aafuady.com

Tuhan Maha Bercanda

Tapi, saya lantas memilih tertawa geli sendirian. Saya hanya menduga mungkin Tuhan sedang tersenyum-senyum geli juga melihat kami sambil bercanda, “Kamu pikir sing ngatur uripmu kamu sendiri, Le?” Ini Canda Tuhan #4. Pamungkas.

Sepanjang jalan pulang Schipol-Rotterdam hari ini, saya tersenyum-senyum sendiri mengenang betapa Tuhan begitu adidaya terhadap manusia. Saya mengingat perjalanan kami –saya, istri, dan anak lelaki, menuju Denmark dan Swedia, di bulan November 2016, tidak beberapa lama setelah kami tiba di Belanda. Istri saya berniat menghadiri konferensi sekaligus penganugerahan fellowship dari European Society of Medical Oncology (ESMO) yang –atas izinNya, didapatkannya setelah serangkaian proses panjang. Saya tentu tak tega membiarkannya pergi sendirian ke negeri orang yang sama sekali baru. Maka, jauh-jauh hari saya merencanakan mendampinginya, membawa serta si lelaki kecil, memesan tiket pesawat dan mencari-cari kenalan yang bisa ditumpangi selama konferensi.

Beruntunglah **##, penyalur beasiswa terkemuka di Indonesia itu (tak usahlah saya sebut namanya supaya Anda googling sendiri), melengkapi perangkat milis yang membuat kami tersambung satu sama lain di seantero dunia, kecuali kutub utara dan selatan, gurun Sahara, gurun Gobi, dan puncak Himalaya. Sekali tanya, “Hallooo, ada yang tinggal di Anuuu?”, maka ada saja yang berbaik hati merespons, “Yaa, saya di Anuuu…” walaupun ada juga yang diam-diam juga sembunyi karena sudah menduga pasti yang bertanya lokasi itu minta tumpangan hidup. Untunglah, satu-satunya yang menjawab tantangan dari saya itu merespons dengan baik, memberikan nomor istrinya yang –ini saya sebut Candaan Tuhan #1, ternyata kakak kelas istri saya. Ndilalah, kata orang Jawa, meskipun tentu saya paham ini pasti kerjaan Tuhan, bukan kebetulan.

esmo
Ini kegiatan yang diikuti istri saya. ESMO Conference, Copenhagen 2016.

Maka, berangkatlah kami sore itu menuju Malmo, Swedia dengan terlebih dahulu mendarat di Kopenhagen, Denmark.

Di kereta, sepuluh menit menjelang bandara, saya baru teringat sesuatu yang pentingnya luar biasa: Paspor kami bertiga tertinggal di laci kamar. Ealah, sibuklah saya menelpon kawan satu apartemen untuk mencari dan membawakan paspor yang tertinggal itu ke bandara sambil menjanjikannya hal-hal yang manisnya luar biasa supaya kawan saya itu tergoda untuk mengasihani kami. Ternyata, kami sudah ada di depan counter check-in lebih dulu daripada kawan kami yang bersepeda sambil berpeluh-peluh menuju kereta tercepat seantero jagad raya.

Saya sebenarnya yakin bahwa kartu identitas kami di Belanda yang mirip e-KTP itu cukup untuk membuat kami aman berkeliling Eropa, kecuali Inggris yang kadung emosi tak sudi bersanding lagi dengan yang lain. Talak tiga. Kartu identitas kami yang disebut-sebut ‘verblijfstitel’ itu juga sudah dilengkapi data dan barcode. Jadi seharusnya beda dengan e-KTP yang masih saja membuat petugas PTSP bertanya bertubi0tubi, “Sampeyan tinggal di mana?, kerjanya apa?, tanggal lahirnya kapan?, ini anak Sampeyan?”. Pedih, padahal mestinya petugas kelurahan tinggal intip di komputer. KTP yang ini ya semestinya lebih mirip agen kartu kredit bank yang sigap bertanya, “Benar dengan Bapak Ahmad Fuady di 085280xxxxx, tinggal di jalan Cendana samping rumah Pak Harto yang lama, saat ini Bapak terdaftar sebagai tukang ngeridit di bank kami yang mandiri berkat nabung-nya Bapak, dan Bapak pasti suka nonton bola ya, ya kaaan?” Negeri saya yang satu itu memang mungkin perlu dikelola swasta supaya lebih moncer pelayanannya.

