aafuady.com

Jangan Tanya Ustadz YouTube (2)

Fenomena gairah belajar keagamaan ini memang membelukar sedemikian dahsyat. Bukan hanya pada salinan video di dalam gawai, majelis-majelis riil dengan tatap muka pun makin bergairah dari hari ke hari. Seperti ada dahaga spiritual di tengah arus zaman yang kering, orang-orang kini menggeser perilaku kesehariannya. Pada terma populer, mereka menyebutnya sebagai ‘hijrah’.

Tradisi ‘hijrah’

Dalam beberapa dekade lalu hingga tahun 1980-an, kelompok Islam mudah teridentifikasi secara tradisional karena afiliasi keagamaan yang relatif sederhana pada organisasi keagamaan lokal seperti Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan Nahdhatul Wathan, untuk sekadar menyebut beberapa contoh. Di akhir 80-an hingga awal 2000-an, terlebih selepas masa reformasi, ada perubahan perilaku dan ideologi keagamaan dengan mengadopsi lebih banyak perilaku keagamaan (dan politik) dari organisasi keagamaan luar negeri. Beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai ideologi dan gerakan transnasional. Perilaku keagamaan yang diadopsi ini ada yang beririsan dengan gerakan organisasi keagamaan lokal yang telah lebih dulu ajeg, namun juga kerap kali bertentangan.

Di tengah masyarakat yang kebanyakan – untuk tidak menyebutnya semua – berhaluan mazhab Syafi’i, perilaku keagamaan yang dipengaruhi gerakan transnasionalis ini memang memunculkan banyak perbedaan – dan karenanya muncul perdebatan dan gesekan. Sesungguhnya, perbedaan ini bukan hal baru karena selama berdekade telah berlangsung antar organisasi keagamaan yang dicontohkan di atas. Namun, seiring dengan meredanya gesekan antar NU dan Muhammadiyah, sebagai contoh, gesekan baru muncul. Perilaku keagamaan yang dipengaruhi gerakan semisal Al Ikhwan Al Muslimun, Hizbut Tahrir, atau Salafy, jelas merujuk pada haluan tradisi mazhab non-Syafi’i. Kebanyakan darinya mengikuti pemahaman mazhab Hanabilah, meski ada juga kelompok yang menarik diri dari label mazhab dan menginginkan jalan keagamaan yang murni mengikuti Qur’an dan Sunnah semata.

Pada beberapa situasi, kondisi ini menyebabkan perseteruan dalam sekam – bahkan, terkadang diliputi isu politik. Yang satu mendaku pendapatnya benar, yang lain merasa pendapatnya yang lebih benar. Yang satu menyerang, yang lain bertahan dengan serangan yang berbeda. Saya merasakannya bukan hanya pada video yang berseliweran di internet, tetapi hingga pada ceramah di kampung-kampung. Jika dulu perseteruan ‘lokal’ berlangsung sengit antara Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama, kini kekisruhan terjadi antara tradisi Nahdhatul Ulama dengan kegairahan adopsi gerakan yang disebut transnasional itu. Ketika ada tuduhan bid’ah, maka terlempar pula tuduhan wahabi. Silang sengkarut.

Di satu sisi, tradisi ‘hijrah’ ini menggembirakan. Dulu, pengajian kerap disematkan hanya pada mereka yang belajar agama secara intens di madrasah atau pesantren. Sekarang, siapa saja tidak malu lagi untuk belajar agama. Celana ‘ngatung’ sudah dengan mudah dijumpai di mal-mal besar dengan segala macam variasi modelnya. Jilbab panjang sudah tidak lagi eksklusif milik santri hafizah Qur’an, tetapi juga perempuan yang dulu menjadi pesolek di layar televisi. Jenggot panjang yang dibiarkan menjuntai tak dicukur kini merajalela di kantor-kantor eksekutif dan menjadi corong gerakan keluar dari pekerjaan ribawi di bank-bank konvensional. Pengajian tersebar di mana-mana – tidak lagi hanya didominasi orang-orang tua dan anak kecil, tetapi anak-anak muda gagah dengan gawai terkini yang dibawa serta ke mana-mana. Ini sebuah kegembiraan bagi da’wah.

Temanya pun variatif sesuai dengan karakter kelompok masing-masing. Ragam variasi kelompok ‘hijrah’ ini begitu lebar, dari kelompok anak punk yang tetap mengaji di tengah hingar bingar, jamaah tabligh yang mengajak menuju keutamaan amal (fadhail ‘amal), Hizbut Tahrir yang menggelorakan semangat khilafah, Tarbiyah yang semangat bergerak dan kerap menyentuh isu politik, hingga Salafy yang mengajak kepada kemurnian ‘sunnah’. Di sela-sela itu, ada pula kelompok tengah yang mengampu seluruh paham, menyodorkan tokoh lintas kelompok, dan mengajak pada eratnya tali persaudaraan, meski juga tak sepi dirundung kecaman dari kelompok lainnya.

Meski beragam, pola penyebarannya kini semakin mirip satu dengan yang lainnya. Menggelinding lewat media sosial, digerakkan lewat teknologi digital. Mereka merekam kajiannya, mengedit videonya, dan menyebarkannya lewat saluran jejaringnya masing-masing. Tentu, dengan ustadz-nya masing-masing pula.

Pada kondisi ini, seringkali muncul dua pertanyaan utama: (1) bolehkah saya belajar agama lewat internet dan (2) bagaimana memilih ustadz dan kajian yang tepat di tengah banyaknya pilihan kajian?

— Bersambung —

Tulisan sebelumnya: Jangan Tanya Ustadz YouTube (1)

Tulisan berikutnya:

Belajar Agama Lewat Gadget

Bagaimana Memilih Kajian Agama

Tingkatan Ijtihad

Jebakan Sesi Tanya Jawab Ustadz

Teks dan Konteks

Arif Menyikapi Perbedaan

Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Jangan Tanya Ustadz YouTube (9-selesai)

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...