aafuady.com

Doa di Belukar Impian

Doa orangtua sepenuhnya baik. Impian masa kecil saya sudah terkubur. Tetapi, impian masa depan saya tetap terpelihara: menemukannya kembali bersama di surga.

kolom-impian-772_l

Amir Khan dan film ‘Dangal‘-nya membuat saya mengingat Ayah lagi.

Ayah tidak pernah mengikat leher saya dengan cita-citanya. Saya bahkan tidak ingat apakah Ayah pernah menanyakan cita-cita saya. Yang saya ingat, Ayah sempat tidak mengijinkan saya masuk ke sekolah negeri, tetapi kemudian membuka kesempatan itu ketika saya justru memilih sekolah di pesantren yang namanya tak pernah didengar orang sekota. Pesantren yang saat itu hanya punya satu asrama, satu masjid, dan dua kelas, lengkap dengan jalan berbatu, tanpa aliran telepon, dan dikelilingi semak belukar.

Tapi, ada satu yang Ayah selalu ikat di leher saya. Doanya.

Menjelang kelulusan SMA, masa depan harus ditentukan. Sesungguhnya, saya tidak suka kedokteran, seperti saya tak suka cacing dan darah. Ayah dan Mami pun tidak memaksakan, tetapi saya bisa merasakan ada harapan yang dititipkan lamat-lamat. Saya sudah bersiap menulis jurusan lain yang saya sukai –dan tentunya bergengsi jika dilihat dari passing grade yang muncul di banyak lembaga kursus. Ayah dan Mami datang ke pesantren seperti orang tua yang lain yang diundang pihak sekolah untuk membincangkan masa depan anak-anaknya. Saya tidak tahu apa yang dibincangkan di dalam antara guru dan orangtua saya. Sampai saya dipanggil ke dalam, duduk, dan ditanya lagi tentang jurusan apa yang ingin saya ambil.

“Kalau kedokteran gimana, Ad?” Tanya Pak Heri, guru favorit saya yang pertama kali memaksa saya menulis surat untuk Ayah dan mengirimkannya di kelas bahasa Indonesia dan membimbing saya dengan tekun untuk belajar kimia. Dari Pak Heri-lah muncul cita-cita saya sesungguhnya: Guru Besar Sastra Kimia.

Saya mengerti bahwa rajukan Pak Heri adalah juga rajukan Ayah dan Mami. Malam sebelum hari terakhir mengisi formulir SPMB –sistem penerimaan mahasiswa baru yang masih terpusat, saya akhirnya luluh sepenuhnya. Saya terbayang wajah Ayah dan Mami. Bahkan, hingga timbul keyakinan: kalaupun tak lolos tahun ini, saya bersedia menunggu untuk mencoba lagi tahun depan. Impian lain telah saya tutup rapat-rapat.

Ujian saya buruk. Tapi, doa orangtua sepenuhnya baik.

Saya tak tahu bagaimana mungkin saya lolos SPMB dengan banyak jawaban yang salah, kecuali saya mengerti tentang doa yang mengetuk-ngetuk langit ketika saya terlelap. Mami selalu bercerita tentang mimpinya yang melihat Buya –ayahnya, kakek saya. Meski kemudian Ayah dan Mami menutupi kekhawatirannya tentang biaya masuk kuliah kedokteran. Ayah sudah pensiun saat uang SPP sudah menyentuh Rp 1,5 juta per semester dan saya tidak juga mengurus pengajuan keringanan. Saat Ayah dan Mami dipanggil ke kampus Salemba, saya memilih diam di rumah.

Sore harinya, sepulang mereka dari Salemba, Mami bercerita. Karena Ayah tak pernah bercerita panjang, saya selalu meyakini bahwa Mami adalah juga juru bicara Ayah. Pagi tadi Ayah disodori kertas kosong. Diminta mengisi besaran rupiah yang disanggupi untuk dibayar sebagai uang muka. Saat itu, uang muka masuk FK UI dipatok Rp 20 juta, tetapi ada ruang keringanan bagi mereka yang tak sanggup membayar.

“Mami juga nggak tahu kenapa dipanggil,” katanya. Padahal, saya tidak mengajukan apapun. Tidak juga angka Rp 1 juta yang akhirnya ditulis Ayah di kertas kosong itu. “Ayah tadinya mau tulis 500 ribu, tapi nggak enak kekecilan,” kata Mami lagi.

Saya tersenyum kecil saat itu, meyakini begitulah karakter Ayah sedari dulu. Tidak pernah meminta belas kasihan. Memberikan apa yang ia mampu –dan kalau perlu, dilebihkan. Saya sudah ceritakan itu di kisah ‘Tangan Kanan Ayah’.

Ujian di tahun-tahun pertama saya selalu buruk. Her di mana-mana. Tapi, doa orangtua sepenuhnya baik.

Pertengah masa kuliah saya, kondisi kesehatan Ayah memburuk. Tubuhnya semakin tirus saat menghadiri upacara wisuda dokter saya. Diabetes mellitus (DM) yang diidapnya sudah bermanifestasi ke jantung. Membesar. Murmur-nya terdengar. Kakinya tidak sanggup lagi diajak berjalan jauh ke masjid. Tetapi, Ayah selalu menjadi penyemangat paling depan. Ayah taat pada anjuran dokter, termasuk anjuran saya. Melihat Ayah patuh berobat membuat saya bersyukur berkali-lipat. Tidak banyak yang taatnya berobat sama seperti Ayah meskipun sesekali Ayah mengeluh lelah. “Capek, bosan minum obat melulu,” katanya. Banyak hari yang saya pulang terlalu larut dan membuat Ayah punya alasan untuk tidak menyuntikkan insulin di perutnya. Tapi, ketika saya ingat atau diingatkan, Ayah tak pernah menolak. Selalu menurut.

Beberapa kali Ayah jatuh sakit dan tak mau dipaksa ke dokter atau rumah sakit. Di setiap kali itulah Mami mengetuk kamar saya, duduk di ranjang, dan meminta, “Dedy deh yang ngomong ke Ayah, suruh ke rumah sakit.” Dan Ayah, selalu saja menurut. Itu kepercayaan besar yang dititipkannya kepada saya, juga harapan agar saya menjaganya di masa tua.

Doa orangtua sepenuhnya baik. Impian masa kecil saya sudah terkubur. Tetapi, impian masa depan saya tetap terpelihara: menemukannya kembali bersama di surga.

Rotterdam, Januari 2017

Gambar diambil dari: http://kolom.abatasa.co.id/kolom/detail/kang-dudung/772/impian.html

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Bukan Imam Tarawih
13 Juni 2017
Saya berkali-kali memendam kecewa karena, meski bertahun-tahun saya tunggu, Ayah tak pernah menjadi imam...
Dari Menuntun Hingga Dituntun
14 September 2016
Saya tidak mengenal masjid hingga Ayah yang memperkenalkannya. Tidak dengan gambar atau cerita, Ayah...
Naskah Pidato Ayah
07 Juli 2016
Ayah jelas bukanlah orator yang handal. Setidaknya, itu yang saya ingat dari setiap kali Ayah naik podium...
Jangan Percuma
01 Mei 2013
Saat pertama kali saya ke luar negeri karena mendapat fellowship studi riset, Ayah saya cemas luar...
Kado Terindah
10 April 2013
Pekan lalu tepat usia saya 27 tahun berdasarkan akte lahir. Panjang kisahnya bila saya ceritakan pada...