aafuady.com

Mencari Namrudz

Demokrasi barangkali telah menjadi lahan bercocok tanam paling menguntungkan hari ini, bukan ladang gandum, pabrik tempe, atau kandang sapi. Silakan hitung berapa banyak kapital yang digelontorkan dalam gerbong demokrasi, dari sekadar bergembiranya media sosial, munculnya banyak pengamat demokrasi, keuntungan lembaga survey, hingga dana kampanye yang jumlahnya barangkali cukup untuk memberi makan jutaan rakyat yang fakir. Sayangnya, lahan yang subur itu tak juga dapat diprediksi kapan dapat dipanen. Buahnya rupa-rupa. Yang sinis akan beranggapan bahwa buahnya lebih banyak yang menjelang busuk –jika tidak mau dikatakan memang busuk benar. Yang permisif berusaha meyakinkan untuk terus bersabar meski kabinet sudah berganti berkali-kali.  Jangan tanyakan mereka yang anti. Demokrasi sudah diketuk palu sebagai produk thaghut yang mesti dimusnahkan, berkebalikan dengan para pelaku demokrasi yang terus bergeming meski dikritik. Mereka itu yalhats aw tatrukhu yalhats; preokupasinya terhadap demokrasi sudah tak bisa digoyang.

Langkah positifnya –atau malah putus asa, adalah gelaran calon pemimpin alternatif yang diusung lembaga survey dengan rasionalisasi masing-masing. Mirip kontes, lembaga survey ini semacam juri seleksi dan pemilihnya adalah partai, bukan rakyat. Partai yang mengemas, rakyat yang menikmati tayangannya. Selewatan saja –setelah itu tali kendali balik lagi ke partai. Jadi, jangan protes jika televisi milik rakyat itu justru disibukkan perkara partai, bukan perkara rakyat. Jangan pula protes jika nanti yang terpilih lebih sibuk mengurus kelompoknya dibandingkan warga negaranya.

Memang sulit mencari pemimpin. Yang dikenal sekarang lebih banyak kontestan pemenang, bukan pemimpin. Lebih mirip juara kontes menyanyi yang digilir setiap lima tahun. Ya, begitulah demokrasi. Suara rakyat bukan lagi sebenar-benar suara Tuhan, tapi suara kapital. Siapa yang lebih punya banyak pulsa untuk kirim sms, jagoannya yang menang. Siapa yang berkehendak mengeluarkan lebih banyak ketika panggung digelar, ya dia yang ternobatkan. Kualitas barangkali jadi nomor kesembilan belas. Seleksi partai oleh KPU sempat jadi uji filtrasi kualitas. Sayangnya, KPU justru kalah hebat dari juri Indonesian Idol atau X-Factor yang tak pernah digugat di PTUN.

Semua kelompok menunjuk dadanya sendiri sebagai yang terbaik. Sesekali saling tuding antar kelompok, sesekali pula bertengkar di internal kelompoknya. Saling gusur. Media yang campur tangan semakin membuat kusut dengan asumsi-asumsi analis politik. Sudah tak jelas lagi siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang benar memang tak sepenuhnya benar, yang salah pun tidak salah sepenuhnya. Yang benar ada boroknya, yang bobrok juga ada benarnya. Repot jika keduanya saling tuding siapa yang paling bobrok.

Saya jadi berpikir, barangkali yang diperlukan Indonesia hari ini memang bukan pemimpin yang hebat, tapi cukup Namrudz –raja congkak yang menyebut dirinya Tuhan. Sudah tampak buruk dan sesatnya sehingga orang tak perlu lagi sibuk menganalisis siapa yang jahat dan siapa yang baik. Konsultan politik tidak perlu pula wara wiri di televisi hanya untuk memperkeruh karena ketidakjelasan batas antara baik dan buruk. Kalau Indonesia sudah tak punya idola, barangkali Indonesia butuh musuh bersama –yang siap ditimpuki dan di-gerunduli bersama-sama.

Jadi, mari cari ‘Namrudz’-nya Indonesia. Tapi, saya jadi khawatir sendiri. Celaka kalau ternyata ‘Namrudz’-nya Indonesia adalah demokrasi itu sendiri.

Rotterdam, Maret 2013

Gambar diambil dari: http://images.kekuatanpena.multiply.com/image/1/photos/upload/300×300/SdRf5AoKCGQAAH7dA341/democracy1.jpg?et=oO4lozT213xl3WqtPYeIog&nmid=0

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Pandemi Multirupa
24 Desember 2020
Pandemi ini sudah melintasi batasnya dari pertarungan melawan virus belaka menjadi pandemi krisis ekonomi,...
Benarkah Covid Menular Lewat Udara?
13 Juli 2020
Banyak yang bertanya apakah benar virus corona Sars-Cov2 ini sekarang sudah bermutasi menjadi lebih ganas...
Membuka Kembali Sekolah: Strategi Alternatif
26 Juni 2020
Membuka kembali aktivitas sekolah bukanlah keputusan yang mudah. Polarisasi kepentingan dan pendapat...
COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?
25 Juni 2020
Menjawab soal kapan sekolah dibuka kembali dan kapan harus ditutup adalah persoalan yang sangat sensitif....
COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial
23 Juni 2020
Semenjak COVID-19 menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia, banyak negara mengambil langkah cepat untuk...
Obat COVID-19, Overclaim, dan Politik Kabar Baik
16 Juni 2020
Dosa para politikus adalah memproduksi kebijakan yang serampangan. Dosa para saintis adalah mengklaim...
Tsunami Ilmu COVID-19 dan Problemnya
08 Juni 2020
Pekan lalu, Lancet dan New English Journal Medicine (NEJM) – dua jurnal medis terkemuka – menarik kembali...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kuncitara dan Kecemasan Global
09 April 2020
"Semua nampak rumit, dan terlalu dini hingga saat ini untuk memprediksi sebesar apa perseteruan antara...