aafuady.com

Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Saya lantas teringat masa kanak-kanak. Tidak berhenti bermain api sampai ada yang terbakar, meski sudah diingatkan. Terus bermain pedang-pedangan sampai ada yang terluka dan menangis, meski sudah sedari awal dilarang. Pengalaman itu ternyata berlanjut; tidak berhenti di masa kanak-kanak. Sudah terlalu banyak bukti ilmiah tentang risiko merokok, tapi tetap saja banyak yang merokok. Tidak peduli sebesar apapun peringatannya di bungkus rokok atau seberapa tinggi cukai yang dikenakan. Sudah tak terhitung jumlah kecelakaan kerja, tapi masih banyak pekerja yang tidak taat aturan keselamatan kerja. Saat sakit dan celaka sudah datang, barulah penyesalan menyeruak belakangan.

Manusia seringkali membutuhkan bukti sebelum benar-benar yakin. Butuh sakit sebelum yakin untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Butuh nilai buruk untuk yakin belajar lebih giat. Butuh kehilangan sebelum yakin untuk menjaga apapun yang (ternyata) dicintainya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, untuk keimanan sekalipun. Mereka yang tak juga yakin dengan kehidupan setelah kematian barangkali butuh kematian itu sendiri sampai akhirnya mereka melirih, “Yaa waylanaa,” Duhai celakalah kami.[2] Padahal, Allah sudah mengingatkannya; tidak sekali-dua kali, tapi berkali-kali dalam pedomanNya yang mu’jiz itu.

Tidak ada yang keliru dengan bukti. Toh, para ilmuwan butuh bukti efikasi dan efek samping obat sebelum memproduksinya besar-besaran. Mereka yang tak mencari bukti justru memilih potensi hilang arah dalam langkahnya. Tapi, bukti tidak melulu perlu ditemukan dengan tangan atau mata kepala sendiri. Ada pengalaman orang lain yang bisa diambil, bahkan para pemasak pemula mencontek tata cara penyajian makanan di kumpulan resep. Jika khawatir pada subyektivitas, ada guidelines yang dibuat dengan seobyektif mungkin. Ada tata cara penggunaan dalam setiap kemasan sebelum menggunakan produk yang baru dibeli.

Ketika ada pasien yang dengan penuh kegairahan menceritakan bagaimana ia mencoba resep pengobatan yang didapatkan dari testimoni kenalannya meski belum terbukti, saya terkagum-kagum. Pasien ternyata bisa dengan mudah meyakini testimoni orang, seperti mereka juga bisa dengan mudah menuruti perkataan dokternya. Tapi, tidak sedikit pasien yang nakal dan melanggar segenap bukti yang sebenarnya dengan mudah didapat. Saya lantas mencurigai bahwa manusia tidak sekadar butuh keyakinan untuk berubah, tapi ia juga butuh ketenteraman dalam perubahan itu sendiri.

Ada kisah Ibrahim as. yang serta merta saya ingat setiap kali menghadapi pasien seperti ini. Namrudz tidak kekurangan keyakinan ketika Ibrahim menantangnya, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!”[3] Namrudz dan pengikutnya menyadari sepenuhnya bahwa sang raja bukanlah Tuhan, tapi ia menolak bukti itu. Mereka tidak tenteram dalam menerima bukti, seperti sekumpulan kafir Quraisy yang menolak Islam walaupun mereka tahu bahwa Allah-lah yang ngatur segala urusannya.[4] Bahkan, Ibrahim sekalipun butuh ketenteraman itu ketika ia meminta Allah untuk membuktikan bagaimana caraNya menghidupkan dan mematikan. Ibrahim bukan tak beriman, tapi ia berharap ketenteraman. “Sekali-kali tidak, akan tetapi agar hatiku tenteram,” jawabnya. Liyathmainna qalby.[5]

Pasien-pasien saya yang sudah bertobat itu barangkali juga telah menemukan ketenteramannya sendiri dalam penyakitnya. Ketenteraman yang membulatkan penuh keyakinannya untuk berubah. Kepada mereka saya berujar, “Lain kali tidak perlu merusak diri sendiri untuk tahu nikmatnya sehat.” Saya tahu mereka perih menerima kenyataan. Saya mengerti betapa gundahnya bergumul dalam kesakitan. Dan saya tak bisa membayangkan betapa sakitnya penyesalan akhirat ketika semua bukti dan pedoman yang diberikan Allah masih juga dilanggar. Jika pasien yang sakit itu merutuk perilaku buruknya di masa lalu, saya tak tahu bukti apa lagi yang cukup untuk segera berubah agar tak ada teriakan “Ya waylanaa” dari mulut sendiri di akhirat nanti.

Rotterdam, April 2013


[1] Wheezing (mengi) dan rhonki (suara kasar berderak) adalah istilah kedokteran untuk bunyi abnormal pada pemeriksaan paru.

[2] Lihat QS Al Anbiyaa: 97.

[3] Lihat QS Al Baqarah: 258.

[4] Lihat QS Yunus: 31.

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.   Perburuan profesor...
Berburu Profesor: Starting Pack
25 April 2021
Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Pandemi Multirupa
24 Desember 2020
Pandemi ini sudah melintasi batasnya dari pertarungan melawan virus belaka menjadi pandemi krisis ekonomi,...
Benarkah Covid Menular Lewat Udara?
13 Juli 2020
Banyak yang bertanya apakah benar virus corona Sars-Cov2 ini sekarang sudah bermutasi menjadi lebih ganas...
Membuka Kembali Sekolah: Strategi Alternatif
26 Juni 2020
Membuka kembali aktivitas sekolah bukanlah keputusan yang mudah. Polarisasi kepentingan dan pendapat...
COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?
25 Juni 2020
Menjawab soal kapan sekolah dibuka kembali dan kapan harus ditutup adalah persoalan yang sangat sensitif....
COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial
23 Juni 2020
Semenjak COVID-19 menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia, banyak negara mengambil langkah cepat untuk...
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Obat COVID-19, Overclaim, dan Politik Kabar Baik
16 Juni 2020
Dosa para politikus adalah memproduksi kebijakan yang serampangan. Dosa para saintis adalah mengklaim...