Parit Salman

9 mins read
2

Berita tak cukup baik kembali datang. Sepuluh ribu pasukan tengah bersiap menuju Madinah hari itu. Sedangkan Muhammad ﷺ, dalam situasi yang belum benar-benar membaik selepas Uhud, hanya memiliki tiga ribu pasukan yang siap diandalkan. Satu banding tiga. Hanya kecerobohan yang membuat Muhammad ﷺ terpancing keluar Madinah dan melakukan pertempuran terbuka. Melihat situasi yang tidak bersahabat itu, para sahabat pun dikumpulkan.

Untuk sebuah serangan fisik frontal, geografi kota Madinah menguntungkan untuk membuat pertahanan kokoh. Secara taktik defensif, kota ini relatif aman dari penyerangan brutal. Tiga sisi Madinah terlindungi tebing dan batuan vulkanik. Jika musuh datang dari arah tiga sisi tersebut, tentu mereka akan kepayahan dan mudah ditaklukkan. Tetapi, Madinah masih punya satu celah rentang: sisi utara yang terbuka lebar.

Di tengah kebimbangan yang menyelimuti para sahabat, seorang lelaki berbadan tinggi dan berambut lebat naik ke ketinggian dan melayangkan pandangan ke seluruh penjuru Madinah. Ia kemudian mengusulkan strategi defensif a la Persia: membangun parit di sekitar area utara Madinah yang terbuka. Tujuannya jelas agar pasukan musuh terkendali, terhambat lajunya, dan tak dapat masuk ke Madinah. Sedangkan kaum muslimin diminta tetap berada di dalam kota, di pusat oasis. Sebagian pasukan akan menunggu di sekitaran parit untuk menyambut pasukan Quraisy dengan panah dan pedang mereka.

Jika kota ditutup, di-lockdown sementara waktu, maka mereka harus menyediakan bahan pangan yang cukup. Setidaknya untuk satu-dua bulan ke depan. Panen dari ladang-ladang mereka di luar kota Madinah pun segera diangkut masuk ke kota. Stok perbendaharaan pangan dipenuhi. Hewan-hewan ternak dibawa masuk. Yang tak mungkin dibawa, segera disembelih, agar tidak dimanfaatkan pula sebagai bahan makan pasukan Quraisy yang akan datang.

Lelaki itu, Salman al Farisi. Urun rembugnya di dalam musyawarah menjelang perang yang dalam sejarah dikenal sebagai Perang Parit itu tidak datang dengan tiba-tiba. Ia telah melewati masa panjang penderitaan dalam parit pencarian kebenaran. Hidupnya tidak semudah hidup pangeran dalam cerita khayal film layar lebar. Tidak seindah cerita pemuda ganteng di drama Korea.

Masa mudanya adalah masa indah dengan gelimang harta orangtuanya, lengkap dengan praktik ritual Majusi yang menyembah api. Tugas yang diembannya sebagai anak pemuka kaum Majusi pun mulia kala itu: penjaga api. Ia yang menjaga agar api yang disembah orang-orang Majusi tetap menyala dan tidak padam. Tetapi, Salman memang dititipkan inteletualitas jiwa dan pikiran yang membuatnya gundah. Ia tak lagi tertarik kepada api yang tak bisa apa-apa dan harus dijaga setiap waktu agar tak padam. Dalam sebuah perjalanan menuju sebidang tanah milik ayahnya, ia melewati sebuah gereja dan tertarik pada cara mereka beribadah.

“Aku merasa agama mereka lebih baik dari agama kita,” katanya kepada ayahnya selepas pulang. Inilah parit pertama Salman. Pengakuannya itu seperti petir di siang bolong bagi ayahnya. Bagaimana mungkin pemuka Majusi membiarkan anaknya meninggalkan agama nenek moyang mereka dan beralih ke agama lain – seberapapun baiknya agama itu di mata manusia?

Kebenaran memang seringkali begitu sukar untuk diikuti ketika harus berhadapan dengan ego personal. Kita yang berada di ketinggian status, jabatan, pendidikan, keahlian, kekayaan, capaian-capaian, kerap sulit merendahkan diri untuk mendengar dan memahami kebenaran yang dibawa. Kita mudah menolak apapun yang baru datang sambil memasang perisai defensive. Bukan karena kita memahami benar kebenaran, tetapi karena ketakutan kita akan potensi destabilitas akan status, pangkat, keahlian, kekuasaan, atau kekayaan yang selama ini kita dekap erat-erat.

Kita barangkali sering kehilangan ruang diskusi. Alih-alih, kita menutup setiap celah alir suara kebenaran baru, sekecil apapun. Persis seperti apa yang dilakukan ayah Salman yang justru mengikat kaki Salman dan memenjarakannya. Kita memenjarakan ide-ide kebenaran yang relatif, bukan karena meyakini bahwa ide-ide itu keliru, tapi khawatir tak memiliki basis yang kuat untuk membantah. Strategi kita tidak membangun arsitektur peradaban baru, namun sekadar menghancurkan apa yang tengah tumbuh bertunas agar yang telah kokoh menua tak semakin lapuk dan tumbang. Kita pro status quo tanpa keajegan berpikir yang tuntas.

