aafuady.com

Puasa, Ketamakan yang Luruh

Dunia yang tidak kita kekang hanya akan menuntun kaki kita menuju ketamakan. Ia tidak hanya berbentuk korupsi yang jumlahnya milyaran atau trilyunan. Ketamakan menjelma apa saja dalam kadar, spektrum, dan tataran hidup yang kita lakoni. Ia menyusup dalam keinginan untuk bersaing naik posisi di kantor. Ia menggeliat di tengah-tengah pasar, pojok toko, lantai bursa, atau portofolio investasi untuk meraih keuntungan setinggi-tingginya. Ia menyelinap di tengah-tengah obrolan orangtua tentang siapa yang rumahnya paling besar, anaknya paling pintar, atau sekolahnya paling bagus. Ia duduk bersama konsep strategi politik demi meraih suara sebanyak-banyaknya. Bahkan, ia mendampingi di podium, mimbar tempat para pemuka agama berkhutbah, untuk membisikkan bahwa hanya perkataannyalah yang paling benar, sedangkan yang lain salah, sesat, penuh bid’ah, dan tak layak mendapat porsi jengkal tanah di surga.

Ketamakan kita, seberapapun kecilnya, tidak laik untuk dipelihara. Bukankah Allah mengingatkan bahwa lubuk terdalam neraka jahim disiapkan bagi mereka yang thaghaa wa aatsaral hayaatad dunya; tamak, berlebihan, menolak kebenaran-kebenaran Allah, dan terus mencondongkan diri pada hasrat dunianya? Maka, keterampilan hidup lainnya yang kita perlukan adalah menahan hawa –hasrat yang menderu-deru. Ia tertahan bukan karena sudah tak lagi berkeinginan, impoten karena telah berada di pucuk kegemilangan. Ia tertahan karena rasa takut kepada Allah, khaafa maqaama rabihi. Ia ditekan karena memahami bahwa tidak ada prioritas yang lebih utama dalam hidup ini dan tujuan yang paling asasi sebelum kematian, kecuali mengharap kerelaan Allah.

Kita tak dapat membayangkan bila ketamakan itu menyeruak di antara Umar bin Khattab radhiyallahu ánhu (ra.), Khalid bin Walid ra., dan Abu Ubaidah bin Jarrah ra. Siapa yang tak mengenal Khalid? Popularitasnya paling tinggi sebagai panglima perang. Strateginya paling jitu demi memenangi pertempuran. Ia mampu berdebat apapun dengan Umar ra. dan menyelisihi pendapat sang khalifah tentang kekuasaan dan kebijakan dari tumpukan pengalamannya di lapangan. Ketika Umar ra. berketetapan bahwa kekuasaan panglima harus dibatasi dan Khalid menentang, Umar mengirim surat kepada Abu Ubaidah bin Jarrah: Khalid dipecat, dan engkau, Abu Ubaidah, saat ini diangkat menjadi panglima.

Tak ada Khalid di samping Abu Ubaidah bin Jarrah kala itu. Ia tengah bertarung bersama pasukannya. Abu Ubaidah bisa saja mengumumkan pergantian panglima saat itu juga, mengkudeta Khalid demi puncak kekuasaan militer. Tapi, apalah arti ketamakan? Ia hanya mengundang bala kehancuran. Abu Ubaidah justru meminta utusan khalifah untuk merahasiakan pesan dari telinga orang-orang. Tidak ember, tidak membocorkan pembicaraan rahasia, dan tidak merasa hebat karena menjadi yang pertama menggenggam informasi A-1.

Setelah perang usai dan pasukan Khalid menang, Abu Ubaidah menyerahkan surat itu kepada Khalid. Khalid tidak menolak sedikit pun. Tidak denial, tidak menentang, tidak ambekan, tidak menyusun pembelaan dan dakwaan balik kepada khalifah, meskipun ia sangat sanggup untuk melakukannya. Ia bahkan menyesali keputusan Abu Ubaidah, “Apa sebabnya engkau tidak menyampaikannya kepadaku saat surat ini tiba?”

Dan, ketamakan luruh sama sekali oleh keimanan, seperti jawaban Abu Ubaidah kepada Khalid. “Saya tidak ingin mematahkan ujung tombakmu. Bukan kekuasaan dunia yang kita cari dan bukan pula untuk dunia kita beramal. Kita semua bersaudara karena Allah,” jawabnya.

Puasa semestinya mendorong kita untuk menyusuri lagi jengkal demi jengkal yang tersisa dari upaya kita meluruhkan ketamakan. Barangkali ketamakan kita hari ini belum serupa tamaknya pejabat yang korup, politisi yang curang, karyawan yang saling sikut, atau pedagang yang mengurangi takaran. Barangkali ketamakan kita sore ini masih berupa serakahnya kita terhadap hidangan berbuka. Ia kecil, tapi akan membesar jika kita tak menempuh jalan puasa yang benar.

Rotterdam, 2 Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: https://www.kopi-ireng.com/2016/08/puasa-rajab.html

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...