aafuady.com

Innalillahi, Mudik!

Barangkali ini Catatan Ramadhan terakhir tahun ini, 1439 H. Selayaknya sebuah akhir, ia akan pamit dan kembali. Namun, ke mana harus kembali, ke mana harus mudik, dan ke mana harus menemukan kampung halaman lagi?

Mudik itu sesungguhnya pelipur lara dari sedih dan gundah. Mudik itu pencapaian puncak dari segala aktivitas, misi, dan perjalanan hidup. Apa yang kita lihat di puncak, di ujung? Ketiadaan. Kekurangan. Kelemahan.

Ketika kita sibuk mencari nafkah di kota, menjadi lelaron pemangsa rejeki, menaiki tangga posisi jabatan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya, merangkaki nilai gaji yang menanjak, menyesapi kebanggaan gelar, ilmu dan profesi, kita toh masih ingin pulang ke kampung. Pada makna paling superfisialnya, yang kita genggam di dunia ini tak ada harganya bila tak dibawa kembali ke tengah keluarga. Ia hampa jika dibiarkan sendirian. Kebanggaan-kebanggan dunia kita tak bisa kita rayakan sendiri, kan? Harus ada penonton, harus ada oponen, harus ada ruang yang memungkinkan orang melihat dan menilai.

Mudik itu sesungguhnya memang pelipur lara dari sedih dan gundah. Kita hanya tak secara sadar merasakannya. Kita terkesima dengan ornamen artifisal di sepanjang rencana perjalanannya, di tengah kemacetannya, di gemuruh dada yang melonjak-lonjak kegirangan. Sebagiannya, bahkan, disibukkan dengan urusan politis yang tak substantif, saling sindir dan cela yang tak bermanfaat.

Adam alayhissalaam (as.) juga terkesima dengan kampung halamannya sendiri, dengan buaian Iblis bahwa ia akan hidup kekal selamanya di surga. Ia terbujuk mengambil yang bukan haknya, lalu tergelincir. Sejak saat itulah, kita sesungguhnya tengah berjalan keluar kampung, menempuh rantau jauh untuk mengemban tugas Allah: bukan sekadar mencari nafkah dan rejeki, tetapi mengatur urusan muka bumi dengan petunjukNya. Sejak saat itulah, kita sebenarnya tengah beranjak ke ‘kota’, ke cahaya lampion-lampion. Kita menjalani kesepakatan yang sudah Allah gariskan, walakum fil ardhi mustaqarrun wa mataa’un ilaa hiin. Bagi kita, telah disediakan ruang tumbuh dan berkembang di muka bumi, ruang eksplorasi jati diri, dan kesenangan-kesenangan hidup di dalamnya hingga satu masa saja yang ditentukan.

Ketika Adam as. memohon ampunan, kemudian Allah mengampuninya, kita sesungguhnya tengah berupaya memahami bahwa titik pijak mula-mula kita hanya satu: innalillahi. Kita ini milik Allah. Hidup kita sepenuhnya bergantung kepadaNya. Keberkahan dunia kita, ketidak-tersesatan kita, kemudahan dan ketidaksulitan kita, harus dicari dari rimbun rahmat dan rahimNya. Karena innalillahi itulah, kita bersandar bahwa faman tabi’a hudaaya falaa khaufun ‘alayhim walaa hum yahzanuun. Siapa saja yang mengikuti petunjuk Allah, dia tidak akan khawatir, tidak penuh gundah gulana, tidak diselimuti cemas yang bertumpuk-tumpuk, dan tidak dibebani kesedihan yang tak berujung.

Apa yang diajarkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu (ra.) ketika didapuk menjadi khalifah pengganti Rasulullah Saw? Ia berucap, Innalillahi. Apa yang dicontohkan Umar bin Khattab ra. ketika menggantikan Abu Bakar ra. yang wafat? Ia berucap, innalillahi. Di titik ketika manusia beranggapan itulah nikmat dunia sesungguhnya, Allah harus diletakkan sebagai titik mula sekaligus titik balik. Karena selepas innalillahi, kita harus mudik. Kita harus menempuh perjalanan balik. Kita harus menjalankan misi yang selalu mengembalikan hakikat strategi dan kiblat keinginan kita ke kampung sesungguhnya: Allah. Karena kita meyakini, selepas innalillahi, ada wainnaa ilaihi raji’uun. Itulah sebenar-benarnya mudik.

Maka, mudik itu bukan sekadar di ujung Ramadhan, bukan semata menjelang lebaran. Mudik itu perkara sehari-hari kita. Mudik itu urusan yang berkelanjutan di setiap titik takdir yang kita tempuh. Mudik itu proses menempatkan diri pada posisi kita yang tak memiliki daya di hadapan Allah. Mudik itu perjalanan syukur dan sabar yang tak habis-habis.

Idzaa ashaabathum mushibah, jika ada satu hal menimpa kita, lepas dari apakah itu nikmat atau bencana di mata manusia, kita pantas mendengungkan dalam hati untuk mencari jalan mudik. Bukan sekadar berucap innalillahi wa innaa ilaihi raji’un di ujung lisan, tetapi memahami ketidakberdayaan kita, mengerti keterbatasan kita, dan menyadari bahwa tak ada jalan yang lebih baik, kecuali berbalik ke Allah dan memintaNya melepas semua kegundahgulanaan yang ada.

Mudik itu sesungguhnya memang pelipur lara dari sedih dan gundah. Dan, jika kita benar-benar mengerti bahwa kesedihan tak akan pernah habis tertampung di dada dan pelukan manusia, jika kita sungguh-sungguh paham bahwa hasrat tak akan pernah mampu dibendung di dalam hati dan jiwa, mudik adalah jalan keluarnya. Kembali ke Allah, kembali ke Allah.

Ia bukan sekadar membincangkan lebaran. Bukan pula semata-mata berbicara tentang kematian. Mudik itu adalah detak napasnya orang beriman –yang tahu ke mana ia kembali dan mengembalikan dirinya, visi dan strategi hidupnya.

Semoga Allah menerima amalan Ramadhan kita, perjalanan puasa kita. Taqabballallahu minna wa minkum, shiyaamanaa washiyaamakum. Semoga pula Allah menjernihkan hati dan pikiran kita agar tak tersesat dan dapat memilih jalan terbaik untuk selalu mudik –dalam senang dan duka dunia.

Rotterdam, Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: https://www.kricom.id/dilintasi-400-ribu-kendaraan-tiap-hari-puncak-arus-mudik-di-solo-diprediksi-hari-ini

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...