aafuady.com

Sentuhan yang Baik

Dalam perjalanan udara yang lain, sebuah film berbahasa Spanyol, “El Mal Ajeno” membuat saya berefleksi kembali. Diego, dokter ruang emergensi, rawat intensif, dan nyeri, belakangan kehilangan rasa empati ketika merawat pasiennya karena beban kerja yang tinggi dan soalan keluarga. Semua ditangani sesuai teori dan bukti ilmiah. Jika tak ada harapan hidup, maka ia katakan begitu adanya. Jika kaki pasien akan membusuk, maka ia sebutkan bahwa sekian hari lagi kakinya membusuk. Pada satu sore, ia ditembak –namun, tidak sampai meninggal, dan kembali sambil membawa pesan: menjaga kehidupan seorang pasiennya yang berkali-kali ia yakini tak punya harapan hidup lagi.

Pada sebuah scene, pasien dengan kaki yang nyaris tak punya harapan meminta Diego menyentuh kakinya. “Ya, sentuhlah,” katanya. Baru kali itu Diego memegang kakinya, padahal, ungkap si pasien, “Itu yang aku butuhkan darimu”.

Percakapan itu mengingatkan saya kepada sepasang kakek-nenek yang masuk ke ruangan, berkisah tentang jatuhnya di lantai dan nyeri di jarinya yang tak dapat ditahan, lalu menyodorkan foto rontgen tangannya, lengkap dengan hasil bacaan, resep obat, dan jari yang sudah terbidai. Sudah lengkap semua, dan saya bertanya, “Apa yang Bapak-Ibu harapkan dari saya? Bapak sudah ke dokter spesialis yang benar, dan saya, dokter umum, mengira tatalaksananya sudah sesuai.” Jawaban mereka membuat saya belajar: “Iya. Tapi, kami tidak bisa bertanya. Kami tidak bisa mengobrol dengan dokternya. Makanya, saya ke sini. Mau mengobrol sama dokter.”

Apa yang diharapkan dari hidup ini, sesungguhnya? Hasil yang baik –yang sama sekali tidak dapat kita garansikan? Atau, usaha yang baik –yang sepenuhnya berada dalam kendali kita?

Persoalan tentang manusia tidak selamanya matematis dan sepenuhnya dapat diprediksi. Guru yang melihat muridnya tak juga pandai menghitung dengan cermat, tak pernah tahu bahwa masa depan memungkinkan kesuksesan berupa seniman handal yang terkenal. Itulah mengapa potensi harus diselidiki, kebesaran hati perlu dinaungi, dan harapan tak berhak untuk dikunci.

Atasan yang melihat karyawannya tak becus mengejawantahkan komando teknisnya, tak pernah punya sangkaan bahwa kesuksesan boleh jadi diraih si karyawan di tempat lain, dengan posisi lain yang lebih baik, dengan lesatan karier yang lebih menjulang. Itulah mengapa kesalahan perlu diberi ruang, perkembangan tak pantas dikekang, dan jabatan tak punya hak untuk menjadi alasan keangkuhan.

Dokter, seberapapun ia mengerti bukti ilmiah dalam sederet jurnal tentang kemungkinan hasil pengobatan, tetap perlu menyediakan kemungkinan bagi harapan pasien: apa yang membuatnya bahagia, membuat kualitas hidupnya lebih baik. Tidak melulu dengan obat, bahkan seringkali justru dicukupkan dari percakapan yang empatik, dari harapan yang ditumbuhkembangkan.

Keselamatan tidak melulu tentang hidup dan mati, tidak juga tentang sukses dan gagal, pun tidak tentang sakit dan sehat; tetapi tentang keikhlasan, kerelaan hati, dan kesempurnaan ikhtiar.

Mereka yang bekerja dengan ikhlas akan menyediakan tempat bagi empati untuk menyelinap dalam setiap sentuhan kerjanya. Mereka yang menuntut dan menerima dengan ikhlas akan meluangkan hatinya untuk bersandar pada Kekuatan Lain di Luar Dirinya.

Dan, mereka yang mengerti bahwa setiap sendi tulangnya harus disedekahkan dalam keikhlasan –dalam sakit-sehatnya, dalam sempit-luangnya, dalam tua-mudanya, dalam kaya-miskinnya, akan menjumpai jalan lempang yang dimudahkan Tuhan menuju kepadaNya.

Tak peduli kita sampai di mana, apa yang kita dapatkan, Tuhan hanya perlu kesan dalam kehidupan yang kita rayakan: Sentuhan yang Baik. Ia ada dalam ikhtiar yang ikhlas.

Rotterdam, April 2017

 

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.   Perburuan profesor...
Berburu Profesor: Starting Pack
25 April 2021
Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Jangan Tanya Ustadz YouTube (9-selesai)
25 Januari 2020
Di sinilah rumitnya ber-da’wah dan mengajar. Tidak hanya butuh wawasan yang dalam dan luas, tetapi juiga...
Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama
25 Januari 2020
Tulisan kedelapan dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube" Secara sederhana, ada dua sumber...
Arif Menyikapi Perbedaan
25 Januari 2020
Untuk pertanyaan tipe kedua, setiap ustadz tentu memiliki pandangannya tersendiri tentang suatu permasalahan....
Teks dan Konteks
25 Januari 2020
Tulisan keenam dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustad YouTube". Sebagai sebuah contoh sederhana,...
Jebakan Sesi Tanya Jawab Ustadz
25 Januari 2020
Tulisan kelima dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube". Pada banyak kesempatan kajian yang...
Tingkatan Ijtihad
25 Januari 2020
Box: Tingkatan berijtihad. Bagian dari tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube". Dalam kaidah fiqih, ada...