Salman berhasil kabur dari penjara orangtuanya dan bergabung dengan rombongan orang Nasrani menuju Syiria. Ia tengah menyusuri paritnya yang kedua. Ia tinggal dan belajar kepada seorang uskup, pemilik gereja, yang dianggap sebagai ahli agama itu – namun ternyata bukan orang yang baik dalam menjalankan agamanya sendiri. Salman gundah setelah melihat si uskup mengumpulkan sedekah dari umatnya, namun disimpan untuk kepentingannya sendiri. Setelah uskup baru yang lebih baik datang menggantikannya, Salman mendapat pesan untuk pergi menemui pendeta lain ke Mosul, lalu ke Nashibin, kemudian ke Amuria. Ia menggali jalan parit yang semakin panjang, meski belum juga menemukan kebenaran yang ia nanti-nantikan.

Ia menggali parit ketiga: perjalanan ke jazirah Arab. Perjalanan yang sama sekali tak mudah dan jauh dari bayangannya. Di tengah jalan, di daerah bernama Wadil Qura, ia dizalimi dan dijual kepada seorang Yahudi sebagai budak. Berganti-ganti tangan, hingga seorang yahudi Bani Quraizah membelinya dan membawanya ke Madinah, lalu datang berita bahwa seorang lelaki yang mengaku Nabi akan tiba di Madinah. Pada titik itulah, ia merasa mendapat angin segar. Ia berharap tengah menemukan ujung paritnya yang panjang.

Menggali parit kebenaran selalu istimewa dan hanya orang-orang yang bertekad kuat seperti Salman yang mampu melakukannya. Ia berhasil bangkit dari keterpurukannya di parit pertama, dan memupuk keberanian dan semangat untuk mengatasi segala kesulitan dan jauhnya jarak di parit kedua dan ketiga. Dengan rasa haus akan kebenaran, ia mengubah sesuatu yang nampak mustahil menjadi niscaya.

Tidakkah kita mampu mengikuti jejak langkahnya, atau setidaknya menempuh garis bayangnya meski samar-samar? Yang ketika ada penolakan, kita tak meluruh runtuh dan berbalik kembali masuk dalam barisan yang menapak jalan sesat. Yang ketika menghadapi kebuntuan, kita tak menyusut mengecil menjadi remah jiwa yang hilang arah. Yang ketika terlempar ke sana ke mari, terombang ambing dalam ketidakpastian, kita terus berupaya tegar dan meneguhkan kaki di parit-parit kita yang kecil menghimpit.

Ketika Nabi ﷺ datang di Madinah, Salman datang ke hadapan beliau sambil membawa makanan. Ia terkesima, jatuh cinta pada pandangan pertama, ketika Nabi ﷺ tidak mengulurkan tangannya, bahkan memberikan makanan itu kepada orang-orang di sekitarnya sambil bersabda, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Ketika Salman datang kembali dan menceritakan kisahnya, Nabi menyambutnya dengan memberi pesan, “Mintalah kepada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.”

Salman al Farisi akhirnya menjadi orang merdeka sepenuhnya. Kecerdasannya lekas menempatkan dia di tengah-tengah keluarga nabi – ahlul bait – meski ia berasal jauh dari Persia. Ketika ia berdiri tegak mengemukakan usulan stategi perangnya di Madinah, disitulah ia membangun parit keempat. Strategi terbaik bagi kondisi masa itu. Itulah paritnya yang keempat. Parit monumental yang dicatat dalam sejarah umat manusia – yang menghabiskan energi kaum Quraiys dan Yahudi hingga mereka tersapu angin dan mundur kembali ke Mekkah dalam kekalahan yang menyesakkan.

Ia didaku bagian dari kaum Anshar ketika ide cemerlangnya disetujui. “Salman dari golongan kami,” kata orang-orang Anshar. Orang-orang Muhajirin membantahnya karena beranggapan, “Salman dari golongan kami.” Rasulullah ﷺ kemudian bangkit dan memanggil semua sahabat yang berselisih pengakuan, saling mengklaim ‘kepemilikan kaum’ masing-masing atas Salman – orang yang dengan kemurnian hati dan kecerdasan intelektualnya telah membuat semua orang jatuh cinta kepadanya.

“Salman adalah bagian dari kami, ahlul bait,” kata Rasulullah ﷺ. Honoris causa.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

Gambar fitur diambil dari: https://www.dream.co.id/orbit/salman-al-farisi-dan-parit-penyelamat-pejuang-islam-171109q.html

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan