aafuady.com

PUASA, BERHENTI

Keterampilan hidup sesungguhnya adalah memahami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Tidak ada kebaikan pada pergerakan yang berlebihan, seperti tidak pula ada kebaikan dari diam yang dipelihara. Sayangnya, keterampilan itu tidak diajarkan dan tidak diasah pada sekian banyak institusi pendidikan formal kita. Dunia lantas dipahami dari kuantitas belaka: seberapa besar rumah yang kita punya, seberapa banyak uang yang kita simpan, seberapa tinggi jabatan yang kita duduki, dan seberapa luas jangkauan follower kita yang terus menguntit di belakang.

Allah juga sering kita pahami secara material. Rizki dariNya kita kuantifikasi, bahkan dalam permintaan kita di doa-doa panjang selepas shalat. Tambahkan rizkiku, naikkan gajiku, perbaiki rumahku, indahkan hidup duniaku. Allah tak akan merugi sedikitpun dengan segala permintaan itu. Kas dan perbendaharaanNya tak akan terkikis. Tapi, siapa yang dapat meyakinkan bahwa dirinya tidak terperangkap pada dunia yang materialistis dalam doa-doanya sendiri. Mereka yang jama’a maalan wa ‘addadah; mengumpulkan terus hartanya dan menghitung-hitungnya. Kurang, dan masih kurang. Masih bisa bertambah, dan harus bertambah. Dapat lebih tinggi lagi kedudukannya, dan harus lebih tinggi. Kita lantas terperosok dan tak lagi paham kapan harus berhenti. Kita mengira semua materi dan kejayaan mampu kekal dan mengekalkan. Yahsabu anna maalahu akhladah.

Maka, pergilah sejenak ke hadapan Abu Darda radhiyallahu ánhu (ra.), sahabat Nabi Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) pengumpul hikmah. Ia saudagar kaya sebelum masuk Islam. Tajir melintir. Di manapun ia membuka lapaknya, keuntungan mengikutinya. Selepas bertemu Muhammad Sang Nabi, Abu Darda menemukan pemuas dahaganya: mengabdikan dirinya kepada Penguasa Alam, Pencurah Rizki. Abu Darda memilih berhenti sebagai pedagang.

Ini sudah waktunya berhenti, menurut Abu Darda ra. Ia bukan fatalis –mengambil satu jalan tasawuf sambil mengharamkan segala jejak dunia dalam hidupnya. “Aku tak mengatakan kepada kalian bahwa Allah mengharamkan jual beli,” katanya pada suatu waktu. Ia menghalau segala prasangka manusia yang mungkin mengira bahwa dirinya mengharamkan jual beli. “Tetapi, secara pribadi aku lebih senang bila aku termasuk ke dalam golongan orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikan zikir kepada Allah.”

Abu Darda ra. telah mencoba menyeimbangkannya, tapi ia merasa gagal. Ia masuk menyelam ke dalam lubuk sanubarinya lagi, menganalisis apa yang sejatinya ia cari dan ia telah dapati. Undur dirinya, keputusannya pensiun dari dunia perniagaan, adalah keputusan yang lahir dari keterampilan hidup yang sejati. Ia memahami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Ke mana ia menuju dan dari mana ia harus melarikan diri. Ia telah mencapai imsak yang sesungguhnya: menahan dan menghentikan keinginan nafsu yang menderu-deru. Ia telah melampaui puasa yang sebenarnya: meninggalkan yang sesungguhnya diperbolehkan Allah, dengan keputusan untuk mencintaiNya tanpa amukan rayuan dunia.

.

Puasa membawa kita pada perhentian sejenak dari syahwat di sepanjang siang. Namun, jejasnya justru baru nampak setelah matahari terbenam: apakah kita masih menahan diri, memutuskan terus berhenti dari segala yang merusak kemistri kita dengan Allah? Ataukah kita justru menghibahkan dendam dari semua yang telah kita tahan sepanjang siang pada malam harinya?

Rotterdam, 1 Ramadhan 1439

 

Foto fitur diambil dari: https://anthuz.deviantart.com/art/berhenti-sejenak-178112009

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr [facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...