aafuady.com

Mencari Do’a Sa’ad

Apa harapan yang menumpuk di sanubari kita dan sempat kita tuturkan berulang-ulang kepada Allah? Kadangkala kita merasa doa dan harapan itu tak tajam menusuk langit. Ia mengambang, tak terjawab. Ia tertahan, tak maqbul. Lantas kita mengeluh berkali-kali kepada Allah: mengapa tak juga terjawab segala pinta?

Barangkali kita pantas mencemburui Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ánhu (ra.). Ketika seorang laki-laki memaki Ali bin Abi Thalib ra., Thalhah bin Ubaidillah ra., dan Zubair bin Awwam ra., Sa’ad mendatanginya dan mengingatkannya untuk tidak melakukannya lagi. Lelaki itu mengabaikan Sa’ad hingga Sa’ad berkata, “Kalau begitu, aku mendoakanmu kepada Allah.” Si lelaki tertawa, tetapi Sa’ad tidak marah dan balas memaki. Ia mengambil wudhu, shalat dua rakaat, dan berdoa. “Ya Allah, bila menurut ilmuMu orang ini telah memaki segolongan yang telah mendapat kebaikan dariMu, dan tindakan itu mengundang murkaMu, jadikanlah hal itu sebagai pertanda dan sebuah pelajaran.”

Mendadak unta liar datang mengamuk, masuk ke pekarangan rumah. Tak terbendung, unta itu menerjang si lelaki, menginjaknya hingga tulangnya remuk, kemudian menghembuskan napas terakhirnya. Do’a Sa’ad terkabul secepat kilat. Tanpa delay.

Sa’ad tak begitu saja dianugerahi nasabah maqbul prioritas dari Allah. Ia lebih dulu menjadi hamba yang loyal kepada Allah dan Rasulullah. Ia menjadi lelaki yang pertama yang melepaskan anak panah ke arah musuh, dan dengannya pula menjadi yang pertama terkena panah musuh. Kecintaannya teruji dari sambutan yang menggebu-gebu setiap Rasulullah Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) mengumandangkan perintah. Hingga suatu saat, Rasulullah mendoakan Sa’ad, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doa-doanya.” Sejak itulah, do’anya melesat cepat dan kembali dengan jawab.

Ketika Rasulullah Saw. duduk bersama para sahabat, beliau mengungkapkan teka-teki, “Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk surga.” Tak lama kemudian, muncullah Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Sejak saat itu pula, Abdullah bin Amr bin Ash ra. membuntutinya ke mana saja Sa’ad pergi demi meminta rahasia agar dapat masuk surga dari Sa’ad.

Sa’ad tak menjawab panjang. “Tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan,” katanya. “Hanya saja, aku tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat sedikitpun di antara kaum muslimin.” Hati yang bening, jernih, jauh dari prasangka dan dendam menjadi senjata yang memusnahkan halangan antara hamba dan Tuhannya.

Do’a-do’a kita yang mandek dan tak menuai jawaban barangkali tertahan oleh syak wasangka kita yang berlebihan, dendam yang dipelihara, kecemburuan yang dipupuk, dan ketidakrelaan kepada sesama saudara. Berulang kali kita meyakinkan diri bahwa Allah dekat –fainnii qariib, kata Allah– tapi tak kita lengkapi dengan falyastajiibuu lii wal yu’minuu bii. Kita lupa, permohonan kita bukan sekadar lihai menyusun ucapan, tetapi menegakkan laku yang mencerminkan iman: yang berkata baik atau diam, yang menjaga keselamatan saudaranya dari tajamnya lisan, yang menjaga penghargaan dan kemuliaan kepada sesamanya.

Puasa dan Ramadhan mensensitisasi kita untuk semakin dekat dengan Allah –aqrab wa aqrab. Maka, carilah do’a Sa’ad bin Abi Waqqash ra. di jalan yang kerap luput kita tempuh itu.

Rotterdam, 3 Ramadhan 1439

Foto fitur diambil dari: https://artikel.masjidku.id/articles-item.php?id=877

 

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr [facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...