aafuady.com

LEBARAN MIE INSTAN

Lebaran tahun ini mungkin sama saja dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Orang-orang sibuk berucap maaf, menyampaikan salam dan doa satu sama lain. Sesuatu yang entah mengapa terasa begitu menggembirakan sekaligus aneh.

Menggembirakan karena akhirnya kata-kata permohonan maaf begitu mudah terlepas dari mulut dan teks tulisan di gawai. Sebagian dengan foto keluarga berseragam, berbaju koko, berkerudung –semua pakaian yang khusus dipakai hari lebaran. Sebagian lagi sendirian saja. Sebagian juga tanpa foto apa-apa, hanya sebaris kata. Tetapi, apalah foto dan teks dibandingkan niat tulus permohonan maaf. Bahkan, terkadang pesan yang masuk hanya dengan kata “Maafin ya” sudah begitu membahagiakan hati.

Sejak kapan kita begitu mudah meminta dan memberi maaf, selain di musim lebaran –utamanya di hari-hari pertama selepas Ramadhan kita lepas dari pangkuan? Di situlah keanehan itu juga terasa. Kita menumpuk salah dan keliru ke sesama setiap hari. Dalam obrolan warung kopi, di setiap jengkal pekerjaan di kantor, di urusan halaman bertetangga, di podium masjid dan mushalla yang sering kita rebut-rebutkan mikrofonnya, juga di layar maya telepon seluler tempat kita berdebat tak kunjung usai. Saat akhirnya bisa menyampaikan permohonan maaf, juga doa-doa agar Tuhan menerima segala amal ibadah kita, ada rasa aneh yang menyengat. Mengapa baru sekarang? Mengapa bukan dari kemarin-kemarin? Bukankah ini membahagiakan, lantas mengapa kita menunda-nundanya, menumpuknya hingga sesak di dada?

Mungkin bibir kita sibuk dibalut gengsi. Kepala kita juga barangkali penuh dengan perkakas politik –yang jika engkau tak bersamaku, maka engkau berada di baris keliru. Permohonan maaf, dengan begitu, menjadi simbol kekalahan yang harus dihindari. Pantang mengibarkan bendera putih di tengah arus kebenaran yang kita yakini sedang menderu-deru di pelukan kita sendiri.

Padahal, bukankah begitu membahagiakan jika kita membagi-bagikan kata maaf, menyorong-nyorongkan pundak ke bawah, mencium tangan dan pipi saudara setiap hari, lalu saling mendoakan: semoga segala ikhtiar kita diterima Tuhan, segala upaya kita diselamatkanNya sampai akhirat?

Tetapi, benar keanehan itu terasa semakin panjang jika teks dan foto yang bersebaran itu hanya selintas lewat. Formalitas lebaran. Permohonan maaf jadi sebatas pelumas lidah yang kering makna karena selepasnya kita masih saja menyimpan ketidakrelaan satu sama lain.  Kita bicara rekonsiliasi, tetapi tak memahami urusan antar manusia, hablun minan naas. Kita pikir manusia serupa Tuhan –yang jika kita melangkah sehasta, Dia melompat sedepa. Tuhan tak berhitung pada dosa kita, ampunannya Mahaluas. Tetapi, tidak dengan manusia. Hitungannya detail, rumit. Sakit hatinya tertanam, sulit dicerabut.

Maka, permohonan maaf dan rekonsiliasi bukan aktivitas lidah, apalagi teks dan foto rupawan. Ia pekerjaan hati. Pemaafan itu adalah kesibukan untuk mengidentifikasi kesalahan diri kita satu per satu untuk ditayangkan di muka sambil berkata, “Ini semua salahku, kau bisa hitung dan tambahkan jika ada yang luput, dan aku memohon maaf atas semua itu.” Mustahil ia hadir tanpa ada pengakuan bersalah, pada peristiwa dan konteks mana ia berdosa sesama manusia. Jika ia pernah curang, maka kecurangan itu harus dibereskan terlebih dahulu. Jika ia pernah mencuri, maka pencurian itu perlu dimintakan kerelaannya dahulu. Jika ia pernah mendengki, memfitnah, atau mencaci, maka semua itu semestinya diberitakan sebelum permohonan maaf. Itu rekonsiliasi, pemaafan, yang sempurna.

Pemaafan juga adalah kesibukan untuk merontokkan ego diri. Jiwa kita sudah teramat lelah untuk menampung desakan-desakan perasaan benar sendiri. Dalam rumah tangga, perasaan paling benar itu hanya akan meretakkan mahligainya. Hancur. Dalam pertemanan, merasa tak ada yang lebih benar dari diri kita hanya akan memutus kasih sayang perkawanan. Dalam politik kebangsaan, tak cukupkah kita merawat memori tentang Rasulullah –yang seberapapun benarnya Ia dan sehebat apapun ia di-back up Tuhan, masih menyibukkan hatinya dengan maaf dan kasih sayang?

Tetapi, benar keanehan itu terasa semakin panjang jika selepas lebaran menjadi hari-hari penuh dengan karut marutnya hati kita menatap saudara sendiri. Doa-doa kebaikan menguap begitu saja. Yang tertinggal adalah luap benci dan saling tuding. Kita seolah lupa bahwa permohonan maaf dan doa masih tersimpan di memori telepon seluler, apalah lagi kitab yang dijinjing Raqib Atid. Kita menikmati lebaran seperti mie instan. Ada rasa ayamnya, tapi tak pernah ada ujud ayamnya. Ada seribu rasa, bahkan rendang dan cakalang, tetapi tak menemukan hingga ke dasar mangkoknya: di mana mereka sesungguhnya. Di mana maaf dan doa sejatinya.

Rotterdam, awal Syawal 1440

Foto fitur diambil dari: https://www.theramenrater.com/2012/05/07/730-meet-the-manufacturer-indomie-mi-instan-rasa-soto-banjar-limau-kulit-khas-kalimantan-selatan/

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tuhan Maha Bercanda
19 April 2021
Tapi, saya lantas memilih tertawa geli sendirian. Saya hanya menduga mungkin Tuhan sedang tersenyum-senyum...
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...