim di Mekkah tak dapat kembali. Padahal, saat perang Badar, ia sempat menjadi tawanan perang sebelum dilepaskan lagi ke kaumnya.

Umar bin Khattab radhiyallahu ánhu (ra.) ingat betul permintaannya kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah, biarkan aku mencabut gigi seri Suhail bin Amr ini, agar ia tak dapat lagi berpidato mencela dirimu setelah ini.” Tapi, Rasulullah Saw. menolak permintaan Umar ra. “Aku tidak akan merusak tubuh seseorang,” jawab beliau. “Mudah-mudahan esok pendirian Suhail akan berubah menjadi seperti yang engkau sukai.”

Saat Fathu Mekkah, Suhail masih berdiri bersama orang-orang Quraisy –lengkap dengan gigi serinya yang tak pernah dicabut. Ia terpojok, melihat Islam menguasai setiap jengkal Mekkah. Muhammad Saw. dapat saja mencokok setiap orang yang dulu membencinya dan mengobarkan kedengkian kepadanya. Namun, beliau memilih opsi lain dengan menghadapi langsung orang-orang Quraisy dan bertanya, “Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Suhail si juru pidato maju. Lihai ia menjawab, “Kami yakin engkau akan berbuat baik karena engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia.” Rasulullah Saw. tersenyum, lalu dibebaskannya semua tawanan.

Tidakkah pemaafan kita lebih sedikit dari ujung kuku Rasulullah Saw.? Kita begitu mudah terbakar emosi dan mengoleksi dendam. Amarah kita mudah tertumpah ketika personalitas kita diserang, kelompok kita dikebiri, partai kita diremehkan, atau golongan kita dipinggirkan. Kita menafikan jalan teladan Rasulullah Saw. untuk meneguhkan diri dalam memilah mana yang harus dibela dan dimaafkan. Tidak ada ajakan yang bersambut, kecuali diiringi dengan kelembutan dan kasih sayang.

Suhail sadar; berliput campuran malu, tunduk, dan sesal. Ia menjadi bagian Ath Thulaqa –orang-orang yang masuk Islam saat Fathu Mekkah karena ujaran Rasulullah Saw., “Pergilah kalian, karena kalian semua bebas.” Dalam sekejap, kebenciannya kepada Rasulullah Saw. berganti dengan kecintaan yang meluap-luap. Ia menjadi pribadi pemaaf, pemurah, mencintai shalat dan Qur’an, dan kerap menangis karena ketakutannya kepada Allah Taála.

Lantas, apa yang kita harapkan dari kebencian yang membalas kebencian, dari kata-kata kotor yang membalas kata-kata kotor, dari celaan yang membalas celaan –bahkan ketika kita merasa diri kita berada di puncak tertinggi kebenaran manusia?

Suatu saat, di hadapan Umar ra., Suhail berpidato lagi. Namun, kali ini pidatonya mengagumkan, penuh keimanan yang kokoh. Pidato yang membuat Umar tertawa panjang sendirian. Ia mengingat lagi pesan Rasul Saw. untuk tidak merontokkan gigi seri Suhail, “Mudah-mudahan esok pendirian Suhail berubah menjadi seperti yang engkau sukai.” Hari itu, perkataan Rasulullah Saw. terbukti sudah. Si tukang pidato menjelma sahabat utama karena kasih sayang da’wah Muhammad Saw.

Jika hari ini kita melihat tukang pidato, orator, stand up comedian, politisi, artis, atau public figure yang begitu membenci kebenaran Islam, tak perlulah kita cabut gigi serinya, juga kehormatannya dengan kekejian yang sama. Di bulan puasa, kita sisipkan doa agar Allah membalik yang keras menjadi lunak, mengubah yang benci menjadi cinta, mengembalikan yang limbung ke jalan yang lurus. Barangkali, itulah jalan da’wah kita yang paling lemah.

Rotterdam, 9 Ramadhan 1439

Foto fitur diambil dari: http://kevinzimmerman.org/become-a-motivational-speaker-why-all-authors-should/

 

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...