aafuady.com

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Atau aku bertanya saja hal yang sama pada Jibril yang semula masih satu barisan bersama Iblis. “Apa yang membuat Iblis mundur dan tak mau mendekatiku lagi?” Yang ditanya hanya menatapku kecewa. “Bukan padaku, seharusnya kau bertanya,” katanya. “Lalu pada siapa?” Dia menunjuk ke arah yang tak mampu aku kira ujungnya.

“Bagaimana aku bisa ke sidratul muntaha? Hanya Muhammad, hanya Muhammad.”

Tapi, Jibril menggelinjang. Tertawa terbahak-bahak. Aku pikir malaikat tak punya nafsu untuk menertawaiku. Mereka hanya tunduk patuh, kata guruku. Menggerayangi langit setiap malam menjelang fajar, mencurahkan rahmat kepada siapa yang Tuhan mau, juga membawa laknat ke dalam rumah tanpa memberi salam.

Aku pilih saja berjalan-jalan. Satu jembatan, antara surga dan neraka, menaiki bukit menuju A’raf yang penuh sesak dengan manusia yang tergelincir satu demi satu. Sahut-sahutan bergerilya -entah pada malam atau siang, karena matahari telah padam dan rembulan hilang pantulan cahayanya. Salamun ‘alaika, aku dengar. Juga sayup-sayup: Waylaka, waylaka.

Mana kitabmu?

Aku lupa bawa. Tertinggal dalam dompet di saku celana yang seharusnya tadi pagi masuk mesin cuci. Aku pilih mengeluarkan dinar, menggelontorkan dirham. Mata para malaikat terpaku, lalu diam seribu bahasa. Tak ada ruang berkolusi. “Ini bukan Jakarta,” katanya menghardik.

“Bagaimana kalau aku benar-benar lupa?”

“Maka kau bersalah.”

“Lalu, mengapa jika aku bersalah?”

“Masuklah neraka. Kemasi barangmu segera!”

“Mengapa tak kau buang aku ke dunia? Seperti Adam!”

Malaikat menyeringai. Aku ditarik, masuk dalam sebuah putaran aneh. Pelan-pelan semua bergentayangan satu per satu. Seperti film hitam putih, bergerak dalam layar bioskop tanpa suara.

Dan aku lihat, Iblis masih asyik dengan dzikirnya yang tak padam. Di bawan pohon khuldi.

kolonglangit, september 2009

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tuhan Maha Bercanda
19 April 2021
Tapi, saya lantas memilih tertawa geli sendirian. Saya hanya menduga mungkin Tuhan sedang tersenyum-senyum...
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Yang Gagal Beribadah
04 Mei 2020
Perjanjian Hudaibiyah sudah ditandatangani kedua belah pihak. Kesepakatan sudah diketuk. Tak ada jalan...
Harga Khianat
30 April 2020
Selepas Quraisy pulang ke Mekkah, pasukan Muhammad ﷺ kembali masuk ke kota Madinah dan bersiap menyelesaikan...
Penjaga Rumah Allah
26 April 2020
Sepasukan tentara, siang itu, tiba di Al Maghmas – sebuah daerah tak jauh di pinggiran kota Mekkah. Bekas...
Simpang Rasa Takut
25 April 2020
Apakah ketakutan kita akan serangan, kekalahan, kesakitan, dan kecelakaan harus serta merta dipertentangkan...
Jangan Tanya Ustadz YouTube (9-selesai)
25 Januari 2020
Di sinilah rumitnya ber-da’wah dan mengajar. Tidak hanya butuh wawasan yang dalam dan luas, tetapi juiga...
Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama
25 Januari 2020
Tulisan kedelapan dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube" Secara sederhana, ada dua sumber...
Arif Menyikapi Perbedaan
25 Januari 2020
Untuk pertanyaan tipe kedua, setiap ustadz tentu memiliki pandangannya tersendiri tentang suatu permasalahan....