/

LEBARAN MIE INSTAN

5 mins read

Lebaran tahun ini mungkin sama saja dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Orang-orang sibuk berucap maaf, menyampaikan salam dan doa satu sama lain. Sesuatu yang entah mengapa terasa begitu menggembirakan sekaligus aneh.

Menggembirakan karena akhirnya kata-kata permohonan maaf begitu mudah terlepas dari mulut dan teks tulisan di gawai. Sebagian dengan foto keluarga berseragam, berbaju koko, berkerudung –semua pakaian yang khusus dipakai hari lebaran. Sebagian lagi sendirian saja. Sebagian juga tanpa foto apa-apa, hanya sebaris kata. Tetapi, apalah foto dan teks dibandingkan niat tulus permohonan maaf. Bahkan, terkadang pesan yang masuk hanya dengan kata “Maafin ya” sudah begitu membahagiakan hati.

Sejak kapan kita begitu mudah meminta dan memberi maaf, selain di musim lebaran –utamanya di hari-hari pertama selepas Ramadhan kita lepas dari pangkuan? Di situlah keanehan itu juga terasa. Kita menumpuk salah dan keliru ke sesama setiap hari. Dalam obrolan warung kopi, di setiap jengkal pekerjaan di kantor, di urusan halaman bertetangga, di podium masjid dan mushalla yang sering kita rebut-rebutkan mikrofonnya, juga di layar maya telepon seluler tempat kita berdebat tak kunjung usai. Saat akhirnya bisa menyampaikan permohonan maaf, juga doa-doa agar Tuhan menerima segala amal ibadah kita, ada rasa aneh yang menyengat. Mengapa baru sekarang? Mengapa bukan dari kemarin-kemarin? Bukankah ini membahagiakan, lantas mengapa kita menunda-nundanya, menumpuknya hingga sesak di dada?

Mungkin bibir kita sibuk dibalut gengsi. Kepala kita juga barangkali penuh dengan perkakas politik –yang jika engkau tak bersamaku, maka engkau berada di baris keliru. Permohonan maaf, dengan begitu, menjadi simbol kekalahan yang harus dihindari. Pantang mengibarkan bendera putih di tengah arus kebenaran yang kita yakini sedang menderu-deru di pelukan kita sendiri.

Padahal, bukankah begitu membahagiakan jika kita membagi-bagikan kata maaf, menyorong-nyorongkan pundak ke bawah, mencium tangan dan pipi saudara setiap hari, lalu saling mendoakan: semoga segala ikhtiar kita diterima Tuhan, segala upaya kita diselamatkanNya sampai akhirat?

Tetapi, benar keanehan itu terasa semakin panjang jika teks dan foto yang bersebaran itu hanya selintas lewat. Formalitas lebaran. Permohonan maaf jadi sebatas pelumas lidah yang kering makna karena selepasnya kita masih saja menyimpan ketidakrelaan satu sama lain.  Kita bicara rekonsiliasi, tetapi tak memahami urusan antar manusia, hablun minan naas. Kita pikir manusia serupa Tuhan –yang jika kita melangkah sehasta, Dia melompat sedepa. Tuhan tak berhitung pada dosa kita, ampunannya Mahaluas. Tetapi, tidak dengan manusia. Hitungannya detail, rumit. Sakit hatinya tertanam, sulit dicerabut.

Maka, permohonan maaf dan rekonsiliasi bukan aktivitas lidah, apalagi teks dan foto rupawan. Ia pekerjaan hati. Pemaafan itu adalah kesibukan untuk mengidentifikasi kesalahan diri kita satu per satu untuk ditayangkan di muka sambil berkata, “Ini semua salahku, kau bisa hitung dan tambahkan jika ada yang luput, dan aku memohon maaf atas semua itu.” Mustahil ia hadir tanpa ada pengakuan bersalah, pada peristiwa dan konteks mana ia berdosa sesama manusia. Jika ia pernah curang, maka kecurangan itu harus dibereskan terlebih dahulu. Jika ia pernah mencuri, maka pencurian itu perlu dimintakan kerelaannya dahulu. Jika ia pernah mendengki, memfitnah, atau mencaci, maka semua itu semestinya diberitakan sebelum permohonan maaf. Itu rekonsiliasi, pemaafan, yang sempurna.

Pemaafan juga adalah kesibukan untuk merontokkan ego diri. Jiwa kita sudah teramat lelah untuk menampung desakan-desakan perasaan benar sendiri. Dalam rumah tangga, perasaan paling benar itu hanya akan meretakkan mahligainya. Hancur. Dalam pertemanan, merasa tak ada yang lebih benar dari diri kita hanya akan memutus kasih sayang perkawanan. Dalam politik kebangsaan, tak cukupkah kita merawat memori tentang Rasulullah –yang seberapapun benarnya Ia dan sehebat apapun ia di-back up Tuhan, masih menyibukkan hatinya dengan maaf dan kasih sayang?

Tetapi, benar keanehan itu terasa semakin panjang jika selepas lebaran menjadi hari-hari penuh dengan karut marutnya hati kita menatap saudara sendiri. Doa-doa kebaikan menguap begitu saja. Yang tertinggal adalah luap benci dan saling tuding. Kita seolah lupa bahwa permohonan maaf dan doa masih tersimpan di memori telepon seluler, apalah lagi kitab yang dijinjing Raqib Atid. Kita menikmati lebaran seperti mie instan. Ada rasa ayamnya, tapi tak pernah ada ujud ayamnya. Ada seribu rasa, bahkan rendang dan cakalang, tetapi tak menemukan hingga ke dasar mangkoknya: di mana mereka sesungguhnya. Di mana maaf dan doa sejatinya.

Rotterdam, awal Syawal 1440

Foto fitur diambil dari: https://www.theramenrater.com/2012/05/07/730-meet-the-manufacturer-indomie-mi-instan-rasa-soto-banjar-limau-kulit-khas-kalimantan-selatan/

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan