Kado

2 mins read

Dik, tak ada yang mengerti sepenuhnya seberapa sanggup kita melangkah ke depan, seperti tak ada pula yang mengerti sepenuhnya mengapa kita bersua di belakang. Tuhan sudah mengaturnya –perjumpaan yang singkat, pencarian yang panjang, juga perjanjian yang kuat. Tak ada yang lebih dari itu. Jika ada manusia yang membencinya, bencilah Tuhan sekehendak mereka. Kita tak berjalan mundur, tapi berpijak untuk pergi sejauh kaki kita mampu.

Dalam sengat malam yang kuyup itu, bahkan kita tak pernah tahu apakah akad akan terikat. Takdir itu misteri serupa bidadari. Ada yang mendorongnya keluar dari maqam persembunyiannya, dan kita menyebutnya ikhtiar. Tak ada yang lebih dari itu. Jika ada manusia yang mendurhakainya, durhakailah Tuhan sekehendak mereka. Kita tak berjalan menepi, tapi mengambil ancang-ancang untuk terbang ke langit.

Gambar

Dua tahun sudah bergegas, belum cukup untuk sekadar mengerti jalan pikiranmu. Ilmu kita tak seluas samudera, begitupun jiwa. Ada yang menyempit menyerupai selat, masuk membentuk teluk, atau menguap kembali menjelma awan. Dua tahun lalu aku tak mengenalmu, Dik. Bahkan, tak mengerti jika empat puluh hari setelahnya aku harus menggenggam tangan Bapakmu. Hanya butuh setahun berlalu, aku meminjam rahimmu dalam rupa janin yang tak kita sadari. Duduk pada satu ruang, menikmati makan sederhana, lalu berdoa: semoga bertambah segala berkah. Usiamu dua puluh enam.

Aku bahkan lupa, Dik, bahwa Rotterdam sejarak enam jam dari rumah. Hanya pesan kecil yang aku titipkan kemarin, melewati malam-malammu yang tengah berganti haru. Birru –yang membuka jalan kebaikan. Ini bukan tentang aku dan kamu seorang, tapi tentang tiga makhluk Tuhan dalam sekoci yang mencari pesiar arungi samudera. Kita bukan sesiapa, sampai kapan pun. Tak ada kisah hebat yang patut kita sebarkan di muka dunia sehingga mereka terkagum. Kita hanya makhluk Tuhan dalam sekoci, bangun menjumpai pagi dan menatap senja di balik matahari. Malam pasti datang, Dik. Pasti. Tak perlu dikeluhkan, hanya cukup siapkan bekal terbaik. Agar kita mengerti –dalam gelap pun, kita masih punya Cahaya.

Selamat Ulang Tahun, Dik. Jadikan hidupmu kebaikan tak terhingga –bersama kebaikan yang aku titipkan. Birru.

Rotterdam, 15 Maret 2013

Buya

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan