aafuady.com

Anak Hujan

anak-hujan

hujan memaksa kayuh kita menepi

memungut kenangan yang tak jua sepi

kita yang berboncengan di bawah hujan

tak punya kita atap, kecuali pelukan

ketika gembos ban di jalanan

dan mesin mati saat kebanjiran

perutmu sudah membuncit, Sayang

kita merapat di emper warung yang padat

selepas kau tak mengerti: harus duka atau bahagia

yang tumbuh dalam perutmu menerbitkan asa

lagi setelah harapan yang tertunda

ia pula yang memaksa gurumu berkata

: tak perlulah ke rumah sakit dulu. istirahatlah

yang kecil tumbuh dalam perutmu, Sayang

kini menepuk-nepuk pundakku dan tertawa

: jalan saja, Buya. hujan pun tak apa. aku tak gentar

lupa kita, ia telah besar

dan tak takut hujan, sejak dalam kandungan

Rotterdam, Januari 2017

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Imsak
01 Juni 2019
Wajib Belajar, Belajar Apa?
13 Juli 2017
Meminta liburan dari sekolah bukan hal mudah di Belanda. Kami harus berkonsultasi dulu dengan guru kelas...
Anak Dokter Takut Dokter
13 Februari 2017
Betapa malang anak lelaki saya ini. Bapaknya sibuk meneliti tentang tuberkulosis (TB), ia sendiri tak...
La La Lan... Jalan Menuju Tuhan
26 Januari 2017
 Kami berboncengan motor ketika istri saya –yang duduk menyamping di belakang dengan rok panjangnya...
Buta
06 Januari 2017
Bangkai
29 Desember 2016
Serius
28 Desember 2016
Sarang Kompeni
28 Desember 2016
Serakah
28 Desember 2016
Bocor
28 Desember 2016