aafuady.com

Lebar Sayap Madinah

Mekkah dan Madinah – dua kota utama tempat mula sebaran Islam – sebenarnya adalah daerah yang relatif aman dalam peta politik global. Belum ada pengetahuan yang berlimpah tentang minyak bumi sehingga tak ada pertengkaran global dari dinasti-dinasti penguasa dunia kala itu untuk memperebutkan jazirah Arab. Kedua kota itu lantas seringkali hanya jadi tempat persinggahan dagang orang-orang yang hilir mudik menuju Syam – yang kini dikenal sebagai Syiria – dan Yaman. Tidak ada kebutuhan untuk meluaskan daerah kekuasaan. Yang mereka butuhkan justru ketenteraman agar tidak ada gangguan serangan dari luar yang benar-benar mematikan usaha dagang dan bisnis peziarahan mereka.

Jikapun ada perang-perang kecil, pastilah itu hanya terjadi di daerah utara jazirah Arab – daerah yang kini dikenal sebagai Jordania dan Irak. Di situlah area buffer, bantalan bagi dua kekuatan global yang sering bertikai: Romawi dan Persia. Romawi menjadi kekuatan adidaya di sebelah utara semenanjung Arab setelah mengalahkan Yahudi di Syam dan Palestina. Di Timur laut, ada kekuatan Persia yang menggeliat dan siap menerkam Romawi kapan saja. Dan, bangsa Arab yang bermukim di utara semenanjung kerap dijadikan kekuatan proksimat bagi dua kerajaan besar itu.

Dengan begitu pula, muncul dua kerajaan dari gabungan konfederasi beberapa suku yang masing-masing memilih bergabung ke dua kubu besar. Konfederasi suku Ghassanid menjadi kompatriot sekaligus buffer bagi kerajaan Romawi. Kerajaan kecil itu kini dikenal sebagai negara modern Jordania, Palestina, dan Suriah. Di sisi timur ada Konfederasi Lakhmid yang memilih bergabung dengan kekuatan Persia. Mereka bertempur berpuluh-puluh tahun hingga akhirnya kepayahan sendiri.

Di semenanjung, bangsa Arab tumbuh sebagai bangsa pragmatis. Tak peduli dengan segala pertengkaran dunia asalkan mereka masih bisa berziarah ke Ka’bah dan memenuhi pundi-pundi dapur mereka dari neraca perdagangan yang mereka upayakan. Pertempuran suku memang kerap terjadi, tetapi itu hanyalah perang-perang kecil regional yang tak memengaruhi konstelasi politik dunia saat itu.

Ketika Muhammad ﷺ telah merasa aman dalam perjanjian Hudaibiyah, situasi politik regional berubah menjadi relatif stabil. Pemberontakan Yahudi bersisa di Khaibar – yang dalam beberapa waktu ke depan juga akan dibekap karena seringnya menjadi iritan. Maka, saat itulah Muhammad ﷺ memulai siasat besarnya untuk melebarkan sayap ke kancah global.

Muhammad ﷺ memutuskan untuk berkirim surat kepada Heraklius penguasa Romawi, Kisra raja Persia, Muqauqis dan Najasyi di regio Abisinia. Ia juga mengirimkan surat kepada penguasa Ghassanid, Harits al Ghassani, di utara. Lalu, mengirimkan pula surat kepada penguasa Kisra yang bertahta di Yaman, Harits al Himyari.

Keputusan ini terasa begitu mengejutkan karena sudah berabad-abad bangsa Arab tak ingin memancing keributan dengan Persia dan Romawi. Langkah Muhammad ﷺ dianggap berbahaya bagi banyak orang dengan mempertaruhkan kehidupan orang banyak demi memperluas pengaruh geopolitik keluar dari sekadar di dataran Arab.

Tetapi, Islam di tangan Muhammad ﷺ telah dianggap selesai membangun pondasi tauhid. Islam mulai menjelajah area lain yang lebih luas, menyentil kehidupan sosial, masuk ke ranah hukum publik, lalu kini saatnya untuk memperluas pengaruh politik ke mancanegara. Semua dilakukan bertahap, tak ada yang instan. Tidak grasak grusuk. Tidak petatang peteteng. Tidak overconfidence. Tidak memburu-buru ingin menampilkan diri segera sebagai pemimpin. Tidak seperti kita yang kerap tak sabar melakukan pekerjaan secara bertahap: ingin lekas jadi, ingin cepat sukses, ingin segera hebat. Kita kerap terpana pada silaunya kemegahan kemenangan, pesona citra yang diagung-agungkan banyak orang meski hanya di dunia maya, tapi luput menanam pondasi yang kuat agar tak goyah batang persona kita yang menjulang tinggi.

Tetapi, tidak bagi Muhammad ﷺ. Banyak orang berpikir bahwa langkah Muhammad ﷺ adalah sebuah kecerobohan karena usia pergerakannya belum juga lewat lima belas tahun. Bau kencur. Tetapi, Muhammad ﷺ berbeda dari dari dua kekuatan global yang mencengkeram dunia kala itu. Ketika Romawi dan Persia saling sikut untuk meraih kemenangan materiil, Muhammad ﷺ menawarkan apa yang mereka tidak dapatkan dari pertempuran penuh darah. Kekuatan rohani.

Kristen di Byzantium telah terpecah-pecah menjadi banyak sekte. Persia terbelah dalam kelompok konservatis paganism dan kelompok modern Mazdaism. Muhammad ﷺ datang dengan membawa angin baru, ajaran yang utuh, pedoman yang menggerakkan dan memberi tenaga dalam hidup, lebih dari sekadar ritual dan tradisi usang dan jumud – yang seringkali hanya menjadi bagian pula dari kendara politik para penguasanya.

“Allah mengutusku sebagai rahmat bagi semesta alam,” Muhammad bermukaddimah kepada para sahabatnya sebelum ia kemukakan pendapatnya. Meski awalnya terasa mengejutkan, para sahabat kemudian memberi dukungan penuh. Cincin dari perak pun dibuat, sebagai cap penanda yang lestari bertuliskan ‘Muhammad Rasulullah’. Kepada Heraklius, Muhammad ﷺ memulai suratnya dengan basmalah. “Terimalah ajaran Islam, maka Tuan akan selamat,” tulisnya. Sebuah hentakan besar yang dapat membakar amarah Heraklius – seberapapun kuatnya ia meyakini bahwa agama yang dianutnya pun membawa risalah yang serupa. Jikapun Heraklius menolak, Muhammad ﷺ harus menyatakan: isyhaduu bi-anna muslimuun. Mereka harus tahu, sadar, mengerti, dan memahami bahwa ada sekelompok orang kini membawa risalah baru yang utuh dan menyentuh rohani melalui kedalaman Islam yang kokoh dan paripurna.

Itulah sejatinya pemimpin. Itulah sejatinya da’wah kepada mereka yang tak mengenal ajaran baru, kepada mereka yang selalu menumpas kelompok yang meniupkan perubahan.

Nyatanya, Heraklius tidak berbalas amarah. Ia tidak murka, tidak geram, tidak mengerahkan ekspedisi militer untuk menggempur Madinah. Ia justru membalas surat Muhammad ﷺ dengan baik – sehingga banyak orang berspekulasi bahwa Heraklius telah menerima Islam dan memeluknya. Ia berbeda sama sekali dengan penguasa Persia yang murka dan merobek-robek surat Muhammad ﷺ, lalu meminta penguasa Persia cabang Yaman untuk segera menyelesaikan perkara ini dengan membawa kepala Muhammad ﷺ ke hadapannya. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Penguasa Yaman ini telah mendengar kekuatan Muhammad ﷺ dan kaum muslimin, telah menyadari pula nilai-nilai yang dibawanya, hingga akhirnya ia bersedia memeluk Islam dan berkongsi politik. Yaman malah berubah haluan menjadi benteng pertahanan militer yang begitu kuat bagi Islam di selatan jazirah Arab.

Ketika Raja Muqauqis di Mesir dan Najasyi di Abisinia juga menerima usrat Muhammad ﷺ dengan lapang dan membalas suratnya dengan pernghormatan yang baik, kekuatan politik global baru telah terbentuk. Islam keluar dari zona nyaman ke zona riskan secara apik. Di titik inilah Islam menancapkan kakinya dalam konstelasi dunia yang membuatnya melanglang hingga penjuru bumi. Tak ada Islam di nusantara tanpa perantara cap cincin Muhammad ﷺ. Tak ada pula Islam di segala benua tanpa keberanian untuk keluar dari kepuasan regional. Islam harus dibentuk dalam cara pandang yang besar dan lebih besar lagi, sebagai rahmat dan kasih sayang bagi alam semesta. Islam harus dihadirkan sebagai penyalur rasa cinta kepada sesama manusia – seberapapun bedanya keyakinan yang dianut di antara sesama. Islam harus ditonjolkan sebagai keyakinan monoteism yang kuat tapi tidak arogan, yang kokoh tapi tidak semborono, yang teguh tapi tetap mendahulukan kasih sayang, bukan peperangan dan permusuhan.

Ketika sepasukan muslimin kembai dari perang di Khaibar, serombongan muslimin lain di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib pun kembali dari Abisinia. Kedua kelompok ini kembali dari medannya masing-masing. Di Khaibar ada yang berperang seolah Islam bertentangan dan membenci Yahudi, padahal sama sekali tidak. Karena mereka yang hijrah ke Abisinia membuktikan perkara wajah Islam yang sama sekali berbeda dari wajah perang: kedamaian dan persaudaraan.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

Gambar fitur diambil dari: https://geographical.co.uk/people/cultures/item/939-from-makkah-to-Madinah

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...