Arsip Kategori: Review

Okja: Babi Raksasa di Industri yang Serakah

Apa makanan terlezat yang pernah diciptakan manusia? Oh tidak, pertanyaannya keliru. Apa makanan terlezat yang dapat diproduksi secara murah, tapi membuat orang rela membayarnya dengan harga mahal?

Lanjutkan membaca Okja: Babi Raksasa di Industri yang Serakah

Iklan

Ali and Nino: Asmara, Agama, Negara

Saya belum menonton film Dilan. Di tengah kehebohannya, saya justru mengingat-ngingat film cinta lain yang kerumitannya jauh di atas Dilan: ‘Ali and Nino’. Kalau Dilan ibarat chips renyah, Ali and Nino ini boleh dibilang cheesecake campur lapis legit ditambah taburan coklat asem manis (apa coba rasanya?). Kompleks dah, pokoknya.

Lanjutkan membaca Ali and Nino: Asmara, Agama, Negara

Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

 

Apa yang membuat orang berubah? Narasi dan khutbah, atau realita di depan mata?

Taxi Driver (Korea Selatan, 2017). Gambar diambil dari http://asianwiki.com/A_Taxi_Driver

Di tengah sorak sorai film pembantaian para jenderal di tanah air, saya memutuskan jalan lain: menonton sebuah film Korea, Taxi Driver. Film yang dipilih Korea Selatan untuk mewakili negaranya di Oscar 2018 ini adalah film sejarah berbasis kisah nyata, namun dipoles secara humanis. Memang, untuk mengingatkan masa lalu yang kelam tidak melulu harus dengan menampilkan gambar yang suram dan kejam. Taxi Driver adalah contoh kekejaman sejarah yang disajikan lewat karakter karikatural. Lucu dalam keluguan orang miskin, tapi tetap setia pada “pesan berat” yang disampaikannya.

Lanjutkan membaca Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

Menerka Masa Depan

Dalam sebuah perjalanan panjang di pesawat, saya mendapat teman refleksi dalam sebuah film Jerman, “24 Wochen“. Film realis yang berkisah tentang komedian ‘stand up’ yang hamil dan mendapati informasi di usia kehamilannya yang ke-24 pekan bahwa janinnya akan dilahirkan dengan Sindroma Down. Awalnya, ia dan suaminya tegar dan memutuskan tetap menjaga kehamilannya hingga persalinan meski aborsi di Jerman dilegalkan dengan alasan tersebut. Bahkan, mereka menyiapkan anak pertamanya agar siap memiliki adik dengan kelainan fisik dan mental.

Lanjutkan membaca Menerka Masa Depan

Sentuhan yang Baik

Dalam perjalanan udara yang lain, sebuah film berbahasa Spanyol, “El Mal Ajeno” membuat saya berefleksi kembali. Diego, dokter ruang emergensi, rawat intensif, dan nyeri, belakangan kehilangan rasa empati ketika merawat pasiennya karena beban kerja yang tinggi dan soalan keluarga. Semua ditangani sesuai teori dan bukti ilmiah. Jika tak ada harapan hidup, maka ia katakan begitu adanya. Jika kaki pasien akan membusuk, maka ia sebutkan bahwa sekian hari lagi kakinya membusuk. Pada satu sore, ia ditembak –namun, tidak sampai meninggal, dan kembali sambil membawa pesan: menjaga kehidupan seorang pasiennya yang berkali-kali ia yakini tak punya harapan hidup lagi.

Lanjutkan membaca Sentuhan yang Baik

[TELAH TERBIT] BUKU: YANG CANTIK YANG (TIDAK) BAHAGIA

Alhamdulillah,

Buku “Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia” sudah terbit. Silakan lakukan pemesanan dengan melengkapi nama, alamat dan jumlah pemesanan ke email farranasir@gmail.com. Semoga menginspirasi….

“Kau bertanya balik, “Mengapa mata yang tak pernah bersua bisa saling jatuh cinta?” Ah, Dik. Ada Zat yang tak pernah kita temui, tapi namaNya kita rapalkan setiap saat. Ada Zat yang tak pernah kita tatap, tapi teramat berharga untuk kita tinggalkan, meski sejenak. Ada pula manusia yang antara kita dan dirinya dipisahkan jarak berabad jauhnya. Kita tak pernah melihatnya, tak pernah menggenggam tangannya, tak pernah berguru langsung kepadanya. Mengapa pula hubungan kita ini lantas dipertanyakan –menjadi suluh yang tak pernah padam meski kau tiup dengan semerbak angin delapan penjuru?”

djokokororet – Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia

Ayo, segera pesan!

3 Jurus jitu
3 Jurus jitu