aafuady.com

Imsak Kebenaran

Apa yang kita harapkan dari Ramadhan: dunia ditata sedemikian rupa untuk kita, atau kita menata diri untuk dunia yang kita hadapi? Tak banyak, sesungguhnya, yang kita pahami dari petuah Rasul dalam riwayat yang sahih – puasa itu perisai. Kita hanya menghendaki puasa yang tenang, damai,  dan tenteram sambil menukil-nukil perkataan Rasul pada riwayat yang lain – ketika datang Ramadhan: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kita seringkali lupa bahwa yang membentuk perisai, tameng, hingga sebegitu tebal dan kuat adalah diri kita yang menahan hawa. Yang membelenggu setan dan melempangkan jalan kita ke depan pintu surga sepenuhnya berada dalam kuasa keinginan kita.

Hawa nafsu manusia bertingkat, dan dengan itu pula puasa kita punya tingkatan kualitasnya masing-masing. Pada level yang paling rendah, hawa nafsu melonjak-lonjak dalam rasa haus dan lapar, keinginan makan dan minum dengan rasa yang paling disuka. Juga nafsu berahi –yang semuanya mesti dikekang sepanjang subuh hingga maghrib.

Ada hawa lain yang seringkali luput kita sadari bentuknya: hawa kebenaran. Ketika tak mampu mengendalikannya, kita berperan seperti Iblis, menyorong-nyorongkan diri sendiri bahwa tidak ada satupun yang lebih baik, kecuali dirinya. Hawa kebenaran yang tak terkendali itu membawa kita pada sifat yang disabdakan Rasul – menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Keangkuhan inilah yang menjadi pintu masuk perangai lain: berkata kotor, berlaku jahil –tak bernalar, penuh tengkar dan permusuhan.

Hari ini semua merasakan tengah menggenggam kebenaran, yang dengannya tak boleh satu orang pun berlainan pandang. Ketidakkuasaan kita menahannya hanya akan memisahkan diri dari kebenaran yang sejati. Kita memilih untuk menerapkan marka: aku benar dan engkau salah. Dan, ketika tak lagi ada rasionalitas yang diterima lawan, kita merendahkannya dalam rupa-rupa kalimat yang semakin lama semakin tak berasa kezalimannya. Kita abai, lalu kebas dan mati rasa. Kita tak tahu lagi mana kebenaran yang kita susun permintaannya dalam doa: Ya Allah, tampakkanlah kepada kami bahwa yang benar adalah benar, dan berikan kami hendaya untuk mengikutinya, berselaras kaki dan hati bersamanya.

Sebelum berbuka dari puasa, marilah tengok sejenak ke rumah hati kita,  wajah halaman sosial kita, jejas ketik dari gawai kita yang tak henti digenggam seharian. Adakah sisa keangkuhan dari ketidakmampuan kita menahan kebenaran. Ber-imsak dari kebenaran yang mendesak-desak hingga merendahkan yang lain, memicu amarah dan menyebar fitnah.

Sebelum menyantap hidang selepas maghrib, marilah memanggil Rasul duduk melingkar bersama. Lalu, bertanya barang sejenak: apa yang membuatmu tetap lembut dan lurus meski Allah telah mendeklarasikan kebenaranNya terus bersamamu, Duhai Nabi?

Rotterdam, Ramadhan 1438

Foto diambil dari: http://media.nationalgeographic.co.id/daily/640/0/201507091243859/b/foto-kebenaran-sebagai-penghubung-musik-dan-agama.jpg

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.  Perburuan...
Berburu Profesor: Starting Pack
25 April 2021
Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...