aafuady.com

Neraca yang Merugi

Sudah menjadi tabiat manusia untuk mencari untung dan tak mau merugi. Namun, perspektif kita tentang untung-rugi seringkali terbatas pada materi yang tampak dan bukan pada keadilan yang hakiki. Ini menjerumuskan, karena yang tampak oleh mata menjadi perhiasan yang menjebak.

Madinah, sebelum kedatangan Muhammad dan para sahabat, adalah kota dengan praktik kecurangan yang terkenal.[1] Maka, Allah mengingatkan mereka dengan kecelakaan yang besar –kecelakaan besarlah bagi mereka yang berbuat curang.[2] Praktik yang secara sadar dan tak sadar kita rutinkan dalam keseharian. Kita meminta timbangan kita dipenuhi jika menerima takaran, namun mengurangi takaran ketika menimbang untuk orang lain.

Curang dalam takar-menakar ini semestinya dipahami pula di luar konteks perdagangan –dalam cangkang besar keadilan antar manusia. Ada banyak kondisi ketika kita tidak bersikap adil, memakai standar ganda, menuntut semaksimal mungkin dari perkara orang lain dan mendalihkan keringanan bagi diri sendiri. Itulah kecurangan yang nyata, yang dimurkai dan ditandai sebagai kecelakaan yang besar. Kita menginginkan yang paling nyaman, asyik, nikmat bagi diri sendiri, tapi tidak menunaikan hak yang semestinya kepada orang lain. Padahal, Allah mendudukan keadilan sebagai nilai tertinggi –kontras terhadap kezaliman; bahkan terhadap kaum, kelompok, golongan, partai, negara, tetangga, atasan, bawahan atau rekan yang kita benci sekalipun.[3]

Kita merasa kemenangan dunia menjadi kemenangan yang sejati tanpa lagi memedulikan proses yang kita tempuh untuk mencapainya. Harta yang banyak dari perilaku curang, tender yang melimpah dari praktik kolutif, kemudahan dalam ruang kerja yang kita balut dalam kesewenangan, atau muamalah kita yang lain sesama manusia yang menyisakan kezaliman kepada yang lain. Kita menuntut orang dihukum seberat-beratnya, tapi mencari-cari alasan untuk mendapatkan keringanan bagi orang-orang terdekat. Kita lupa menimbang dengan takaran yang lurus, yang mustaqim, yang Allah janjikan lebih baik akibatnya di dunia dan akhirat.[4]

Muhammad telah mengubah Madinah menjadi negeri yang adil dan tak lagi curang. Mereka menjadi bagian dari masyarakat yang yakin bahwa hidup tidak selesai pada materi, pada harta yang dihimpun, pada kekuasaan yang diduduki, pada kesenangan yang dinikmati. Mereka menjadi masyarakat yang memahami annahum mab’utsuuna liyaumin azhim –bahwa suatu ketika nanti mereka akan dibangkitkan pada hari yang besar.[5] Mereka memilih neraca yang menguntungkan bagi akhiratnya.

Kita pun berharap tidak menggadaikan keuntungan yang besar demi mendapatkan keuntungan dunia yang kecil karena sejatinya kerugian terbesar dalam hidup adalah tidak menyejajarkan diri dengan nilai-nilai ketuhanan, dengan nilai Ilahiyah yang ditunjukkan Allah.

Rotterdam, Ramadhan 1438

[1] Lihat hadits riwayat Imam An Nasai dan Ibnu Majah dalam tafsir Ibnu Katsir saat menjelaskan QS Al Mutahffifin 1. Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Nabi Saw tiba di Madinah, orang-orang Madinah adalah orang yang terkenal dengan kecurangannya dalam hal takaran.

[2] Lihat QS Al Muthaffifin 1

[3] Lihat QS Al Maidah 8

[4] Lihat QS Al Isra 35

[5] Lihat QS Al Muthaffifin 4-5

Foto diambil dari: http://www.visimuslim.net/2016/12/ilusi-keadilan-di-sistem-demokrasi.html

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...