aafuady.com

Jangan Tanya Ustadz YouTube (1)

Banyak pertanyaan dalam diskusi pengajian yang muncul dan dimulai dengan kalimat, “Kemarin saya lihat ada ceramah di YouTube begini dan begitu.” Bukan hanya di sesi diskusi pengajian, pertanyaan semacam itu kerap kali hadir dalam obrolan grup media sosial. Tautan video dan gambar nasihat bergulir dari satu tangan ke tangan lain dengan cepat. Viral. Jumlahnya di luar sana – yang tak terjangkau oleh mata dan telinga saya – barangkali jauh lebih banyak. Pertanyaan itu kemudian disambut dengan pertanyaan lain, “Benarkah begitu?” Bahkan, bukan tak mungkin jika pertanyaan-pertanyaan itu diselingi dengan ejekan orang yang mengunggahnya karena tidak sesuai dengan pendapatnya sendiri.

Dalam lesat laju zaman yang begitu cepat, tak ada lagi batas ruang dan waktu dalam penyebaran informasi. Yang baru saja diucapkan bisa jadi melesat begitu cepat ke penjuru dunia, mengalir dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya. Yang bertahun-tahun lalu direkam juga bisa dengan mudah dilacak kembali, menjadi jejak digital yang diunggah ulang dengan beragam imbuhan –baik yang positif maupun negatif.

Majelis yang bergeser

Pengajian, ceramah, diskusi, dan komentar keagamaan kini semua bergeser tempat dari majelis-majelis beralas tikar dan karpet menuju layar-layar sentuh dalam platform YouTube, Facebook, Instagram, dan dialihtangankan melalui media sosial lain. Majelis-majelis ilmu itu tak lagi berbatas ruang dan waktu.

Fenomena besar ini menunjukkan gairah positif di zaman yang serba instan. Bukan hanya pada kaum urban yang segala sesuatunya bergerak begitu cepat, perubahan ini juga memberikan kenyamanan lain bagi orang yang sebagian hidupnya dihabiskan di sofa dan dapur rumah tangga. Sejak kapan mengaji bisa dinikmati sembari mengiris bawang, menunggu anak-anak pulang, atau menyiapkan teh dan kopi hangat untuk pasangan?

Kemungkinan-kemungkinan itu hanya dapat dicapai lewat teknologi. Orang tak perlu buru-buru berdandan menjelang subuh untuk mendengar kajian favoritnya di satu masjid, tak perlu bersusah payah melanglang sekian kilometer untuk menyerap nasihat ustadz kesukaannya, dan tak perlu mencari-cari waktu luang yang dapat diselipkan di antara padatnya jadwal kerja harian untuk menyimak diskusi keagamaan. Semua kini menyeruak di ruang maya – hadir dalam satu jentik jari dan geser-menggeser layar. Dari yang sekadar lucu-lucuan dalam tempo potongan video satu menit, kajian lengkap tematik satu sesi penuh, atau runutan bahasan kitab yang kontinu dari waktu ke waktu. Semua dapat dipilih sesuai minat.

Tetapi teknologi memang punya sifat dahaga yang cepat. Seberapapun pentingnya sebuah kajian, hanya sedikit yang berminat berlama-lama berdiam di depan layar dalam waktu satu jam. Begitulah memang manusia dalam zaman lesat – semua ingin dikonsumsi pula dalam kelesatan. Maka, video-video keagamaan harus mengikuti pola manusia konsumennya. Dibuat dalam tempo satu menit, tiga menit, lima menit, atau delapan menit. Lebih dari itu adalah himpunan kebosanan.

Tetapi, fenomena ini memang membelukar sedemikian dahsyat. Bukan hanya pada salinan video di dalam gawai, majelis-majelis riil dengan tatap muka pun makin bergairah dari hari ke hari. Seperti ada dahaga spiritual di tengah arus zaman yang kering, orang-orang kini menggeser perilaku kesehariannya. Pada terma populer, mereka menyebutnya sebagai ‘hijrah’.

—–Bersambung—-

 

Tulisan berikutnya:

Jangan Tanya Ustadz YouTube (2)

Belajar Agama Lewat Gadget

Bagaimana Memilih Kajian Agama

Tingkatan Ijtihad

Jebakan Sesi Tanya Jawab Ustadz

Teks dan Konteks

Arif Menyikapi Perbedaan

Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Jangan Tanya Ustadz YouTube (9-Selesai)

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Berburu Profesor: Kesan Pertama
28 April 2021
Tap! Tembak! Bukan hanya pacar yang ditembak. Profesor juga boleh ditembak. Lamar.  Perburuan...
Berburu Profesor: Starting Pack
25 April 2021
Banyak cara berburu profesor. Tidak ada pakemnya. Kalaupun ada tips dan trik dari banyak video inspirasi...
Berburu Profesor: Belajar Cas-Cis-Cus!
23 April 2021
Sebelum saya bercerita tentang buru-memburu profesor, saya membuka-buka masa kecil saya di masa lalu....
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
23 Juni 2020
Saya sudah lupa bagaimana meniup lilin di atas kue tar ulang tahun Jakarta yang makin tua. Ah, tapi apakah...
Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...