INSENTIF LALAT

3 mins read

Pergilah ke bandara Schipol, dan akan Anda jumpai lalat di urinoir para lelaki. Ya, lalat. Yang semestinya ada di bak sampah dan tempat jorok. Sempat saya bertanya mengapa mereka memasang gambar lalat di urinoir para lelaki?

Berterimakasihlah kepada para ekonom. Lalat-lalat itu hinggap lewat kelihaian matematika dan amatan yang seksama. Para lelaki seringkali abai ketika buang air kecil, terutama ketika berdiri. Jika tak percaya, cobalah tengok toilet umum khusus mereka. Acak-acakan, muncrat ke mana-mana. Untuk airport sebesar Schipol dengan ribuan pengunjung setiap hari tentu soalan ini merepotkan. Tim ekonom kemudian membuat intervensi unik. Mereka menempel gambar lalat di sisi kiri lubang urinoir.

Hasilnya? Gambar lalat itu berhasil menurunkan rerata muncrat-muncratannya buang air kecil para lelaki hingga 80%. Para lelaki itu memang terdorong untuk mengarahkan arah buang air kecilnya ketika diberikan target. Ini yang disebut sebagai “heuristic decision making”. Secara tanpa sadar, mereka membuat keputusan berdasarkan apa yang terlintas begitu saja dalam kepalanya –dan ternyata direkam oleh Ekonom peraih nobel, Richard Thaler, untuk membuat teori yang diistilahkan olehnya sebagai “Nudge”.

Ada beragam pengertian ‘nudge’, tetapi sederhananya: Anda berikan insentif kepada mereka, maka mereka akan terdorong untuk memilih yang Anda sodorkan itu.

Dalam strategi kesehatan publik, ‘nudging’ juga menjadi senjata yang, sayangnya, jarang dipakai. Untuk membuat orang mengonsumsi makanan sehat, pasar swalayan (apakah terminologi ini masih pas dipakai di Indonesia?) perlu meletakkan buah dan sayuran di pintu masuk, memberikannya diskon, atau menyusun arsitektur interior sedemikian rupa yang membuat pengunjungnya hanya berpikir tentang makanan sehat. Letakkan ia di tempat yang mudah dijangkau, dan letakkan makanan tak sehat di keranjang yang sulit digapai.

Ekonomi perilaku ini menarik –dan tidak melulu bicara tentang fiscal space, inflasi, dan tetek bengek yang membuat kening berkerut. Kalau pemerintah ingin rakyatnya masuk sebagai peserta JKN, pahami perilaku ekonomi mereka; bagaimana rakyat membuat keputusan untuk membayar premi dan bukan membeli rokok. Jika ingin dokter menyebar ke seantero jagad Indonesia, pahami apa yang mendasari mereka membuat keputusan untuk ikut atau tidak ikut, untuk suka atau tidak suka, untuk rela atau tidak rela.

Sayangnya, kebijakan seringkali mengacu pada budaya paternalistik. Seperti bapak yang bilang kepada anaknya, “Hus, kamu tidak tahu apa-apa. Ikuti saja kata Bapak…”

Mungkin kita perlu belajar kepada lalat di urinoir para lelaki. Jika Anda belum mampu memahami perilaku pengambilan keputusan, setidaknya Anda bisa mengerti sedikit: para lelaki butuh diberikan target, tenggat, deadline, agar mereka fokus dan punya tujuan.

Rotterdam, April 2017

 

 

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan