aafuady.com

UJUD DISKRIMINASI

Saya menjenguk sejarah Apartheid di museum ini: Apartheid Museum di Johannesburg, Afrika Selatan. Sejak gerbang masuk, aura diskriminasi sudah kental. Dalam bentuknya yang paling klasik, diskriminasi berujud pada warna kulit. Anda hitam, dan saya putih. Putih superior, dan hitam inferior. Ada bentuk modern, ia tak lagi berujung di penjara, tapi pada rasa rendah diri yang disemai dari produk-produk kosmetik. “Ayo, jadilah putih dan tinggalkan kekusaman,” kata produk kapitalistik itu. Bahkan, ketiakmu pun disuruhnya untuk menjadi putih. Anak-anakmu yang (sedikit) hitam, akan didoakan agar segera beranjak menjadi putih. Atau setidaknya, sedikit lebih terang.

Diskriminasi kemudian tak lagi dihalu parameter fisik, tapi kelayakan secara kapital. Tak ada becak dan bajaj di jalanan utama ibukota, seperti juga marjinalisasi motor di simpang Sudirman-Thamrin. Tak akan ada motor melintas di depan lobi hotel seperti mereka melintas di depan lobi pasar. Tak pantas, tak elok.

Hari ini memang tak ada peraturan semacam Undang-Undang Daerah Urban 1928 milik Afrika Selatan yang mensegregasi komunitas putih dan non-putih secara eksplisit. Tetapi, pusaran halu pasar yang membuat harga tanah dan properti melonjak sedemikian hebat menunjukkan gelagat dan efek yang serupa. Segregasi. Mereka yang kuat secara finansial akan berdiri di tengah kota, sedangkan yang lemah akan duduk bersila di pinggiran untuk sesekali menyelinap masuk ke kota demi sesuap nasi.

Apa yang disebut diskriminasi, kemudian?

Ia benar-benar hadir sebagai fitrah, sesungguhnya. Bukan perbedaannya yang menjadi penting, tetapi respons terhadap perbedaan itu yang seharusnya melintasi akar masalah.

Ada yang tak terlalu pintar sehingga tak bisa melanjutkan sekolah, itu realita. Tapi membiarkannya bukanlah respons yang tepat. Harus ada kebijakan di luar debat kartu-kartu dan plus-plus yang memberikan ruang bagi mereka untuk tetap berdayaguna meski tak berkesempatan memiliki kapabilitas akademik yang baik.

Ada yang lemah secara ekonomi, itu fakta yang langgeng sampai akhir jaman. Tapi membiarkannya bukanlah respons yang tepat. Harus ada kebijakan yang menjembatani si kaya dan miskin untuk berinteraksi dalam komunal nafkah yang sebenarnya, bukan sekadar bantuan temporer yang menjebak mereka dalam kemiskinan herediter.

Siapa yang mempelopori solusi terhadap perbedaan yang ada, itulah yang semestinya didukung. Tak semestinya lagi ruang perbedaan dieskploitasi sekadar untuk memancing deru politik, apalagi dengan sekadar mengais isu berbedanya fisik dan latar belakang.

Adakah yang masih tertarik kepada jalan keluar, atau kita lebih senang berkubang pada kontur masalah?

Lamat-lamat saya mendengar, waman yattaqillaha yaj’al lahu makhraja. Sesiapa yang bertakwa kepada Allah, akan disediakan baginya jalan keluar. Tapi, kembali saya bertanya; takwa semacam apa, ya Rabb? Di tengah puing definisi yang bersilangan tentangMu…..

Johannesburg, Maret 2017

 

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.  Perburuan...
Berburu Profesor: Starting Pack
25 April 2021
Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Jangan Tanya Ustadz YouTube (9-selesai)
25 Januari 2020
Di sinilah rumitnya ber-da’wah dan mengajar. Tidak hanya butuh wawasan yang dalam dan luas, tetapi juiga...
Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama
25 Januari 2020
Tulisan kedelapan dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube" Secara sederhana, ada dua sumber...
Arif Menyikapi Perbedaan
25 Januari 2020
Untuk pertanyaan tipe kedua, setiap ustadz tentu memiliki pandangannya tersendiri tentang suatu permasalahan....
Teks dan Konteks
25 Januari 2020
Tulisan keenam dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustad YouTube".Sebagai sebuah contoh sederhana,...
Jebakan Sesi Tanya Jawab Ustadz
25 Januari 2020
Tulisan kelima dari rangkaian tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube". Pada banyak kesempatan kajian yang...
Tingkatan Ijtihad
25 Januari 2020
Box: Tingkatan berijtihad. Bagian dari tulisan "Jangan Tanya Ustadz YouTube".Dalam kaidah fiqih, ada...