Benar saja. Setelah mbak-mbak pelayan check-in itu berkonsultasi dengan atasannya, kami diperkenankan bepergian ke Denmark hanya dengan ‘verblijfstitel’ itu. Ya, meskipun si mbak masih saja membuat kami ragu dengan menawarkan untuk menunggu kawan saya sampai hingga detik terakhir sebelum dipanggil. Tapi, kami tak ragu karena jadwal terbang sudah mepet. Saya telpon balik ke kawan saya dan membatalkan permintaan saya yang tadi membuatnya terengah-engah mengayuh sepeda. Berjalanlah kami campur berlari. Beuh… antrian pemeriksaannya panjang mengular seperti ular naga panjangnya. Maka, Candaan Tuhan #2 muncul. Kereta bayi yang saya dorong-dorong itu dilirik salah satu petugas. Kami diberi akses langsung tanpa antrean dan membuat semua orang berasa kepingin punya bayi dan dorong-dorong stroller. CandaaNya itu membuat kami berhemat 15-20 menit dan sampai di Gate tepat sebelum dibuka. Dan saat Gate dibuka, sengaja saya maju dengan stroller dan berharap Candaan Tuhan #2 masih berlaku. Dan, benar. Masuklah duluan kami tanpa antre panjang.

verblifstitel
Contoh ‘verblijfstitel’ atau kartu identitas yang bentuknya sama di seluruh Eropa.

Mendarat di Kopenhagen, setengah jalan sudah terlampaui. Tidak ada masalah dengan petugas di sana yang dengan mudahnya memberikan akses tanpa meminta paspor. Cukup senyum. Dari bandara, kami harus menumpang kereta menuju Malmo, Swedia yang diperkirakan sekitar 30 menit lamanya. Kereta akan melintasi jembatan yang menyeberangi selat Oresund yang berarti pula kami melintasi perbatasan negara.

Malam itu kereta penuh. Mungkin karena Jumat malam, akhir pekan. Saya berdiri tak kebagian tempat duduk, istri saya memangku si kecil. Pemandangan? Selain gelap, tak ada juga yang bisa dilihat jika kereta penuh seperti Komuter Line Depok-Tanah Abang tiap subuh buta begini. Stasiun pertama setelah melintasi selat, kereta berhenti lama. Petugas dengan beberapa anjing galaknya wara-wiri meminta paspor. Saya melihat satu lelaki digelandang keluar petugas. Saya mulai ketar-ketir. Hingga tibalah petugas perempuan menghampiri saya, menodong paspor saya yang tertinggal itu.

Saya bukan hanya mengeluarkan ‘verblijfstitel’, tapi semua surat yang menerangkan bahwa kami akan pergi ke konferensi, bukan imigran gelap, apalagi teroris. Kami berdebat cukup panjang. Si petugas berkeras bahwa ‘verblijfstitel’ saya itu tidak laku. Saya juga berkeras bahwa ini sudah cukup menunjukkan identitas dari mana saya berasal. Di situlah saya menghayati sedalam-dalamnya peran petugas keamanan, hansip, satpam, dan sipir penjara. Selain anjing penjaga, mereka memang yang teriaknya paling lantang dan kadang tidak mau mengerti substansi. Bukan cuma anti-sogok, tapi kakunya bukan main. Mirip-mirip petugas PTSP yang bekerja sesuai ceklis. Syariatku adalah ceklis. Tidak lengkap? Pulang!

Maka, saya membuka-buka HP dan menunjukkan halaman web milik uni-eropa tentang bolehnya saya bepergian keliling Eropa hanya dengan ‘verblijfstitel’. Dia berkonsultasi dengan petugas lain, dan menyerah. Tapi, ada syaratnya: “Kali ini saya maafkan. Besok kamu harus bawa paspor.” Dan ia menghilang, persis seperti Mak Lampir yang kalah dari Kiai Jabad di drama Misteri Gunung Merapi setiap kali habis berkelahi. Kereta mulai berjalan pelan. Saat saya menghela nafas panjang, saya lihat sekeliling. Semua orang menatap saya. Mungkin sekaligus menggerutu karena saya membuat mereka terlambat sepuluh menit.

Sampailah kami di Malmo dan bertemu keluarga yang baik hati meskipun baru berkomunikasi lewat email dan whatsapp. Karena kami akan melintasi perbatasan selama tiga hari ke depan, besok paginya kami mencari kantor polisi terdekat yang sayangnya tak membantu sedikitpun meskipun hanya untuk membuat ‘surat keterangan ketinggalan’. Di sinilah saya merindukan Indonesia. ‘Surat Keterangan Hilang’ dari polisi cukup mengisi formulir, dicap, dan membayar ‘infaq’ ala kadarnya. Jadi! Kalau Anda beruntung, Anda masih bisa mendengar bunyi tek-tek-tek-tek-cekreeeeeek dari mesin tik jadul yang makin ke sini makin hilang dari peredaran. Akhirnya, satu-satunya jalan adalah meminta pertolongan dari KBRI. Meskipun kami di Swedia, jarak ke KBRI di Kopenhagen lebih manusiawi ketimbang ke Stockholm.

oresund
Jembatan yang melintasi selat Oresund dan sudah tak membuat kami berbinar-binar setiap kali melewatinya.

