Jongos Bukan Pembantu?

2 mins read

Baru sore ini Bang Jali ikut duduk-duduk di depan rumah Cing Aji. Biasanya, Bang Jali pulang larut malam. Jangankan buat mengobrol santai di rumah Cing Aji, mengobrol dengan anak istri saja susahnya bukan main. Pergi sebelum matahari terbit, pulang sesudah semua orang tidur.

“Nasib jadi jongos begini, Jii,” katanya. Semuanya tertawa sampai terlihat semua sisa makanan di giginya masing-masing. Ada cabe, irisan tomat, buntut toge, sampai bihun. Yakinlah bahwa BPS tidak perlu repot-repot survey persentase orang miskin. Cukup bikin mereka tertawa dan cari apa yang masih terselirp di giginya, sudah mutlak status mereka. Yang makan cabe, orang kaya. Yang makan bihun, masih sempat beli bakso. Yang makan toge, di bawah garis kemiskinan. Apalagi kalau togenya berjejer. Setiap hari togeee…

 

“Siapa yang jongos, Bang Jali?”

 

“Ya gua. Masak eluu. Makanya dah elu, Sose. Jadi orang kudu belajar yang bener biar pinter. Biar kagak jadi jongos kayak gua aje ntar elu.”

 

Marsose tertawa terbahak-bahak. “Mana mungkin, Baaaang?”

 

Lah, siapa juga yang mau jadi jongos terus menerus? Tambah usia, ya tidak “jongos” lagi dong. Apalagi umur Bang Jali sudah lewat setengah abad. Cucunya udah mau tiga. Istrinya udah…. #eh, nggak deh. Baru satu. Cukup segitu aja.

 

“Jongos” itu muncul karena salah dengar dan ucap lidah dari kata “Jongens” [B. Belanda]. Menurut riwayat yang nyaris-nyaris sahih, orang Belanda sering minta dibantu oleh pelayan di Kampung Kompeni. Kebanyakan pelayan, baik yang di rumah, took, atau gudang, addalah anak-anak muda –atau ya, lebih muda dari para tetuan Belanda. Maka, panggilan, “Hi Jongens!” mengalami bias pendengaran dan berubah jadi “Hoi, Jongos!”.

Gambar huisjongen. Anak muda yang jadi pekerja di rumah. Gambar diambil dari https://www.pinterest.co.uk/regreg54/nederlandsch-indi%C3%AB/

Gara-gara si ‘jongos’ itu banyak jadi pelayan, maka orang-orang yang bekerja kasar kemudian dipanggil juga dengan ‘jongos’. Mau muda ataupun tua.

 

Tapi, emang gitu sih. Ente kalau masih kecil, paling junior di kantor, anak baru muka cecurut, kudu dimapram dulu dan haram bisa langsung jadi bos. Jadi jongos aja dulu. Nasib. Feodal.

Ahmad Fuady

Bermula dari sebuah blog kecil bernama farranasir.multiply.com yang kini telah almarhum, situs ini kemudian menjadi ladang menabur apa saja yang berkecamuk di dalam kepala saya. Itu saja.

Jejak saya yang lain dapat saja Anda temukan di mana saja, baik atas nama saya atau sudah diaku-aku oleh orang lain di halaman mereka. Tidak apalah. Yang otentik itu bukankah hanya Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Latest from Blog

Kelas Standar JKN Setengah Hati

Kita menghadapi masyarakat yang tersegregasi. Sebagian—juga karena keterpaksaan—dapat menerima jika mereka harus antre berjam-jam sejak subuh

Populisme Vaksin

Vaksin Nusantara terus melenggang meski diterpa banyak penolakan. Bahkan, Terawan Agus Putranto dengan sangat demonstratif memeragakan