Dari Winkel ke Bengkel

2 mins read
Please go to your post editor > Post Settings > Post Formats tab below your editor to enter video URL.

Bale-bale di depan rumah Cing Aji memang biasa dipakai buat kumpul-kumpul. Banyak obrolannya. Istilahnya: kongkow-kongkow. Kalau masuk tivi, berubah jadi: tolk-sow. Kalau di riungan ibu-ibu, namanya: gosip arisan. Kalau di pengajian… ustadz-nya bilang: itu ghibah, ngomongin oraaang, dossaaa, istighfaaar. Tobat deh ente semua!

Sampailah cerita tentang anak perempuan Bang Rojali. “Anak perempuan kerja di bengkel, kagak pantes. Babe-nya gimane sih ngajarin anak kagak becus begitu. Kalo di tokoooo, pantesan dikit dah.”

Marsose angkat tangan. Interupsi, katanya. Sok-sokan kepingin jadi wakil rakyat. Nah, kalau wakil rakyat lagi kongkow-kongkow, namanya: SIDANG PARIPURNA. Marsose mirip-mirip begitulah –sambil teriak berkali-kali, “Pimpinan sidang, pimpinan sidang…. Pimpinan sidaaaaaaannnggg!!”

Rupanya Marsose mau bilang. Asa muasal kata “Bengkel” adalah “Winkel” [B. Belanda]. Artinya ‘toko’. Alkisah di Kampung Kompeni, kebanyakan yang bekerja di took adalah laki-laki. Jadi, dulu tidak ada suara-suara yang panggil-panggil genit, “Kakak, dilihat barangnya dulu Kakaakk… Kakkaaaakk….” Mungkin karena sekarang banyak kakak durhaka yang tidak mengakui adiknya sendiri, maka banyak adik-adik yang ketelingsut dan hilang di pasar, khususnya i-te-ce.

Nah, toko-toko yang diisi pekerja lelaki tersebut kebanyakan memang berurusan dengan perkakas. Jadilah kalau ditanya, “Kerja di mana, Broww?” Di winkel. (muncullah background musik: winkel, winkel, little star)

 

winkel
Sumber: https://www.centrumnijmegen.nl/winkels/overig/de-winkel-van-sinkel

 

Eh, dasar orang Belanda kalau bicara suaranya tidak jelas. Grenyem-grenyem. Mulutnya tidak dibuka lebar kayak setiap ke dokter gigi. Jadilah orang di Kampung Kompeni salah mendengar. ‘Winkel’  terdengar sebagai ‘bengkel’. Tidak percaya? Coba deh, suara ente diserak-serakin dikit, mulut bentuk huruf O. Sebut “Winkel” tiga kali.

Bento, Bento, Bento…. Eh,Winkel, Winkel, Winkel….

Berubah jadi bengkel? Coba terus sampai terdengar ‘bengkel’. Setelah itu, ente layak jadi bule.

.

.

.

.

.

Udah,udah. Minum air yang banyak gih….

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan