aafuady.com

Kening Taat, Lidah Fitnah

Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang Muadz. Rakaat pertama Muadz terasa panjang. Lelaki Arab itu tampak kepayahan dan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan berdiri. Gelisah, barangkali. Namun, di rakaat kedua, ia tak lagi tahan. Ia mufaraqah. Berpisah dari rombongan. Keluar dari jamaah. Ia memutuskan shalat sendirian, tak lagi bermakmum kepada Muadz yang masih menjadi imam shalat di depan.

Riwayat itu muncul berbeda-beda. Sebagian mengatakan Muadz mengimami shalat fajr,[1] sebagian lagi mengatakan ia menjadi imam shalat maghrib[2] dan isya.[3] Ia memang terbiasa shalat berjamaah dua kali. Muadz pertama-tama menjadi makmum bagi Muhammad ﷺdi masjid Nabawi, kemudian ia berpindah tempat ke masjid Quba dan menjadi imam bagi kaumnya.[4] Tak begitu penting di shalat yang mana Muadz datang dan menyodorkan diri untuk menjadi imam shalat. Yang menarik justru peristiwa setelahnya.

Selepas shalat, Muadz nampak kecewa. Kepalanya penuh prasangka kepada lelaki Arab yang memisahkan diri itu. Innahu munafiq,[5] kata Muadz. Muadz menuduhnya sebagai orang munafik. Terekam jelas dalam memori Muadz ketika Muhammad pernah memberikan petunjuk: laysa shalaatun atsqala ‘alal munaafiqiin min shalaatil fajri wal ‘isyaa.[6] Yang merasa berat, tertahan-tahan tersuruk-suruk, dan sering meninggalkan shalat isya dan subuh, adalah mereka yang kemungkinan besar terdera kemunafikan. Muadz menuduhkannya. Bagi Muadz, keluar dari jamaah shalatnya yang begitu panjang bacaannya adalah satu dari ciri mereka yang merasa keberatan.

Prasangka Muadz barangkali juga prasangka yang mendekam di kepala kita yang tengah diamuk semangat keagamaan. Ghirah kita meningkat. Bacaan kita menumpuk. Hafalan kita menggunung. Tirakat ibadah kita menanjak pesat. Ketika menjadi imam, kita ingin menunjukkan kualitas terbaik dengan memanjangkan dan memperbagus bacaan. Ketika berkumpul bersama, kita penuhi lisan kita dengan nasihat, bahkan pengingatan keras, yang tak pernah putus. Ketika melihat kekeliruan orang, kita merasa teramat perlu untuk mengoreksinya sesuai standar yang kita anut, bahkan menghukum mereka dengan pandangan-pandangan yang berkeliaran di kepala kita.

Kita kehilangan kearifan sosial yang semestinya kita tumbuhsuburkan dalam interaksi kemanusiaan dengan sesama manusia. Kita mengubur kearifan itu dengan standar yang kita patok sendiri sesuai kompatibilitas kemampuan diri kita. Anak yang belum sanggup, kita paksakan untuk menjadi mampu meski di wajahnya muncul rona penderitaan dalam beribadah. Orang yang masih tertatih-tatih beragama, kita dorong untuk berlari sekuat tenaga meski kita melihat jelas keringatnya yang kepayahan. Orang yang belum menegakkan syariat dengan sempurna, kita tuduh dengan sebutan yang tak laik: fasik, munafik, bahkan kafir dan musyrik.

Lelaki itu ikut murka dengan tuduhan Muadz. Ia menghadap Muhammad ﷺ, mengadukan kekesalannya terhadap Muadz yang mencemarkan nama baiknya di tengah banyak orang di jamaahnya.

Ya Rasulallah, katanya memulai. Inna qawmun na’malu biaydiinaa wanasqiy binawaadhihina. Kami ini kaum yang bekerja keras dengan tangan dan kemampuan kami sendiri sepanjang siang dan malam. Tenaga kami sudah terkuras sedemikian hebat di ladang dan kebun. Mengapa pula Muadz datang kepada kami, menjadi imam, lalu membaca surat Al Baqarah?

Da’wah dan ibadah bukan sekadar soal benar dan baik. Ia juga soal kepantasan dan kelayakan. Patokannya bukan belaka soal iman, Quran dan hadits, tetapi pemahaman dalam memandang karakteristik sosial orang-orang di sekitar.

Memahaminya dan menyelami kearifan sosial butuh keterampilan. Kearifan tidak muncul begitu saja dari buku-buku teks, dari artikel di internet, dari postingan di media sosial. Kebijaksanaan terbit dari interaksi yang hangat dan luwes, yang dimulakan dengan kebesaran hati untuk menampung sebanyak-banyak kegembiraan dan kebahagiaan orang lain di dalam hati kita. Di dalam kearifan itu, hukum menjadi perkara yang menyenangkan, tidak kaku dan terasa mengerikan. Dalam kebijaksanaan itu, ada kebersamaan langkah untuk bersama-sama menapak ke surga, bukan saling menyingkirkan satu sama lain.

Afattaanun anta? Muhammad mengulangnya hingga tiga kali kepada Muadz.Apakah Muadz – dan kita – menjadi ahli fitnah?

Kita dengan mudah menuduh orang lain buruk karena tak menuruti standar kita tanpa memahami konteks personal dan komunal mereka. Kita dengan gampang menyingkirkan orang lain dari jalan kebaikan karena tak sesuai dengan langkah gerak kaki kita tanpa tahu sebab dan latar belakang mengapa mereka melakukannya. Syariat kita sangkakan sebagai produk mutlak tanpa tahapan. Hukum kita anggap sebagai ketukan palu final yang tak boleh diganggu gugat. Padahal, da’wah dan kebaikan adalah jalan panjang berliku yang di setiap tikungannya selalu ada hikmah dan pelajaran untuk dipahami.

Waraa-akal kabiir wa dzul haajah wadh dha’iif. Di belakangmu, Muadz – kata Muhammad ﷺ – ada orang-orang tua, ada orang-orang yang juga punya urusan lain, ada orang-orang yang lemah dan tak kuat mengikuti standarmu. Di sekeliling kita, ada orang-orang yang belum paham dengan sempurna, yang tak paham sama sekali, bahkan tak punya ide apapun tentang standar-standar yang kita patok tinggi bagi diri kita. Tugas kita bukan sekadar showing off, mempertontonkannya, menunjukkan, mensuar-suarkannya, tetapi terlebih dahulu memahami psikologi, karakteristik, dan konteks sosial budaya mereka yang beragam.

Pada perkara yang substantif, tauhid, keyakinan kepada Allah, pilar keagamaan, Muhammad ﷺmemberi marka yang tegas. Tetapi, Muhammad juga memberikan kelonggaran dalam ibadah. Muhammad ﷺ tidak hadir di Madinah dengan standar tinggi yang tak substantif. Muhammad ﷺ manusia biasa – yang dari kenormalannya kita belajar banyak tentang dinamika hidup dan syariat. Kita mendapati ragam dan variasi riwayat yang beterbaran di speanjang hidupnya sehingga – dalam kaidah fikih – menyebabkan ikhtilaf dan perbedaan rumusan hukum. Muhammad ﷺ juga menghadapi istri dengan ragam karakteristiknya yang tidak sempurna; kadang cemburu, kadang merajuk – yang dari semuanya kita belajar hidup bermahligai rumah tangga.

Idzaa shallaa ahadukum linnaasi, falyukhaffif.[7] Kalau kita mengimami shalat bagi orang lain, maka ringankanlah bacaannya. Jika kita berada di tengah keluarga, pertemanan, jamaah, komunitas, maka ringankanlah standar agar dengan mudah mereka ikuti. Agar tak timbul di kepala mereka gambaran agama yang menyusahkan, menyengsarakan, dan menjadi beban yang memberatkan. Agama ini harus tampil di hadapan kita dalam citranya yang mudah sehingga kita berlomba dan bersenang-senang mengarungi lautan cinta kita kepada Allah. Jangan sampai kening kita menjadi simbol ketaatan, tetapi lisan kita menjadi mercusuar fitnah bagi orang lain.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

[1] Dari jalur periwayatan Ali bin Abi Thalib.

[2] Dari jalur periwayatan Hazm bin Ubay bin Ka’ab.

[3] Dari jalur periwayatan Jabir bin Abdillah.

[4] Melihat keterangan ini, yang mungkin lebih tepat adalah shalat isya karena jarak antara Nabawi dan Quba dapat memakan waktu satu jam perjalanan dengan berjalan kaki. Wallahua’lam.

[5] HR Muttafaq alaihi. Dari Jabir bin Abdillah.

[6] HR Bukhari. لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

[7] HR Muttafaq alaihi, dari Abu Hurairah.

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.behance.net/gallery/42146759/E-Dawah-Committee-Project

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...
Jejak Mahadigital
14 Mei 2020
Para sahabat saat itu tengah berkumpul Bersama Muhammad ﷺ. Tiba-tiba saja, di tengah obrolan yang hangat...