Tuhan Bercanda lagi di #3 dengan membuat saya mengingat kontak lama di KBRI Kopenhagen. Dulu, saya pernah meminta kontaknya untuk sekadar mencari info tumpangan rumah. Karena tidak bisa menumpang, saya nyaris melupakannya sebelum diingatkan Tuhan untuk melanjutkan niat silaturrahim itu. Berbekal skill menulis surat sejak jadi sekretaris OSIS di SMP, saya membuatkan draft ke email pejabat KBRI itu untuk ditandatangani. Approved! “Sebelum jam 2 ya, karena kami saya mesti ada acara lagi,” katanya. Kami berangkat dengan modal GPS dan sambungan data roaming untuk mencari KBRI. Alhamdulillah ketemu di injury time, hampir peluit wasit berbunyi panjang.

Surat sudah siap diambil, tapi kami diajak duduk-duduk sebentar sambil mendengar cerita horor. Pertama, rombongan duta besar RI untuk Belanda juga pernah dicegat di perbatasan, dan salah satu anggota rombongan tidak diijinkan masuk ke Swedia karena perkara yang sama dengan kami. Ada penekanan: itu padahal satu rombongan dengan dubes loh… Saya menelan ludah dan garuk-garuk kepala. Kedua, ketiga, dan cerita-cerita selanjutnya tidak begitu saya dengar karena konsentrasi saya rusak. Tapi, semua berkisar tentang turis Indonesia yang diperas kriminil dan dicopet hingga uangnya habis dan menginap di KBRI. Saya nyengir saja sampai tak nafsu lagi meskipun ditawari makan Indomie yang harumnya menyeruak memanggil-manggil hidung saya dari dapur.

Saya memasukkan surat sakti itu ke dalam tas. Setiap kali kami naik kereta dari Kopenhagen ke Malmo, saya mengeluarkannya dari tas. Ya, hanya dari Kopenghagen ke Malmo. Hanya ke Swedia yang rese ada pemeriksaan, sedangkan menuju Denmark tak pernah ada pemeriksaan di perbatasan. Santai kayak di pantai.

Hari pertama konferensi, tidak ada pemeriksaan perbatasan. Hari kedua, tidak ada pemeriksaan. Padahal, saya menunggu-nunggu si petugas perempuan itu datang lagi dan menanyakan paspor saya. Hari ketiga, lagi-lagi tidak ada pemeriksaan di perbatasan. Hampir saja kami bilang, “Hah, kalau tahu begini, buat apa repot-repot ke sana ke mari minta surat. Habis ongkos, hilang tenaga.

Tapi, saya lantas memilih tertawa geli sendirian. Saya hanya menduga mungkin Tuhan sedang tersenyum-senyum geli juga melihat kami sambil bercanda, “Kamu pikir sing ngatur uripmu kamu sendiri, Le?” Ini Canda Tuhan #4. Pamungkas.

Kami belajar banyak. Semuanya toh sudah diaturNya. Yang membedakan hanya nilai ikhtiarnya. Maka, saya tak sungkan menyebutNya MahaCanda.

Rotterdam, Maret 2017

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Pandemi Multirupa
24 Desember 2020
Pandemi ini sudah melintasi batasnya dari pertarungan melawan virus belaka menjadi pandemi krisis...
Benarkah Covid Menular Lewat Udara?
13 Juli 2020
Banyak yang bertanya apakah benar virus corona Sars-Cov2 ini sekarang sudah bermutasi menjadi lebih ganas...
Membuka Kembali Sekolah: Strategi Alternatif
26 Juni 2020
Membuka kembali aktivitas sekolah bukanlah keputusan yang mudah. Polarisasi kepentingan dan pendapat...
COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?
25 Juni 2020
Menjawab soal kapan sekolah dibuka kembali dan kapan harus ditutup adalah persoalan yang sangat sensitif....
COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial
23 Juni 2020
Semenjak COVID-19 menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia, banyak negara mengambil langkah cepat untuk...
Obat COVID-19, Overclaim, dan Politik Kabar Baik
16 Juni 2020
Dosa para politikus adalah memproduksi kebijakan yang serampangan. Dosa para saintis adalah mengklaim...
Tsunami Ilmu COVID-19 dan Problemnya
08 Juni 2020
Pekan lalu, Lancet dan New English Journal Medicine (NEJM) – dua jurnal medis terkemuka – menarik kembali...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kuncitara dan Kecemasan Global
09 April 2020
"Semua nampak rumit, dan terlalu dini hingga saat ini untuk memprediksi sebesar apa perseteruan antara...