aafuady.com

Jarak Lapar dan Kenyang

Seberapa jauh jarak antara lapar dan kenyang? Jauh, amat jauh, bila yang diukur adalah jarak antara kemewahan dunia kita dengan kemiskinan, kemelaratan dan malnutrisi anak-anak di negeri miskin. Kita hanya menatapnya sekali-dua kali dari iklan layanan masyarakat di televisi. Selebihnya, kita tak pernah sungguh-sungguh mengukur panjang jaraknya. Mungkin juga tak sempat menengok ke kanan-kiri dan depan belakang untuk sekadar menyadari bahwa sesungguhnya jarak antara lapar dan kenyang tidak sebegitu jauhnya.

Puasa menjadikan jaraknya semakin dekat. Sedetik lalu lapar, kemudian bedug dan adzan maghrib mengubahnya, meluluhlantakkan fenomena rasa lapar dengan kekenyangan yang datang dalam sekejap. Kita lantas tak pernah punya waktu lagi untuk bertanya-tanya: ke mana rasa lapar yang sedari pagi merongrong, ke mana rasa dahaga yang sejak matahari condong ke barat semakin menggelisahkan kerongkongan?

Tak ada jarak lagi, bahkan. Ketika rasa lapar itu kita rayakan dengan berjalan-jalan sepanjang petang untuk mencari menu apa yang akan kita hidang dan santap selepas maghrib. Tidak ada jarak lagi, bahkan. Ketika setiap sore kita mengatur jadwal di mana akan berbuka dan dengan siapa kita membuat lingkaran “kebahagiaan saat berbuka” itu. Tak nampak wajah kelaparan, kesengsaraan, dan kemiskinan yang mendera-dera saat mata kita berbinar-binar melihat segarnya minuman dan hidung kita bersorak menghidu bau lezat masakan yang disiapkan.

Jarak antara lapar dan kenyang itu musnah sudah. Bahkan, kita tak pernah menyadari bahwa sesuap-dua suap makanan saja sudah membuat perut penuh. Tak mampu menampung apa yang sejenak tadi begitu menggelorakan syahwat mata.

Pergilah sejenak ke ruang lain –yang jarang kita tempuh, untuk sekadar mengerti lebih banyak tentang lapar dan dahaga, tentang kenyang dan penuh tenaga. Menyibak sedikit saja makna tha-ámul miskin dan ikraamul yatiim.

Ramadhan ini sesungguhnya waktu yang tepat untuk mengukur jarak antara lapar dan kenyang. Bukan sekadar mengukur jarak subuh dan maghrib, menanti-nanti hitungan menit dan detik yang kita hafal dari kalender khusus Ramadhan, tetapi menghayati pula pengalaman yang tidak pernah kita alami.

Rotterdam, Ramadhan 1438

Foto diambil dari: http://www.chupamobile.com/blog/wp-content/uploads/2014/08/Food-delivery.jpg

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.  Perburuan...
Berburu Profesor: Starting Pack
25 April 2021
Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...